
Ardian duduk gelisah di kursi tunggu, Aluna dan Davin hanya bisa berusaha untuk menenangkan Ardian. Setelah hampir setengah jam, seorang dokter yang memeriksa Dinar keluar dari ruangan. Ardian segera berdiri dan mendekati dokter itu.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Ardian tak sabar.
"Beruntung sekali, kalian membawa dia tepat waktu. Terlambat sedikit saja, janin yang ada di rahimnya tidak akan terselamatkan," papar dokter. Tulang-tulang di tubuh Ardian seketika melemas, dia hampir saja terjatuh jika Davin tidak menahannya.
"Perasaanku benar kan, Kak," desis Ardian lirih.
"Tenangkan dirimu, sekarang kamu jenguk Dinar, dia pasti sudah sadar sekarang," suruh Aluna. Namun, dokter itu menyela ucapan Aluna dan mengatakan kalau Dinar masih tertidur karena pengaruh obat bius. Dokter itupun berpamitan kembali ke ruangannya. Selepas kepergian Dokter itu, Ardian masuk dan melihat Dinar yang masih terbaring lemah.
"Kak, dia sedang mengandung anakku," ucap Ardian lirih, namun suaranya menyiratkan sebuah kebahagiaan.
"Ya, Kakak turut bahagia walaupun itu sebuah kesalahan. Kamu harus menjaga mereka dengan baik," kata Aluna, dia ikut bahagia melihat Ardian yang bahagia.
"Pasti, Kak.Bagaimana dengan rencana pernikahanku, Kak?" tanya Ardian ragu.
"Kalian menikah terlebih dahulu, besok atau lusa. Setelah kelahiran bayi kalian, kalian bisa kembali menikah secara resmi," sahut Aluna, Ardian hanya menganggukkan kepalanya perlahan. Beberapa saat kemudian, mata Dinar yang terlihat bergerak perlahan, Ardian segera mendekati Dinar, dia menggenggam satu tangan Dinar dengan erat.
"Aku di mana?" tanya Dinar lirih, dia memegang kepalanya yang masih sedikit pusing.
"Kamu di rumah sakit, kamu baru saja pingsan," jelas Ardian, Dinar berusaha bangun, dengan cekatan Ardian membantu Dinar untuk duduk.
"Hati-hati, ada nyawa yang harus kamu jaga." Dinar menautkan alisnya karena bingung dengan ucapan Ardian.
"Maksud kamu?"
"Kamu sedang mengandung anak kita," ucap Ardian bahagia, tubuh Dinar seketika menegang.
"A-apa kamu bilang?" tanya Dinar gugup.
"Kamu sedang mengandung anak kita, kamu hamil," jawab Ardian dengan tersenyum tipis, sedangkan Dinar justru menangis cukup kencang.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Ardian bingung, dia berusaha agar Dinar diam.
"Aku hamil di luar nikah, bagaimana tanggapan tetanggaku, mereka pasti akan menghina dan semakin mencemoohku, aku pasti sudah membuat kedua orang tuaku malu," isak Dinar, Ardian menjadi tak tega. Memang benar yang di katakan Dinar, mereka pasti akan menjadi pembicaraan para tetangga Dinar apalagi Dinar sebelumnya bekerja di klub malam.
"Kamu tenang saja. Tidak ada satupun yang boleh menghinamu. Aku akan membawa kamu dan keluargamu pergi jauh dari lingkunganmu, agar mereka tidak bisa menghinamu," ucap Ardian mantap. Isakan Dinar mulai mereda.
"Dinar, kamu dan keluargamu bisa ikut kita ke Jakarta, agar kita juga tidak terpisah jauh," kata Aluna.
"Tapi bagaimana dengan peternakan milik kamu?" tanya Dinar sembari menatap lekat ke arah Ardian.
"Biar Bayu yang menghandle semuanya, aku hanya akan sesekali datang,"
__ADS_1
"Bukankah Bayu sudah berangkat ke Amsterdam?" tanya Dinar bingung.
"Dia hanya tiga hari disana karena ada urusan. Auh!" Ardian tiba-tiba merintih kesakitan karena Dinar mencubit perut Ardian begitu saja.
"Belum jadi istri saja kamu sudah jahat gini, gimana kalau kita beneran menikah? Bisa-bisa tubuhku remuk setiap hari," timpal Ardian, dia mengusap bekas cubitan Dinar yang terasa panas.
"Ya sudah sana cari wanita yang lemah lembut, kalem dan tidak galak," ucap Dinar ketus. Ardian dengan cepat mencium pipi Dinar, hingga wajah Dinar terlihat memerah.
"Apa kamu tidak malu?" tanya Dinar kesal.
"Biarkan saja, mereka lebih berpengalaman. Mereka bahkan setiap hari melakukan lebih dari ini. Auuhh sakiit sakit," teriak Ardian karena Aluna menjewer telinganya dengan kencang.
"Kenapa perempuan sekarang ganas-ganas," gerutu Ardian, mereka bertiga hanya terkekeh geli mendengar ucapan Ardian itu.
