
"Selamat Nona, kehamilan anda sudah memasuki minggu kelima. Semoga ibu dan janinnya sehat-sehat selalu ya," kata Dokter Mery setelah mereka selesai melakukan USG.
"Terima kasih banyak, Dok," sahut Aluna.
"Dokter, bolehkah saya bertanya tentang progam KB?" tanya Mila disaat Dokter Mery sudah selesai urusannya dengan Aluna.
"Memang kamu belum KB Mil?" Aluna menatap ke arah Mila.
"Belum lah," jawab Mila, "Saya mau KB yang tidak membuat tubuh saya gemuk Dok, saya tidak mau suami saya pindah ke lain hati," kata Mila, Dokter Mery berusaha menahan tawanya sedangkan Asisten Jo sudah mendengus kesal.
"Memang kalau kamu gemuk si Jo bakal pindah ke lain hati?" tanya Aluna seraya menautkan alisnya.
"Tidak juga tetapi kan kita harus mencegah sebelum terjadi," sahut Mila.
"Jadilah diri kamu sendiri apa adanya, aku tidak peduli kamu gemuk atau tidak, cantik atau tidak, waras atau tidak. Aku tetap akan menjadi suamimu," kata Asisten Jo yang masih setia di dekat Davin.
"Kamu itu menyanjung atau menghinaku Mas? Tetapi aku senang kamu mau menerima aku apa adanya Mas. Aku mencintaimu," kata Mila seraya menaik-turunkan alisnya.
"Waras atau tidak? Memang kalau istrimu gila kamu masih mau Jo?" tanya Davin heran.
"Tentu saja," jawab Asisten Jo, Mila langsung tersenyum simpul. "Langsung saya bawa ke rumah sakit jiwa Tuan, mana mungkin saya yang tampan ini memiliki istri yang tidak waras," sambung Asisten Jo santai, Mila langsung mendelik mendengar ucapan suaminya itu sedangkan yang lain tak bisa lagi menahan tawanya.
"Kamu menyebalkan Mas," cebik Mila.
"Terima kasih, aku tahu aku tampan," balas Asisten Jo percaya diri.
"Astaga Jo, Mil. Kalian ini menghibur sekali," Aluna memegang perutnya yang terasa nyeri karena terlalu banyak tertawa.
"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Davin khawatir, matanya begitu jeli jika menyangkut tentang Aluna.
"Perutku sedikit sakit," kata Aluna pelan, semua langsung khawatir kepada Aluna.
"Jangan terlalu banyak bergerak Nona, satu hal lagi saya sarankan jangan memakai celana jeans seperti ini," nasihat Dokter Mery. Davin langsung menatap tajam ke arah Aluna.
"Tapi ini celana jeans untuk ibu hamil Dok," Aluna membela diri, dia tahu suaminya sedang menatap marah padanya.
"Walaupun itu untuk ibu hamil tapi saya sarankan jangan di pakai dulu Nona, karena kandungan anda masih sangat rawan," Aluna mengangguk paham mendengar ucapan Dokter Mery.
"Dengarlah sayang, semua demi kebaikan anak kita," Suara Davin terdengar melembut saat melihat wajah Aluna yang mulai muram.
"Ayo Mil, kita pulang," ajak Aluna, tapi Mila tetap dalam posisi duduknya.
"Lun, aku kan belum jadi KB," kata Mila, Aluna mendengus kesal tetapi dia kembali duduk.
"Anda mau KB apa Nona?" tanya Dokter Mery lagi.
__ADS_1
"Sebelum saya KB saya mau bertanya Dok, saya akhir-akhir ini sering pusing, mual juga apa kemungkinan saya hamil, Dok? Soalnya semenjak selesai nifas saya belum datang bulan lagi," ucap Mila, Asisten Jo menatap penuh tanya ke arah Mila.
"Apa ada keluhan lain? Atau selama ini anda menggunakan alat pengaman saat berhubungan?" tanya Dokter Mery.
