
Ronal yang baru saja sampai di Mansion Alexander langsung masuk begitu saja dan ternyata Aluna sudah menunggunya di ruang tamu setelah tadi dia menelepon waktu Ronal sedang dalam perjalanan.
"Cepet banget, Kak," sambut Aluna begitu Ronal sudah duduk di sofa ruang tamu.
"Kasihan kamu kalau kelamaan menunggu," sahut Ronal, seorang pelayan masuk dengan membawa satu cangkir kopi dan segelas jus mangga.
"Ada apa, Kak? Sepertinya ada hal penting yang mau Kakak sampaikan," tanya Aluna, dia menyeruput jus mangga hingga hampir setengah gelas.
"Ardian pasti sudah bercerita sama kamu tentang tujuan dia kesini," tebak Ronal, Aluna menganggukkan kepala mengiyakan ucapan Ronal.
"Dia benar-benar anak nakal. Aku tidak menyangka jika Ardian bisa senakal itu, mabuk sampai meniduri seorang gadis," geram Aluna, Ronal tersenyum tipis melihat Aluna yang mengepalkan tangannya.
"Sudahlah, kamu tidak perlu emosi seperti itu. Semua sudah terjadi, mau di sesali seperti apapun, semua tidak akan kembali lagi," nasihat Ronal, Aluna menghela napas panjang.
"Kak, kita mau cari dimana gadis itu?" tanya Aluna seolah pasrah.
"Kamu tidak perlu mencarinya, karena ternyata sekarang dia dekat dengan kita. Sepertinya mereka memang benar-benar berjodoh." Aluna menautkan kedua alisnya mendengar perkataan Ronal, karena dia belum paham dengan apa yang Ronal ucapkan.
"Maksud Kakak apa?" tanya Aluna bingung.
"Gadis yang ditiduri Ardian yang kita cari adalah Dinar," jawab Ronal, kedua bola mata Aluna membelalak seketika.
"Apa Kakak yakin?!" tanya Aluna tak percaya.
"Ya, Ardian sendiri yang mengatakannya," jawab Ronal mantap.
"Syukurlah." Aluna menghembuskan napas lega sembari mengelus dadanya.
"Jangan senang dulu, Lun." Aluna kembali menatap bingung ke arah Ronal.
"Kenapa? Bukankah kita harusnya senang karena bisa menemukan gadis itu bahkan sebelum kita mencarinya?"
"Ya, tetapi aku melihat Dinar tidak menerima kehadiran Ardian dengan baik," sahut Ronal.
"Kak, kalau itu aku maklum. Mana mungkin Dinar akan menerima Ardian begitu saja sedangkan Ardian adalah orang yang telah merenggut kesuciannya,"
"Ya, tetapi ...."
"Sudahlah, Kak. Biar itu semua jadi urusan aku. Aku yakin Dinar adalah gadis yang baik," kata Aluna mantap.
"Kalau dia tidak baik, dia tidak mungkin rela tertusuk demi menyelamatkan kamu," timpal Ronal.
"Aku sangat berhutang budi padanya," lirih Aluna, bayangan saat dia hampir tertusuk kembali teringat di ingatannya membuat Aluna seketika bergidik ngeri.
__ADS_1
"Oh iya soal Al, kamu tidak memarahi dia kan?" tanya Ronal curiga.
"Tidak, aku senang saja kalau Al mau berlatih balap motor, bisa menjadi pengganti aku, tetapi aku belum bilang sama Davin. Aku takut dia marah," kata Aluna pelan.
"Kamu bicarakan baik-baik. Lagipula aku mengajari Al sesuai umurnya kok, bukan asal mengajari saja,"
"Iya aku udah paham sama Kakak. Pokoknya Kak Ronal paling hebat," puji Aluna. .
"Mengajari Al apa?" Ronal dan Aluna menoleh ke arah pintu dimana Davin sudah berdiri disana.
"Ma-mas, kamu sudah pulang?" tanya Aluna gugup, Davin berjalan mendekati Aluna.
"Kenapa kamu gugup, Sayang?" Davin bertanya balik.
"Jangan terlalu dekat, Mas. Aku masih mual saat dekat kamu,"
"Kamu darimana, Vin?" tanya Ronal berusaha mengalihkan perhatian.
"Bertemu klien, tumben sekali kamu disini." Davin mendudukkan tubuhnya sedikit jauh dari Aluna.
"Barusan ada hal penting yang aku bicarakan bersama Aluna,"
"Hal penting apa?" tanya Davin penasaran.
"Kenapa, Mas?" Aluna berpura-pura tidak tahu.
"Apa yang kamu bicarakan dengan Ronal?" tanya Davin dengan tatapan menyelidik.
"Soal Ardian, ternyata gadis yang kita cari adalah Dinar," sahut Aluna santai.
"Apa?!" pekik Davin tak percaya. Aluna menganggukkan kepalanya membenarkan ucapannya.
"Ya Tuhan, dunia ini rasanya sempit sekali," gumam Davin. "Terus masalah Al, Ronal mengajari apa?"
