
Sudah hampir seminggu ini Davin berusaha menemui Aluna namun hasilnya nihil. Tuan Bagas benar-benar menutup mansionnya untuk keluarga Alexander. Siapapun keluarga Alexander yang datang pasti akan langsung disuruh pulang lagi. Aluna pun selama seminggu tidak ke kantor sama sekali, membuat Davin semakin uring-uringan.
" Jo... aku harus bagaimana ?Aluna benar-benar tidak mau menemuiku " Keluh Davin, dia sangat bingung harus bagaimana agar Aluna mau memaafkannya. Dia sudah menghubungi Aluna, namun tidak bisa karena sepertinya Aluna sudah memblokir nomernya. Dia sudah berusaha menghubungi lewat nomer Asisten Jo bahkan keluarganya namun Aluna hanya membaca tanpa membalas. Semua panggilan Aluna tolak. Davin mendesah pelan.
" Tuan ... Nona Aluna mungkin masih butuh waktu sendiri " Ucap Asisten Jo berusaha menenangkan Davin.
" Tapi sampai kapan Jo ? Bahkan kita tidak bisa menembus kediaman Bagaskara. Aluna juga tidak ke kantor sama sekali " Davin memijit pelipisnya. Kepalanya terasa sangat pusing karena dia tidak bisa tidur selama Aluna jauh darinya. Soal makanpun Davin tidak memiliki selera. Sungguh, Aluna adalah separuh nyawanya.
" Nanti kita cari cara agar Nona Aluna memaafkan anda Tuan " Davin tidak menanggapi ucapan Asisten Jo. Ponsel Davin yang tergeletak di samping komputernya berbunyi, satu pesan masuk. Davin langsung mengambil ponsel itu, dia sangat berharap itu pesan dari Aluna. Tapi dia harus kecewa karena ternyata Ronal yang mengirimi dia pesan. Dengan malas Davin membuka pesan itu, namun tubuhnya langsung menegang melihat foto Aluna yang sedang tertidur sambil memeluk foto pernikahan mereka yang berada di mansion Bagaskara. Seulas senyum mulai menghiasi wajah Davin.
" Lihatlah Jo " Perintah Davin dengan senyum bahagia. Asisten Jo mengernyit heran, namun dia langsung melihat ponsel Tuan Mudanya itu. Diapun ikut tersenyum melihat foto itu.
" Dia pasti merindukanku Jo " Ada senyum yang terbit di bibir Davin. Melihat foto Aluna yang sedang memeluk foto pernikahan mereka membuat Davin bertekat kuat, bagaimanapun caranya Aluna harus bisa memaafkannya.
" Jo kita ke mansion Bagaskara sekarang " Perintah Davin sambil bangun dan memakai jas yang barusan dia lepas.
" Tapi Tuan, lima belas menit lagi kita ada pertemuan di Restoran XX dan pertemuan itu tidak bisa diwakilkan Tuan " Cegah Asisten Jo. Davin berdecak kesal dan menendang meja kerjanya dengan keras.
" Auu sial !! " umpat Davin kesakitan. Asisten Jo yang melihat pun hanya berusaha menahan tawanya.
" Sakit Tuan ? " Tanya Asisten Jo meledek.
__ADS_1
" Aku benci wajahmu Jo ! " Teriak Davin kesal kemudian berjalan keluar ruangannya.
" Anda mau kemana Tuan ? " Tanya Asisten sambil mengejar Tuan Mudanya yang berjalan cepat.
" Katanya mau pertemuan Jo " Jawab Davin sambil berjalan keluar kantor. Dengan sigap Asisten Jo langsung mengambil mobil di parkiran. Mereka berdua pun berangkat ke Restoran XX.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Aluna masih tidur berbalut selimut tebal padahal jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Namun tubuh Aluna seakan enggan beranjak bangun. Dia merasa begitu malas, padahal dia belum pernah semalas ini, kalaupun sedang malas dia paling siang bangun jam sembilan pagi.
Tok tok tok
" Lun... Bangun udah siang ! " Suara teriakan Ronal begitu terdengar keras sampai dalam kamar Aluna. Dengan langkah malas, Aluna bangun dan membuka pintu kamar itu.
" Ini masih pagi kak, menyebalkan sekali sih ! Aku masih ngantuk loh kak " Aluna menutup mulutnya yang sedang menguap. Ronal menggelengkan kepalanya melihat tingkah Aluna.
