
Davin baru saja masuk ruangannya, ponselnya terdengar berdering sebelum dia duduk di kursi kebesarannya. Davin mengambil ponsel itu dari saku jas nya, dia melihat nama istrinya tertera di layar ponselnya, membuat Davin mengerutkan keningnya.
"Hallo sayang, ada apa?" tanya Davin begitu panggilan terhubung.
"Mas, kamu bisa beliin aku makanan yang kaya donat tapi gak bolong tengahnya enggak?"
"Donat yang gak bolong tengahnya, memang ada?" tanya Davin bingung.
"Namanya Bomboloni Tuan," sahut Asisten Jo yang berdiri tidak jauh dari Davin.
"Bomboloni?" Davin justru semakin bingung.
"Iya sejenis itu, kalau bomboloni biasa kan dalemnya selai, aku mau bomboloni yang dalemnya sambel rujak Mas," pinta Aluna.
"Ada-ada saja kamu. Memang ada bomboloni isi sambal rujak?" Davin menggelengkan kepala mendengar permintaan Aluna sedangkan Asisten Jo berusaha menahan tawanya.
"Pokoknya kamu harus dapat, Mas. Kalau gak dapat aku bakal marah sama kamu," ancam Aluna.
"Iya nanti aku cariin ya, sayang. Aku baru saja masuk ruangan kantor dan belum duduk sama sekali,"
"Aku maunya sekarang, Mas. Pokoknya kalau gak sekarang, mending gak usah beliin sama sekali!" Tut tut tut. Davin melihat layar ponselnya, ternyata panggilannya sudah di putus secara sepihak. Davin mendudukkan tubuhnya di kursi dengan kasar, dia bahkan meletakkan ponselnya begitu saja di atas meja.
"Ada apa, Tuan?" tanya Asisten Jo.
"Jo, kamu carikan bomboloni-bomboloni itu sekarang, ingat yang isinya sambal rujak," perintah Davin, dia mengusap wajahnya kasar.
"Memang ada Tuan?" tanya Asisten Jo lagi.
"Harus ada! Pokoknya harus ada saat ini juga!" perintah Davin tidak bisa di ganggu gugat. Asisten Jo menghela nafas panjang.
"Tuan, apakah anda tidak ingin memeriksakan Nona Aluna? Siapa tahu Nona Aluna benar-benar sedang mengandung," Davin langsung menatap tajam ke arah Asisten Jo.
"Jo! Jaga bicaramu, mana mungkin Aluna hamil, baby Nadira saja baru tiga bulan. Jadi tidak mungkin..." Davin terdiam begitu saja.
"Tidak mungkin apa Tuan?" tanya Asisten Jo dengan senyum mengejek tetapi Davin hanya diam tidak menanggapi.
"Pokoknya kamu harus cari pesanan istriku tercinta itu," Suara Davin terdengar merendah. Entah mengapa, hatinya membenarkan ucapan Asisten Jo. "Bagaimana bisa istriku hamil?" gumam Davin lirih.
"Tentu saja bisa, Tuan. Bukankah anda setiap malam selalu mengajaknya olahraga?"
__ADS_1
"Diamlah Jo!" ketus Davin, dia memijit pelipisnya dengan pelan.
"Anak adalah rezeki, Tuan. Semakin anda memiliki banyak anak, maka rezeki anda akan semakin banyak, Tuan," nasihat Asisten Jo.
"Aku tahu, Jo. Aku hanya kasihan saja sama baby Nadira, dia masih sangat kecil untuk memiliki adik," keluh Davin.
"Salah siapa anda dan Nona Aluna tidak melakukan progam KB Tuan," Davin menatap kesal ke arah Asisten Jo.
"Berani sekali kamu menyalahkanku, Jo!" bentak Davin kesal, suasana hatinya benar-benar memburuk. "Aku juga tidak tahu kalau Aluna bakal hamil secepat ini," Suara Davin terdengar semakin lirih.
"Anda tahu soal permen silikon rasa mint & strawberry, kenapa anda tidak menggunakan itu? Bahkan saya yang tidak tahu soal itu saja masih bisa menunda kehamilan," cibir Asisten Jo membuat Davin semakin terlihat frustasi.
"Kenapa kamu cerewet sekali seperti emak-emak komplek, Jo," ketus Davin. Ponselnya kembali berdering tanpa melihat si penelepon, Davin langsung mengangkat panggilan itu begitu saja.
"Apa?! Kamu tidak tahu aku sedang pusing?!" bentak Davin kesal. Tidak ada sahutan, membuat Davin mengerutkan keningnya karena dia hanya mendengar isak tangis dari seberang telepon. Davin menurunkan ponselnya, kedua matanya membola saat melihat nama Aluna tertera di layar ponselnya.
"Sayang, maafkan aku. Aku tidak tahu kamu yang menghubungiku. Barusan aku sedang memarahi Jo, maafkan aku ya, jangan menangis," kata Davin, dia khawatir dan takut karena isakan Aluna terdengar semakin mengeras.
