
Hari -hari yang dilalui Davin dan Aluna selalu punya cerita sendiri, hingga tanpa sadar kini usia kehamilan Aluna sudah memasuki bulan ke empat. Perut Aluna mulai terlihat membuncit. Dan kehamilannya dengan Sisil-istri Ronal, hanya selisih satu mingguan saja. Tentu saja keluarga Bagaskara sangat bahagia, karena mereka akan mendapatkan dua cucu sekaligus. Kemarin, mereka baru saja selesai melakukan acara syukuran empat bulanan.
" Kak.... kakak makin berisi sekarang " Ucap Ardian. Aluna mencebikkan bibirnya kesal.
" Dek, kamu lama banget gak bareng kakak kok sekarang jadi makin ngeselin sih " Protes Aluna. Ya, Ardian selama ini sibuk dengan kuliahnya hingga membuat Aluna terkadang sangat merindukannya. Mereka hanya sebatas berbincang lewat panggilan suara atau vidio call untuk melepas rindu.
" Kamu bentar lagi lulus kuliah, rencana mau kerja dimana Ar ?" Tanya Ronal, tapi Ardian hanya menggeleng pelan.
" Entahlah Kak, aku masih belum kepikiran. Tapi, kayaknya aku mau bikin usaha sendiri "
" Usaha apa ? " Tanya Aluna penasaran.
" Ada deh. Nanti kalau bilang Kak Luna, kakak suka rusuh " Ucap Ardian sambil menambahkan tawa mengejek di belakang ucapannya. Membuat Aluna dengan gemas menjewer telinga Ardian hingga Ardian mengaduh kesakitan.
" Aduuh aduuh sakit kak " Ardian mengusap telinganya yang memerah.
" Enggak kak Ronal ataupun kak Luna suka banget njewer telinga aku sih. Udah hobi apa gimana ?!" Ucap Ardian tapi Aluna maupun Ronal hanya tersenyum lebar seolah tak berdosa.
Davin masuk di ikuti Asisten Jo di belakangnya. Membuat obrolan mereka terjeda sesaat. Begitu sampai di samping Aluna, Davin langsung mencium lembut pipi Aluna.
" Lagi ngobrolin apa sayang ? Kok kayaknya seru banget " Tanya Davin kemudian duduk di samping Aluna. Sedangkan Asisten Jo pamit undur diri.
" Gak duduk dulu Jo ? kan kamu baru saja masuk " Tanya Aluna saat Asisten Jo pamit.
" Tidak Nona, saya mau mempersiapkan barang-barang yang mau di bawa ke luar kota " Jawab Asisten Jo sopan.
" Keluar kota ? Sama siapa ? " Aluna mengerutkan kedua alisnya.
" Sama aku sayang, ada proyek baru disana dan kita harus mengeceknya langsung kesana " Davin yang menjawab sambil menangkup kedua pipi Aluna.
" Kenapa mendadak sekali ?" Aluna curiga, namun Davin menanggapi dengan senyuman.
__ADS_1
" Sayang, aku kesana untuk kerja bukan untuk macam-macam "
" Kalau kamu mau macam-macam juga gak papa, tapi jangan salahkan aku kalau aku bawa anak kita pergi jauh " Ucap Aluna membuat Davin begitu takut.
" Jangan bicara seperti itu. Aku gak mau jauh dari kamu." Davin langsung memeluk erat Aluna. Davin hanya memaklumi sikap Aluna, karena semenjak hubungan mereka membaik, dia dan Aluna belum pernah terpisah jauh.
" Berapa lama kamu disana mas ? " Tanya Aluna lirih. Entah mengapa ada perasaan gelisah yang menyelimutinya.
" Kalau lancar nanti sorenya aku usahakan pulang ya, tapi kalau kemaleman paling aku pulang pagi hari " Jelas Davin lembut tapi Aluna hanya diam tidak menanggapi.
" Ya udah bobok yuk, aku gak mau kamu kecapekan " Ajak Davin sambil menggandeng tangan Aluna menuju kamarnya.
Ketika sampai di kamar, Davin langsung memeluk tubuh Aluna erat seolah tidak ingin melepaskannya. Kini mereka tidur berdampingan dengan tubuh saling memeluk erat. Davin mengusap-usap perut Aluna, rasanya dia sangat berat meninggalkan Aluna.
" Kamu kenapa mas ? " Tanya Aluna heran karena sedari tadi dia mengusap perut Aluna tanpa henti.
" Gak papa, cuman pengen aja nyapa baby kita. Jangan nyusahin mommy ya kalau daddy lagi jauh dari kalian." Ucap Davin lirih sambil mengecup lama perut Aluna yang mulai terlihat membuncit. Hati Aluna terasa mencelos, entah mengapa perasaanya menjadi tak enak.
