
Aluna yang sedang asyik berbincang dengan ibu mertua dan kakak iparnya langsung menghentikan obrolan mereka saat mendengar telfon mansion itu berbunyi. Aluna langsung beranjak bangun dan mengangkat telfon itu.
" Hallo .... selamat siang " Sapa Aluna namun tidak ada sahutan dari seberang telepon.
" Hallo .... " Aluna mengulangi sapaannya lagi. Namun, lagi-lagi tidak sahutan. Saat Aluna hendak mematikan telepon itu, Aluna mendengar sahutan dari seberang telfon.
" ini aku Davin " Aluna terdiam mendengar suara Davin.
" Kamu sedang apa ? " Sekarang giliran Aluna yang diam membisu.
" Sayang .... " Panggil Davin membuyarkan lamunan Aluna.
" I-iya " Jawab Aluna gugup.
" Kamu lagi apa ?" Tanya Davin lagi, dia tersenyum mendengar kegugupan Aluna.
" Emm .... lagi ngobrol sama mommy dan Kak Shania " Jawab Aluna pelan. Jantungnya terasa begitu berdebar-debar meski hanya mendengar suara Davin lewat telepon.
" Sudah makan siang ? " Aluna mengangguk, dia lupa jika sedang bertukar suara dengan Davin bukan sedang bertatap muka.
__ADS_1
" Lun .... Kamu sudah makan siang ? " Tanya Davin lagi saat tidak mendengar jawaban dari Aluna.
" Su-sudah " Aluna masih saja gugup. Dia menepuk keningnya berkali-kali setelah menyadari kebodohannya. Mulut Aluna hanya diam, dia hanya mengeluarkan suaranya jika Davin bertanya.
" Jangan lupa jaga kesehatan ya sayang. Aku mau makan siang dulu. Aku mencintaimu " Davin langsung mematikan teleponnya. Entah mengapa dia merasa hatinya berbunga-bunga saat Davin mengucapkan ' Aku mencintaimu ' Wajahnya selalu merona setiap mendengar itu.
" Siapa Lun ? " Pertanyaan Nyonya Anita menyadarkan Aluna dari lamunannya. Aluna lalu mengembalikan telepon itu ke tempat semula.
" Emm .... Davin mom " Jawab Aluna pelan. Nyonya Anita tersenyum.
" Dia pasti merindukanmu. Sudah sana kamu ke kamar istirahat. Davin akan marah kalau kamu tidak istirahat "
Dia mengingat saat dia memberi obat tidur untuk Davin di malam pertama mereka demi balapan. Dia tersenyum, ternyata dulu dia senekat itu. Tiba-tiba ingatannya berputar saat tubuhnya dan Davin saling menyatu. Wajahnya langsung merona, beruntung dia di kamar hanya sendirian jadi tidak ada yang melihat wajahnya itu. Darah di tubuhnya berdesir, bahkan tubuhnya terasa memanas saat mengingat percintaan itu. Apalagi setelah penjebolan itu, dia dan Davin setiap hari melakukannya.
" **** !!! Kenapa otakku jadi mesum sekali " Aluna menggelengkan kepalanya berkali-kali mengusir pikiran kotor di kepalanya. Aluna beranjak bangun, kemudian berjalan mengelilingi kamar itu. Meski dulu baru satu bulan dia menempati kamar itu, akan tetapi kenangan di kamar itu benar-benar terpatri di pikirannya. Dia berhenti di depan kaca hiasnya. Dia terkejut, saat kaca itu sudah pecah. Tinggal beberapa bagian saja yang masih menempel di tempatnya.
" Bagaimana kaca ini bisa pecah ? "
" Jangan sentuh kaca itu !! " Aluna terkejut mendengar suara teriakan dari belakang tubuhnya. Dia yang hampir menyentuh kaca itu pun menghentikan gerakan tangannya. Tubuh Aluna membeku saat merasakan sepasang tangan melingkar dari pinggang sampai perutnya. Jantungnya langsung berasa sedang maraton.
__ADS_1
" Jangan sentuh kaca itu sayang, nanti tanganmu terluka " Bisik Davin lirih di telinga Aluna. Seketika tubuh Aluna meremang. Debaran jantungnya pun semakin kencang lagi. Sedangkan Davin semakin mempererat pelukannya.
" Emm... Kok sudah pulang bukannya ini masih jam kantor ? " Tanya Aluna gugup, dia berusaha menetralkan debaran jantungnya.
" Aku merindukanmu " Jawab Davin lembut. Tubuh Aluna langsung merasa tak karuan. Wajahnya merona saat merasakan pelukan Davin yang semakin terasa erat. Namun, saat dia mengingat luka di hatinya. Aluna langsung menghembuskan nafas kasar.
" Bekerjalah sana ... bukankah nanti jam lima kamu sudah pulang " Usir Aluna pelan. Davin diam tidak bergerak.
" Apa kamu tidak merindukanku ? kenapa kamu mengusirku ? " Nada bicara Davin terdengar begitu kesal.
" Aku hanya tidak mau kamu menjadi pemalas, kamu harus ingat ada istri yang harus kamu nafkahi " Kata Aluna sambil melepaskan pelukan Davin dari tubuhnya dan dia membalikkan badannya, menatap Davin lekat.
" Jika aku mau, bahkan jika aku tidak bekerja bertahun-tahun aku masih sanggup menghidupimu " Davin kesal, benar-benar merasa sangat kesal karena Aluna justru mengusirnya.
" Tapi aku benci orang yang pemalas " Davin terdiam mendengar ucapan Aluna.
Ponsel Davin berbunyi, dia langsung mengambil ponselnya dari saku jas nya dan mengangkat telfon itu.
" Ya ya ya " Davin menjawab dengan malas kemudian mematikan panggilan suara itu.
__ADS_1
" Aku pergi dulu sayang ... Ada pertemuan penting. Aku pulang untuk melepas rindu tapi karena kamu mengusirku dan tidak suka orang pemalas. Maka aku akan bekerja demi kamu. Jangan lupa istirahat sayang, aku mencintaimu " Davin mencium kening Aluna lembut, kemudian berlalu pergi keluar kamar untuk kembali bekerja. Ketika sampai di pintu kamar dia membalikkan tubuhnya dan menatap Aluna yang masih berdiri di tempatnya. Melihat Aluna yang tidak mengejarnya, Davin pun kembali pergi dengan kecewa.