Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
138


__ADS_3

"Nona... saya hanya belum yakin...," Asisten Jo menghentikan ucapannya. Kedua bola matanya terpejam, dia merasakan sakit yang serasa mengalir ke seluruh tubuhnya. Aluna dan Davin hanya menatap Asisten Jo yang sedang berusaha menghapus airmatanya.


"Saya belum yakin jika saya mengungkapkan perasaan saya saat ini, Mila akan langsung menerima begitu saja, menilik bagaimana keadaan Mila saat ini,Nona." ucap Asisten Jo berat. Aluna tersenyum tipis.


"Kita harus berusaha menyembuhkan trauma Mila jo," kata Aluna lega, dia begitu bahagia mendengar Asisten Jo yang masih mau menerima Mila.


"Kamu cari psikiater terbaik, biar nanti semua biayanya aku yang akan menanggungnya," perintah Davin membuat Asisten Jo tersenyum simpul.


"Terimakasih banyak atas kemurahan hati anda Tuan," Asisten Jo merasa begitu beruntung memiliki bos yang begitu pengertian.


"Setelah Mila sembuh apa kamu akan langsung menikahinya?" tanya Aluna ragu.


"Tentu saja Nona, saya tidak ingin lama-lama menjalin hubungan yang tidak terikat," jawab Asisten Jo mantap.


"Semoga Mila lekas sembuh dan niat baikmu benar-benar terwujud," doa Aluna tulus, Asisten Jo dan Davin hanya mengamini.


"Ya sudah sekarang aku mau ke rumah sakit dulu, jangan lupa jaga Rayhan baik-baik Jo," Aluna beranjak bangun di ikuti Davin.


"Baik Nona." Aluna kemudian keluar dari apartemen itu bersama Davin. Mereka menuju ke rumah sakit dimana Mila di rawat. Sesampainya di rumah sakit, Aluna langsung masuk ke ruangan Mila, dia melihat Mila yang sedang duduk di tenangkan Ibu Eni.


"Mil..." Panggil Aluna lirih, dia menatap wajah Mila fak ada satupun yang terluka.


"A-aluna.." Lirih Mila. "Pergilah Lun! Aku tidak pantas berteman denganmu, aku sudah kotor!" teriak Mila keras membuat Aluna terjengkit kaget. Davin yang berada di samping Aluna langsung menarik tubuh Aluna masuk dalam dekapannya. Dia pun terkejut mendengar Mila yang tiba-tiba berteriak.


"Aku gak akan pergi Mil. Bagaimanapun keadaan kamu aku gak akan pergi. Aku akan membuatmu sembuh," Kata Aluna parau. Dia tidak menyangka jika jiwa Mila terguncang seperti itu.


"Hiks hiks aku gak pantas buat siapapun. Aku miskin, aku kotor, hiks hiks," Mila menangis kencang. Aluna langsung melepaskan dekapan Davin, dia berjalan cepat ke tempat Mila yang sedang di peluk Ibu Eni.


"Sayang..." Davin begitu khawatir namun Aluna tak memperdulikan panggilan Davin. Akhirnya, Davin berjalan mendekat ke tempat Aluna.


"Mil, jangan pernah berkata seperti itu, sampai kapan pun aku akan selalu ada untukmu. Cepatlah sembuh, apa kamu tidak ingin melihat keponakanmu ini lahir ke dunia ini?" Mila terdiam, dia menoleh ke perut Aluna yang membuncit.

__ADS_1


"Usaplah. Kamu akan merasakan sapaan dari keponakanmu ini," suruh Aluna, membuat Mila ragu. Dia mengulurkan tangannya mengusap perut Aluna dengan lembut. Saat merasakan tendangan dari dalam, wajah Mila tersenyum senang.


"Dia menendang?" tanya Mila, Aluna mengangguk pelan. Mila terdiam sambil terus mengusap perut itu. Tiba-tiba wajah Mila langsung nampak sedih, bayangan Dimas kembali menghampirinya.


"Pergi! Aku kotor!" Mila kembali histeris, dia hendak mendorong tubuh Aluna, Davin langsung menarik tubuh Aluna menjauh dari Mila.


"Sabar Mil, ini Ibu. Kamu harus sabar ya," ucap Ibu Eni sambil memencet tombol nurse.


"Bu, Aku kotor bu! aku kotor! bunuh aku saja bu!" Teriak Mila keras. Aluna yang melihatnya menjadi begitu sedih.


