
" Sampai matipun aku takkan melepaskan Aluna untuk laki-laki lain. Aluna istriku dan sampai kapanpun akan selalu jadi istriku bagaimanapun keadaannya " Kata Davin tegas. Dia mengepalkan tangannya teringat ucapan ibunya yang menyuruhnya melepaskan Aluna. Davin beranjak bangun dan melangkah keluar kamar.
" Kamu mau kemana Vin ? " Tanya Tuan Doni saat melihat Davin memegang knop pintu.
" Tentu saja menghampiri istriku. aku harus minta maaf karena sudah sangat menyakitinya " Kata Davin sambil berjalan keluar kamar. Kedua orang tua Davin hanya memandang kepergian Davin.
Davin mengendarai mobilnya dengan kencang membelah jalanan, kebetulan sekali kondisi jalan sedang tidak macet jadi dia bisa cepat sampai rumah sakit. Begitu sampai di rumah sakit Davin langsung berlari melewati lorong rumah sakit menuju ruang rawat Aluna. Ketika sampai di depan ruang rawat Aluna, Davin melihat Asisten Jo yang sedang kebingungan di depan ruang rawat Aluna.
" Ada apa Jo ? " Mendengar suara Davin, Asisten Jo terkejut kemudian menatap Tuan Mudanya itu.
" Tu-Tuan...... " Panggil Asisten Jo gugup
__ADS_1
" Kenapa kamu berdiri disini ? Aluna di dalam sama siapa ? " Tanya Davin namun Asisten Jo hanya diam tidak menjawab.
" JO ! " Bentak Tuan Davin, dia merasa keadaan Aluna tidak baik-baik saja melihat Asisten Jo yang terlihat begitu gugup.
" Emmm Tuan..." Asisten Jo menghentikan suaranya lagi. Davin langsung menerobos masuk ke ruang rawat Aluna. Dia terkejut saat melihat tempat tidur itu kosong, Aluna tidak berada di kamarnya.
" Kemana Aluna Jo ? " Tanya Davin penuh penekanan.
" Saya tidak tahu Tuan, saya disuruh Tuan Doni menjaga Nona Aluna disini tapi waktu saya sampai kamar Nona Aluna, tempat tidurnya sudah kosong Tuan " Jawab Asisten Jo sambil menunduk.
" Kali ini saya berani bersumpah Tuan. saya hanya disuruh menjaga Nona Aluna namun sepertinya saya terlambat. Nona Aluna sudah tidak berada di kamarnya " Mendengar penjelasan Asisten Jo, tubuh Davin langsung luruh ke lantai, dia merasa tulang-tulang ditubuhnya melemas hingga tubuhnya terasa tak berdaya. Dia baringkan kepalanya dia lantai kamar itu sambil tangannya memukul-mukul lantai. bahkan airmatanya mengalir membasahi pipinya hingga menetes di atas lantai.
__ADS_1
" Katakan padaku Jo.. kalau kamu sekongkol sama ayah, kalau kamu disuruh ayah menyembunyikan Aluna agar aku sadar akan kesalahanku. Aku mohon Jo.. katakan kalau kamu sekongkol dengan ayahku " Davin terisak, dia merasakan hatinya begitu sakit kehilangan Aluna.
" Maaf Tuan.. saya benar-benar berkata jujur. Anda harus tenang Tuan, saya yakin Nona Aluna pasti baik-baik saja " Asisten Jo berusaha menenangkan, Davin beranjak bangun kemudian mencengkeram jas Asisten Jo dengan kuat.
" Kamu bilang tenang Jo ?! Aluna hilang dan aku harus tenang Jo?! Aku benci mulutmu itu !!" Bentak Tuan Davin, tangannya semakin kuat mencengkeram. Asisten Jo hanya diam karena dia sudah tahu bagaimana Tuan Mudanya itu.
" Pokoknya kamu harus cari Aluna sampai kemanapun. Kalau sampai Aluna tidak ditemukan maka nyawamu akan jadi taruhannya " Davin melepaskan tangannya kemudian tubuhnya terduduk bersandar di tembok kamar itu. Dia meremas rambut kepalanya dengan kencang.
" Aaaaaaaaakkkhhhhh " Teriak Davin dengan keras. Hatinya benar-benar hancur. Dia sakit kehilangan Aluna, belum sempat dia minta maaf Aluna sudah menghilang entah kemana.
"Kamu dimana??? Aku merindukanmu.. maafkan aku " Kata Davin lirih. Tubuhnya benar-benar sudah lemas. Melihat Tuan Davin yang begitu terpukul, Asisten Jo menjadi tidak tega. Sungguh, baru kali ini dia melihat Tuan Mudanya sehancur ini.
__ADS_1
" Saya akan mengecek cctv Tuan, agar kita bisa tahu siapa yang membawa Nona Aluna pergi " Asisten Jo berlalu pergi meninggalkan Tuan Davin yang masih terduduk di lantai. Davin memukul keningnya berulang kali. hatinya benar-benar terluka.
" Maafkan aku... maafkan aku.... " Ucap Davin lirih berkali-kali.