
Aluna tidur menyamping sendirian. Davin masih menunggu Shania di rumah sakit karena kedua orang tuanya sedang pulang ke Mansion dan Marvel sedang ada pasien darurat. Sebenarnya dia sangat ingin menemani di rumah sakit, namun mereka melarang keras akhirnya Aluna hanya bisa menurut.
Aluna mencengkeram selimutnya erat. Bukan karena dia cemburu melihat Davin menemani Shania. Namun, entah mengapa tiba-tiba perasaanya merasa begitu sakit, teringat luka yang hampir sembuh. Airmatanya menggenang, dia mulai terisak pelan. Dia teringat saat Davin meninggalkannya demi melihat bayi mungil yang baru saja lahir. Bagaimana bisa Davin melupakan dia begitu saja. Aluna menghapus airmatanya yang sudah menetes. Sakit . siapa yang tidak sakit diabaikan begitu saja, namun Aluna berusaha memaklumi.
Aluna menelantangkan tubuhnya. Menatap langit-langit kamarnya. Dia sengaja mematikan lampu kamarnya, menggunakan lampu tidur yang hanya menyala redup. Dia mengusap perutnya pelan.
" Andai kamu masih berada di perut bunda, mungkin sekarang bunda sudah bisa merasakan tendanganmu sayang " Aluna tersenyum getir. Mungkin Aluna terlalu serakah, sangat menginginkan seorang anak begitu cepat. Tapi, wanita mana yang tidak menginginkan anak setelah dia resmi menyandang gelar ' Istri '. Aluna mengusap airmatanya yang semakin deras membasahi pipinya. Dia tidur menyamping lagi. Memeluk bantal itu erat. Menyalurkan segala rasa sakit yang begitu menghujam jantungnya. Hingga saat dia telah lelah menangis, matanya terpejam. Dia tertidur lelap, melupakan sesaat rasa sakit yang sedang menggodanya. Dia keras soal sikap dan sifat tapi soal perasaan, dia begitu lemah.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Davin masuk kedalam kamarnya. Tubuhnya merasa sangat lelah karena dia belum istirahat sama sekali. Dia menyalakan lampu kamarnya dan melihat Aluna yang sudah tertidur lelap. Dia tersenyum tipis sambil mendekati Aluna. Dia terkejut saat melihat wajah Aluna yang sembab, dan bantal yang basah. Davin tahu, pasti Aluna habis menangis. Dengan lembut Davin mengecup lembut puncak kepala Aluna. Entah mengapa melihat mata Aluna hatinya seperti diremas. Sakit.
" Kenapa kamu menangis ? Apa aku ada salah atau menyakitimu ? " Gumam Davin lirih. Tangannya mengusap perlahan pipi Aluna.
" Emm tetap bersama bunda sayang " Aluna mengigau, tidurnya terlihat begitu gelisah. Hati Davin mencelos mendengar igauan Aluna.
" Apa kamu terlalu memikirkan tentang buah hati sayang ? Hingga sampai terbawa mimpi " Mata Davin berkaca-kaca. Kemudian, dia merebahkan tubuhnya di samping Aluna dan memeluk erat tubuh Aluna. Memory otaknya teringat kejadian tadi siang, saat Marvel memberi kabar bahagia. Dia teringat saat dengan reflek melepaskan pelukan di tubuh Aluna, berpelukan dengan keluarga dan masuk melihat bayi Marvel tanpa teringat Aluna sama sekali, mungkin jika Shania tidak memanggil Aluna, dia takkan ingat bahwa Aluna bersamanya.
" Kenapa aku begitu bodoh ? " Davin merutuki dirinya sendiri. Ya, dia saat dirumah sakit dia melihat Aluna yang tersenyum seolah tidak ada apa-apa, tapi Davin yakin hati Aluna sedang tidak baik-baik saja. Davin semakin mengencangkan pelukannya, dia merasakan Aluna sudah tidak gelisah lagi dalam tidurnya.
" Maafkan aku sayang... " Bisik Davin lirih. Kemudian dia terlelap di samping Aluna.
Pagi hari Aluna sudah bangun tapi dia malas membuka matanya yang sembab semalam. Dia merasakan sebuah lengan menindih perutnya. Aluna kemudian membuka kedua kelopak matanya meski berat. Dia melihat Davin yang tidur sambil memeluknya. Aluna tersenyum tipis.
__ADS_1
" Kapan dia pulang ? Kenapa aku tidak tahu? " Aluna bertanya sendiri dengan lirih karena takut membangunkan Davin.
" Sebenarnya kamu tampan kalau sedang tidak menyebalkan " Ucap Aluna sambil mengusap pipi Davin pelan. Dia tersenyum teringat Davin yang begitu menyayanginya. Namun, tiba-tiba dia kembali teringat lukanya.Matanya mulai basah. Sungguh, Aluna sangat membenci dirinya yang cengeng dan mudah sekali terbawa perasaan. Aluna ingin bangun, dengan sangat pelan dia berusaha melepas pelukan Davin tapi bukannya terlepas, tangan Davin justru semakin erat melingkar di perutnya.
