
Mansion Alexander Group
Mila sedang menunggu suaminya menjemputnya. Dia duduk di ruang TV bersama Aluna dan Alvino yang sedang menonton salah satu serial kartun. Beberapa obrolan dan candaan terlontar dari mulut mereka berdua.
"Mom, itu Marsha," kata Alvino, Aluna dan Mila langsung mengalihkan pandangannya ke arah TV, mereka melihat film kartun Marsha and the Bear yang begitu nakal. Bayangan Aluna dan Mila tiba-tiba terlintas pada ngidam Mila pagi ini.
"Kenapa harus nongol sih? Aku padahal udah lupa," gerutu Mila karena dia kembali merasakan ingin sekali melihat suaminya memakai CD bergambar itu. Aluna terkekeh geli.
"Aku jadi ngebayangin kalau Jo beneran pake CD gambar Marsha gini. Apa gak jatuh harga dirinya?" tanya Aluna, Mila mengerucutkan bibirnya.
"Lagian kamu juga aneh-aneh aja lho, ngidam kok minta suami pake CD gambar Marsha, ngidam sedikit berkelas lah Mil," ucap Aluna. Tiba-tiba dia merasakan sebuah kecupan di pipinya. Dia menoleh dan melihat Davin yang baru saja menciumnya.
"Kamu sudah pulang mas?" tanya Aluna, dia melirik Mila dan Asisten Jo yang sama-sama berwajah kesal.
"Sudah dari tadi sayang, kenapa film nya lucu sekali, Al?" tanya Davin sembari terbahak, Davin mencium pipi Alvino yang sedang duduk serius menonton film itu.
"Yes dad," jawab Alvino singkat. Davin menatap ke arah Asisten Jo yang juga sedang menatapnya tajam.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu, Jo?" tanya Davin seolah tak bersalah.
"Diamlah Tuan Muda! Atau saya sumpal mulut anda dengan celana dal*m!" ketus Asisten Jo. Bukannya takut, Davin dan Aluna justru tertawa lebar.
"Lebih baik saya pamit Tuan," Asisten Jo menggandeng tangan Mila keluar dari Mansion Alexander. Begitu sampai di dalam mobil, Asisten Jo langsung menatap tajam ke arah Mila.
"Kenapa lihatin aku gitu mas? Kamu naksir sama aku?" tanya Mila sambil merebahkan kepalanya di kursi.
"Kepalaku pusing sekali," gumam Mila, tatapan tajam mata Asisten Jo berubah menjadi tatapan penuh khawatir. Mila mengintip wajah Asisten Jo dengan satu mata terbuka sedikit namun satu matanya masih terpejam. Dia berusaha menahan tawanya.
"Aku tahu kamu berpura-pura," ucap Asisten Jo sambil mengusap wajah Mila. Seketika kedua mata Mila terbuka dan dia tersenyum lebar ke arah Asisten Jo. Mobil itu kemudian melaju menuju rumah Asisten Jo.
"Mas, berhenti!" teriak Mila, Asisten Jo langsung mengerem mobilnya secara mendadak dan tubuh mereka berdua terhuyung ke depan.
__ADS_1
"Kenapa kamu berteriak begitu?!" bentak Asisten Jo karena dia masih terkejut tapi Mila tersenyum tipis saat melihat telapak tangan kiri Asisten Jo berada di dashboard. Mila tahu, maksud Asisten Jo adalah melindungi agar Mila tidak terbentur dashboard itu.
"Kenapa kamu ngebentak aku? Aku kan cuma mau ke tempat penjual martabak itu," isak Mila sambil menunjuk penjual martabak di pinggir jalan.
"Kamu kan bisa bilang dari jauh, jangan bicara mendadak seperti ini," Asisten Jo bicara dengan nada kesal.
"Huaaa ibu, aku di marahi suamiku," suara Mila terdengar melengking di dalam mobil itu. Asisten Jo langsung menutup mulut Mila.
"Gak usah ke kanak-kanakan," cibir Asisten Jo sambil membuka bekapan tangannya.
"Kamu tuh yang gak ngertiin aku! Aku mau jalan kaki aja," ancam Mila, namun Asisten Jo hanya diam seolah tak peduli membuat Mila menjadi semakin kesal.
"Kamu gak nahan aku untuk jangan pergi?! Berarti kamu memang ingin aku pulang sendiri? Oke kalau itu mau kamu! Aku bakal pulang jalan kaki!" Mila terlihat marah, karena Asisten Jo benar-benar tidak peduli padanya bahkan Mila bisa melihat seringai tipis di sudut bibir Asisten Jo.
"Kamu menyebalkan mas! Aku sayang banget sama kamu, aku pulang!" kesal Mila, dia berusaha membuka pintu mobil itu, namun Mila sama sekali tidak bisa membukanya.