"Bukan karena bentakanmu yang buat aku nangis, tapi karena kamu tidak juga membelikan pesananku dan lebih memilih memarahi si Jo,"
"Justru aku memarahi Jo karena dia tidak juga mendapatkan pesananmu," Davin berusaha mencari alasan, membuat Asisten Jo berdecak kesal.
"Sayang, apa kamu sedang ngidam?" tanya Davin ragu.
"Mas, mana mungkin aku hamil, baby Nadira saja masih tiga bulan. Tetapi aku terakhir datang bulan sudah satu bulan lebih," Davin mengusap wajahnya kasar mendengar jawaban Aluna.
"Sayang, bisakah kamu periksa? Hatiku merasakan kalau Nadira bakal punya....," Tut tut tut. Belum selesai Davin berbicara, panggilan itu sudah terputus begitu saja. Davin mendesah pelan.
"Sabar Tuan. Ini rezeki anda, bukankah dulu anda menantang takdir? Bukankah saya sudah bilang, doa orang terdzolimi itu kemungkinan besar langsung di kabulkan?" ledek Asisten Jo.
"Diamlah Jo. Lebih baik kamu pergi cari pesanan istriku itu daripada nanti dia ngamuk," Davin benar-benar sudah pasrah.
"Bagaimana dengan agenda rapat kita Tuan? Bukankah sehabis ini kita ada rapat bulanan?" tanya Asisten Jo, berusaha menghindar dari perintah Davin.
"Tunda sampai kamu mendapatkan apa yang istriku inginkan. Sudah sana pergi, waktumu hanya lima belas menit," usir Davin. Asisten Jo melangkahkan kakinya keluar ruangan.
"Dasar merepotkan!" gerutu Asisten Jo pelan.
"Aku belum tuli, Jo!" teriak Davin, tetapi Asisten Jo seolah tak peduli, dia tetap berjalan keluar dari ruangan Davin.
__ADS_1
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Mila baru saja memasuki Mansion Alexander bersama baby Cacha. Begitu dia masuk, dia melihat Aluna yang berjalan dengan terburu-buru, membuat Mila menatapnya heran.
"Kamu mau kemana, Lun?" tanya Mila saat Aluna sudah di depannya.
"Beli testpack di Apotek sebelah," jawab Aluna, Mila semakin menatap heran.
"Buat apa?"
"Tentu saja buat test kehamilan? Kamu pikir testpack buat apa? Buat cemilan?" Aluna balik bertanya dengan sewot.
"Iya aku tahu, tapi emang kamu hamil?"
"Berisik kamu Mil, kamu nunggu sini dulu aku mau pergi dulu," sahut Aluna. Dia berlari pergi begitu saja, sedangkan Mila hanya menatap punggung Aluna yang menjauh dari pandangan matanya.
"Kenapa dia pergi sendiri? Dia kan punya banyak pelayan yang tinggal di tunjuk saja. Memang ada saatnya orang pintar terlihat bodoh," Mila menggelengkan kepalanya, dia lalu mendudukkan tubuhnya di sofa.
"Baby Cacha, bentar ya. Calon kakak ipar kamu masih di kamar," kata Mila sambil mengusap pipi baby Cacha dengan lembut.
"Eh, tapi kalau Aluna beneran hamil gimana? Calon mantuku kan masih kecil," gumam Mila. Dia pun diam menunggu Aluna kembali. Setelah hampir sepuluh menit berlalu, Aluna kembali dengan membawa dua buah testpack di tangannya.
"Kok cuma dua, Lun?" tanya Mila, dia berjalan mengekor di belakang Aluna.
"Memang kamu pikir aku mau beli berapa? Sepuluh?!"
"Kamu kok sensitiv banget Lun, persis kaya ibu hamil," ucap Mila tanpa sadar dia ikut masuk ke dalam kamar mandi.
"Diamlah Mil," Aluna menghentikan gerakannya yang hendak membuka celananya. "Ngapain kamu ikut masuk kesini Mil?!" tanya Aluna kesal.
"Eh iya," Mila yang baru saja tersadar, langsung berbalik dan berjalan keluar dari kamar mandi. Mila berjalan menuju kasur dan menidurkan baby Cacha di samping baby Nadira yang tertidur lelap dengan bantal yang terletak di segala sisi baby Nadira.
Ceklek. Mila yang sedang memainkan ponselnya, berjalan cepat mendekati Aluna yang memasang wajah datar.
"Bagaimana Lun?" tanya Mila tak sabar. Aluna hanya berdiri diam dan menggenggam kedua buah tespack itu secara erat.
"Lun?" panggil Mila menyadarkan Aluna.
"Aku hamil, Mil," kata Aluna sembari memperlihatkan dua buah tespack yang menunjukkan dua garis merah. Kedua bola mata dan mulut Mila seketika terbuka lebar mendengar jawaban Aluna.
__ADS_1