Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
EP 54


__ADS_3

Setelah hampir setengah jam di dalam kamar mandi, Dinar keluar dengan lega. Begitu dia keluar dari kamar mandi, Dinar menatap ke arah Ardian yang sedang menutup tas gendongnya.


"Kamu mau kemana?" tanya Dinar, Ardian menoleh ke arah Dinar.


"Aku mau pergi, bukankah kamu sudah mengusirku?" tanya Ardian, dia berjalan mendekati Dinar.


"Biar aku bantu kamu, setelah ini aku janji akan pergi sesuai keinginan kamu," ucap Ardian sambil memegangi tiang infus dan satu tangannya memegang lengan Dinar.


"Kamu sungguh akan pergi?" tanya Dinar berat, dia merasakan hatinya seolah tak rela.


"Ya, bukankah kamu selalu mengusirku? Jadi aku akan pergi, katamu kamu bisa melakukan apapun sendiri, jadi aku merasa sudah tidak di butuhkan lagi disini," sahut Ardian, Dinar mendudukkan tubuhnya di brankar.


"Bagus kalau begitu, aku tidak akan terganggu lagi dengan kehadiranmu," ucap Dinar tanpa berani menoleh ke arah Ardian.


"Aku harap kamu tidak akan merindukanku," goda Ardian, dia menunjukkan senyum manis untuk Dinar dan sialnya Dinar justru terpesona dengan senyuman itu.


"Cih! Tidak akan," ucap Dinar yakin, walaupun di dalam hatinya merasa ragu.


"Aku sudah menuruti keinginanmu untuk pergi, bisakah kamu menuruti satu keinginanku?" pinta Ardian penuh harap. Dinar tidak menjawab, tetapi kedua bola matanya menatap penuh tanya ke arah Ardian.


"Aku ingin memelukmu sebagai tanda perpisahan kita." Hati Dinar mencelos, darah di tubuhnya terasa berdesir. Bukankah ini yang dia inginkan? Dia sendiri yang mengusir Ardian, tetapi kenapa sekarang Ardian berpamitan dia merasa tidak rela?


"Bagaimana Dinara Efendi?" tanya Ardian, membuyarkan lamunan Dinar.


"Sebentar saja, setelah itu pergilah dan jangan pernah kembali lagi," kata Dinar dengan ketus.


"It's okey," sahut Ardian, dia menarik tubuh Dinar dan mendekapnya erat. Bahkan, Ardian dengan lembut mengecup puncak kepala Dinar yang sudah memejamkan matanya.


"Hiduplah dengan baik setelah ini, karena kamu adalah gadis yang baik dan hebat. Jika suatu saat kamu terluka, menolehlah ke belakang karena aku akan selalu berdiri di belakangmu, dan aku selalu siap kapanpun kamu akan memelukku," bisik Ardian, airmata Dinar seketika lolos begitu saja. Hatinya merasa terluka saat mendengar ucapan Ardian.


Setelah cukup lama, Ardian melerai pelukannya, kedua ibu jarinya menyapu air mata di pipi Dinar.


"Jangan menangis, aku hanya menuruti keinginanmu saja," ucap Ardian lembut, Dinar menyingkirkan tangan Ardian dengan kasar, lalu dia mengedipkan matanya berkali-kali.


"Aku bukan menangis, aku hanya kelilipan," kata Dinar beralasan, Ardian tersenyum tipis ke arah Dinar.


"Sudahlah, aku pergi. Jaga dirimu baik-baik. Cup!" Ardian mengecup pipi Dinar lembut lalu dia bergegas pergi keluar dari ruangan itu. Dinar memegang bekas ciuman Ardian di pipinya dengan senyum simpul, tetapi senyum itu menghilang begitu saja setelah Dinar sadar Ardian tidak lagi di sampingnya.


