
Enam bulan kemudian.
Kini usia kehamilan Mila sudah memasuki bulan ke tujuh lebih, perutnya sudah terlihat membuncit. Mila merasa sangat bahagia, walau pun Asisten Jo tidak pernah mengucapkan kata cinta tapi Asisten Jo bergitu perhatian meski pun tidak dengan hal-hal romantis.
"Mas, makasih ya kamu sudah menerima aku apa adanya," ucap Mila sesaat setelah mereka selesai olahraga malam.
"Tidak perlu berterima kasih. Sudah kewajibanku sebagai suamimu," Asisten Jo mengusap puncak kepala Mila perlahan.
"Mas, seandainya terjadi apa-apa padaku. Apakah kamu akan tetap setia padaku?" Asisten Jo memeluk tubuh Mila erat. Entah mengapa, hatinya merasa begitu takut. Dulu, sebelum Mila di culik Dimas, Mila juga mengucapkan sebuah kata perpisahan.
"Jangan bicara seperti itu, kamu pasti akan baik-baik saja dan akan menjadi ibu yang hebat," ucap Asisten Jo dengan nada bergetar. Jujur, dia sangat takut kehilangan Mila.
"Mas, semakin hari persalinanku semakin dekat. Banyak yang bilang, saat melahirkan itu sangat menyakitkan. Aku takut mas," lirih Mila, Asisten Jo semakin menguatkan pelukannya.
"Semua akan baik-baik saja. Bayi kita akan lahir selamat dan kamu juga akan selalu sehat. Aku akan selalu di sampingmu," Mata Asisten Jo mulai berkaca-kaca. Dia berusaha meyakinkan hatinya bahwa semua akan baik-baik saja meski jauh di lubuk hatinya terdalam, ada sebersit keraguan yang menyelimuti hati Asisten Jo.
"Mas," panggil Mila lirih.
"Diamlah. Jangan berfikiran macam-macam. Kita harus percaya bahwa semua akan baik-baik saja," Asisten Jo melepas pelukannya. Kedua tangannya menangkup wajah Mila, dia menatap ke dalam mata Mila penuh dengan cinta. Wajah yang selalu menggodanya, selalu membuat hatinya memanas karena memuji ketampanan pria lain. Namun, kini wajah itu terlihat sendu seolah memancarkan sebuah kesedihan dan ketakutan. Asisten Jo mencium kening Mila lama, menyalurkan kekuatan meski hatinya sendiri merasa begitu bimbang. Dia berusaha meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Kau tahu, aku memang tidak pernah bisa mengungkapan rasa cintaku lewat kata-kata, ataupun bersikap romantis seperti pria tampan di luar sana. Akan tetapi, kamu harus tahu bahwa perasaanku selalu untukmu, tidak peduli bagaimana pun menyebalkannya kamu, meski pun kamu selalu membuatku emosi dengan khilafmu itu. Akan tetapi aku mencintaimu, untuk saat ini dan selamanya," ucap Asisten Jo. Mila langsung mendekap erat tubuh Asisten Jo, menangis dalam pelukan sang suami. Dia juga berusaha meyakinkan hatinya bahwa dia bisa melewati semuanya, melahirkan bayi yang lucu, yang selama ini mereka nantikan. Walau pun hari perkiraan lahir masih sekitar dua bulan, akan tetapi hati Mila mulai selalu merasa cemas.
__ADS_1
"Tidurlah, sudah malam. Waktunya kamu dan anak kita istirahat," Asisten Jo mengusap punggung Mila, membuat hatinya nyaman agar rasa resah yang sedang menyelimuti hati mereka bisa sirna. Beberapa saat kemudian, mata Mila sudah terpejam dan tertidur lelap. Asisten Jo melepas pelukannya perlahan agar tidak mengganggu istrinya yang baru saja terlelap. Dia berjalan perlahan menuju kamar mandi, menatap pantulan wajahnya di kaca wastafel. Dia mencengkeram kuat wastafel itu, matanya memejam merasakan rasa sakit yang entah mengapa dia bisa datang.
"Semua akan baik-baik saja," gumam Asisten Jo dengan nada bergetar. Jujur, dia sangat takut. Takut bila Tuhan tidak berbaik hati padanya. Banyak wanita melahirkan, mereka baik-baik setelahnya. Namun, segala kemungkinan buruk bukankah bisa saja terjadi? Mendengar Mila berkata manis seperti itu justru membuat hati Asisten Jo khawatir, bayangan akan masa lalu yang menyakitkan seolah kembali menggoda. Bukankah dulu Mila juga mengucapkan salam perpisahan sebelum Dimas menculiknya? Kini rasa khawatir dan takut itu kembali merasuk ke dalam hatinya.
