Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
EP 50


__ADS_3

"Kalian saling kenal?" tanya Marvel, mata Marvel menatap Dinar dan Ardian bergantian.


"Tidak!"


"Ya!"


Ardian dan Dinar menjawab bersama tetapi dengan jawaban yang berbeda, membuat Marvel mengerutkan keningnya bingung.


"Maksud aku, aku hanya sebatas kenal dia saja," jelas Ardian. Marvel menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Oh iya Ar, aku mau kembali ke ruanganku dulu. Dinar, semoga lekas sembuh ya," kata Marvel lembut.


"Terima kasih, Dokter," ucap Dinar dengan senyum simpul, Ardian menatap senyum Dinar yang terlihat begitu meneduhkan hatinya.


"Sama-sama. Aku pergi dulu, Ar," pamit Marvel, tetapi Ardian tidak menjawab, dia masih terus menatap lekat wajah Dinar yang belum menyurutkan senyumnya.


"Awas jatuh cinta." Marvel menepuk pundak Ardian hingga Ardian terjengkit kaget sedangkan Marvel berjalan cepat keluar dari ruangan itu. Setelah Marvel tidak terlihat lagi, senyum Dinar langsung memudar dan berganti dengan raut wajah datar.


"Bagaimana bisa kamu ada disini?" tanya Dinar tanpa menatap ke arah Ardian.


"Aku disini karena disuruh Kak Aluna untuk menemanimu," jawab Ardian santai, dia mendudukkan tubuhnya di dekat Dinar.


"Kak Aluna? Apa Nona Aluna itu kakak kamu?" tanya Dinar memastikan.


"Ya, dia Kakak kandung aku satu-satunya," jawab Ardian, dia tersenyum ke arah Dinar yang masih memasang wajah datar.


"Kenapa dunia ini rasanya sempit sekali," gerutu Dinar, tetapi telinga Ardian masih bisa mendengarnya dengan baik.


"Mungkin karena kita berjodoh. Itu sebabnya, kemana pun kamu pergi aku bisa menemukanmu," kata Ardian percaya diri, Dinar hanya mencebikkan bibirnya kesal.


"Aku sebenarnya kesini berniat mencarimu untuk meminta maaf padamu atas kesalahan aku yang sudah benar-benar menyakitimu, tapi ternyata Tuhan sangat baik hati padaku. Kita sudah di pertemukan bahkan sebelum aku mulai mencarimu." Ardian melihat perubahan raut wajah Dinar yang terlihat sendu.


"Sudahlah, tidak perlu lagi di bahas. Aku sudah melupakan kejadian itu, lagipula itu bukan sepenuhnya salah kamu. Aku juga salah karena mendekatimu yang sedang mabuk," ucap Dinar, dia sama sekali tidak menatap ke arah Ardian.


"Aku akan bertanggung jawab," kata Ardian mantap. Dinar mengalihkan pandangannya ke arah Ardian yang juga sedang menatap lekat ke arahnya.


"Bertanggung jawab untuk apa? Kamu tidak menghamiliku jadi lupakan saja semuanya. Anggap saja aku wanita murahan yang kamu sewa semalam,"


"Bisakah kamu bicara dengan sedikit sopan?" tanya Ardian penuh penekanan.


"Untuk wanita seperti aku, kesopanan bukanlah hal yang penting. Mau bagaimana baik nya sopan santunku, aku tetaplah terlihat buruk di mata orang lain," ucap Dinar getir. Entah mengapa, Ardian merasakan hatinya seperti tercubit mendengar ucapan Dinar.


"Mereka hanya salah paham padamu, Nara," Dinar menatap Ardian tajam saat mendengar Ardian memanggilnya Nara. Tangan Dinar mengepal erat, Ardian menautkan kedua alisnya saat melihat raut wajah Dinar yang berubah penuh emosi.


"Jangan memanggilku dengan nama itu. Aku Dinar bukan lagi Nara. Nara sudah mati!" ketus Dinar, "Pergilah, aku sedang ingin sendiri, dan aku harap kita tidak akan bertemu lagi," usir Dinar, tetapi Ardian tetap bergeming di posisinya.


