
Aluna menunggu kepulangan suaminya di depan Mansion, begitu mobil Davin sudah masuk Mansion, Aluna langsung berlari mendekati mobil itu. Davin langsung bergegas keluar dengan wajah khawatir saat melihat Aluna menunggunya, bahkan Davin keluar sebelum Asisten Jo keluar dari mobilnya.
"Ada apa sayang?" tanya Davin begitu dia sudah berdiri di depan Aluna, tak lupa dia mengecup puncak kepala Aluna.
"Aku tidak menunggumu, Mas. Aku menunggu Jo," Davin langsung mengerutkan keningnya mendengar jawaban Aluna, bahkan Asisten Jo yang baru keluar dari mobil langsung menatap penuh tanya ke arah Aluna.
"Jo, apa ponselmu tidak bisa di hubungi?" tanya Aluna tanpa basa-basi.
"Saya matikan, Nona," jawab Asisten Jo malas.
"Oh, pantesan," kata Aluna sambil menganggukkan kepalanya perlahan.
"Pantesan kenapa sayang?" tanya Davin bingung.
"Tadi siang Mila kesini, dia nangis-nangis karena ponsel Jo dari kemarin tidak bisa di hubungi. Dia mau minta maaf sama Jo, mau nyusul ke kantor takut ganggu suaminya yang sedang kerja," jelas Aluna, wajah Asisten Jo masih terlihat datar.
"Biar saja Nona. Saya mau kasih pelajaran untuk istri saya karena dia tidak berkata jujur kepada saya," timpal Asisten Jo. Aluna menghela nafas panjang.
"Huh! Dia ke sini pamitan sama aku, Jo. Katanya dia mau pergi saja karena kamu tidak mau memaafkan dia," Mata Asisten Jo melebar mendengar ucapan Aluna.
"Berpamitan ke mana Nona?" tanya Asisten Jo tak sabar, bahkan wajahnya menunjukkan raut khawatir.
"Entahlah, dia cuma bilang mau pergi saja," jawab Aluna. Tanpa banyak bicara Asisten Jo langsung masuk kembali ke dalam mobil dan melajukan mobil itu cukup kencang.
"Sayang? Apa yang kamu katakan benar?" tanya Davin menyelidik karena dia melihat Aluna yang berusaha menahan tawa setelah kepergian Asisten Jo.
"Mana mungkin aku bohong, Mas," kata Aluna dengan bibir yang terlipat.
"Sayang, aku akan menelanjangimu disini kalau kamu berani berbohong," ancam Davin, Aluna langsung memasang wajah kesal.
"Bisakah kamu mengancam dengan ancaman yang lebih bermutu?!" ketus Aluna. Davin hanya tersenyum tipis, dia langsung mencium pipi Aluna membuat wajah Aluna langsung merona merah.
__ADS_1
"Sekarang katakan padaku, ke mana Mila sebenarnya?" desak Davin.
"Aku ceritain di dalam saja. Di sini aku capek kalau sambil berdiri," kata Aluna, Davin langsung membopong Aluna ala bridal style, berjalan masuk menuju mansion. Begitu sampai di ruang tamu, Davin langsung menurunkan tubuh Aluna di atas sofa secara perlahan, membuat wajah Aluna merona merah karena malu. Davin duduk di samping Aluna dengan satu tangan merangkul pundak istrinya itu.
"Sebenarnya, ke mana Mila?" tanya Davin yang juga tak sabar. Belum juga Aluna menjawab, teriakan Alvino dan Nathan terdengar di telinga Davin hingga Davin menoleh ke belakang.
"Daddy," panggil Alvino, dia langsung duduk di pangkuan Davin sedangkan Nathan duduk di sofa. Davin menatap heran ke arah Nathan sedangkan Aluna hanya diam tidak memberikan penjelasan.
"Nathan, kamu di sini sama siapa?" tanya Davin penasaran.
"Sama bunda, Kak Rayhan dan adik Cacha," jawab Nathan santai, Davin melongo mendengar jawaban Nathan.
"Jadi kalian semua disini?" tanya Davin tak percaya. Nathan langsung mengangguk cepat.
"Sayang?" Davin beralih menatap penuh tanya ke arah Aluna yang sedang menutupi bibirnya.
"Bukan aku pelakunya, Mas. Aku cuma menuruti apa perintah Mila," sahut Aluna santai, Davin menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Terus kenapa kamu bilang kalau Mila sudah berpamitan sama kamu?" tanya Davin bingung.
"Astaga! Kalian benar-benar," Davin tak bisa lagi berkata-kata melihat kelakuan Aluna dan Mila yang menjahili Asisten Jo.
"Jo pasti sekarang sedang kalang kabut mencari Mila," gumam Davin. "Sekarang Mila di mana?" tanya Davin karena dia tidak melihat keberadaan Mila.
"Bunda sedang tidur, ngelonin adik Cacha," jawab Nathan. Davin mengusap wajahnya kasar.
