Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
125


__ADS_3

Suasana di dalam mobil terasa hening, Asisten Jo dan Mila duduk bersebelahan di kursi depan. Asisten Jo mengantar Mila kembali ke restoran setelah Ibu Eni pulang berjualan. Mobil hitam itu berhenti di depan restoran XX, restoran yang cukup terkenal di kota itu.


"Terimakasih banyak Tuan, sudah memberi saya tumpangan," ucap Mila sopan, dia lalu membuka pintu mobil itu. Saat hendak turun, Asisten Jo menahan tangannya.


"Berhentilah bekerja di restoran ini," ucap Asisten Jo datar. Mila mengerutkan keningnya, bingung dengan ucapan Asisten Jo.


"Maksudku, kamu cukup bekerja di Alexander Group saja dan jangan lagi bekerja di restoran ini," jelas Asisten Jo. Mila menatap ke depan mobil.


"Maaf Tuan, tidak ada hak anda untuk melarang saya. Anda tidak tahu bagaimana saya harus berjuang menghidupi keluarga saya," suara Mila terdengar begitu berat.


"Biar saya yang akan mencukupi kebutuhan Rayhan," Mila langsung menatap tajam ke arah Asisten Jo.


"Jangan bilang anda akan merebut Rayhan dari saya!" tukas Mila membuat Asisten Jo tersenyum tipis.


"Aku tidak akan merebut Rayhan dari kamu. Aku hanya akan mencukupi kebutuhan Rayhan saja." Mila terdiam mendengar ucapan Asisten Jo.


"Maaf Tuan, saya masih mampu untuk menghidupi Rayhan. Terimakasih banyak tumpangannya Tuan," Mila membuka pintu mobil itu, kemudian berjalan cepat masuk ke dalam restoran. Asisten Jo menatap kepergian Mila sembari menghembuskan nafas kasar.


"Apa aku salah kalau ingin meringankan beban hidupmu?" gumam Asisten Jo. Dia menyalakan lagi mobilnya, namun saat dia hendak mengijak pedal gas, matanya tertuju pada sesosok pria yang sedang mengamati Mila. Asisten Jo menajamkan matanya, dia mengepalkan tangannya erat saat mengetahui siapa pria itu. Ya, dia adalah Dimas, mantan kekasih Mila. Asisten Jo mengurungkan niatnya yang hendak pergi dari sana. Dia melepas jas di tubuhnya lantas mengambil masker dan topi kemudian memakainya. Dia pun turun dari mobil dan masuk ke dalam restoran itu.


Restoran yang nampak sepi itu memudahkan Asisten Jo untuk mencari keberadaan Dimas. Dia melihat Mila dan Dimas sedang duduk berdua. Kebetulan kursi di belakang mereka berdua kosong, Asisten Jo langsung duduk disana agar bisa mendengarkan percakapan Mila dan Dimas.


"Kita udah selesai Dim," ucap Mila. Asisten Jo langsung memasang telinganya baik-baik.


"Tapi beb, aku masih sayang kamu. Aku gak mau kita putus," Dimas memohon namun Mila tetap pada pendiriannya.


"Dim, bagiku dalam sebuah hubungan, kesetiaan adalah hal yang pokok dan kamu sudah tidak memiliki itu. Jadi, tidak alasan aku untuk kembali padamu," suara Mila terdengar bergetar. Dia sedang berusaha menahan airmatanya.


"Maafkan aku, aku khilaf. Aku janji aku tidak akan mengulangi lagi. Aku mohon, beri aku satu kesempatan lagi," Dimas memegang tangan Mila, namun Mila menggeleng pelan.


"Sekarang kamu khilaf, tapi besok kamu melakukan lagi. Tidak ada khilaf yang dilakukan berkali-kali Dim. Mungkin, memang kita belum berjodoh," Mila melepaskan tangannya dari genggaman Dimas.

__ADS_1


"Apa kamu sudah tidak sayang padaku lagi?" tanya Dimas kecewa. Mila diam tidak menjawab.


"Rasa sayang tentu saja masih, tapi rasa kecewaku padamu lebih besar. Jadi, biar ku kubur dalam rasa sayangku yang masih tersisa untukmu," mata Mila mulai berkaca-kaca.


"Pergilah, aku masih di jam kerja. Aku tidak mau menjadi bahan omongan karyawan lain," usir Mila sambil berusaha menghapus airmatanya.


