Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
101


__ADS_3

Davin dan Aluna masuk ke kamar mereka, dengan segera Davin langsung mengunci pintu kamar itu. Aluna merasa gugup, karena sudah seminggu Davin tidak menyentuhnya. Dia pun hanya diam merasakan sakit di perutnya, karena dia terbiasa nyeri ketika akan datang bulan.


" Kamu mau kemana sayang ? " Tanya Davin saat Aluna berjalan meninggalkan tempat tidur.


" A-aku mau mandi dulu, badanku sudah lengket " Jawab Aluna gugup sambil berjalan cepat ke kamar mandi namun Davin langsung mencekal pergelangan tangannya. Dia langsung membopong Aluna di depan tubuhnya.


" Mandi nanti saja sayang, kan kita mau olahraga paling nanti lengket lagi " Kata Davin sambil merebahkan tubuh Aluna di atas tempat tidur. Aluna memalingkan mukanya karena malu. Entah mengapa Aluna kadang begitu gugup ketika akan melakukan penyatuan meskipun dia hampir setiap hari melakukannya.


Davin tersenyum melihat Aluna yang malu-malu. Dengan rakus dia mencium bibir Aluna kemudian melu**tnya. Aluna pun mulai mengimbangi permainan lidah Davin.


" Da-vin " Aluna mendesah nikmat saat Davin menyapu seluruh lehernya. Menciptakan perasaan geli dan gelayar aneh yang terasa sampai ke seluruh tubuhnya. Meski perutnya terasa nyeri, Aluna hanya diam pasrah menerima perlakuan Davin yang benar-benar bisa membuatnya melayang.


" Aku suka saat kamu menyebut namaku dalam desahanmu sayang " Bisik Davin kemudian menggigit pelan telinga Aluna, membuat Aluna semakin mendesah apalagi kini tangan Davin sudah mulai merayap ke dalam kaos Aluna. Mendengar desahan Aluna membuat jiwa Davin semakin membara. Ada yang sudah berdiri tegak di pusat tubuhnya. Dia benar-benar sudah tidak sabar menelanjangi tubuh Aluna dan saling berbagi cairan dengan Aluna. Davin melepas kaos nya kemudian diapun melepaskan milik Aluna.


" Da-vin " Desah Aluna lagi. Dengan tidak sabar Davin langsung membuka celana Aluna dan saat dia melepas ****** ***** Aluna, dia terdiam melihat noda kecoklatan disana.


" Sayang apa kamu datang bulan ? " Tanya Davin dengan nada kecewa karena dirinya sedang dalam suasana paling ON.


" Apa keluar darah. Daritadi perutku nyeri, biasanya karena aku akan datang bulan " Aluna duduk dan melihat noda coklat disana.


" Davin.. sepertinya kita harus berhenti disini, biasanya sebentar lagi darahnya akan keluar " Mendengar perkataan Aluna, Davin menggeram kesal.


" Ohh sayang, kenapa kamu tidak bilang kalau mau datang bulan. Jadi aku tidak di posisi panas seperti ini " Ucap Davin kesal.


" Maaf Vin.. aku juga tidak tahu " Aluna menunduk, dia takut Davin sangat marah padanya.


" Sudahlah ! Memang aku harus main solo dulu daripada nanti kepalaku menjadi sangat pusing " Davin bicara dengan kecewa kemudian berjalan meninggalkan Aluna. Aluna hanya menatap punggung Davin yang perlahan menjauh darinya. Setelah Davin masuk kamar mandi, Aluna langsung bangun memakai kaosnya dan mencari pembalut di lemari kecilnya.

__ADS_1


" Aku sudah telat dua minggu, aku kira akan ada bayi dalam rahimku tapi sepertinya aku harus lebih bersabar lagi " Gumam Aluna lirih. Dia sudah berharap hamil, namun noda kecoklatan di ****** ******** berhasil memupuskan harapannya.


Begitu Davin selesai mandi, Aluna langsung masuk untuk bergantian membersihkan diri. Davin tidak menyapa Aluna sama sekali, dia benar-benar kecewa. Dia seperti di ajak terbang ke langit tinggi namun langsung di hempaskan ke bumi begitu saja. Andai Aluna berkata akan datang bulan, mungkin dia tidak akan membuat adik kecilnya berdiri menantang. Sedangkan Aluna di dalam kamar mandi hanya terduduk lesu. Dia tahu Davin marah padanya, namun semua di luar kendalinya. Dia pikir kalaupun datang bulan paling besok karena dia baru merasakan nyeri di perutnya. Aluna mengelus perutnya perlahan.