"Bukankah ini yang aku inginkan?" gumam Dinar sembari meremas dadanya kuat. "Kenapa aku merasa sakit disini?Huh!" Dinar menghembuskan napas kasar.


Dinar merebahkan tubuhnya di atas brankar, bayangan Ardian yang menunggunya kembali teringat dalam ingatannya. Bagaimana Ardian dengan telaten menjaga dan memperhatikan dirinya meskipun dia sudah berusaha terlihat seketus mungkin di depan Ardian, tetapi Ardian tetap bersikap baik. Dinar berusaha memejamkan mata agar bayangan Ardian tidak lagi menghantui, tetapi semakin matanya terpejam, bayangan Ardian justru semakin menggoda.

__ADS_1


Tok tok tok


Pintu di ketuk dari luar membuat Dinar seketika mengalihkan pandangan matanya.


Apa Ardian kembali lagi? Pikir Dinar dengan senyum di wajahnya, tetapi senyum itu langsung memudar saat melihat siapa yang masuk ke dalam ruangan itu.


"Hai Dinar, bagaimana kabar kamu?" tanya Aluna, dia masuk bersama seorang wanita yang masih muda.


"Nona, saya sudah mendingan," jawab Dinar sopan.


"Syukurlah, aku ikut senang kalau kamu sudah lebih baik. Oh iya Dinar, kenalkan ini Felisa, orang yang akan menjaga kamu," Dinar menatap Aluna dan Felisa bergantian.


"Nama saya Felisa, Nona." Felisa mengulurkan tangan, memperkenalkan diri.


"Dinar," sahut Dinar membalas jabatan tangan Felisa.


"Dinar, setelah sembuh kamu mau kemana? Tetap di Jakarta atau mau pulang ke Bandung?" tanya Aluna pelan.


"Em, mungkin saya akan tetap disini, bagaimanapun juga saya tetap harus memenuhi kebutuhan keluarga saya di kampung, Nona." Aluna tersenyum mendengar jawaban Dinar.


"Kamu memang gadis yang hebat, mengingatkanku pada masa mudaku dulu," puji Aluna, Dinar hanya menanggapi dengan senyuman. Aluna mengeluarkan ponsel dari saku jaket, memencet layar ponsel itu berkali-kali, lalu menyodorkan pada Dinar, tetapi Dinar hanya diam sembari menatap bingung ke arah Aluna.


"Ada yang mau bicara sama kamu," kata Aluna lembut.


"Bicara saja," suruh Aluna. Dinar dengan ragu meletakkan ponsel itu di dekat telinga.


"Hallo," sapa Dinar.


"Kak Dinar." Dinar terkejut saat mendengar suara adiknya.


"Lisa? Ini beneran kamu, Lis?" tanya Dinar tak percaya.


"Iya Kak, ini Lisa. Aku kangen banget sama Kakak," kata Lisa heboh, mata Dinar terlihat berkaca-kaca.


"Kakak juga kangen kamu, Lis. Bagaimana keadaan kamu dan Bapak Ibu di rumah?" Dinar menyeka airmata yang mengalir dari sudut matanya.


"Baik Kak. Kakak kapan pulang?" tanya Lisa pelan.


"Beluk tahu Lis, Kakak masih harus kerja disini untuk mencukupi kebutuhan kita," sahut Dinar sedih.


"Kak, kakak tidak perlu kerja lagi, hidup kita sudah di cukupi, bahkan bapak sekarang sedang melakukan terapi biar bisa sehat lagi." Kedua bola mata Dinar melebar mendengar ucapan adiknya, pandangan mata Dinar menatap ke arah Aluna yang sedang menatap ke arahnya dengan tersenyum.

__ADS_1


"Siapa yang melakukan kebaikan itu?" tanya Dinar penasaran, walaupun dalam hati dia sudah bisa menebak siapa yang membantu keluarganya.


"Entahlah Kak, mereka tidak mengatakan nama mereka, hanya mengatakan semua itu dari Kakak," sahut Lisa.