"Saya pakai permen rasa mint Dok, kadang strawberry atau banana," jawab Mila asal, Asisten Jo berjalan cepat mendekati Mila lalu membekap mulut Mila.
"Permen apa?" tanya Dokter Mery bingung.
"Jangan dengarkan istri saya Dok, dia memang otak dan mulutnya terkadang salah jalur," sahut Asisten Jo, Dokter Mery menunggingkan senyumnya.
"Terus mau bagaimana Tuan? Kalau istri anda mual dan pusing mungkin lebih baik di testpack dulu, karena sangat di larang untuk wanita hamil melakukan KB," jelas Dokter Mery. Tubuh Asisten Jo menegang, apakah mungkin Mila juga sedang hamil? Jika memang Mila sedang hamil itu artinya bukan hanya Davin yang menderita tetapi dirinya juga. Bekapan tangan Asisten Jo refleks terbuka.
"Kenapa jadi bengong Mas?" tanya Mila heran karena dia melihat suaminya yang langsung terdiam begitu saja.
"Dok, beri dia tespack, aku harus memastikan kalau kamu benar-benar hamil atau tidak," suruh Asisten Jo, dia terlihat sedikit gugup. Dokter Mery segera memberikan sebuah testpack untuk Mila dan menyuruh Mila menggunakan testpack itu. Asisten Jo duduk gelisah di dekat Aluna sedangkan Davin menatap tajam ke arah Asistennya itu.
"Jangan terlalu dekat istriku Jo," Suara Davin terdengar meninggi.
"Diamlah Tuan, anda tidak tahu saya sedang gelisah," balas Asisten Jo ketus.
"Kamu berani kepadaku, Jo?! Lagipula jika Mila hamil kenapa mesti takut? Kamu harus tanggung jawab dong, itu kan perbuatan kamu," omel Davin tetapi Asisten Jo tidak menanggapi karena hatinya belum merasa tenang.
"MAS!" Teriakan keras terdengar dari dalam kamar mandi, Asisten Jo segera berlari mendekati pintu kamar mandi.
"Mas, hiks hiks," Bukannya suara pintu terbuka yang Asisten Jo dengar, tetapi justru isak tangis dari Mila yang terdengar membuat Asisten Jo semakin khawatir, bahkan Aluna dan Dokter Mery ikut berdiri di dekat pintu. Mereka ikut khawatir sedangkan Davin masih duduk santai di kursinya karena dia tidak berani mendekati Aluna.
"Buka pintunya Mil! Jangan buat aku khawatir," teriak Asisten Jo masih dengan mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi itu.
Ceklek
Pintu itu terbuka, tubuh Mila keluar dari kamar mandi dengan bekas airmata yang terlihat jelas di wajahnya.
"Kenapa kamu histeris? Apa hasilnya positif?" tanya Asisten Jo tak sabar, dia memegang kedua bahu Mila dan menatap mata Mila lekat. Mila hanya diam tidak menjawab sedangkan tangannya dia sembunyikan dengan hasil testpack yang berada dalam genggaman tangannya.
"Mil, jangan bilang kamu hamil?" tanya Asisten Jo.
"Memang kenapa kalau aku hamil Mas? Kamu tidak mau tanggung jawab?!" sewot Mila, Asisten Jo menghela nafas panjang.
"Aku pasti tanggung jawab Mil, aku ini suamimu. Mana mungkin aku akan meninggalkanmu karena kamu hamil," Suara Asisten Jo terdengar merendah. Kini, dia pasrah jika memang Mila juga hamil maka dia akan menerimanya.
"Mas," panggil Mila pelan, Asisten Jo menatap lekat wajah istrinya itu, dia sudah tak sabar mendengar jawaban dari istrinya itu.
"Aku tidak hamil, hiks hiks," Tangan kiri Mila memperlihatkan tespack yang menunjukkan satu garis sedangkan satu tangannya mengusap airmatanya. Asisten Jo langsung menghembuskan nafas lega.
