
"Hari ini anda memiliki jadwal rapat di Restoran Harmoni Tuan," Suara Asisten Jo terdengar begitu menyebalkan di telinga Tuan Davin. Hampir seminggu ini Tuan Davin seperti kehilangan semangat hidupnya. Dia selalu duduk gelisah di kursi kerjanya. Matanya berkali-kali menatap tampilan CCTV di komputernya tetapi sehabis melihat tampilan itu dia selalu mendesah kecewa.
"Anda merindukan Nona Aluna, Tuan?" tanya Asisten Jo menyadarkan lamunan Tuan Davin.
"Untuk apa aku merindukan dia Jo? Dia bukan siapa-siapaku! Justru aku senang jika dia tidak ada karena aku bisa hidup dengan tenang," jawab Tuan Davin sambil duduk bersandar di kursinya dan memejamkan matanya.
Anda tidak bisa membohongi saya Tuan karena saya tahu saat anda sedang berkata bohong ataupun jujur.
"Maafkan saya Tuan. Saya kira anda merindukan Nona Aluna karena setiap hari anda selalu menengok tampilan CCTV Tuan," sindir Asisten Jo.
"Aku disini bos Jo! Jadi aku melihat tampilan CCTV untuk melihat kinerja karyawanku, kamu jangan seenaknya sendiri kalau bicara," sanggah Tuan Davin.
"Maaf Tuan, saya hanya ingin mengatakan kalau Nona Aluna hari ini pindah rumah Tuan," lapor Asisten Jo, dia ingin melihat respon Tuan Davin karena saat dia melihat Tuan Davin yang sedang menyangkal perasaannya, Tuan Davin terasa begitu menggemaskan.
"Pindah kemana Jo?" tanya Tuan Davin penasaran.
"Saya tidak akan bilang Nona Aluna pindah kemana Tuan. Bukankah Nona Aluna tidak penting untuk anda jadi untuk apa saya memberi tahu anda Tuan," Tuan Davin mengusap wajahnya kasarnya mendengar jawaban Asisten Jo.
"Apa anda sangat ingin tahu kemana Nona Aluna pindah Tuan?" tanya Asisten Jo menggoda tetapi Tuan Davin langsung beranjak bangun.
"Ayo berangkat rapat. Aku bosan dengan omong kosongmu Jo!" Ketus Tuan Davin. Asisten Jo hanya diam dan berjalan mengekor di belakang Tuan Davin.
------------@@@@@@------------
__ADS_1
Tuan Davin mengendarai mobilnya ke rumah Aluna. Kali ini, dia tidak di antar Asisten Jo karena dia kesal selalu di ledek oleh asisten kurang ajar nya itu. Sesampai di depan rumah Aluna dia melihat rumah Aluna begitu sepi. Tuan Davin lalu turun dari mobil dan berjalan mendekati rumah itu. Ketika dia hendak mengintip lewat jendela tiba-tiba pintu rumah itu terbuka. Mata Tuan Davin dan Aluna saling menatap dalam.
astaga kenapa jantungku berdebar-debar seperti ini ? Batin Tuan Davin.
"Mau apa elo kesini?!" Singa betina mode-ON. Tuan Davin terlihat gugup.
"Gue kesini mau ambil motor gue," kata Tuan Davin berusaha ketus.
"Motor elo sudah gue jual!"
"Di jual?" Davin menatap tak percaya ke arah Aluna. "Jangan seenak elo sendiri, itu kan motor gue," Aluna tersenyum sinis mendengar ucapan Tuan Davin.
"Jangan pura-pura amnesia! Itu motor gue, Gue yang bayar DP dan gue yang ngangsur tiap bulan...."
"Gue sedang tidak ingin berdebat dengan Elo. Gue udah lelah. Karena gue waras maka gue ngalah, gue bakal ganti motor elo itu," kata Aluna penuh penekanan.
"Biaya pelunasan 150 juta dan biaya perbaikan mobil gue 40 juta dan biaya sewa motor 10 juta jadi totalnya loe harus bayar 200 juta," Aluna mendelik mendengar perkataan Tuan Davin.
"Elo benar-benar gak waras! Itu sama aja elo meras gue, gue bisa laporin elo dengan kasus pemerasan!"
"Silahkan gue gak takut dan gue nunggu uang itu," kata Tuan Davin, dia hendak pergi tetapi ketika dia membalikkan badannya dia merasakan pantatnya di tendang hingga dia terhuyung ke depan.
"Elo berani nendang gue! Elo berani sama gue!" bentak Tuan Davin marah. Aluna pun menggulung lengan kaosnya kemudian mengepalkan tangannya sambil menantang Tuan Davin.
__ADS_1
"Gue gak takut sama elo! Ayo sini maju, kita lihat siapa yang paling hebat di antara kita. Jangan kira gue takut sama elo," tantang Aluna. Tuan Davin pun mendekat, dia juga menggulung lengan kemejanya lalu menunjukkan kepalan tangannya.
"Ayo gue juga gak takut sama elo. Gue gak bakal mundur walaupun elo itu cewek karena gue tahu elo itu cewek jadi-jadian!"
"Daripada elo apem tersembunyi!" Aluna tak mau kalah. Aluna maju hendak memukul Tuan Davin begitu pun sebaliknya. Namun, mereka segera berhenti saat Aluna merasakan telinganya di jewer oleh seseorang.
"Aduuhh aduhhh aduuhhh... " teriak Aluna kesakitan sambil memegang telinganya yang memerah.
"Kamu itu cewek kenapa bar-bar banget sih Lun?!" omel Ronal. Sedari tadi, Ronal dan Ardian di dalam hanya mendengarkan pertengkaran mereka saja.
"Dia yang mulai duluan Kak," adu Aluna.
"Enak saja! Gue duluan? Elo tuh yang duluan," Tuan Davin tak mau kalah.
"Astaga, Stop!" Bentakkan Ronal mampu membuat mereka berdua diam.
"ALUNA SALSABILA, kamu itu harus menjaga sikap kamu. Kamu itu harus ingat kalau kamu itu cewek. Kamu mau bikin kakak kecewa lagi terus kakak tinggal pergi lagi? Mau?" ancam Ronal. Aluna langsung memeluk Ronal erat.
"Jangan tinggalin aku lagi kak," kata Aluna lirih. Tuan Davin yang melihat adegan itu pun merasakan hatinya terasa memanas.
"Cih! Kekanak-kanakan," cibir Tuan Davin, dia berlalu pergi dari rumah Aluna. Aluna hanya tersenyum mengejek melihat kepergian Tuan Davin.
jangan lupa vote,komentar maupun like kamu yaa gaess......
__ADS_1