"Katanya mau pulang sendiri?" sindir Asisten Jo dengan senyum mengejek. Diam-diam Asisten Jo memencet tombol pembuka pintu mobil itu.
"Gimana mau pulang sendiri? Pintu mobilnya aja kamu kunci, bilang aja kamu gak tega aku pulang sendiri mas," cecar Mila dengan wajah kesal.
ceklek. Pintu mobil itu terbuka dengan mudah, kedua alis Mila langsung menaut begitu saja. Dia berbalik dan melihat Asisten Jo yang sedang tersenyum mengejek padanya.
"Barusan ke kunci lho mas,"
"Gak usah alasan. Bilang aja kamu cuma pengen nyari perhatian aku," ejek Asisten Jo sambil membuka pintu mobil itu. Dia berjalan santai keluar dari mobil. Mila tetap duduk di dalam mobil dengan wajah kesal. Namun, pandangan matanya melirik gerak gerik Asisten Jo yang berjalan menjauhi mobil dan berjalan menuju ke tempat menjual martabak itu.
"Benar-benar suami idaman para wanita," gumam Mila, dia tersenyum bahagia karena perhatian Asisten Jo meskipun tidak pernah ada kata-kata romantis yang terlontar dari mulutnya.
"Tunggu dulu, aku kan belum bilang mauku apa," ucap Mila sambil menepuk keningnya, dia pun segera membuka pintu mobil dan berjalan cepat ke tempat suaminya.
"Mas," panggil Mila saat sudah di dekat Asisten Jo.
__ADS_1
"Hmm,"
"Ih! Aku kan belum bilang mau ku apa mas," ucap Mila dengan suara manja.
"Martabak manis toping kismis dengan banyak keju. Jangan coklat atau Vanila karena takut gemuk, jangan kacang nanti takut jerawatan, jangan selai karena itu tidak enak dan bikin perut mules," jawab Asisten Jo tanpa menatap Mila. Sedangkan, Mila hanya melongo mendengar jawaban Asisten Jo yang sangat paham apa kesukaannya.
"Ternyata kamu penghafal yang hebat mas," puji Mila.
"Tentu saja, apa yang tidak aku tahu dari kamu. Bahkan, letak tahi lalatmu berada di mana pun aku tahu," ucap Asisten Jo dengan senyum sinis di bibirnya.
"Gak usah bahas gituan. Biar itu menjadi rahasia ilahi. Aku sedang tidak ingin martabak mas," kata Mila manja, Asisten Jo langsung menatap ke arah Mila.
"Terus kamu mau apa? Bukankah kamu tadi ingin martabak ini?" tanya Asisten Jo.
"Emm....." Mila menautkan jari-jarinya. Asisten Jo menghela nafas panjang, jika sudah seperti ini biasanya Mila akan meminta hal yang aneh-aneh.
"Gak usah jadi gagap gitu," ketus Asisten Jo.
"Aku cuma pengen kenalan sama penjual martabaknya mas, habis ganteng," jawab Mila dengan cengengesan. Wajah Asisten Jo langsung memerah padam.
"MILA! Matamu jelalatan sekali!" teriak Asisten Jo kesal. Penjual martabak itu hanya menahan tawanya.
"Abang ganteng, kenalin saya Mila dan ini suami saya mas Johan Saputra," Mila mengulurkan tangannya, penjual martabak itu hanya memandang uluran tangan Mila itu dan berganti menatap Asisten Jo yang sedang kesal.
"Berani tanganmu menyentuh tangan istri saya, jangan salahkan saya kalau besok kamu sudah tidak bisa berjualan martabak lagi!" ancam Asisten Jo membuat penjual martabak itu bergidik ngeri.
"Kamu apa-apaan sih mas! Aku cuma mau kenalan kok," Mila tetap mengulurkan tangannya, Asisten Jo langsung menarik tangan Mila.
"Saya tidak suka, ada orang lain yang menyentuh orang tercinta saya!" tegas Asisten Jo sambil berbalik dan berjalan kembali ke mobil dengan menarik tangan Mila. Mila langsung tersenyum lebar mendengar ucapan Asisten Jo.
"Akhirnya kamu mengakui aku orang tercintamu mas," kata Mila bahagia, namun Asisten Jo tidak menanggapi. Dia membuka pintu mobil untuk Mila kemudian dia pun duduk di belakang kemudi dan melajukan mobilnya kembali ke rumah.
__ADS_1
"Dasar pasangan aneh," gumam penjual martabak itu sambil memarut keju, namun kemudian dia menghentikan gerakannya.
"Lho, mereka pergi terus ini martabaknya gimana? Ya Tuhan...." Penjual martabak itu mengacak-acak rambutnya dengan kasar.