
Aluna berjalan menuju ke lantai lima, dimana dulu ruangan itu pernah menjadi ruangannya mengais rezeki. Sesampainya di ruangan itu, Aluna langsung membuka pintu ruangan. Dia melihat ketiga rekan kerja nya dulu sedang serius bekerja. Melihat pintu ruangan terbuka, mereka langsung menoleh dan alangkah terkejutnya mereka saat melihat Aluna yang sedang berjalan masuk ke ruangan itu dengan senyum yang mengembang karena jarang sekali mereka bertemu, walaupun Aluna setiap hari selalu ke kantor.
"Nyonya Muda," sapa mereka bertiga. Aluna langsung mencebik kesal.
"ALUNA ! jangan panggil aku Nyonya Muda," ucap Aluna sambil mendudukkan tubuhnya di atas kursi.
"Kan memang kenyataanya kamu Nyonya Muda Alexander, aku gak mau di gantung hanya karena memanggil kamu tidak sopan," ucap Mila sambil kembali menatap layar komputernya.
"Gantung dimana? pohon cabai atau tomat?" tanya Aluna menggoda membuat Nia langsung melempar pulpennya ke arah Aluna.
"Eits jangan berani-berani sama Nyonya Muda Alexander loh, kamu tidak takut di pecat?" goda Aluna sembari tertawa.
"Cih ! Sekarang saja gitu, gak inget dulu gimana? Katanya gimana?" Citra pura-pura bertanya pada Nia dan Mila.
"Gue jatuh cinta sama apem tersembunyi? Ogah! gak ngangenin, hahaha," mereka bertiga tertawa terbahak-bahak membuat Aluna semakin mencebik kesal. Dia berdiri kemudian menonyor kepala mereka bergantian.
"Alunaaaaa," pekik mereka bersama-sama tapi Aluna hanya menunjukkan rentetan gigi-giginya saja.
"Kalian lihat paling bentar lagi juga ada yang jatuh cinta sama si asisten bucin," ucap Aluna, Nia dan Citra menautkan kedua alisnya sedangkan Mila langsung memalingkan wajahnya.
"Iya gak Mil?" tanya Aluna menggoda sambil menaik-turunkan alisnya.
"Ish ! dasar bumil! aku gak akan ya jatuh cinta sama asisten bucin suamimu itu," sanggah Mila, dia berpura-pura fokus pada layar komputernya.
"Loe Mil? hubungan loe sama Dimas gimana?" tanya Citra bingung.
"Jangan bilang loe-gue kalau ada Nyonya muda, apa kalian mau Tuan Davin kesini hanya untuk mencium Aluna karena dia bicara loe-gue!" ucap Mila membuat Aluna berdecih sebal.
"Diamlah Mil!" suruh Aluna tapi Mila justru tersenyum tipis.
"Kalian berdua sudah menodai mata suciku tahu gak?!" Mila berpura-pura kesal.
"Menodai mata suci mu tapi bibirmu sudah gak suci," sindir Aluna.
"Yang penting pintu surga dunia gue masih suci," balas Mila.
__ADS_1
"Gue penasaran, emang beneran kalau loe bilang loe-gue, Tuan Davin bakal cium loe?" tanya Citra penasaran, Aluna hanya mengangkat kedua bahunya.
"Gak percaya coba saja," tantang Mila, tapi Aluna tidak menanggapi. Ponsel Aluna berdering, dia langsung menatap layar ponselnya, tertera nama suaminya disana.
"Hallo mas," sapa Aluna pelan.
"Oh mas, manisnya..." goda Mila setengah berbisik, Aluna mendelik ke arah Mila namun Mila hanya terkekeh geli.
"Sebentar lagi, aku masih pengen disini," ucap Aluna lembut.
"Ayolah sayang, aku sudah merindukan wangi tubuhmu," Mila bicara lirih tapi Aluna masih mendengarnya. Aluna mengambil pulpen di sampingnya lalu melemparkan ke arah Mila. Mila tertawa lebar menatap Aluna yang terlihat sangat kesal. Aluna pun mematikan panggilan itu.
"Milaa!!" teriak Aluna kesal.
"Iya Nyonya Muda, anda merindukan saya?" goda Mila.
