Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
139


__ADS_3

Tiga bulan kemudian


Kandungan Aluna kini hampir masuk bulan ke delapan, perutnya pun sudah terlihat sangat membuncit hingga membuat Davin semakin posesif menjaga Aluna. Aluna tidak di perbolehkan melakukan banyak kegiatan, hingga terkadang membuat Aluna merasa begitu jenuh.


"Sayang, jangan lupa susu nya diminum ya," perintah Davin sambil bersiap hendak ke kantor. Aluna tidak menjawab, dia hanya duduk di pinggiran kasur sambil menatap Davin lekat.


"Kenapa kamu memandangku seperti itu sayang? Apa kamu masih sangat terpesona dengan ketampananku?" goda Davin sambil menaik-turunkan alisnya membuat Aluna berdecak sebal.


"Aku jenuh di rumah mas, cuman makan tidur aja. Kamu lihat tubuhku semakin menggemuk," ucap Aluna manja membuat Davin begitu gemas. Davin berjalan mendekat ke tempat Aluna, dia berjongkok di depan Aluna kemudian mengecup perut buncit Aluna. Senyum Aluna terbit, dia mengusap rambut Davin.


"Anak daddy jangan nakal di dalam ya, daddy mau kerja cari uang buat beli motor baru," mendengar ucapan Davin membuat Aluna langsung menjewer telinga Davin keras.


"Auuu sakit sayang, jiwa bar-bar mu kenapa masih ada sampai sekarang sih," protes Davin sambil mengusap-usap telinganya yang memerah. Aluna hanya menanggapi dengan senyuman.


"Sekarang aja, perut aku udah besar gini kamu janjiin beli motor, kemaren-kemaren mau naik motor aja gak boleh," Aluna merajuk, Davin tertawa lebar.


"Karena aku yakin kalau sekarang kamu pasti susah naik motor sayang. Lucu gak sih? orang hamil besar gini naik naik motor sport, berasa jadi kura-kura tangan pendek karena mau megang setang gak nyampe. Hahaha" Ledek Davin membuat muka Aluna merah padam.


"Maaass!!!" Bentak Aluna marah. Davin langsung menghentikan tawanya, dia tersenyum seolah tak berdosa.


"Mas kamu ini..." Teriakan Aluna terhenti saat Davin langsung mengecup bibir Aluna.


"Aku berangkat kerja dulu sayang, baik-baik dirumah. Aku mencintaimu," ucap Davin lalu berlari keluar kamar. Dia sengaja menghindar dari singa betina yang hendak mengamuk. Sedangkan, Aluna di dalam kamar menghentakkan kakinya karena kesal.


"Untung cinta, kalau enggak udah aku tukar sama sawah sepuluh hektar kamu mas!" Teriak Aluna keras, Davin yang masih berdiri di depan kamar hanya tertawa mendengar ucapan Aluna.


"Dasar istri bar-bar ku, tega sekali mau menukar suami yang tampan ini dengan sawah sepuluh hektar," gumam Davin sambil menggelengkan kepalanya. Dia berjalan menuruni tangga dengan senyum merekah, Davin menatap jam di pergelangan tangannya.


"Tuan," langkah kaki Davin terhenti di anak tangga terakhir. Tubuhnya bergeming, menatap Asisten Jo yang sedang menatapnya dengan tersenyum.


"Jo? Kamu nyata atau aku cuma halusinasi karena lama sekali tidak melihat wajah menyebalkanmu?" Tanya Davin sambil berjalan mendekati Asisten Jo.


"Saya nyata Tuan, anda tidak merindukan saya, Tuan?" Asisten Jo menggoda Davin dengan menaik-turunkan alisnya.

__ADS_1


"Ish! Kenapa kamu sangat menyebalkan!" Sahut Davin kesal namun dia memeluk tubuh Asisten Jo erat. Asisten Jo pun membalas pelukan Davin namun Davin langsung melerai pelukannya.


"Kenapa aku merasa kita pasangan yang habis terpisah lama Jo,"


"Kita memang habis terpisah jauh Tuan. Saya saja sangat merindukan Tuan,"


"Jooo!! Rasanya aku benar-benar ingin menyumpal mulutmu!" Teriak Davin kesal. Asisten Jo hanya tertawa lebar.


"Tiga bulan saya tinggal anda tidak berubah Tuan. Apa anda juga seperti itu kepada ayah saya?"


"Aku masih tahu sopan santun Jo," kata Davin sambil berjalan menuju ruang keluarga di ikuti Asisten Jo di belakangnya. Mereka berdua duduk berhadapan di ruang keluarga itu.


"Tuan dan Nyonya Alexander kemana Tuan?" Tanya Asisten Jo penasaran, karena dia tidak melihat keberadaan Tuan dan Nyonya Alexander di mansion itu.