🍀🍀🍀🍀🍀
"Saya terima nikah dan kawinnya, Dinara Efendi binti Bapak Ahmad Efendi dengan Maskawin tersebut di bayar, Tunai!" Suara Ardian terdengar begitu lantang.
"Bagaimana saksi? SAH?"
"Sah!"
"Alhamdulillah,"
"Selamat ya, Dek. Semoga langgeng," ucap Aluna bahagia.
"Terima kasih, Kak," balas Ardian. Selain dari Aluna dan Davin, keluarga Bagaskara dan Alexander juga mengucapkan selamat, termasuk keluarga Saputra juga.
"Bagaimana keadaan janin kamu, Lun?" tanya Mila, saat mereka sedang makan bersama.
"Sehat, Mil."
"Syukurlah, semoga sehat selalu ya, ibu dan bayinya. Hai, calon mantu, makin gembul aja pipimu," ucap Mila, dia mencubit pipi baby Nadira dengan gemas.
"Calon mantu, calon mantu," protes Aluna tak terima.
"Kenapa sih Lun, sewot begitu. Kamu tidak mau besanan sama aku?" tanya Mila dengan wajah yang dibuat sedih.
"Cih!" Aluna hanya berdecih sebal.
"Sayang, habiskan dulu makananmu, jangan sampai anak kita kelaparan," suruh Davin, dia mencium pipi dan bibir Aluna bergantian.
"Mas, jangan membuatku malu,"
__ADS_1
"Ya Tuhan. Tuan Davin, saya mohon jangan membuat saya selalu iri dengan Anda," protes Mila.
"Iri kenapa?" tanya Davin bingung.
"Anda selalu menampilkan kemesraan Anda di depan saya. Bagaimana saya tidak iri, Anda tahu sendiri kan, bagaimana romantisnya suami saya," jawab Mila dengan nada menyindir.
"Ehem!" Asisten Jo yang sedang makan, hanya bisa berdehem keras sambil menatap tajam ke arah Mila.
"Kamu memilih mana, memiliki suami tidak romantis tapi setia atau memiliki suami romantis, tetapi tukang selingkuh. Orang yang sangat romantis, terkadang bisa romantis ke wanita manapun," ucap Asisten Jo santai, dia tidak sadar jika ucapannya itu mampu membuat satu pasangan menjadi salah paham.
"Mas!" panggil Aluna dengan sedikit membentak. Davin hanya menatap santai ke arah Aluna.
"Ada apa, Sayang? Kamu mau aku suapi?" tanya Davin lembut, bukannya menjawab, Aluna justru semakin menampilkan wajah kesal.
"Apa benar yang Jo katakan?" tanya Aluna mengintimidasi.
"Memang Jo bilang apa?" tanya Davin bingung, karena dia tidak mendengarkan ucapan Asisten Jo barusan.
"Tidak usah pura-pura, Mas!" teriak Aluna marah, Davin menatap bingung ke arah Aluna yang marah, lalu beralih menatap Asisten Jo yang masih santai mengunyah makanannya.
"Kamu bilang apa, Jo? Kenapa istriku marah-marah," tanya Davin menyelidik.
"Saya hanya bilang kalau orang romantis itu biasanya bisa romantis ke wanita manapun, Tuan," sahut Asisten Jo.
"Dengarkan Mas? Kamu selain padaku, romantis ke siapa lagi?!" tanya Aluna membentak, bahkan dia meletakkan sendoknya ke atas piring dengan cukup kencang.
"Sayang, aku tidak pernah romantis ke siapapun. Hanya kamu seorang, Sayang. Percayalah," ucap Davin takut. "Jo, jelaskan maksud ucapanmu!" perintah Davin, dia berusaha mengenggam tangan Aluna, tetapi Aluna langsung menolaknya.
"Penjelasan apa, Tuan? Saya rasa ucapan saya tidak perlu ada penjelasan," kata Asisten Jo santai.
"Sudahlah, Mas. Aku marah sama kamu, malam ini kamu tidur di sofa!" teriak Aluna, dia beranjak bangun dan segera berjalan cepat meninggalkan mereka.
"Sayang, kamu salah paham," teriak Davin, tetapi Aluna seolah tidak peduli, dia terus saja berjalan tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.
"Jo! Kamu benar-benar menyebalkan!" geram Davin, dia berdiri hendak menyusul Aluna, sebelum pergi dari sana, Davin menendang tulang kaki Asisten Jo karena kesal, hingga Asisten Jo mengaduh kesakitan.
"Selamat Tuan, nanti malam Anda akan tidur berselimut dingin dan sepi," ledek Asisten Jo, Davin mendelik sesaat ke arah Asisten Jo, tetapi kemudian dia berlari kencang mengejar Aluna.
"Kasihan sekali nasibmu, Tuan," gumam Asisten Jo saat melihat Davin yang terbirit-birit.
"Kamu jahat sekali, Mas," kata Mila sambil menepuk pelan lengan suaminya.
"Biarkan saja, aku sudah lama sekali tidak mengganggu Tuan Muda." Asisten Jo tergelak, Mila pun ikut menertawakan Davin yang sangat bucin dengan Aluna.
__ADS_1