Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
97


__ADS_3

Tiga hari kemudian. Aluna bersiap-siap untuk pergi balapan, dia bahagia karena Davin mengizinkan walaupun dengan syarat. Aluna bertekat harus menang karena dia tidak mau jika harus berhenti balapan.


" Kamu sudah siap sayang ? " Tanya Davin saat melihat Aluna hendak berangkat. Davin memangku laptop di pahanya.


" Aku berangkat dulu ya, doakan aku menang. Lumayan hadiahnya 75 juta bisa buat DP motor baru " Ucap Aluna antusias. Davin menghela nafas panjang.


" Aku bisa beliin kamu motor baru, bahkan seratus motor pun aku bisa belikan sayang " Davin bicara dengan kesal, harga dirinya merasa terinjak karena ucapan Aluna.


" Tapi aku lebih suka sama barang yang aku beli dari hasil keringatku sendiri walaupun harus nyicil " Aluna pun tak mau kalah.


" Sayang .... " Davin hendak mendebat lagi. Namun, Aluna langsung menutup mulut Davin dengan tangannya.


" Kalau kamu ngajak debat terus, aku kapan berangkatnya " Protes Aluna sambil menyalami tangan Davin kemudian mengecup pipi Davin hingga membuat bibir Davin tersenyum.


" Sayang.. sayang.. kamu itu kalau ada maunya aja baru mau manis gitu. Maaf ya gak bisa nganter soalnya kerjaan aku banyak banget "


" Gak papa pak bos, aku tahu kalau bos itu kan super sibuk. Lagipula aku sudah biasa sendiri gak bakal ada yang berani begal "


" Ya udah sana hati-hati ya " Kata Davin lembut. Aluna langsung pergi, diapun berpamitan kepada semua orang di rumah.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀


" Kamu sudah siap Lun ? " Tanya Ronal saat Aluna sudah duduk di atas motornya.


" Sudah dong kak, mana lawannya ? " Aluna celingukan, karena dia tidak melihat orang yang naik motor balap seperti dirinya.


" Lagi kesini sebentar lagi " Jawab Ronal sambil melihat jam di pergelangan tangannya. Lima menit kemudian Aluna melihat seseorang naik motor sport berhenti di sampingnya. Aluna mengerutkan alisnya karena merasa sangat familiar dengan body orang itu, hanya saja orang itu terlihat lebih berisi badannya.


" Ini lawan kamu Lun, kamu sudah siap kan ? Kalau sudah kita langsung mulai aja ya " Suruh Ronal langsung memberi aba-aba. Aluna menatap sekilas pada lawannya itu kemudian fokus pada jalanan.

__ADS_1


pokoknya aku harus menang, jangan sampai aku harus berhenti jadi pembalap. Aluna menyemangati dirinya sendiri. Begitu tanda 'Go' terdengar, Aluna langsung memacu motornya melesat kencang, meninggalkan lawannya yang tertinggal di belakangnya. Aluna tersenyum tipis karena merasa lawannya kali ini sangat mudah. Dengan percaya diri, Aluna yakin bahwa dia akan menang. Namun, kepercayaan diri Aluna harus memudar saat sampai pertengahan, lawannya bisa mengimbanginya bahkan mereka seperti beriringan.


" Sial !! " Umpat Aluna kesal sambil menambah laju kecepatannya, lawannya pun melakukan hal yang sama. Dan saat sampai depan garis finis, Aluna semakin menambah laju motornya namun dia harus kecewa karena lawannya itu bisa mendahului dirinya.


" B*****T !!!! " Aluna benar-benar kesal. Dia menepikan motornya, bagaimana dia bisa kalah sedangkan dia sudah yakin menang.


" Kamu kalah Lun ? " wajah Ronal terlihat kecewa.


" Mungkin ini hari sialku kak, dan aku harus berhenti balapan mulai sekarang " Kata Aluna dengan nada sedih.


" Bagaimana bisa ? " Tanya Ronal bingung.


" Karena aku sudah janji sama Davin kalau aku kalah saat ini, aku bakal berhenti balapan. Dan kakak lihat sendiri, aku harus menepati janjiku "


" Jangan terlalu percaya diri saat anda sedang bertanding, orang yang anda anggap lemah bisa saja dia menyimpan kekuatan yang besar " Aluna terdiam, tangannya mengepal erat. Dia tahu suara siapa itu.


" Jo !! Bagaimana bisa itu kamu ! " Bentak Aluna marah sambil membalikkan badannya dan menatap tajam Asisten Jo yang sedang tersenyum mengejek padanya.