" Kapan ya, ada nyawa yang akan hadir di sini " Ucap Aluna lirih sambil menahan airmata yang membasahi pipinya.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Perusahaan Alexander Grup


" Hueekkss hueekks Jo kenapa parfum e bau sekali " Davin berlari ke kamar mandi lagi karena perutnya sangat mual. Sudah beberapa kali Davin bolak balik kamar mandi hanya untuk memuntahkan isi perutnya itu. Asisten Jo pun mengikuti Tuan Mudanya itu.


" Saya masih pakai parfum yang biasanya Tuan " Asisten Jo memijit tengkuk Davin.


" Tapi kenapa bau sekali Jo ... huekss... sana kamu ganti baju sana, aku mual sekali mencium bau parfummu "


" Tapi Tuan...."


" Kenapa pusing sekali rasanya " Davin berjalan lemas kembali ke kursinya sambil memijit pelipisnya.


" Saya sudah berganti pakaian Tuan " Ucap Asisten Jo berdiri di samping Tuan Mudanya.


" Cepat sekali Jo " Davin tidak berhenti memijit pelipisnya.


" Saya khawatir pada anda Tuan " Asisten Jo memberi teh hangat untuk Tuan Mudanya.


" Aku gak papa Jo, aku gak tahu kenapa aku bisa sangat mual mencium parfummu " Ucap Davin lemas karena semua makanannya sudah keluar.

__ADS_1


" Anda ingin makan apa Tuan ? tubuh anda lemah sekali " Tanya Asisten Jo sambil memijit pelan pundak Davin.


" Aku ingin ice cream Jo dan cupcake coklat vanila sepertinya enak " Asisten Jo terkejut mendengar permintaan Davin.


" Anda yakin Tuan ? Bukankah anda tidak suka makanan manis apalagi coklat vanila " Tanya Asisten Jo heran.


" Entahlah Jo. Aku hanya ingin makan itu " Davin memejamkan matanya. Bayangan ice cream dingin dengan cupcake yang lembut membuat air liurnya seakan hendak menetes.


" Tumben sekali Tuan, apa anda mengidam ? " Tebak Asisten Jo. Davin membuka matanya lebar.


" Mana mungkin aku ngidam Jo !! Aluna itu sedang datang bulan. Sudah sana cari pesananku " Titah Davin keras. Asisten Jo langsung bergegas pergi mencari pesanan Tuan Mudanya itu.


Davin tidak berhenti memijit pelipisnya yang terasa begitu pusing. Dia mengingat-ingat sepertinya dia tidak salah makan tapi kenapa rasanya dia begitu mual. Ponsel Davin berdering, dengan lemas dia menatap layar ponselnya dan melihat nama ' istri bar-barku' memanggil, Davin mengernyit heran, karena tidak biasanya Aluna meneleponnya.


" Hallo sayang... ada apa ? " Tanya Davin begitu panggilan terhubung.


" Kamu lagi apa ? " Aluna balik bertanya, Davin tahu kalau Aluna sedang gugup.


" Aku sedang di kantor sayang. Apa kamu merindukanku ? " Goda Davin. Dia tahu di seberang sana pasti Aluna sedang mencebik kesal.


"Emmmmm..... " Aluna diam, Davin menunggu Aluna bicara lagi.


" Jam berapa kamu pulang ? " Davin tersenyum mendengar pertanyaan Aluna. Baru kali ini Aluna perhatian padanya.


" Kamu kan tahu jam kantor selesai jam lima. Apa kamu mau aku pulang sekarang ? " Tanya Davin, jika Aluna menjawab iya, maka Davin akan langsung pulang saat itu juga tidak peduli dia ada rapat atau tidak.


" Gak sih. Aku cuma mau dengar suara kamu aja " Davin langsung kecewa mendengar jawaban Aluna.

__ADS_1


" Kamu yakin sayang ? " Davin berusaha memastikan.


" Yakinlah.. Ya sudah aku matiin ya, aku cuma mau denger suara kamu aja. Semangat kerja yaa " Panggilan langsung terputus begitu saja membuat Davin benar-benar kecewa. Dia pikir Aluna menghubunginya karena merindukannya dan menginginkan dia pulang tapi ternyata Aluna hanya ingin mendengar suaranya saja.


__ADS_2