
Aluna tidur terlentang di kasurnya. Matanya menatap langit-langit kamar. Pikirannya berkali-kali mengingat kejadian di kolam bersama Davin. Dia memejamkan matanya berusaha mengusir bayangan yang terus menggodanya itu namun nyatanya dia malah semakin teringat.
"Apa mungkin aku sudah jatuh cinta sama dia ya?" kata Aluna lirih. Dia memeluk bantal gulingnya erat sambil membayangkan ciuman keduanya tadi.
"Masa' aku jatuh cinta sama cowok nyebelin gitu sih? Tapi dua minggu gak ketemu aku kadang kangen debat sama dia. Oh Tuhan, berikanlah pencerahan tentang hatiku," Aluna kemudian tidur bergelung selimut tebalnya. Matanya memang terpejam namun entah kenapa pikirannya malah jalan-jalan.
Tok tok tok...
Terdengar suara pintu diketuk namun Aluna malas sekali untuk bangun.
"Alunaa, buka pintunya. Ini mama sayang," panggil suara dari luar. Aluna pun beranjak bangun kemudian membukakan pintu kamarnya.
"Masuk aja ma. Kan gak di kunci," sahut Aluna sambil berjalan masuk ke kamarnya lagi. Mama angkatnya itu pun ikut masuk ke kamar Aluna.
"Kamu sudah siap-siap?" tanya Mama Resti halus.
__ADS_1
"Sudah ma,"
"Nanti sepulang dari Amerika kamu mau kan tinggal di sini nemenin mama sama papa? Kan sekarang kak Ronal sudah mau menempati rumahnya sendiri,"
"Belum tau ma. Kayaknya Aluna tetap mau bekerja di Perusahaan Alexander deh ma, mungkin tetap tinggal di mansion Alexander," jawab Aluna pelan karena dia takut menyinggung mama angkatnya itu.
Kalau saja Tuan Farhan tidak mengacam aku akan menikahkan aku dan Davin secara paksa, aku enggan sekali satu tempat dengan pria menyebalkan itu.
"Kamu itu sudah jadi keluarga Bagaskara tapi kenapa kamu seolah tidak menganggap kita Lun. Apa-apa sendiri, kita gak boleh bantu. Padahal kita ini ingin sekali menghidupi kamu sama seperti anak kami sendiri Lun. Mama mohon kali ini saja, kamu mau ya tinggal di sini," bujuk Mama Resti.
"Mama mohon Lun, papa juga sangat ingin kamu tinggal di sini. Jujur, kamu tidak tenang melepas kamu sendiri saat ini, kamu mau ya Lun. Kita kan gak tahu kapan nyawa kita di ambil sama Yang Kuasa. Jadi, mumpung mama dan papa masih hidup, kamu mau ya tinggal bersama kita," pinta Mama Resti memelas. Aluna menjadi tak tega, matanya mulai terlihat berkaca-kaca.
"Jangan ngomong gitu ma. Aluna sudah sakit kehilangan bapak ibu, Aluna gak mau kehilangan mama sama papa,"
"Makanya kamu mau ya disini nemeni mama sama papa. Satu bulan aja gak papa, kita juga pengen Lun di temenin kamu,"
__ADS_1
"Iya Ma. Nanti sepulang dari Amerika Aluna bakal nginep disini sekalian sama Ardian mumpung Ardian udah mulai liburan,"
"Beneran Lun? Aduh mama sama papa bakal seneng banget rumah ini ramai," kata Mama Resti bahagia. Saat mereka sedang asyik berpelukan Ronal masuk ke kamar Aluna.
"Ngapain kok pada peluk-peluk sedih gini?" tanya Ronal penasaran. Tuan Bagas yang sedang mencari keberadaan istrinya pun ikut masuk ke dalam kamar Aluna.
"Gak papa. Mama cuma lagi seneng aja. Sepulang dari Amerika nanti Aluna mau tinggal disini sama Ardian lagi," kata Mama Resti dengan raut muka berbinar. Tuan Bagas yang mendengarnya juga tersenyum lebar.
"Wah, papa senang sekali Lun kamu mau tinggal disini," Tuan Bagas lalu memeluk istri dan anaknya Itu. Ronal pun tak mau kalah dia juga ikut memeluk mereka bertiga.
"Makasih ya Pa, Ma, Kak. Walaupun Aluna bukan darah daging kalian tapi kalian mau menyayangi Aluna seperti anak kalian sendiri,"
"Sudah-sudah, tidak perlu berterima kasih. Pokoknya kita bertiga sayang kamu," kata Ronal. Mereka pun berpelukan erat dan tersenyum bahagia.
Terima kasih Tuhan, atas kebaikan yang Engkau berikan. Engkau beri aku orang-orang yang begitu menyayangiku dengan tulus.
__ADS_1