
Davin memijat pelipisnya karena merasa begitu pusing. Sejak dia pulang dari rumah sakit dia hanya berdiam diri di kamarnya. Hatinya merasa begitu bingung, dia sayang sama Aluna tapi dia kecewa dengan keadaan.
' Andai Aluna tidak pergi begitu saja, andai dia bisa menahan emosinya dengan tidak memarahi Aluna, mungkin semua takkan seperti ini ' Davin mengandaikan semuanya.
ceklek...
Pintu kamar Davin terbuka, kedua orang tua Davin masuk dengan wajah merah padam karena amarah namun mereka berusaha tetap bersikap tenang.
" Ayah tidak menyangka kamu akan begitu tega menyakiti hati Aluna. Kamu sudah dewasa nyatanya jalan pikiran kamu masih seperti bocah " Tuan Doni bicara dengan nada tinggi, dia merasa kecewa dengan anak bungsunya itu.
__ADS_1
" Aku sakit yah.. calon anakku telah pergi bahkan sebelum aku mengetahui keberadaanya " Kata Davin lirih, matanya berkaca-kaca.
" Apa kamu pikir Aluna juga tidak sakit ? Apa kamu pikir dia juga tidak terluka saat dia kehilangan calon buah hati kalian ! "
Deg. Mendengar perkataan Nyonya Anita hati Davin mencelos sakit. Ya..kenapa dia begitu bodoh hanya mementingkan perasaannya sendiri tanpa peduli perasaan Aluna.
" Ibu seorang wanita Vin.. ibu tahu bagaimana perasaan sakitnya perasaan Aluna. Apalagi kamu menyalahkan Aluna tanpa memperdulikan keadaan Aluna. Ibu tidak menyangka kamu bisa sekejam itu menyakiti hati Aluna. Tubuh Aluna sakit luka-luka gitu, ditambah dia harus kehilangan calon anak kalian yang belum kalian ketahui, harusnya kamu menguatkan dia bukan malah semakin menyalahkan Aluna. Tanpa kamu sadari kamu sudah semakin meremukkan hati Aluna " Airmata Nyonya Anita mengalir mengingat betapa sakitnya hati Aluna. Tuan Doni mengusap kedua bahu istrinya untuk menenangkannya.
Plakkk... Tuan Doni menampar Davin karena sudah terlalu kecewa dengan sikap anaknya. Davin memegang pipinya yang terasa sakit karena tamparan itu. Tangan satunya mengepal erat.
__ADS_1
" Ayah tega menampar aku ?? " Tanya Davin kecewa karena baru kali ini ayahnya menamparnya.
" Ayah menampar kamu supaya kamu sadar. Ayah gak mau kamu menyesal setelah tahu keadaan yang sebenarnya. Kamu tahu gak bagaimana kronologi Aluna tertabrak ? " teriak Tuan Doni. Emosinya sudah terasa begitu menggunung. Nyonya Anita hanya menangis. Davin diam, dia memang belum mengetahui bagaimana kronologi tertabraknya Aluna.
" Aluna bukan tertabrak tapi memang sengaja di tabrak " Kata Tuan Doni dengan suara berat. Davin langsung menatap ayahnya memastikan pendengarannya tidak salah.
" Sengaja ditabrak ?? " Mendengar pertanyaan Davin, Tuan Doni mengangguk pelan. Tuan Doni lantas duduk di samping Nyonya Anita.
" Sepulang dari kantor kamu, Aluna menolong seorang ibu yang kejambretan. Dia berhasil membuat motor jambret itu terjatuh dan berhasil mengambil tas ibu itu. Aluna lalu mengembalikan tas itu kepada pemiliknya. Namun, penjambret itu dendam dengan Aluna, hingga saat Aluna sedang berdiri, mereka sengaja menabrak Aluna, hingga tubuh Aluna terpelanting jauh. Kamu hanya bisa melihat wajahnya yang luka, tapi kamu tidak tahu kan ? Kalau tulang kaki dan tangan Aluna patah. Tuhan masing sayang Aluna, dia masih bisa selamat meski dia harus kehilangan janinnya " Airmata Tuan Doni menetes, dia sungguh sakit melihat keadaan anak menantunya itu. Davin yang mendengar penjelasan Ayahnya langsung menjambak rambutnya sendiri, dia menyesal kenapa dia sudah begitu bodoh.
__ADS_1
" Aluna juga tidak tahu kalau dia hamil, dia pun sangat terluka, dia menyesal kenapa tidak bisa menjaga janin di rahimnya itu " Tambah Tuan Doni. Davin semakin menjambak rambutnya sendiri. Sungguh dia merasa sangat menyesal.
" Dan kamu tanpa peduli perasaan Aluna langsung menghakimi Aluna semau sendiri. Jika memang kamu tidak sayang padanya, lepaskan dia.. walau pernikahan kalian baru seumur jagung, tapi ayah dan ibu tidak rela kamu begitu keterlaluan menyakiti hati Aluna. Biar dia bahagia mendapatkan lelaki yang bisa mengerti perasaannya " Mendengar perkataan ibunya Davin langsung menatap mereka berdua tajam. Tangannya mengepal erat. meski airmatanya mengalir membasahi pipinya namun jelas sekali wajahnya menampilkan amarah.