Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
109


__ADS_3

Mood Tuan Davin benar-benar buruk setelah Asisten Jo menggagalkan siang panasnya bersama Aluna. Selama perjalanan kembali ke kantor, Davin tidak mengajak bicara sama sekali. Hingga suasana di dalam mobil itu terasa begitu hening.


" Anda masih marah dengan saya Tuan ?" Tanya Asisten Jo tanpa rasa bersalah.


" Cih ! Aku benci wajah sok polosmu itu Jo " Davin berdecih sebal pada Asisten kurang ajarnya itu.


" Anda tidak memberi kode pada saya untuk pergi Tuan, bukankah saya selalu mengikut di belakang anda selama ini ? " Asisten Jo bicara dengan nada mengejek Tuan Mudanya itu.


" Dasar Jomblo !! Harusnya kamu peka, andai saja kamu tidak mengganggu sudah pasti sekarang aku sedang celap celup Jo " Omel Davin kesal. Andai dia tega, dia sudah mengirim Asisten Jo ke kutub utara agar menjadi es kemudian bisa dia jadikan campuran teh manis.


" Seperti iklan biskuit saja Tuan, celap celup pasti.... "


" Diamlah Jo, aku benci suara cemprengmu itu ! " Asisten Jo langsung terdiam, mood Davin memang benar-benar buruk. Sesampai di kantor Davin langsung menuju ruangannya tanpa menunggu Asisten Jo. Rasanya dia masih benar-benar kesal.


" Jo ... " Panggil Davin begitu Asisten Jo baru saja masuk.


" Ada apa Tuan ? " Asisten Jo mulai berfirasat tak enak. Dalam keadaan normal saja, kadang Tuan Davin meminta aneh-aneh apalagi dalam keadaan ngidam seperti ini.


" Aku ingin menambah tempat tidur di ruanganku ini untuk istirahat Aluna, mulai besok dia akan ikut aku ke kantor dan kamu harus sudah menyediakannya, besok harus sudah siap Jo " Titah Davin tegas. Asisten Jo melongo mendengar perintah Tuan Mudanya itu.


" Tuan, saya ini bukan Bandung Bondowoso yang bisa membuat seribu candi dalam waktu semalam karena memiliki pasukan ghoib Tuan "


" Aku tidak menyuruhmu membuat seribu candi Jo ! " Davin menatap tajam Asisten Jo.


" Ya, tapi perintah anda hampir sama Tuan. Saya tidak mungkin membuat satu ruangan hanya dalam waktu semalam. Apa anda mau meminjamkan pasukan ghoib anda ?"


" Tutup mulutmu Jo !! Kamu itu pasukan ghoibku. Kenapa kamu sekarang menyebalkan sekali ? " Davin berdecak kesal. Sungguh, rasanya dia masih dendam dengan asistennya itu.


" Bukan saya yang menyebalkan Tuan, tapi anda yang terlalu sensitif " Sahut Asisten Jo tidak takut, membuat Davin semakin kesal.


" Apa ayah masih membutuhkan seorang asisten, Jo ? " Tanya Davin sambil menatap layar komputernya.


" Sepertinya tidak, bukankah tugas ayah anda sekarang hanya mengawasi pekerjaan anda saja ? Memang kenapa Tuan ? " Tanya Asisten Jo bingung.

__ADS_1


" Aku ingin sekali menyumbangkan tenagamu untuk menjadi asisten ayahku " Ketus Davin. Asisten Jo menghela nafas panjang.


" Silahkan saja Tuan, tapi jangan salahkan saya kalau anda tidak mendapat Asisten multitalenta seperti saya " Sahut Asisten Jo penuh percaya diri.


" Pergilah Jo, aku benar-benar sedang muak melihatmu " Usir Davin. Dengan segera Asisten Jo langsung pergi dari ruangan Tuan Davin agar emosi Davin mereda. Selepas kepergian Asisten Jo, Davin langsung memukul mejanya kesal.


" Bisa gila aku lama-lama punya asisten kurang ajar seperti dia " Umpat Davin kesal.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Asisten Jo mengendarai mobilnya pulang menuju Apartemen, setelah dia mengantar paduka raja itu kembali ke istananya. Dia menikmati perjalanan dengan santai. Selama perjalanan, dia tersenyum sendiri teringat Tuan Mudanya itu.


" Memang kalau orang ngidam itu ada-ada saja "


Ciiiiittttt


Asisten Jo mengerem mendadak mobilnya saat ada seorang gadis yang berdiri di tengah jalan menghalangi laju mobilnya.


" Sial !! Sudah bosan hidupkah dia " Umpat Asisten Jo kesal. Gadis itu mendekat dan mengetuk pintu mobil Asisten Jo, dia terkejut saat melihat siapa gadis itu. Asisten Jo membuka kaca mobilnya dan menampilkan wajah datarnya.