" Sangat penting sayang, tapi akan aku usahakan pulang sore atau malam hari. Sudah malam, ayo kita tidur " Ajak Davin. Aluna pun menurut, dia memeluk tubuh Davin erat seolah tak ingin melepaskan. Davin pun mengecup puncak kepala Aluna berkali-kali. Hingga akhirnya mereka berdua terlelap dalam mimpi indah dengan pelukan yang saling menghangatkan namun tanpa olahraga seperti biasanya.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Aluna mengantarkan Davin sampai ke teras mansion. Andai Aluna sedang tidak hamil pasti Davin akan membawa Aluna bersamanya. Tapi sekarang Aluna sedang mengandung buah cinta mereka, maka Davin dengan sangat menjaga Aluna dan calon buah hati mereka, itu sebabnya Davin tidak mengajak Aluna.
" Aku berangkat dulu sayang " Pamit Davin saat sudah sampai di samping mobil. Asisten Jo sudah membuka pintu mobil penumpang untuk Tuan Mudanya itu.
" Hati-hati. Jangan lupa selalu kabari aku " Kata Aluna berat. Davin yang melihat wajah Aluna seakan tak ikhlas itu hanya mengulum senyumnya.
" Iya sayang, kamu juga jaga kesehatan kamu ya, jaga baby kita di dalam. Anak daddy harus jaga mommy selama daddy jauh dari mommy ya, jangan nakal " Davin mencium perut Aluna sambil memejamkan matanya. Mata Aluna berkaca-kaca, tapi dengan segera dia mengusapnya.
" Aku pergi sayang " Ucap Davin menciumi seluruh wajah Aluna, kemudian dia membenamkan ciuman di bibir Aluna. Asisten Jo hanya memalingkan wajahnya. Aluna meresapi ciuman dari Davin, ciuman yang seolah menyalurkan semua perasaan Davin padanya. Setelah melepas ciuman itu, Davin memandang lekat wajah Aluna. Dia melihat mata Aluna yang mulai basah.
__ADS_1
" Jangan menangis. Aku mencintaimu " Ucap Davin lembut sambil mengusap airmata yang hendak keluar dari sudut mata Aluna. Aluna mengulas senyumnya sambil mengangguk pelan.
" Aku juga mencintaimu mas " Sahut Aluna membuat Davin menghujami wajah Aluna dengan ciumannya lagi.
" Ya sudah aku berangkat dulu ya " Davin melepaskan tangannya dari wajah Aluna kemudian masuk ke dalam mobil.
" Hati-hati. Jangan lupa kabari aku " Kata Aluna dan Davin hanya menanggapi dengan senyuman. Asisten Jo kemudian melajukan mobilnya meninggalkan Mansion Alexander. Aluna yang melihat kepergiaan Davin hanya meremas dadanya, entah mengapa dia merasakan sakit disana.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, tapi Davin belum juga pulang. Aluna menunggu dengan hati tak tenang, dia menatap layar ponselnya. Melihat pesan yang belum juga terbaca oleh Davin. Sore tadi, Davin berkata bahwa pekerjaannya hampir selesai dan kemungkinan dia akan pulang malam ini juga. Itu sebabnya Aluna harap-harap cemas menunggu kepulangan Davin. Dia memejamkan matanya, kenapa perasaanya jadi tidak enak begini, hatinya merasa gelisah. Berkali-kali dia menghubungi Davin namun tak ada satupun respon Davin yang Aluna terima. Akhirnya, Aluna hanya diam menunggu, menatap layar ponsel yang sedari tadi menyala.
Saat dia hendak beranjak bangun untuk minum, tiba-tiba ponselnya berdering. Senyum Aluna langsung terbit saat melihat nama suaminya tertera di layar ponsel itu, dengan segera dia menekan tombol hijau.
" Hallo sayang, kamu sedang apa ? " Suara dari seberang seolah mampu membuat setitik airmata Aluna keluar dari sudut mata Aluna.
" Aku merindukanmu " Ucap Aluna berusaha menahan tangisnya. Terdengar desahan panjang dari seberang telepon.
" Jangan menangis sayang, aku sedang perjalanan pulang dan maaf tadi aku tidak membalas pesanmu karena aku sedang sibuk bersiap-siap pulang " Ada nada sedih yang terdengar dari suara Davin dan Aluna bisa merasakan itu.
" Gak papa, yang penting kamu baik-baik saja. Hati-hati di jalan, aku menunggumu "
" Iya sayang. Aku mencintaimu. Joo awaaaassss "
Tuut tut tut
Panggilan itu terputus begitu saja sesaat setelah Davin berteriak. Tubuh Aluna langsung menegang, hatinya benar-benar merasa gelisah. Perasaan Aluna menjadi tak enak, dia berusaha menghubungi Davin tapi panggilan itu tidak bisa terhubung sama sekali. Tanpa terasa airmata Aluna langsung menetes membasahi pipinya.
" Davin.. apa kamu baik-baik saja ? hiks hiks " Gumam Aluna sambil terisak.
**Jangan lupa beri dukungan berupa like,vote maupun komentar ya.
biar Author semakin semangat nulis
__ADS_1
Salam sayang dari author recehan**