"Mas..." panggil Aluna bergetar. Davin langsung memeluk erat tubuh Aluna, dia tahu Aluna menagis saat ini. Sedangkan mata Mila mulai terpejam saat obat penenang berhasil masuk ke tubuhnya.


"Kita akan sembuhkan Mila sampai benar-benar sembuh. Kamu sabar ya sayang, pikirkan juga anak kita," Davin menenangkan hati Aluna, dia merasakan pelukan Aluna yang mengerat di tubuhnya. Davin pun mengusap punggung Aluna pelan sembari berkali-kali mengecup puncak kepala Aluna.


"Pulanglah Lun, kasian bayi di perutmu," suara Ibu Eni mengagetkan Aluna, dia langsung melepas pelukannya bersama Davin.


"Bu, aku akan menyembuhkan Mila bagaimanapun caranya," ucap Aluna. Ibu Eni menanggapi dengan senyuman getir.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀


"Nyonya, ada yang akan saya bicarakan," kata Asisten Jo saat dia sedang duduk bersama Ibu Eni.


"Saya akan membawa Mila berobat ke luar negeri agar Mila lekas sembuh. Nyonya...." Asisten Jo terdiam. Ibu Eni menatapnya penuh tanya.


"Jika Mila sudah sembuh, bolehkah saya menikahinya?" tanya Asisten Jo lirih. Ibu Eni langsung menatap tidak percaya kepada Asisten Jo.


"Tuan, apa anda serius dengan ucapan anda?anda tahu bagaimana keadaan Mila," tolak Ibu Eni halus.


"Ya bu, saya tidak masalah. Saya benar-benar tulus ingin menikahi Mila. Saya sudah jatuh cinta pada Mila, Nyonya," kata Asisten Jo yakin. Ibu Eni tersenyum melihat kesungguhan Asisten Jo. Dia mengangguk mantap membuat Asisten Jo tersenyum simpul.


"Pergilah, Ibu akan menunggu kalian berdua, semoga Mila lekas sembuh. Ibu akan menjaga Rayhan disini. Ibu titip anak ibu padamu," ucap Ibu Eni pelan.

__ADS_1


"Terima kasih Nyonya, saya akan selalu menjaga Mila," Asisten Jo bahagia telah mendapat restu.


Setelah bertemu Ibu Eni, kini Asisten Jo menuju mansion Alexander untuk bertemu Davin. Sesampainya di mansion, dia langsung menuju ruang keluarga dimana Davin sudah menunggunya.


"Bagaimana Jo?" tanya Davin saat Asisten Jo sudah duduk di depannya.


"Saya sudah mendapat izin dari Ibu Eni Tuan. Saya akan membawa Mila berobat segera ke luar negeri sampai dia sembuh Tuan. Jadi, saya akan berhenti bekerja, karena saya yakin disana tidak hanya butuh waktu satu bulan Tuan," Davin terkejut mendengar Asisten Jo yang hendak mengundurkan diri dari Alexander Group.


"Jangan berhenti Jo, kamu cuti saja sampai Mila benar-benar sembuh. Masalah pekerjaan disini, biar sementara waktu di handle ayahmu," Asisten Jo menatap Tuan Mudanya.


"Ayah saya sudah tahu Tuan?" tanya Asisten Jo heran padahal dia belum berbicara sama sekali dengan ayahnya.


"Aku sudah katakan semuanya pada ayahmu,"


"Apa ayah saya menolak Mila Tuan?" tanya Asisten Jo ragu. Dia takut ayahnya tidak akan merestui hubungannya dengan Mila.


"Kalau ayahmu tidak setuju, mana mungkin dia mau menggantikanmu selama kamu cuti," Jawab Davin dengan senyum mengejek. Asisten Jo terdiam sesaat mencerna ucapan Davin.


"Iya ya, kenapa otakku menjadi lemot sekali," gumam Asisten Jo lirih namun masih di dengar telinga Davin.


"Jatuh cinta memang bisa membuat orang pintar menjadi bodoh," ejek Davin membuat Asisten Jo mencebik kesal.


"Kamu merasakan apa yang aku rasakan Jo. Hahaha," Davin tertawa lebar membuat Asisten Jo semakin kesal. Dulu dia selalu menggoda Tuan Mudanya itu, kini dia yang harus siap menjadi bahan ledekan Davin.


Karma memang tidak pernah lupa jalan pulang.


Sebentar lagi ending,,


Jangan lupa beri dukungan buat Author recehan ini ya..


Salam sayang dari Author recehan.

__ADS_1


__ADS_2