"Katanya sebelum cucu nya lahir, mereka mau berbulan madu dulu," nada bicara Davin terdengar begitu kesal.


"Anda iri Tuan?" Davin langsung menatap tajam Asisten Jo yang sedang tersenyum mengejek.


"Bagaimana Mila Jo? Apa dia sudah sembuh?"


"Syukurlah, lalu rencana kapan kamu akan menikahi Mila?" mendengar pertanyaan Davin, senyum Asisten Jo perlahan memudar.


"Mila belum mau menerima saya Tuan, katanya dia tidak pantas dengan saya," jawab Asisten Jo sambil menghela nafas berat.


"Sabar Jo, kamu harus terus berusaha. Setelah apa yang terjadi pada Mila, pasti tidak mudah untuknya membuka hati untuk yang baru. Nanti biar Aluna yang bicara dengan Mila, dia pasti sudah sangat merindukan Mila,"


"Terimakasih Tuan, sekarang dimana Nona Aluna Tuan? kenapa tidak mengantar anda?"


"Dia sudah aku suruh jaga rumah Jo. Kasian kalau perut besar gitu di bawa kemana-mana. Aku aja kadang gemas sekali dengan perutnya itu," kata Davin bahagia, namun Asisten Jo hanya menundukkan kepalanya.


"Kamu tahu Jo, istriku itu masih sangat bar-bar sekali. Aku yang tampan ini mau di tukar sawah sepuluh hektar, rugi besar dong keluarga Alexander," Davin tertawa lebar, namun Asisten tetap menunduk. Davin pun menghentikan tawanya sambil menatap heran ke arah Asisten Jo yang terus menunduk.


"Kamu kenapa Jo?" tanya Davin heran.

__ADS_1


"Ehem!" Tubuh Davin menegang mendengar suara deheman dari belakang tubuhnya. Dia sangat paham suara ini, dia hendak menoleh tapi takut.


"Tidur di luar kamar selama seminggu!" dengan keberanian yang tersisa Davin menoleh ke belakang, dia melihat Aluna yang sedang menatapnya marah.


"Sayang, aku cuma bercanda," Davin berlari mendekati Aluna hendak memeluk tubuh Aluna namun Aluna menolak.


"Jangan gitu sayang, nanti kalau baby kita kangen daddy nya gimana?" Davin berusaha merayu Aluna.


"Tinggal aku bilang aja, daddy lagi sibuk lembur jadi gak sempat jengukin," timpal Aluna membuat Davin menjadi gemas.


"Jangan marah sayang, kamu tidak merindukan Mila? Dia sudah pulang loh yang," Aluna langsung menatap Asisten Jo yang sedang duduk di sofa, kenapa dia tidak menyadari kehadiran Asisten Jo.


"Kamu sudah pulang Jo? Bagaimana keadaan Mila? Apa dia sudah sembuh?" tanya Aluna heboh, dia langsung duduk di samping Asisten Jo dan memegang lengan Asisten Jo meminta jawaban. Davin menatap tajam ke arah mereka berdua, sedangkan Asisten Jo berusaha menelan salivanya susah payah.


"Su-sudah Nona," jawab Asisten Jo gugup."Saya mohon jangan buat saya mati muda Nona, saya belum merasakan surga dunia," tambah Asisten Jo membuat Aluna mengernyitkan kedua alisnya.


"Siapa yang mau membuatmu mati muda Jo?" tanya Aluna bingung.


"Apa anda tidak lihat malaikat pencabut nyawa di depan saya? Saya mohon lepaskan tangan anda Nona," Aluna reflek melepaskan tangannya, dia menatap ke depan dimana Davin sedang menatap mereka dengan wajah yang memerah karena amarah.


"Sayang!!" Teriak Davin keras.


"Aduh aduh sakit sekali," Teriak Aluna sambil mengusap-usap perutnya. Amarah Davin langsung berganti dengan sebuah kekhawatiran.


"Apa kamu baik-baik saja sayang? Maafin daddy ya," sesal Davin sambil mengecupi perut Aluna.


Anda pintar sekali bersandiwara Nona dan Tuan Davin juga masih saja mudah di bodohi Nona Aluna.


Asisten Jo menggelengkan kepalanya melihat Aluna yang sedang berusaha menahan tawanya. Dia tahu, Aluna hanya berpura-pura sakit agar Davin tidak marah padanya.


Semangat thor bentar lagi tamat. Author semangatin diri sendiri aja deh karena gak ada yang nyemangatin 😅


dukungan kalian selalu author tunggu ya

__ADS_1


salam sayang dari author recehan 😊


__ADS_2