"Kasihan sekali nasibmu, Jo," gumam Davin, dia yakin saat ini pasti Asisten Jo sedang kalang kabut mencari Mila. Niat hati, Asisten Jo ingin memberi pelajaran untuk Mila tapi justru dirinya yang di jahili Mila dan juga Aluna.
"Kita lihat saja Mas, seberapa bucinnya Jo sama Mila," kata Aluna sembari menaik-turunkan alisnya.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
__ADS_1
Asisten Jo berkali-kali memukul setir kemudi karena jalanan yang macet di saat dia sedang terburu-buru. Dia takut apa yang di katakan Aluna benar kalau Mila akan pergi meninggalkannya.
"Sial!" umpat Asisten Jo saat mobilnya hanya bisa berjalan perlahan. Asisten Jo mengetuk-ngetuk jari kanannya di paha, untuk mengurangi rasa gelisah yang kini hadir di hatinya. Di dalam hati dia berkali-kali berdoa semoga Mila tidak meninggalkannya. Hampir satu jam perjalanan yang harusnya hanya di tempuh dalam waktu lima belas menit, jantung Asisten Jo semakin berdegup kencang saat dia sudah melihat rumahnya. Entah mengapa, hatinya benar-benar merasa takut. Dia memarkirkan mobilnya sembarangan, lalu bergegas masuk ke dalam rumah untuk mencari istri dan anak-anaknya.
"MILA! MILA!" teriakan Asisten Jo terdengar menggema di rumah itu, namun tak ada satu pun sahutan dari istrinya. Saat Asisten Jo hendak berjalan menuju kamarnya, dia mendengar Ayu memanggilnya membuat Asisten Jo langsung menghentikan langkahnya.
"Ada apa, Yu?" tanya Asisten Jo saat Ayu sudah berdiri di depannya.
"Nyonya pergi, Tuan," Deg. Darah di tubuh Asisten Jo terasa berdesir, jantungnya semakin berdetak cepat sedangkan hatinya semakin merasa gelisah.
"Pergi kemana?" Asisten Jo berusaha menetralkan suaranya yang terdengar cemas.
"Saya tidak tahu, Tuan. Nyonya pergi bersama anak-anak dan membawa satu buah koper, Tuan. Nyonya hanya berpesan kalau Tuan datang, Tuan di suruh membaca surat di atas nakas di kamar," terang Ayu. Asisten Jo langsung berlari menuju kamarnya. Begitu sampai di kamar, Asisten Jo mengedarkan pandangan matanya ke arah nakas. Dia melihat secarik kertas terlipat yang tergeletak di sana. Asisten Jo berjalan cepat menuju nakas dan meraih kertas itu. Asisten Jo membuka kertas itu perlahan dengan hati yang gugup. Dia membaca tulisan tangan istrinya yang begitu rapi.
Untuk suamiku tercinta.
Aku minta maaf kalau aku salah sama kamu Mas. Aku memang salah kalau aku tidak jujur padamu tentang Dimas. Sebenarnya sejak malam Dimas menghubungiku, tapi aku tidak mengatakan padamu karena aku langsung memblokir nomer Dimas. Akan tetapi, Dimas kembali menghubungiku siang hari saat aku akan berkata jujur padamu, dia mengancamku dengan nyawa Nathan hingga membuat otak aku blank seketika Mas. Kamu tahu? Yang ada di otakku saat itu hanyalah keselamatan Nathan. Sudah Mas, aku tidak mau cerita panjang lebar, karena aku yakin kalau kamu sudah dengar dari Dimas, Aluna maupun Tuan Davin.
Mas, aku mau pamit sama kamu. AKU PERGI! Mungkin kita akan bertemu beberapa tahun lagi, seperti di cerita romansa yang sering aku baca. Namun, sepertinya aku tidak kuat jika harus berpisah lama dari kamu, Mas. Jadi aku tidak akan pergi jauh, Mas. Repot bawa tiga anak sendirian.
Kalau kamu memang sayang padaku, carilah aku sampai ketemu, Mas. Aku tunggu kamu sampai besok pagi. Kalau kamu tidak menemukanku dan menemuiku maka aku yang akan menemuimu Mas. Kamu tenang saja. Kalau kamu sudah menemukanku dan marah-marah padaku, maka aku akan menyuruhmu berpuasa lagi selama tiga bulan dan aku tidak akan main-main dengan ucapanku ini.
Ayo Mas, cari aku. Aku tidak mematikan ponselku ataupun GPS ku.
Tertanda : Istrimu yang tercinta
Asisten Jo, membuka matanya lebar setelah membaca keseluruhan surat itu. Dia meremas kertas itu hingga tak berbentuk, lalu dia mengambil ponselnya untuk mengecek posisi GPS ponsel Mila.
"Kenapa istriku sangat gesrek sekali," gerutu Asisten Jo. Mata Asisten Jo semakin melebar saat melihat di mana posisi Mila.
"Astaga Mila! Ya Tuhan!" Asisten Jo mengacak-acak rambutnya dengan kasar, dia tidak habis pikir dengan kelakuan istrinya itu.
__ADS_1
Gak usah kesel, ini cuma Novel 😅
Happy reading gaes