" Apa kamu ingin bunuh diri ? " Cibir Asisten Jo dengan menatap tajam Mila, membuat nyali Mila terasa menciut.


" Ma-maaf Tuan, tapi ini keadaan genting. Bisakah anda memberi saya tumpangan sampai kerumah sakit depan ? " Tanya Mila ragu. Asisten Jo menatap Mila penuh tanya.


" Sebentar Tuan " Mila meninggalkan Asisten Jo begitu saja, namun beberapa saat kemudian dia datang membawa seorang anak kecil dalam gendongannya. Asisten Jo menatap Mila heran.


" Tuan, bisakah anda memberi saya tumpangan sampai rumah sakit ? Saya sedari tadi menunggu taxi namun tidak ada satupun yang lewat " Pinta Mila dengan wajah memelas.


" Masuklah " Perintah Asisten Jo. Dengan segera Mila masuk mobil dan duduk di kursi sebelah kemudi. Asisten Jo melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Sudut matanya beberapa kali melirik Mila yang sedang memangku anak kecil itu dengan wajah khawatir.


" Apa dia anakmu ? " Tanya Asisten Jo memecah keheningan.


" Iya Tuan " Jawab Mila lirih sambil tangannya terus mengusap kepala anak kecil itu. Asisten Jo menoleh sesaat, menatap tak percaya pada Mila, karena setahu dia Mila belum menikah.

__ADS_1


" Kalau dia anakmu, lantas kemana suamimu ? " Pertanyaan itu lolos dari bibir Asisten Jo sedangkan Mila hanya menjawab dengan sebuah senyuman.


Kenapa senyumnya begitu manis. Batin Asisten Jo saat melihat senyum yang terukir di bibir Mila. Walaupun Asisten Jo melihat senyum itu penuh kegetiran. Suasana di mobil menjadi hening lagi.


Sesampainya di rumah sakit, Mila langsung membawa anak kecil itu menuju IGD untuk mendapat penanganan. Asisten Jo pun tanpa sadar mengekor di belakang Mila. Begitu sampai di IGD, anak kecil itu langsung ditangani. Mila menautkan jari jemarinya, dia merasa sangat khawatir. Asisten Jo hanya diam, duduk menemani di samping Mila. Beberapa saat kemudian, dokter yang memeriksa keluar dari ruangan itu. Dengan segera Mila beranjak bangun mendekati dokter itu.


" Bagaimana keadaanya dokter ? " Tanya Mila khawatir.


" Saya sudah memberi obat demamnya. Dia terkena tipes jadi untuk beberapa hari sebaiknya dia dirawat disini terlebih dahulu " Jelas Dokter itu.


" Baik Dok " Ucap Mila sopan. Dokter itupun meninggalkan ruangan itu. Mila masuk dan duduk di samping anak kecil yang sedang terbaring lemah. Asisten Jo berdiri di sampingnya.


" Semoga dia cepat sembuh " Mila terkejut mendengar suara Asisten Jo, dia lupa kalau Asisten Jo mengikutinya.


" Tu-tuan, saya kira anda sudah pulang. Maaf Tuan saya belum membayar anda " Ucap Mila gugup karena Asisten Jo tidak lepas memandangnya.


" Membayar untuk apa ? " Tanya Asisten Jo sambil menautkan alisnya.


" Karena anda sudah bersedia mengantar saya sampai ke rumah sakit " Jawab Mila lirih.


" Kamu pikir saya supir taxi ?! Saya tidak butuh uangmu itu " Ujar Asisten Jo kesal. Bagaimana bisa dia disamakan dengan supir taxi. Mila langsung menunduk takut mendengar suara Asisten Jo yang melengking itu.


" Bunda..... " Suara panggilan pelan itu berhasil mengalihkan perhatian mereka berdua. Mila langsung berjalan mendekati anak kecil itu, mengusap kepalanya perlahan.


" Bunda disini sayang " Ucap Mila lirih namun entah mengapa mampu menggetarkan hati Asisten Jo. Kedua bola mata bening anak kecil itu menatap Asisten Jo dengan lekat.


" Ayah ..... " Panggil anak kecil itu dengan wajah berbinar. Mila dan Asisten Jo hanya diam melongo.


Maaf ya, ceritanya lagi ngebosenin banget


saya sengaja tidak pake konflik berat di cerita ini, cukup beban hidup di dunia nyata saja yang berat gaes 😆😆


Calon anak Davin dan Aluna pengen tak bikin kembar, tapi kok kayaknya hampir semua cerita di novel punya anak kembar.

__ADS_1


emm kira-kira gimana ya ?


kasih author inspirasi dong 😁😁


__ADS_2