
Aluna duduk di pinggiran tempat tidur sambil menunduk. Jari jemarinya saling bertautan, mengusir segala ketakutan yang menyelimuti hatinya. Jika dulu dia dengan berani menantang Davin, namun tidak untuk sekarang. Karena Davin sekarang adalah suaminya. Orang yang harus dia hormati.
"Kenapa diam saja?" tanya Davin yang sedang duduk di sofa sambil menatap tajam Aluna.
"Aku minta maaf," kata Aluna lirih.
"Kamu pikir aku akan memaafkanmu semudah itu? Tidak akan!" Aluna terdiam.
"Kesalahanmu sungguh sangat susah di maafkan. Kemana jalan pikiran kamu? Kabur saat malam pertama kita hanya karena sebuah balapan gak jelas gitu! Sampai kamu berani memberi aku obat tidur," Nada ucapan Davin masih tinggi. Emosi Davin benar-benar memuncak.
__ADS_1
"Itu bukan balapan gak jelas kalau kamu tahu. Aku dapat uang sampingan dari balapan itu!" Aluna mulai berani berbicara.
"Kamu pikir aku tidak sanggup menafkahimu? Bahkan kamu adalah anak Tuan Bagas yang termasuk orang kaya di negara ini. Apa semua masih kurang untuk menafkahi kebutuhannmu ?! "
"Aku cuma anak angkat kalau kamu lupa. Aku hidup punya prinsip, Aku bukan orang yang mau dikasihani. Kamu takkan pernah tahu bagaimana rasanya lahir di keluarga yang miskin hingga sering menjadi bahan cemoohan orang karena aku orang miskin. Kamu takkan pernah tahu bagaimana agar aku bisa berdiri di atas kakiku sendiri tanpa bantuan orang lain. Itu kenapa aku selalu menolak bantuan papa Bagas. Kamu takkan pernah tahu rasanya jadi aku karena kamu beruntung, hidup dan lahir di keluarga yang banyak harta," Airmata Aluna mengalir. Sungguh, jika mengingat masa kecilnya dulu dia takkan bisa menahan airmatanya. Davin yang melihat Aluna menangis langsung berjalan cepat ke tempat Aluna dan memeluknya erat. Entah mengapa, hatinya merasa sakit saat melihat airmata Aluna terjatuh.
"Aku minta maaf, aku salah. Aku sudah keterlaluan," kata Aluna terisak. Davin semakin memeluk Aluna erat.
"Jangan ulangi lagi. Hargai aku sebagai suamimu. Jika kamu mau melakukan apapun minta izinlah padaku. Aku pasti akan mengizinkan selama itu tidak membahayakan nyawamu. Aku mencintaimu," kata Davin menatap mata Aluna lekat. Kemudian dia mengecup bibir Aluna, mereka berdua sama-sama memejamkan mata mencoba meresapi perasaan yang hadir di hati mereka. Hingga lama-kelamaan kecupan itu berubah menjadi sebuah ciuman. Bibir mereka saling beradu, meski Aluna masih kaku namun Davin tidak menyerah. Dia menggigit bibir Aluna pelan hingga Aluna membuka bibirnya. Lidah Davin mengakses semua rongga mulut Aluna. Mereka saling bertukar saliva, hingga Aluna mulai kehabisan nafas, Davin melepaskan ciuman itu. Nafas mereka begitu memburu, rasa panas menjalar di semua tubuh mereka.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, istri nakalku," goda Davin. Pipi Aluna merona merah. Wajah Davin hampir menempel di wajah Aluna. "Jangan pernah tinggalkan aku," bisik Davin di telinga Aluna hingga Aluna merasakan tubuhnya meremang. Davin kemudian mengecup telinga Aluna pelan dan turun ke leher Aluna. Aluna menggigit bibirnya merasakan tubuhnya yang begitu tegang. Dia ingin mendesah namun dia malu, Dia merasakan nikmat saat lidah Davin menyapu lehernya dan tangan Davin sudah merayap masuk ke dalam kaosnya. Davin tersenyum melihat Aluna yang terus memejamkan matanya dan menggigit bibirnya untuk menahan desahannya.
"Mendesahlah sayang, panggil nama aku. Jangan kamu tahan. Aku sangat mencintaimu." Ucapan Davin membuat Aluna terlena.
"Ahh." Aluna mendesah saat bibir Davin berhasil menyapu kedua bukit kembarnya. Bahkan, Aluna tidak terasa saat Davin sudah benar-benar menelanjanginya. Aluna semakin tak karuan saat Davin bermain di lembah nya. Disaat Davin sudah tak kuasa dia langsung meminta izin pada Aluna untuk menjeblos gawangnya. Aluna mengangguk pelan.
"Ahh," Airmata Aluna menetes merasakan sakit yang teramat sangat saat Davin berhasil membobolnya. Darah perawannya mengalir mengotori sprei.
"Sakiit," kata Aluna lirih. Davin pun berkali-kali mengecup wajah Aluna.
__ADS_1
"Tahan sebentar lagi sayang. Sebentar lagi sakitnya akan hilang," Davin berusaha menenangkan Aluna. Saat tubuh Aluna sudah mulai menerima Davin kemudian memompanya perlahan. Hingga satu jam kemudian tubuh mereka tumbang setelah melakukan pelepasan.