Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
EP 09


__ADS_3

Satu bulan kemudian


Rayhan kini mulai bisa menerima Tuan Kevin walaupun belum sepenuhnya namun mampu membuat Tuan Kevin bahagia. Dia selalu mencoba mendekati Rayhan, entah dengan mainan, mengantar ke sekolah maupun mengajak jalan-jalan bersama. Mila awalnya sangat sedih, karena dia harus bersiap melepaskan Rayhan tapi dia juga bahagia Rayhan bisa bertemu ayah kandungnya.


"Kamu mau berangkat mas?" tanya Mila saat melihat Asisten Jo sudah siap. Dia berjalan mendekat ke arah suaminya itu lalu memeluknya.


"Jangan kerja lama-lama. Aku kangen," ucap Mila lirih membuat Asisten Jo mengerutkan keningnya.


"Bagaimana mau kerja lama-lama, berangkat saja belum. Kamu itu aneh," Mila melepaskan pelukannya dan menangis terisak membuat Asisten Jo semakin kebingungan.


"Kenapa menangis?" tanya Asisten Jo sambil menangkup kedua pipi Mila dan mengusap airmata Mila dengan ibu jarinya.


"Kamu jahat mas, kamu ngatain aku aneh," tangis Mila semakin keras, Asisten Jo langsung memeluk erat tubuh Mila.


"Diamlah! tidakkah kamu malu dengan Rayhan? Sudah setua ini kamu masih menangis," Asisten Jo berusaha menenangkan Mila namun tangis Mila justru semakin bertambah kencang.


"Kamu benar-benar jahat mas, tadi ngatain aku aneh sekarang ngatain aku tua. Huaa ibu aku mau ganti suami saja," tangis Mila keras, Asisten Jo langsung melepas pelukannya dan menyentil kening Mila keras membuat tangis Mila terhenti dan berganti mengaduh kesakitan.


"Enak saja mau ganti suami!" ketus Asisten Jo.


"Maaf mas, habis kamu jahat sekali. Ini termasuk kekerasan dalam rumah tangga loh mas," protes Mila sambil mengusap keningnya yang sakit.


"Sudahlah, aku mau berangkat," ucap Asisten Jo sambil merapikan jasnya yang sedikit kusut.


"Mas," panggil Mila menghentikan langkah Asisten Jo yang baru lima langkah.


"Aku kangen, cepat pulang suamiku sayang," kata Mila, Asisten Jo tersenyum simpul kemudian melanjutkan langkahnya kembali.


"Istriku benar-benar aneh," gumam Asisten Jo.


"Aku tahu kamu mengataiku aneh mas!" teriak Mila dari dalam rumah saat Asisten baru saja keluar dari rumah. Asisten Jo hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Perusahaan Alexander Group

__ADS_1


Davin menatap heran ke arah Asisten Jo yang sebentar-sebentar menerima panggilan. Dia merasa jadwalnya tidak begitu padat, mengapa ponsel Asisten Jo sebentar-sebentar berdering.


"Ada apa Jo? kenapa kamu hari ini sibuk sekali?" tanya Davin saat Asisten Jo baru saja selesai telepon.


"Tidak papa Tuan, istri saya aneh saja. Sedari tadi menghubungi saya suruh cepat pulang," jawab Asisten Jo kembali fokus pada layar tablet nya. Davin menautkan kedua alisnya mendengar jawaban Asisten Jo.


"Biasanya dia tidak seperti itu, apa jangan-jangan..." Davin menghentikan ucapannya. Asisten Jo menatap lekat ke arah Davin.


"Jangan-jangan apa Tuan?" tanya Asisten Jo tak sabar.


"Jangan-jangan Mila selingkuh, apalagi sekarang dia sering ketemu Tuan Kevin kan? menurut artikel yang pernah aku baca, orang yang tiba-tiba berubah sangat manis itu bisa jadi orang itu bermain api di belakang kita," Asisten Jo menatap tajam ke arah Davin saat mendengar ucapan Davin. Sedangkan, Davin hanya mengangkat kedua bahunya seolah tak berdosa.


"Jaga bicara anda Tuan Muda!" Bentak Asisten Jo tanpa sadar. Davin hanya berusaha menahan tawanya.


"Kalau tidak percaya kamu cari saja sendiri di artikel," tantang Davin seolah tak takut.


"Jangan memancing api pertengkaran di rumah tangga saya, Tuan Muda," suara Asisten Jo terdengar memelan.


"Hahahah" Davin tertawa lebar seraya memukul meja kerjanya. "Bagaimana rasanya waktu kamu di goda hingga membuat cemburu Jo. Aku ingin kamu merasakan apa yang dulu aku rasakan," ucap Davin di sela tertawanya membuat Asisten Jo berdecak kesal.


"Anda tidak lucu Tuan!" cebik Asisten Jo sebal. Davin hanya terkekeh geli.


"Anda bilang apa barusan Tuan?" tanya Asisten Jo memastikan.


