
Hampir satu jam semenjak terakhir kali Aluna menghubungi Davin, sampai saat ini Davin belum ada kabarnya sama sekali. Hingga membuat semua keluarga sangat cemas. Aluna masih menangis terisak, di dampingi mertua juga kakak iparnya. Mereka semua juga tidak kalah cemasnya dengan Aluna. Marvel berkali-kali menghubungi ponsel Davin maupun Asisten Jo, namun tidak ada satupun yang bisa terhubung. Membuat mereka menjadi semakin khawatir.
" Mom.. Aluna takut " Nyonya Anita memeluk erat menantunya itu. Dia pun tak kalah cemasnya tapi dia berusaha terlihat tenang agar Aluna tidak semakin cemas, dan takutnya itu akan membahayakan janin di dalam perutnya.
" Sabar Lun.. kita tunggu kabar sebentar lagi. Ayah sedang menghubungi ahli IT untuk mengecek CCTV sepanjang jalan yang terakhir kali GPS ponsel Davin terdeteksi " Tuan Doni pun berusaha menenangkan Aluna.
" Aluna takut mom, terakhir kali Davin pergi entah kenapa rasanya berat banget mom, Aluna takut mom " Airmata Aluna tak berhenti mengalir membasahi pipinya.
" Kita berdoa saja semoga Davin baik-baik saja " Semua mengamini ucapan Marvel itu. Isakan tangis Aluna perlahan mulai mereda.
" Davin... Kamu dimana ? " Gumam Aluna lirih sembari mengusap airmatanya. Semua benar-benar tak tega melihat Aluna yang terpuruk seperti itu. Namun, mereka juga tidak bisa melakukan apa-apa karena mereka juga sedang menunggu kabar.
" Sayang..... " Sebuah suara yang begitu Aluna rindukan terdengar di telinganya. Aluna langsung membalikkan badannya, dia diam membisu saat melihat Davin yang sedang berdiri tegak dengan senyum yang terlihat di paksakan. Tubuh Aluna menegang, bahkan seakan tak bisa di gerakkan. Tatapan mata Aluna menatap lekat mata Davin.
" Kamu tidak ingin memelukku ? Katanya kamu merindukanku " Goda Davin sambil berjalan ke tempat Aluna. Aluna langsung berlari, dan memeluk tubuh Davin erat.
" Hati-hati sayang, kasian anak kita di dalam " Ucap Davin lembut. Satu tangannya membalas pelukan Aluna sedangkan satu tangannya mengelus perut Aluna pelan.
" Aku takut...Aku takut kamu meninggalkanku " Isak Aluna hingga membuat hati Davin terasa sakit.
" Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sayang. Aku tidak akan meninggalkanmu dan anak kita " Mata Davin berkaca-kaca. Kemudian dia mengeratkan pelukannya di tubuh Aluna. Ya, dia juga takut kehilangan Aluna, dia juga takut bila harus meninggalkan Aluna sendiri dengan calon buah hati mereka.
" Aku mencintaimu dan selamanya akan tetap begitu " Davin mengecup puncak kepala Aluna. Menyalurkan segala rasa yang sedang dia rasakan. Mendengar ucapan Davin, Aluna justru semakin terisak. Semua menatap lega pada Davin yang terlihat baik-baik saja.
" Ayo duduk sayang, jangan terlalu lama berdiri " Davin mengajak Aluna duduk bergabung lagi bersama keluarga mereka.
" Ayah senang kamu baik-baik saja Vin " Ucap Tuan Doni lega.
__ADS_1
" Kami sangat khawatir, saat Aluna bilang kalau kamu berteriak keras sebelum mematikan panggilan telepon tanpa berpamitan " Nyonya Anita menambahkan. Dia memegang lengan Davin, mengusapnya pelan. Sungguh, hatinya merasa sangat lega saat melihat Davin baik-baik saja.
" Maafin aku udah buat kalian khawatir. Waktu tadi aku menelepon kamu, aku dan Jo hampir saja menjadi korban rem blong sebuah truk yang berjalan berlawanan arah dengan kami. Tapi, beruntung Jo bisa dengan lincah menghindarinya."
" Terus kenapa panggilannya terputus begitu saja ? " Tanya Aluna sambil terisak.
" Hape aku jatuh entah kemana karena gerakan yang cepat dan mendadak. Begitu mobil sudah berhenti, aku cari ponsel aku tapi begitu ketemu sudah mati "
" Terus kenapa nomer Jo juga tidak bisa di hubungi ? " Tanya Marvel sambil menatap lega adiknya itu.
" Ponsel Jo mati kehabisan batrai sejak di proyek itu. Mau isi batre tapi aku takut kemaleman makanya kita langsung pulang gitu aja " Ucap Davin sambil menarik tubuh Aluna masuk kedalam dekapannya.