"Ya sudah, mungkin seminggu lagi Kakak akan pulang,"


"Baik Kak, aku tunggu." Suara Lisa terdengar heboh, membuat Dinar lagi-lagi tersenyum simpul. Setelah berpamitan, panggilan itu lalu dimatikan.


"Nona ini ponselnya," ucap Dinar, dia menyerahkan ponsel itu kepada Aluna. "Terima kasih banyak, Nona."


"Untuk?" Aluna menautkan kedua alisnya.


"Untuk semua yang sudah Nona berikan untuk saya dan keluarga saya," sahut Dinar, suara Dinar terdengar parau menahan airmata.


"Bukan aku yang melakukannya Dinar, justru aku dan kedua keluargaku berencana akan ke tempat kamu setelah kamu sudah di perbolehkan pulang," sanggah Aluna, Dinar menatap Aluna, mencari kebohongan dari sorot mata Aluna, tetapi Dinar tidak menemukannya.


"Lantas siapa?" tanya Dinar bingung.


"Sudah, anggap saja rezeki kamu karena kebaikanmu, kamu tidak perlu berterima kasih, aku yakin orang itu tulus memberi pada keluargamu," ucap Aluna, Dinar mengangguk perlahan meskipun dalam hati dia masih sangat penasaran.


"Dinar, aku mau meminta maaf atas nama Ardian, barangkali selama menjaga kamu, dia sudah membuat kamu tidak nyaman. Dia buru-buru pergi karena pekerjaanya sudah tidak bisa di tinggal lagi, dia meminta seorang pelayan mansion untuk menemanimu, itu sebabnya aku membawa Felisa kesini," jelas Aluna, entah mengapa Dinar merasa tersindir oleh ucapan Aluna karena dia tidak bersikap baik pada Ardian.


"Nona, saya yang seharusnya minta maaf. Saya sudah ketus kepada Ardian padahal dia sudah menjaga saya dengan baik,"


"Tidak apa. Aku pun akan melakukan hal sama saat berada di posisimu. Ardian memang sangat keterlaluan karena sudah mengambil kesucianmu." Dinar mendongak, dia menatap Aluna lekat.


"Nona tahu?" tanya Dinar tak percaya, Aluna mengangguk pelan.


"Istirahatlah, supaya tubuhmu lekas pulih. Aku pergi dulu ya, takut baby Nadira mencariku. Felisa, kamu jaga Dinar dengan baik," suruh Aluna, Felisa yang sedari tadi diam, hanya mengangguk paham. Aluna pun pergi dari ruangan itu, sedangkan Dinar hanya menatap punggung Aluna yang perlahan menjauh darinya.


Siapa yang sudah menolongku? Benarkah bukan keluarga Nona Aluna? Kenapa aku merasa sangat bersalah kepada Ardian?


"Bukankah aku yang menyuruhnya pergi, kenapa sekarang aku menyesal sendiri," gumam Dinar.


"Apa Anda perlu bantuan, Nona?" Dinar terjengkit kaget mendengar suara Felisa karena dia sedang melamun.


"Em, tidak. Duduklah, kamu pasti lelah sedari tadi berdiri," suruh Dinar, Felisa tetap berdiri tanpa sedikitpun beranjak dari posisinya.


"Terima kasih Nona, saya berdiri saja," tolak Felisa.


"Kalau kamu tidak mau duduk, maka pergilah dari sini," usir Dinar tegas. Felisa yang merasa takut, segera duduk di kursi dekat brankar.

__ADS_1


"Satu hal lagi, jangan panggil aku Nona, tetapi panggil saja Dinar. Kalau kamu membantah, aku benar-benar akan menyuruhmu pergi saat ini juga," ancam Dinar, Felisa menanggapi dengan anggukan pelan.


"Baik Non eh Dinar," ucap Felisa pelan, Dinar tersenyum tipis.


__ADS_2