"Aku tidak akan pergi, aku sudah berjanji pada Kak Aluna untuk menemanimu. Jadi, aku tidak akan pernah meninggalkanmu." Tidak ada sedikitpun keraguan yang terdengar dari suara Ardian, membuat Dinar menghembuskan napasnya kasar. Dinar tidak menyahuti ucapan Ardian, dia hanya memejamkan kedua matanya tanpa peduli keberaldaan Ardian. Saat suasana sedang hening, ponsel Ardian berbunyi, dengan segera Ardian mengambil ponsel di saku celananya dan melihat nama Ronal tertera di layar ponselnya.


"Hallo Kak," sapa Ardian sambil berjalan keluar ruangan agar tidak mengganggu istirahat Dinar. Begitu Ardian sudah keluar dari ruangannya, Dinar membuka kedua bola matanya, ternyata dia hanya berpura-pura tidur saja. Mata Dinar terlihat berkaca-kaca, apalagi saat Ardian memanggilnya Nara yang tidak lain adalah panggilannya di club malam, itulah sebabnya sekarang Dinar mengganti panggilannya karena dia ingin menghapus kenangan buruknya sewaktu di club malam dulu.


"Ayah, Ibu, Lisa. Aku benar-benar merindukan kalian," gumam Dinar, tanpa terasa airmatanya mengalir dari sudut matanya. Ardian yang sudah berdiri di ambang pintu, menatap lekat ke arah Dinar yang sedang mengusap airmatanya. "Andai tidak ada kalian, mungkin Dinar akan berhenti untuk bertahan. Apalagi sekarang tubuh Dinar sudah benar-benar kotor," Hati Ardian mencelos mendengar ucapan Dinar, rasa sesal semakin melingkupi hati Ardian.


"Aku akan bertanggung jawab atas kesalahanku padamu," Dinar terjengkit kaget saat melihat Ardian sudah berada tiga langkah di dekatnya, dia segera menghapus airmatanya dengan cepat.


"Aku sudah bilang padamu, pergilah! Aku tidak butuh pertanggungjawabanmu," tegas Dinar, Ardian menghela napasnya panjang.


"Kamu benar-benar keras kepala!" Ardian duduk berselonjor di atas sofa, dia menatap fokus ke arah ponselnya, sedangkan Dinar hanya menatap Ardian sambil berkali-kali mengumpatinya.


"Tidurlah! Jangan buang tenagamu hanya untuk mengumpatiku. Orang sakit itu butuh istirahat penuh," perintah Ardian tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya. Dinar hanya mendecakkan lidahnya kesal, dia mencoba memejamkan matanya sedangkan Ardian melirik ke arah Dinar dengan senyum tipis di wajahnya.

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀🍀


Mansion Alexander.


"Kamu yakin baik-baik saja, Lun?" tanya Mila, karena sedari tadi dia melihat Aluna yang melamun.


"Lun?" panggil Mila sambil menepuk pundak Aluna sepelan mungkin tetapi tubuh Aluna tetap terjengkit kaget.


"Apaan sih Mil? Kamu bikin aku jantungan saja," protes Aluna, dia mengusap dadanya perlahan.


"Kamu di tanya diam saja, kamu baik-baik saja, Lun?" tanya Mila lagi.


"Tentu saja aku baik-baik saja," jawab Aluna, suaranya dia buat senetral mungkin.


"Kamu tidak bisa membohongiku Lun," cibir Mila. Aluna mehembuskan nafasnya kasar.


"Aku hanya kepikiran Dinar, Mil. Dia disini hanya sendirian, tidak punya siapa-siapa. Aku kasihan kepadanya," kata Aluna lirih.


"Kamu suruh aja dia disini, Lun," saran Mila, Aluna tersenyum tetapi sesaat kemudian senyumnya langsung memudar.


"Kalau dia menolak bagaimana?" tanya Aluna dengan wajah sedih.


"Ya kamu pura-pura saja nyuruh dia jadi baby sitter Nadira, aku yakin dia pasti butuh uang," Aluna kembali tersenyum mendengar ucapan Mila.


"Otakmu memang kadang bisa di andalkan Mil," puji Aluna dengan menonyor kepala Mila.