" Aku pasti sudah membuatmu khawatir, maafin aku ya " Davin mengeratkan pelukannya. Aluna hanya diam sambil mengusap airmatanya.
" Ya sudah sana kamu istirahat dulu Vin. Kasian juga Aluna sejak tadi menangisi kamu, dia pasti sudah lelah " Suruh Tuan Doni. Davin pun mengajak Aluna masuk ke dalam kamar mereka.
" Sayang.... aku tadi takut sekali " Ucap Davin lirih. Aluna menggerakan tubuhnya ke samping berhadapan dengan Davin. Mereka saling menatap dalam, tatapan penuh cinta dan kerinduan.
" Aku juga takut kehilangan kamu mas, sejak kamu berangkat perasaanku sudah tidak enak, aku takut terjadi apa-apa sama kamu " Suara Aluna begitu parau, bahkan matanya mulai basah lagi.
" Tapi sekarang aku masih baik-baik saja kan. Jadi kamu gak perlu khawatir lagi ya " Davin mengusap pelan pipi Aluna. Memberi ketenangan pada diri Aluna.
" Aku sangat mencintaimu. Aku tidak akan meninggalkanmu dan anak kita sendirian, bukankah kita sudah berjanji akan membesarkan anak kita bersama-sama " Aluna mengangguk pelan sambil tersenyum tipis. Davin kemudian mengecup lembut bibir Aluna, Aluna memejamkan matanya meresapi ciuman itu, hingga lama-lama ciuman itu berubah menjadi ciuman yang menuntut. Dan akhirnya malam yang tadi penuh kekhawatiran kini berubah menjadi malam panjang penuh desahan dan erangan.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Sedangkan di tempat yang lain, seorang lelaki sedang duduk terdiam di balik setir kemudi. Dia mencengkeram erat setir kemudi itu. Beberapa saat kemudian dia menghembuskan nafas lega.
__ADS_1
" Hampir saja " Gumamnya pelan. Dia mengangkat kepalanya tapi kemudian menyandarkan di kursi mobil itu. Bayangannya terlintas akan kejadian tadi, saat dia dan Tuan Mudanya hampir saja termakan truk yang remnya blong. Andai dia tidak cepat menghindar, entah bagaimana nasib mereka berdua, mungkinkah mereka masih bisa menghirup nafas seperti saat ini. Pikirannya melayang, bagaimana bila mereka tidak selamat ? Bagaimana nasib Nona Aluna dan calon buah hati mereka ? Bagaimana dengan keluarga Alexander ? Dia benar-benar sangat takut. Tapi, kini dia sangat bersyukur, karena Tuhan masih menolongnya, masih sayang pada mereka berdua hingga kini dia bernafas lega karena calon penerus Alexander itu tidak menjadi seorang yatim. Asisten Jo memang sengaja tidak masuk ke Mansion Alexander karena dia ingin segera mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Davin pun memakluminya. Asisten Jo menyalakan mobilnya untuk kembali ke apartemennya. Namun saat dia hendak mengijak pedal gas, pandangan matanya menangkap sesosok wanita yang sedang berjalan sambil berkali-kali mengusap pipinya. Penghlihatan Asisten Jo menajam, begitu wanita itu sudah dekat, Asisten Jo menggelengkan kepala bekali-kali.
" Kekanakan sekali " Sindir Asisten Jo sambil membuka kaca pintu mobil itu saat wanita itu sudah sampai di samping mobilnya. Wanita itu menghentikan langkahnya kemudian menoleh ke arah Asisten Jo.
" Kenapa anda bisa disini Tuan ? Anda mengikutiku ?"
" Buat apa aku mengikutimu ? Kamu bukan orang yang penting " Sanggah Asisten Jo sambil tersenyum tipis.
" Diamlah Tuan ! Apa anda tidak kasihan padaku yang sedang patah hati !"
" Apa peduliku ?!" Ketus Aisten Jo.
" Kita berkali-kali ketemu, apa mungkin kita berjodoh Tuan ? " Mila bicara dengan centil membuat Asisten Jo berdecih.
" Buang mimpimu itu jauh-jauh ! " Cibir Asisten Jo kemudian melajukan mobilnya meninggalkan Mila sendirian. Mila meneriaki berbagai umpatan untuk Asisten Jo tapi yang di umpat seolah tak peduli.
" Dasar pria menyebalkan. Aku kutuk semoga kamu menjadi suamiku !!! " Teriak Mila keras sambil menendang udara karena kesal.
**Lho thor, kok Davin gak amnesia ?
Gak lah, kasian Aluna lagi hamil kalau harus menanggung beban berat. Hayo,, siapa yang ngira Author bakal bikin Davin Amnesia. maaf ya, Author PHP in 😁😁
Jangan lupa beri dukungan buat Author yaa
tekan tombol like, vote, komentar maupun favorit.
Salam dari Author recehan**.
__ADS_1