"Em, it-itu ...." Aluna menggaruk kepalanya yang tidak gatal, melihat gelagat Aluna yang mencurigakan.
"Aku tahu kamu akan berbohong, Sayang,"
"Kamu menyebalkan, Mas," cebik Aluna kesal, Davin terkekeh geli melihat Aluna yang terlihat menggemaskan, andai sedang tidak ngidam, Davin pasti sudah memeluk dan menciumi wajah Aluna bertubi-tubi.
"Kak Ronal mengajari Al balapan, tetapi Kak Ronal sudah pastikan keselamatannya kok. Dia melatih Al sesuai umurnya," jelas Aluna cepat, Davin terdiam sesaat mencerna ucapan Aluna, tetapi sepersekian detik kemudian, rahangnya terlihat mengeras.
"Daddy, Mommy," sapa Alvino yang baru keluar dari ruang tengah bersama Ronal.
__ADS_1
"Al!" bentak Davin, Al yang sedang tersenyum ceria langsung meringsut takut, sedangkan Ronal menatap heran ke arah Davin yang terlihat marah.
"Kamu latihan balapan?!" tanya Davin masih dengan membentak. Ronal menghembuskan napas kasar, karena kebodohan Aluna yang bicara tidak lihat waktu dan tempat.
"I-iya Daddy," jawab Alvino lirih.
"Vin, aku menjamin keselamatan Al," kata Ronal mantap, Davin hanya tersenyum sinis ke arah Ronal.
"Tahu apa kamu ...."
"Sudah, Mas. Aku tidak mau kamu memarahi Al, apa kamu tidak lihat Al sudah sangat ketakutan?" Aluna menyela ucapan Davin, dia berjalan mendekati Alvino yang sedang ketakutan. Aluna menarik tubuh Alvino masuk dalam pelukannya.
"Jangan menangis, Mommy izinin Al latihan balapan sama Om Ronal, tetapi Al harus berhati-hati ya." Aluna melerai pelukannya, dia mengusap airmata di pipi Alvino dengan lembut.
"Sayang," panggil Davin protes.
"Sudahlah Mas, aku yang akan bertanggung jawab atas Al." Davin hanya bisa diam mendengar ucapan Aluna. "Sekarang Al mau tidur tempat Grandpa Bagas kan?" Alvino mengangguk cepat.
"Iya Mommy, kata Om Ronal disana ada Anin juga," sahut Alvino.
"Ya sudah, hati-hati. Jangan nakal, jangan nyusahin Om sama Grandpa dan Grandma. Jangan bertengkar sama Anin," nasihat Aluna.
"Baik Mommy," Alvino dan Ronal lalu berpamitan, Davin tidak menjawab saat mereka berdua berpamitan karena dia masih sangat merasa kesal.
"Mas, kamu pasti lelah. Ayo kita ke kamar," ajak Aluna, tetapi Davin tetap bergeming pada posisinya.
"Kenapa kamu izinin Al latihan balapan? Apa kamu tidak bisa menggunakan otakmu untuk berfikir sebelum bertindak!" Suara Davin meninggi. Aluna melengos, dia merasa sakit saat Davin berkata kasar seperti itu.
"Justru aku melakukannya untuk kebaikan Al, Mas," sahut Aluna.
"Kebaikan? Kebaikan apa? Kamu ini Mommy nya harusnya kamu lebih paham bagaimana menjaga anakmu, kamu lebih becus menjaga anak-anakmu." Tangan Aluna mengepal tetapi matanya mulai terlihat basah.
"Ya, aku memang tidak becus menjadi seorang Mommy, aku memang tidak bisa menjaga anakku dengan baik seperti saat aku keguguran dulu. Apa aku salah jika aku hanya ingin mengembangkan bakat yang di miliki Al?" tanya Aluna penuh penekanan, Davin merasa hatinya seperti tercubit, tetapi amarah Davij masih di ubun-ubun.
"Kamu tidak salah ingin mengembangkan bakat Al, tetapi kamu harusnya berfikir, Al masih sekecil itu!" Davin belum bisa menurunkan nada bicara.
"Aku lebih paham Kak Ronal daripada kamu. Aku yakin Kak Ronal tidak mungkin melatih yang membahayakan Al," Aluna tak mau kalah.
"Ya! Aku memang tidak tahu Ronal, setidaknya aku tahu yang terbaik untuk anakku,"
"Kamu memang tahu yang terbaik untuk segalanya, Mas, tetapi kamu tidak tahu bagaimana berbicara yang tidak menyakiti hatiku," sindir Aluna, dia berjalan cepat meninggalkan Davin yang hanya terdiam dengan raut wajah yang susah di jelaskan.
"Ya Tuhan, kenapa dia menjadi keras kepala lagi," Davin mendudukkan tubuhnya dan mengacak-acak rambutnya kasar. "Apa aku terlalu bicara kasar padanya?" gumam Davin.
__ADS_1