"Mil..." panggil Dimas lirih namun Mila menggeleng pelan lalu berlalu pergi meninggalkam Dimas.


"Sialan!" Umpat Dimas kesal. "Bagaimanapun caranya aku harus bisa memiliki kamu," Dimas lalu pergi dari restoran itu. Selepas kepergian Dimas, Asisten Jo langsung menyusul Mila ke dalam.


🍀🍀🍀🍀🍀


Davin dan Aluna sedang makan malam bersama, mereka sengaja melakukan makan malam bersama agar hubungan mereka semakin erat. Beberapa obrolan, candaan dan gombalan menghiasi acara makan malam itu. Namun, saat Aluna hendak memasukan nasi ke mulutnya, gerakannya seketika terhenti dan itu tidak luput dari penglihatan Davin. Melihat Aluna yang tiba-tiba diam, Davin langsung khawatir.


"Apa kamu baik-baik saja sayang?" tanya Davin cemas.


"Aku baik-baik saja, hanya saja tadi perutku seperti terasa berkedut," jawab Aluna sambil mengusap perlahan perutnya.


"Apa anak daddy baik-baik di dalam?" tanya Davin, dia berjongkok di depan Aluna, kemudian mengecup dan mengelus perut yang mulai terlihat sedikit membuncit itu.


" Gak usah mas. Aku gak papa, lagian udah gak kerasa lagi kok," Aluna menahan Davin yang hendak membawanya ke Dokter Mery.


" Tapi sayang...."


"Kita telepon saja, ini sudah malam. Kasian Dokter Mery dia juga butuh istirahat." Davin terdiam mendengar ucapan Aluna. Tangannya mengeluarkan ponsel dari saku jas nya. Mencari nama Dokter Mery kemudian menghubunginya.


"Hallo selamat malam Tuan Davin. Apa ada keluhan?" terdengar suara dari seberang telepon.


"Begini Dokter, istri saya barusan merasakan perutnya seperti berkedut. Apa itu baik-baik saja?" Davin mengusap perut Aluna dengan lembut. Dia merasa begitu khawatir.


"Apa Nona Aluna merasakan nyeri di perutnya?" Aluna menggeleng pelan.

__ADS_1


"Tidak Dokter,"


"Kemungkinan yang Nona Aluna rasakan tadi adalah gerakan janin yang mulai terasa Tuan. Untuk lebih jelasnya, anda bisa memeriksakan Nona Aluna besok Tuan."


"Gerakan janin dok? Apa sejenis tendangan?"


"Iya Tuan, tapi karena usia kehamilan Nona Aluna yang baru akan memasuki minggu ke dua puluh, jadi gerakan janin masih belum begitu terasa, baru seperti kedutan." Davin tersenyum sumringah mendengar penjelasan Dokter Mery.


"Besok biar saya periksa Tuan."


"Baik Dokter." Sambungan telepon itupun akhirnya terputus. Davin tersenyum bahagia, dia mengecup perut Aluna berkali-kali.


"Dia sudah mulai menendang sayang, itu artinya baby kita ingin menyapa mommy daddy nya," Aluna tersenyum melihat Davin yang terlihat sangat bahagia.


"Ayo kita pulang sayang, sudah malam waktunya kamu dan baby kita istirahat," Aluna pun berdiri dan mengikuti langkah kaki Davin untuk kembali ke mansion.


Aku bahagia bisa memilikimu, lelaki penyabar yang mampu menerima sikapku yang begitu keras kepala. Meskipun aku telah menyakitimu, tidak bisa menjadi istri yang baik untukmu tapi kamu masih bisa menerimaku dengan sangat baik. Kini aku senang, melihatmu tersenyum bahagia apalagi aku dan calon buah hati kitalah yang menjadi sumber senyumanmu itu. Terimakasih suamiku, raja dihatiku, separuh jiwaku. Semoga kita bisa berbahagia selamanya. Aku mencintaimu untuk sekarang dan selamanya.


**Udah end Thor??


Yah kok gantung thor?


Aku pengen sampai Aluna lahiran thor?


sabar, sabar pemirsah...


kita lanjutin enggak ya cerita ini.


Oh iya, untuk cerita Asisten Jo sama Mila nanti author bikin buku baru aja ya.


kalau disini takutnya kepanjangan jadi pada bosan.

__ADS_1


Astaga thor...


Gayamu kaya author hebat aja, padahal masih author recehan 😃😃**


__ADS_2