" Aku masih ingin memelukmu sayang " Bisik Davin membuat Aluna terpaku.
"K-kapan kamu bangun ?" Tanya Aluna gugup karena posisi mereka yang sangat intim.
" Tadi saat kamu bilang aku tampan " Sahut Davin dengan tersenyum simpul. Wajahnya begitu dekat dengan wajah Aluna. Membuat jantung mereka sama-sama berdebar begitu kencang.
" Aku tidak bicara seperti itu " Aluna memalingkan wajahnya yang telah merona membuat Davin semakin menunggingkan senyumnya.
" Telingaku belum tuli sayang.. Aku mencintaimu " Ucap Davin kemudian mengecup bibir Aluna dengan lembut. Wajah Aluna semakin bersemu merah.
" Sayang... boleh aku bertanya ? " Tanya Davin pelan. Aluna langsung menatap Davin lekat.
" Tentu saja sembab, kan baru bangun tidur " Ucap Aluna sedikit gugup. Dia takut Davin mengetahui kebohongannya.
" Kamu tidak bisa membohongiku sayang. Aku tahu kamu menangis semalam " Aluna terdiam, ternyata Davin begitu peka padanya.
" Aku hanya merindukan bapak dan ibu " Kata Aluna lirih sambil membenamkan wajahnya di dada bidang Davin.
" Kamu yakin hanya karena itu ? " Davin bertanya penuh penekanan. Aluna tidak menjawab sama sekali. Namun bahunya bergetar pelan. Davin tahu Aluna sedang terisak saat ini.
__ADS_1
" Sayang .... aku minta maaf sudah mengacuhkanmu saat di rumah sakit. Aku hanya terlalu bahagia "
" Ya... aku tahu, aku bisa melihat senyum bahagiamu saat melihat bayi cantik itu, aku minta maaf, aku belum bisa membahagiakanmu. Belum bisa membuatmu tersenyum bahagia seperti kemarin " Ada makna di balik ucapan Aluna. Dan Davin tahu maksudnya apa itu. Davin memeluk erat tubuh Aluna, suara isakan mulai terdengar.
" Jangan menangis... Hatiku sakit mendengar kamu menangis " Davin berulang kali mengecup puncak kepala Aluna. Memberi kekuatan untuk Aluna.
" Maafkan aku belum bisa membuatmu bahagia hiks hiks " Ucap Aluna diselingi isakan yang terasa menyayat hati Davin.
" Sayang... dengarkan aku " Suara Davin terdengar berat. Matanya mulai berkaca-kaca.
" Aku memang sangat menyukai bayi karena kamu tahu sendiri, aku anak bungsu. Tapi bukan berarti aku menuntut kamu harus langsung memiliki bayi saat ini juga. Namanya anak itu sudah digariskan, kapan kita akan memilikinya itu hanya Tuhan yang tahu. Kita hanya wajib berdoa dan berusaha. Aku yakin, cepat atau lambat kita pasti akan segera memilikinya " Davin menghentikan ucapannya. Dia pun menguatkan hatinya, bahwa rencana Tuhan itu yang paling indah. Isakan Aluna mulai mereda.
" Aku minta maaf kalau aku mengabaikanmu karena terlalu senang melihat bayi kak Marvel. Aku minta maaf sudah menyakitimu " Davin menyentuh pipi Aluna, mengusap airmata yang mengalir disana. Dia mengecup kening Aluna, menyalurkan kekuatan untuk hati Aluna. Aluna tersenyum, Davin benar-benar bisa membuat hatinya tenang. Davin mengecup pipi Aluna kemudian beralih mencium bibir Aluna lembut. Aluna memejamkan matanya, merasakan kasih sayang Davin yang begitu besar untuknya.
" Sayang ... daripada kita galau menunggu kapan buah hati itu akan hadir di antara kita. Bagaimana kalau kita berusaha membuatnya setiap waktu. Siapa tahu dia bisa cepat hadir sayang " Davin menaik turunkan alisnya menggoda Aluna membuat Aluna berdecak kesal dan memukul dada bidang Davin cukup kencang.
" Sakit sayang... Kamu jahat sekali sama suami sendiri " Davin pura-pura kesakitan.
" Menyebalkan ! Saat otak mesummu kumat, aku sangat membencimu "
" Terimakasih pujiannya sayang, aku mencintaimu juga. Ayo kita olahraga pagi " Aluna memasang wajah malas. Namun saat Davin mengungkungnya, Dia pun menurut saja saat Davin mengajaknya menembus Nirwana.
Selamat pagi gaes ? Sudahkah olahraga pagi ini ?
__ADS_1
Salam sayang dari penulis recehan..
Author lagi butuh penyemangat ini 😅😅