"Istrimu menjadi aneh karena dia sedang hamil. Eh!" Davin ikut terdiam, dia menyadari ucapannya. Asisten Jo bangkit dari duduknya, dia berjalan cepat keluar ruangan.


"Kamu mau kemana Jo?!" teriak Davin saat Asisten Jo hampir sampai pintu.


"Pulang Tuan, saya harus memastikan ucapan anda," ucap Asisten Jo tanpa menoleh ke belakang.


"Kamu pikir ini perusahaan bokap kamu. Pulang seenaknya sendiri!" Davin melempar pulpen ke arah pintu karena Asisten Jo sudah keluar dari ruangan itu.


Asisten Jo memarkikan mobilnya di pelataran rumahnya, dia turun dari mobil lalu bergegas masuk ke dalam rumahnya. Dia melihat Mila sedang duduk lemas di meja dapur dengan Ibu Eni yang sedang memijat tengkuk Mila.


"Kamu kenapa?" tanya Asisten Jo khawatir, dia duduk di depan Mila sambil mengusap wajah Mila yang nampak pucat.

__ADS_1


"Kamu sudah pulang mas? Aku kangen sekali," Mila memeluk erat tubuh Asisten Jo.


"Mau bantu ibu masak, eh baru sampai dapur sudah muntah-muntah," jelas Ibu Eni, Asisten Jo melerai pelukannya dan menatap lekat kedua bola mata Mila.


"Apa kamu sudah datang bulan?" tanya Asisten Jo. Mila menggeleng pelan.


"Bukankah kamu setiap malam selalu menaiki ku tanpa libur mas," jawab Mila kesal. Bagaimana bisa suaminya bertanya seperti itu, sedangkan setiap malam mereka tidak pernah libur olahraga.


"Maukah kamu ikut aku ke dokter?" ajak Asisten Jo lembut. Mila menautkan kedua alisnya mendengar ajakan Asisten Jo.


"Buat apa mas? aku paling cuman masuk angin biasa. Kerokan juga sembuh," sahut Mila sambil merebahkan kepalanya di meja.


"Apa itu kerokan?" tanya Asisten Jo bingung.


"Kerokan itu sebuah karya seni di punggung, kamu hanya butuh minyak kayu putih sama uang koin lima ratusan untuk membuat karya seni yang indah," jawab Mila asal, bukannya paham Asisten Jo justru semakin kebingungan.


"Sudahlah mas, aku cuma masuk angin. Aku mau minum obat dulu aja," Mila hendak beranjak bangun tapi Asisten Jo langsung menahannya.


"Jangan sembarangan minum obat. Aku takut membahayakan anak yang ada di dalam perut kamu," cegah Asisten Jo.


"Anak?" Mila mengerutkan alisnya. Ibu Eni pun ikut terkejut tapi sesaat kemudian senyum simpul tercetak di bibirnya.


"Ya, kemungkinan kamu sedang mengandung. Makanya kita harus memeriksanya ke dokter," Asisten Jo menatap Mila penuh harap.


"Mas, mana mungkin aku hamil, aku paling cuman masuk angin. Lagian aku baru telat satu minggu dari jadwal aku biasa datang bulan," Mila menyanggah ucapan Asisten Jo namun sesaat kemudian dia terdiam. Otaknya seolah terlintas sesuatu.


"Eh, tapi datang bulanku selalu rutin paling telat cuma sehari dua hari," gumam Mila lirih. Asisten Jo menatapnya dengan senyum yang terlihat begitu manis.


"Jangan senyum manis gitu mas, nanti kalau aku tergoda langsung tak ajak ke kamar kamu mas," ucap Mila membuat senyum Asisten Jo langsung memudar menjadi sebuah cebikkan kesal.


"Sudahlah Mil, kamu ikuti saja suamimu. Bisa jadi kamu beneran hamil, soalnya baru kali ini kamu masuk dapur mual-mual karena mencium bau masakan," suruh Ibu Eni. Dia juga sangat berharap semoga Mila benar-benar sedang mengandung.


"Ya sudah, ayo mas kita ke periksa. Kalau aku beneran hamil kamu harus siap jadi suami siaga," ajak Mila sambil menggandeng tangan Asisten Jo berjalan keluar rumah.


"Kamu tenang saja, bahkan sebelum aku menikah, aku sudah menjadi suami siaga untuk seorang yang sedang ngidam," sahut Asisten Jo. Mila langsung menghentikan langkahnya dan menatap Asisten Jo penuh curiga.

__ADS_1


"Buat siapa?!" tanya Mila penuh penekanan. Asisten Jo tersenyum tipis sambil mengusap wajah Mila.


"Buat Tuan Muda Davino Alexander, memang buat siapa lagi?! Gak usah berfikiran macam-macam!" tegas Asisten Jo. Mereka pun kembali melanjutkan langkahnya untuk periksa ke rumah sakit.


__ADS_2