"Ya Tuhan, jagalah dan selamatkan anak dan istriku saat lahiran nanti," lirih Asisten Jo dengan setitik airmata yang mulai menetes dari pelupuk matanya. Kau tahu, Seorang lelaki tidak mudah menangis. Namun sekali saja lelaki itu menangis untukmu, itu menunjukkan bahwa dia sangat mencintaimu dengan segenap jiwa dan raganya.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Perusahaan Alexander Group
"Kamu kenapa, Jo? Kenapa kamu terlihat begitu resah?" tanya Davin yang sedari melihat Asisten Jo tidak tenang.
"Entahlah, Tuan. Saya sedang merasa khawatir saja," sahut Asisten Jo, dia berkali-kali menatap layar ponselnya. Biasanya, istrinya akan sangat cerewet, berkali-kali menghubunginya walaupun di jam kerja hingga terkadang membuat Davin begitu kesal. Namun, sampai sekarang belum ada satupun panggilan yang masuk membuat hati Asisten Jo semakin tak karuan. Saat sedang menanti, tiba-tiba ponsel itu berdering. Asisten Jo langsung mengangkat panggilan itu.
"Mil, jawab aku!" suara Asisten Jo mulai meninggi karena hatinya begitu khawatir.
"Mas, aku di rumah sakit, ibu jatuh di kamar mandi dan sekarang koma," jawab Mila di selingi isak tangis yang seakan menyayat hati Asisten Jo.
"Kenapa kamu baru bilang? Aku kesitu sekarang," Asisten Jo langsung mematikan panggilan itu.
"Kenapa Jo?" tanya Davin tak sabar. Karena dia melihat Asisten Jo begitu tergesa-gesa.
__ADS_1
"Tuan, saya mau izin ke rumah sakit. Ibu mertua saya jatuh dan sekarang koma," jelas Asisten Jo sambil beranjak bangun dari duduknya.
"Kalau begitu aku ikut, Jo." Davin ikut berjalan ke luar kantor bersama Asisten Jo.
"Hati-hati Jo," suruh Davin, karena Asisten Jo mengendarai mobilnya dengan mengebut. Davin tahu, Asisten Jo tidak hanya mengkhawatirkan Ibu mertuanya tapi juga mengkhawatirkan keadaan Mila.
Begitu sampai di rumah sakit, Asisten Jo langsung bergegas menuju ruang ICU, disana dia melihat Mila yang sedang menangis, tanpa banyak bicara Asisten Jo langsung menarik tubuh Mila masuk ke dalam pelukannya.
"Mas, aku takut hiks hiks," Mila terisak, mata Asisten Jo pun mulai berkaca-kaca. Sungguh, dia lebih baik menghadapi Mila yang selalu memuji pria tampan daripada harus menghadapi Mila yang sedang menangis seperti ini.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja," bisik Asisten Jo berusaha menguatkan Mila. Sedangkan, Davin hanya duduk di kursi tunggu. Hatinya pun sedang harap-harap cemas.
ceklek
Pintu ruang ICU itu terbuka, Mila langsung melerai pelukan Asisten Jo dan berjalan mendekati dokter yang keluar dari ruangan itu. Wajah dokter itu terlihat muram, membuat Mila semakin tak sabar.
"Bagaimana keadaan ibu saya, Dok?" tanya Mila sambil menggoyangkan lengan dokter itu. Terdengar hembusan nafas kasar dari dokter itu.
"Ibu anda mengalami penyumbatan di pembuluh darah akibat benturan di kepalanya. Maaf, saya sudah berusaha semaksimal mungkin, akan tetapi Ibu anda tidak bisa di selamatkan walaupun sebelumnya sempat koma," tubuh Mila langsung luruh begitu saja, dia hampir saja jatuh ke lantai jika saja Asisten Jo tidak cepat menahannya.
"Mas," tangis Mila terisak, airmatanya mulai mengalir di pipinya.
__ADS_1
"Kamu harus sabar, ibu pasti sudah tenang disana," Asisten Jo memeluk Mila namun Mila langsung meronta, melepaskan pelukan Asisten Jo. Dia berlari masuk ke dalam ruang ICU itu. Dia menatap ibunya yang telah terbujur kaku.
"Bu," panggil Mila lirih. Setelah itu, dia tak lagi sadarkan diri.