"Aluna! Orang muji tuh kasih uang bukan kasih tonyoran gini, Nyonya Muda," Mila mengusap-usap kepalanya.


"Memang ada hubungannya memuji sama ngasih uang?" tanya Aluna tidak paham.


"Ya pokoknya ada, kalau tidak ada ya nanti di ada-adain saja," seloroh Mila.


"Ehem!" Mila dan Aluna menoleh ke belakang, dia melihat Davin dan Asisten Jo sudah berdiri tidak jauh dari mereka.


"Berhenti Mas!" suruh Aluna saat Davin sudah sangat dekat dirinya.


"Kenapa sayang? Apa kamu tidak merindukanku?" tanya Davin memelas.


"Aku sangat merindukanmu. Mandilah dulu Mas, setelah itu kamu boleh memelukku," perintah Aluna, Davin yang semula murung kini kembali tersenyum semringah.


"Baiklah sayang, aku mandi dulu. Aku sudah tidak sabar untuk memelukmu," kata Davin antusias, dia segera berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan diri.


"Mas, apa kamu tidak merindukanku?" tanya Mila, dia mengedipkan satu matanya ke arah Asisten Jo yang hanya diam berdiri menatap ke arah mereka.


"Tidak! Untuk apa aku merindukanmu?" sarkas Asisten Jo, Aluna langsung tertawa sedangkan Mila mengerucutkan bibirnya.


"Kamu jahat sekali, Mas," kata Mila merengek.


"Jangan bertingkah seperti bocah, ingat anakmu sudah tiga," kata Asisten Jo, dia berjalan mendekati Mila lalu mengambil alih baby Cacha dari gendongan Mila.


"Nathan di mana? Ayo kita pulang, aku sudah sangat lelah," tanya Asisten Jo, Mila segera memanggil Nathan yang sedang bermain bersama Al. Setelah berpamitan, mereka bertiga segera pulang ke rumah.


Setelah hampir dua puluh menit perjalanan, mereka tiba di rumahnya. Asisten Jo lalu memarkirkan mobilnya di garasi. Nathan segera membersihkan diri dengan Ayu, sedangkan Mila dan suaminya langsung masuk ke kamarnya.


"Baby Cacha tidur?" tanya Asisten Jo saat melihat Mila sedang menidurkan baby Cacha.


"Iya Mas, tadi siang dia rewel terus tidak mau tidur. Mungkin karena masih terkejut karena kejadian pagi tadi," jelas Mila, dia beranjak mengambil handuk dan pakaian ganti karena dia sudah merasa sangat lengket setelah seharian berkeringat.


"Mas," desah Mila lirih saat dia merasakan tubuhnya di peluk Asisten Jo dari belakang.

__ADS_1


"Biarkan aku memelukmu sebentar saja," bisik Asisten Jo sembari mengeratkan pelukannya. Kedua tangan Mila memegang tangan Asisten Jo yang masih memeluknya.


"Kenapa?" tanya Mila lembut.


"Tidak papa. Aku hanya ingin memelukmu saja," sahut Asisten Jo, Mila menghela napas panjang.


"Aku tahu kamu mengkhawatirkanku, Mas. Aku baik-baik saja," kata Mila, menenangkan hati Asisten Jo yang memang sedang merasa gelisah dan khawatir karena kejadian tadi.


"Kamu sok tahu sekali, mana mungkin aku mengkhawatirkanmu," bantah Asisten Jo.


"Tidak usah sok jaim, Mas. Nanti kalau ada pria tampan lain yang mengkhawatirkanku, kamu cemburu," goda Mila, Asisten Jo refleks mengigit telinga Mila hingga membuat Mila mengaduh kesakitan.


"Sakit sekali, kamu seperti kanibal saja," omel Mila sambil mengusap-usap telinganya. Bibir Asisten Jo mencium lembut leher jenjang Mila, hingga tubuh Mila terasa meremang.


"Apa ini sakit?" tanya Asisten Jo dengan mengeksplor leher Mila hingga desahan-desahan kecil keluar begitu saja dari bibir Mila.