" Kakak sekongkol dengan Davin ? " Teriak Aluna marah. Dia merasa dikerjain.


" Kakak gak tahu Lun, dia cuma bilang Mr.JS gitu, kakak gak tahu kalau JS itu Johan Saputra " Ronal mengelak tuduhan Aluna.


" Gak usah bohong kak ! " Bentak Aluna marah.


" Ronal memang tidak tahu kalau Jo yang ikut balapan sayang " Ucap Davin yang sudah berdiri di belakang Aluna. Aluna semakin mengepalkan tangannya.


" Pantas saja kamu langsung mengizinkanku balapan begitu saja, ternyata semua sudah kamu rencanakan " Aluna berbalik dan tersenyum sinis.


" Aku tidak menyangka ternyata kamu ke kanak-kanakan ! " Bentak Aluna kesal. Dia bahkan sudah tidak peduli kalau Davin adalah suaminya, rasa hormat untuk Davin seakan lenyap begitu saja.

__ADS_1


" Aku hanya ingin kamu berhenti membahayakan nyawamu sayang " Ucap Davin lembut, Davin tahu Aluna sangat marah padanya sekarang.


" Tahu apa kamu tentang nyawaku, selama ini aku balapan baik-baik saja, bahkan jika aku tidak balapan pun kalau memang sudah waktunya aku mati, aku pasti mati " Davin terdiam mendengar ucapan Aluna, dia tidak menyangka jika Aluna bakal semarah ini.


" Sayang, jangan bicara seperti itu. Aku benar-benar takut kehilangan kamu sayang. Aku lakukan demi kebaikanmu " Davin berusaha menenangkan hati Aluna, namun Aluna justru tertawa lebar.


" Kebaikan yang seperti apa ? Kamu tahu balapan itu separuh nyawaku, tapi kini kamu melarangku dengan cara murahanmu itu, Terimakasih aku sangat tersanjung atas perhatianmu ! " Cibir Aluna dengan nada yang masih emosi. Ronal hanya diam, dia tidak ingin ikut campur urusan mereka. Karena Ronal benar-benar tidak tahu jika semua akan jadi sekacau ini.


Singa betina mulai menunjukkan taringnya. Tuan Davin benar-benar tidak mendengarkanku, kalau Nona Aluna adalah orang yang sangat keras kepala. Asisten Jo.menghela nafas panjang. Mereka berdua sama sekali tidak peduli jika menjadi pusat perhatian.


" Sayang.... maafkan aku " Mohon Davin sambil mendekati Aluna. Namun, Aluna mengibaskan tangannya menyuruh Davin berhenti.


" Jangan mendekatiku, aku kecewa padamu. Aku membencimu saat ini ! " Tubuh Davin terasa kaku mendengar ucapan Aluna.


" Kak,, kita pulang sekarang. Aku mau pulang ke rumah papa Bagas dan suruh papa melarang keluarga Alexander masuk ke Mansion Bagaskara "


" Sayang... aku mohon jangan seperti itu, aku minta maaf aku salah, tapi jangan tinggalin aku lagi sayang " Mendengar ancaman Aluna, Davin memelas. Davin sungguh takut kehilangan Aluna lagi.


" Ayo kak " Aluna naik ke atas motornya dan melajukan kencang. Dia tidak memperdulikan Davin sama sekali. Bahkan teriakan Davin yang begitu keras memanggil namanya tidak Aluna pedulikan. Saat Davin hendak menyusul Aluna. Tangan Ronal menahannya.


" Lebih baik kamu jangan mendekati Aluna dulu. Biarkan dia menenangkan dirinya dulu. Aku akan berusaha bicara baik-baik dengan Aluna " Ronal menepuk bahu Davin pelan.


" Tapi.... "


" Sudahlah, Aluna hanya sedang kecewa saja. Jika memang kamu mau melarang Aluna berhenti balapan. Kamu bisa bicarakan dengan dia baik-baik " Mendengar ucapan Ronal, Davin menghembuskan nafas kasar. Dia tidak menyangka jika Aluna akan semarah ini.


" Aku pergi dulu ya " Pamit Ronal kemudian berlalu pergi meninggalkan Davin dan Asisten Jo.


" Aaaaaaaaaaa " Davin berteriak kencang begitu Ronal sudah tidak terlihat lagi.

__ADS_1


" Apa aku salah kalau aku sangat mengkhawatirkanmu " Ucap Davin lirih. Asisten Jo hanya berdiri di samping Tuan Muda nya itu. Dalam saat seperti ini , dia tidak berani bicara karena takut nyawanya menjadi taruhannya.


__ADS_2