"Gue rindu sama Loe? Najis!" umpat Aluna kesal. Davin yang baru masuk ruangan itu langsung mencium bibir Aluna begitu saja. Semua tertegun melihat gerakan Davin yang tiba-tiba. Aluna pun ikut bergeming.
"Sayang, aku sudah bilang jangan bilang loe-gue,"
"Uh so sweet, baru kali ini melihat adegan ciuman secara live, lagi lagi lagi," teriak Citra heboh, namun sesaat kemudian dia langsung terdiam saat mendapat tatapan tajam dari Tuan Davin dan Asisten Jo yang berdiri di samping Tuan Davin.
"Ya bisa lah, Ayo kembali ke ruanganku, sepuluh menit lagi jam makan siang. Jangan sampai kamu dan baby kita kelaparan," ucap Davin sambil membopong tubuh Aluna.
"Turunkan aku mas, aku malu," tolak Aluna namun Davin seakan tidak peduli.
"Aku tidak akan membiarkan kamu kelelahan sayang," Mereka bertiga tidak menyangka dengan perlakuan Davin yang begitu romantis.
"Jadi pengen," celetuk Mila sambil memangku dagunya.
"ehem!" Mereka langsung menoleh ke arah Asisten Jo yang masih berdiri di samping pintu.
"Seriuslah bekerja atau aku akan memecat kalian tanpa pesangon," ancam Asisten Jo. Mereka langsung menunduk takut. Asisten Jo mendekati meja Mila, melihat Asisten Jo yang mendekat ke arahnya, Mila menjadi sangat gugup.
"Temui aku di taman kota nanti jam tujuh malam," titah Asisten Jo, Mila mendongak, tatapan mata mereka berdua bertemu, Asisten Jo langsung memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Tapi saya bekerja Tuan," tolak Mila halus, Asisten Jo menyeringai tipis.
"Kamu tidak takut pada ancamanku? apa kamu perlu bukti kalau aku tidak pernah main-main dengan ucapanku?!"
"Baik pangeran hatiku, akan saya laksanakan," goda Mila dengan berani, membuat Asisten Jo berdecak kesal kemudian dia pergi meninggalkan ruangan itu.
"Loe kok berani sih Mil?" tanya Citra tak percaya.
"Ya berani lah, sama-sama makhluk ciptaan Tuhan ngapain takut?" Citra langsung menghembuskan nafas kasar. Mereka bertiga pun kembali fokus pada pekerjaanya.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Asisten Jo duduk di bangku taman kota dengan satu kaki menindih kaki lainnya. Tangannya terlipat di dada, dia berkali-kali menghembuskan nafas kasar.
"Tuan..." Asisten Jo menoleh, dia melihat Mila berdiri dengan nafas terengah-engah.
"Kamu terlambat sepuluh menit," ucap Asisten Jo sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Maaf Tuan, barusan Rayhan hendak ikut makanya saya harus pergi diam-diam Tuan," Mila duduk di samping Asisten Jo.
"Kenapa kamu tidak mengajaknya?" tanya Asisten Jo dengan wajah yang terlihat kecewa.
"Saya takut dia akan mengganggu kencan kita Tuan," canda Mila membuat Asisten Jo langsung menatap tajam ke arah Mila.
"Ma-maaf Tuan," Mila menghentikan tawanya, tubuhnya meringsut takut.
"Apa kamu sudah berhenti bekerja di restoran itu?" tanya Asisten Jo tanpa basa-basi.
"Saya belum resign Tuan," jawab Mila, Asisten Jo langsung mengepalkan tangannya.
"Apa kamu pikir saya main-main? kamu tahu, nyawa Rayhan sedang dalam ancaman," tegas Asisten Jo.membuat Mila menghela nafas panjang.
"Bukankah anda sudah menempatkan dua pengawal di rumah saya?" tanya Mila seolah memojokkan Asisten Jo, yang di tanya hanya diam tidak menjawab.
"Berhentilah bekerja atau aku akan membawa paksa Rayhan!"
__ADS_1
"Tuan, kenapa aku merasa kita seperti sepasang suami istri yang bercerai dan sedang memperebutkan hak asuh anak?" Gurau Mila tapi Asisten Jo diam tidak menanggapi.
"Mil..." tawa Mila langsung berhenti saat mendengar namanya di panggil. Dia berbalik dan melihat Dimas sedang berdiri di belakangnya dengan wajah merah padam karena amarah.