"Jangan sekarang Mas, ini masih sore," desah Mila.


"Memang kenapa kalau masih sore?" tanya Asisten Jo, tangannya mulai bergerilya kemana-mana.


"Aku takut ketahuan Nathan, Mas," ucap Mila dengan nafas yang memburu, karena suaminya benar-benar pintar membuat tubuhnya memanas. Asisten Jo menggiring tubuh Mila ke kasur, merebahkannya lalu menindihnya.


"Kamu yakin kita akan bertempur sekarang Mas?" tanya Mila memastikan.


"Yakin lah," jawab Asisten Jo mantap, dia mencium lembut bibir Mila. Mereka berdua saling bertukar saliva, saat Asisten Jo hendak mengeksplor leher Mila kembali, ponsel yang berada di saku celananya terdengar berdering.


"Pengganggu!" umpat Asisten Jo kesal. Dia merogoh saku dan mengambil ponselnya. Wajahnya semakin terlihat kesal saat melihat siapa yang mengganggu aktivitasnya. Dia mengangkat panggilan itu tanpa beranjak dari tubuh Mila, sedangkan Mila menaruh lengan kirinya menutupi kedua matanya.


"Hallo Tuan," sapa Asisten Jo malas.


"Jo, apa kamu sibuk? Aku ingin bertanya satu hal padamu,"


"Tidak, Tuan. Anda mau bertanya apa, Tuan?" tanya Asisten Jo, dia sama sekali tidak beranjak dari posisinya, masih menindih tubuh Mila.


"Bagaimana cara memakai pengaman itu, Jo?" tanya Davin pelan, kedua mata Asisten Jo membola sesaat, tetapi kemudian dia berusaha menahan tawanya.


"Hal semudah itu apa anda tidak bisa, Tuan? Padahal saya dan anda lebih berpengalaman anda," ejek Asisten Jo, dia yakin saat ini pasti Davin sedang menggeram marah.


"Tidak usah mengejekku, Jo! Cepat beritahu saja caranya," perintah Davin dengan kesal.


"Caranya tinggal masukkan saja ke adik kecil anda," jawab Asisten Jo datar.


"Semudah itu Jo?" Suara Davin terdengar tak percaya.


"Memang menurut anda sesusah apa Tuan? Saya kira anda sudah sangat berpengalaman karena anda lebih tahu nama lain pengaman adalah permen, ternyata anda sama saja...."


"Sama saja apa?" tanya Davin meninggi.


"Sama seperti saya, sama-sama bodoh," jawab Asisten Jo santai.


"Berani sekali kamu Jo?! Rasanya aku ingin...."


"Tuan, saya sedang sibuk! Kasihan istri saya sudah menunggu di bawah saya, saya matikan Tuan, selamat berolahraga Tuan, semoga menyenangkan," Asisten Jo langsung mematikan panggilan itu begitu selesai bicara. Dia mematikan ponselnya lalu melemparkan ke atas kasur sembarangan.


"Hobi sekali mengganggu! Ayo kita mulai lagi," kata Asisten Jo, dia menyingkirkan tangan Mila yang menutup kedua mata Mila.


"Kamu tidur Mil?" tanya Asisten Jo saat melihat Mila memejamkan kedua matanya.


"Mil!" Asisten Jo menepuk pipi Mila perlahan untuk membangunkan Mila, tetapi Mila sama sekali tidak terganggu. "Ya Tuhan, Mil. Jahat sekali!" omel Asisten Jo, dia beranjak bangun karena Mila tidak membuka matanya sedikitpun, bahkan saat Asisten Jo turun dengan kasar pun, tidur Mila seolah tidak terganggu sama sekali, membuat Asisten Jo merasa begitu kesal. Dia mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sekalian menidurkan adik kecilnya yang sudah menantang.

__ADS_1


Begitu pintu kamar mandi sudah tertutup, Mila langsung membuka matanya lebar, dia menutupi mulutnya yang terkekeh geli.


"Rasakan! Salah siapa buat aku menunggu pas lagi panas-panasnya," ucap Mila, dia membayangkan pasti suaminya sekarang sedang bersolo karir dengan mulut yang menggerutu.


__ADS_2