"Syukurlah," ucap Asisten Jo lega, tangan Mila langsung memukul dada suaminya cukup keras hingga Asisten Jo mengaduh kesakitan.
__ADS_1
"Aku kan pengen hamil Mas," rengek Mila. Aluna dan Dokter Mery membuka matanya lebar.
"Kenapa kamu pengen hamil? Aku yang hamil saja merasa sedikit menyesal walaupun harus aku menerima dan mensyukurinya," ucap Aluna.
"Kalau aku hamil kan aku bisa di sayang Mas Johan dan bisa minta aneh-aneh sama Mas Johan," kata Mila dengan manja.
"Jadi kamu selama hamil memanfaatkan masa ngidammu untuk mengerjaiku?!" tanya Asisten Jo mulai emosi.
"Tidak, itu murni karena aku ngidam. Kalau aku tidak ngidam kamu tidak akan menuruti keinginanku," ketus Mila.
"Keinginan apa? Aku selalu menuruti keinginanmu, bahkan saat kamu ingin berfoto dengan bekas duda itu aku terima," Asisten Jo pun tak kalah ketus.
"Ada satu keinginan yang tidak pernah kamu penuhi Mas," Asisten Jo langsung menatap penuh tanya ke arah Mila.
"Keinginan apa?" tanya Asisten Jo bingung.
"Kamu tidak pernah bilang 'aku mencintaimu'. Aku juga pengen Mas, denger kata cinta dari kamu," kata Mila kesal. Asisten Jo mengusap wajahnya kasar.
"Aku mencintaimu Mil, aku mencintaimu istriku dan ibu dari anak-anakku," Wajah Mila langsung sumringah begitu mendengar ucapan cinta dari suaminya. Dia langsung membuang hasil testpack itu dan segera memeluk suaminya erat.
"Aku juga mencintaimu suamiku," kata Mila lembut bahkan Mila mencium pipi Asisten Jo tanpa malu hingga membuat wajah Asisten Jo memerah seketika.
"Ya Tuhan, kamu ada-ada saja Mil," kata Aluna tak percaya pada tingkah ajaib Mila, dia berjalan kembali ke kursinya bersama Dokter Mery yang sedari tadi tersenyum.
"Berhentilah, jangan membuatku ingin menerkammu saat ini juga," suruh Asisten Jo. Mila segera melepaskan pelukannya dan kembali duduk di samping Aluna dengan wajah sumringah sedangkan Asisten Jo berdiri di samping Davin dengan wajah kesal.
"Kesabaranmu benar-benar di uji, Jo," ledek Davin. Asisten Jo menghembuskan nafas kasar.
"Diamlah Tuan, saya sedang tidak ingin bercanda," kata Asisten Jo dengan menatap Davin sebal.
"Lantas anda mau KB apa Nona?" tanya Dokter Mery.
"Yang bagus apa ya Dok?" tanya Mila balik.
"Suntik tiga bulan saja dulu agar tidak berpengaruh pada ASI anda, setelah tiga bulan nanti anda bisa menggantinya dengan KB Implan atau IUD," saran Dokter Mery, Mila pun mengangguk setuju. Dokter Mery segera mengambil suntikan dan mengisinya dengan obat KB.
"Anda tidak takut jarum suntik kan?" tanya Dokter Mery.
"Tidak lah Dok, jarum segitu mah kecil. Jarum suami saya yang berkali-kali lipat lebih besar saja saya bisa tahan walau kadang harus menjerit sakit," celetuk Mila.
"Astaga Mila! Rasanya benar-benar ingin ku sumpal mulutmu!" bentak Asisten Jo marah, dia sampai mengacak-acak rambutnya kasar.
"Kamu benar-benar sial Jo, mendapatkan istri langka seperti dia," ejek Davin sambil menertawakan Asisten Jo.
"Diamlah Tuan!" teriak Asisten Jo, dia benar-benar malu saat ini karena dia menjadi bahan tertawaan mereka semua sedangkan Mila hanya memasang wajah tak berdosa.
__ADS_1