" Ini sudah jam sebelas loh Lun. Gak biasanya kamu bangun se siang ini " Ronal mengekor Aluna yang masuk ke dalam kamarnya.
" Males banget rasanya kak, badanku rasanya loyo semua " Aluna merebahkan tubuhnya lagi di atas tempat tidur membuat Ronal mendecakkan lidahnya.
" Lun .... ada yang mau kakak omongin " Suara Ronal terdengar begitu serius. Aluna melengos, dia tahu kemana arah pembicaraan kakaknya itu.
__ADS_1
" Kak.... "
" Tolong dengarkan kakak Lun atau kakak akan benar-benar memisahkan kamu dengan Davin dan kakak gak akan sekalipun menyatukan kalian berdua " Ancam Ronal. Aluna langsung menatap Ronal dalam. Wajah Aluna terlihat sendu, dia takut pada ancaman Ronal karena Ronal tidak pernah main-main dengan ucapannya.
" Lun ...kamu harus tahu. Pernikahan itu bukan hanya tentang penyatuan raga kalian karena telah halal tapi pernikahan itu penyatuan dua kepribadian yang bisa saja berbeda jalan pemikiran. Karena pernikahan itulah kita dituntut untuk dewasa tidak peduli berapapun umur kita. Kita harus saling mengerti, saling memahami dan saling menjaga keburukan pasangan kita sendiri " Ronal menjeda ucapannya. Dia menatap mata Aluna yang mulai memerah.
" Kakak tahu, kamu marah sama Davin, tapi Davin melakukan itu karena dia sangat sayang kamu, dia hanya mengkhawatirkanmu. Kalau kakak berada di posisi Davin pun kakak akan melakukan hal yang sama, menjaga orang yang kita sayang. Kalau kamu ada masalah sama Davin, sebisa mungkin kalian selesaikan baik-baik. Masalah itu ada untuk diselesaikan bukan untuk dihindari. Jika ada masalah kamu selalu menghindar gini, yang ada masalah itu akan semakin besar " Ronal diam, dia mendengar Aluna yang terisak langsung menarik Aluna ke dalam dekapannya.
" Bukan kakak membela Davin, kakak hanya ingin kamu menjadi lebih bisa berfikir dewasa. Davin adalah suamimu, sebisa mungkin kamu harus selalu menghormati Davin bagaimanapun keadaannya. Kamu harus kurangi sikap keras kepalamu " Ronal mengusap kepala Aluna. Ya , hanya Ronal yang bisa bicara baik-baik dengan Aluna, itulah mengapa Tuan Bagas dan istrinya tidak berani ikut campur.
" Lun .... kamu dengar kan apa yang kakak katakan. Kalau kamu masih sayang Davin. Pulanglah ke tempat Davin, dia selalu mencarimu kesini setiap hari. Davin suamimu, kamu sebagai istri harus lebih bisa menghormati dia. Kakak bicara seperti ini bukan karena kakak sebagai lelaki, tapi karena kakak ingin kamu lebih paham bahwa seorang istri harus menghormati suaminya " Aluna menangis mendengar nasihat Ronal. Ya, dia kini sadar bahwa dia sudah sangat salah. Memang tidak seharusnya dia seperti ini, bukan Davin yang kekanak-kanakan tapi dirinya sendiri yang masih seperti anak kecil. Kaos yang Ronal pakai sudah basah karena airmata Aluna tapi Ronal diam saja, dia membiarkan Aluna menangis supaya hati Aluna menjadi lega. Disaat tangis Aluna sudah reda, Sisil dan kedua mertuanya masuk membawa nampan berisi makanan untuk Aluna.
" Makan dulu Lun, kamu belum sarapan kan ? " Sisil duduk di samping Aluna yang baru saja melerai pelukannya bersama Ronal. Aluna mengusap bekas airmatanya kemudian melihat nampan itu yang berisi nasi, ayam goreng dan sayuran serta sambal.
" Makasih ya kak, emmm tapi kak...... " Aluna diam. Dia melipat bibirnya, jari jemarinya saling meremas erat.
" Kamu mau apa ? Kakak tahu kalau kamu kaya gini kamu pasti ingin sesuatu " Ucap Ronal melihat gelagat Aluna.
" Kak.... aku mau makan sama keju " Kata Aluna lirih.
" Apa ???? " Teriak mereka berempat bersamaan. Aluna langsung menunduk saat mendengar teriakan mereka.
__ADS_1