Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
EP 36


__ADS_3

Asisten Jo berjalan menuju ruang makan, sedangkan Mila mengekor di belakang suaminya. Asisten Jo memalingkan wajahnya saat dia melihat Davin dan Aluna sudah duduk menunggu mereka. Asisten Jo masih sangat malu dengan adegan mesum yang kepergok tadi.


"Maaf Tuan, saya membuat anda menunggu," kata Asisten Jo sopan.


"Tidak apa Jo. Aku tahu kok bagaimana menahan hasrat terpendam, apalagi baru saja mau sampai ke awang-awang tetapi langsung di jatuhkan begitu saja," sindir Davin, Asisten Jo langsung memasang wajah kesal.


"Duduklah Jo, Mil. Baby Cacha mana?" tanya Aluna karena dia tidak melihat Mila menggendong baby Cacha.


"Barusan enen terus tidur lagi," jawab Mila. Baik Aluna maupun Mila segera mengambilkan nasi untuk para suami tercintanya itu.


"Tuan Doni belum pulang, Tuan?" tanya Asisten Jo, dia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Tuan Doni.


"Belum, itu aki-aki sama nenek-nenek sedang hobi traveling,"


"Mulutmu, Mas!" kesal Aluna, tangannya memukul pelan lengan Davin.


"Bercanda sayang," Davin mengecup wajah Aluna tanpa malu membuat Aluna merona merah.


"Mas, aku pengen gitu," bisik Mila tetapi masih bisa di dengar mereka semua.


"Diamlah, Mil. Kamu tidak lihat ada anak-anak di sini?" tanya Asisten Jo penuh penekanan. Mila pun diam, dan mereka makan di selingi beberapa obrolan.


Mila dan Asisten Jo masuk ke kamar setelah mereka mengobrol sehabis makan malam. Mila langsung merebahkan tubuhnya di samping baby Cacha, Asisten Jo pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Mila. Tangan Asisten Jo melingkar di perut Mila, dia memeluk Mila dari belakang.


"Mas," panggil Mila lirih, dia berbalik dan menatap lekat wajah suaminya.


"Tidurlah, sudah malam," suruh Asisten Jo, tetapi Mila justru memeluk erat tubuh suaminya.


"Kamu benar-benar sudah memaafkanku kan, Mas?" tanya Mila seraya membenamkan wajahnya di dada suaminya.


"Sudah, jangan pernah kamu ulangi lagi. Kalau memang ada apa-apa atau sekecil apapun masalah yang datang, kamu harus jujur dan terbuka padaku. Jangan lupa, aku ini suamimu," kata Asisten Jo tegas.

__ADS_1


"Mana mungkin aku lupa Mas, kalau aku punya pria setampan, gagah, macho, perkasa seperti kamu. Aku mana mungkin lupa kalau kamu suamiku, sedangkan kamu tiap malam selalu membuatku kelojotan, kamu hajar aku bolak balik, Mas," seloroh Mila, Asisten Jo memutar bola matanya malas.


"Astaga, mulutmu ini! Bisakah memiliki sedikit rem?" tanya Asisten Jo, dia melepas pelukannya lalu mencubit pipi Mila dengan gemas. Sedangkan Mila langsung mencebikkan bibirnya.


"Jangan cubit pake tangan, Mas," kata Mila manja.


"Terus pake apa? Tang? atau pakai gunting," canda Asisten Jo dengan senyum simpul di wajahnya.


"Jangan senyum! Nanti kalau aku jatuh cinta gimana? Aku ini wanita yang telah bersuami lho," Asisten Jo langsung menyentil kening Mila hingga Mila mengaduh sakit.


"Sakit, Mas. Jangan sentil keningku, tapi sentil saja milikku yang bikin ketagihan," ucap Mila, dia mengusap bekas sentilan tangan Asisten Jo di keningnya. "Mas, aku kangen," Mila mencium lembut bibir Asisten Jo sedangkan Asisten Jo membalas ciuman Mila itu, dia benar-benar sangat rindu dengan istrinya, padahal mereka hanya berpisah selama dua hari. Ciuman mereka terasa begitu lembut namun semakin lama, terasa semakin menuntut. Bahkan, tangan Asisten Jo sudah bergerilya menjejalah ke seluruh tubuh Mila, hingga menciptakan rasa yang begitu membuncah. Dengan segenap keahliannya, kini tubuh mereka telah polos, Asisten Jo langsung membawa Mila masuk ke dalam kungkungannya. Dia memasang kuda-kuda untuk menerabas masuk ke dalam lubang surga dunia itu. Beberapa saat kemudian, kamar itu pun di penuhi desahan dan erangan mereka, beruntung baby Cacha begitu pengertian. Meskipun ranjang itu bergoyang seperti terjadi gempa bumi, nyatanya bayi mungil itu tetap tertidur lelap seolah tidak terganggu.


Tok tok tok


Pintu itu di ketuk, saat kegiatan mereka baru saja sampai di tengah perjalanan, bahkan tubuh mereka sedang panas-panasnya. Mereka berdua diam dan tak peduli, karena mereka yakin pasti Aluna yang akan mengganggu kegiatan mereka. Pintu itu kembali di ketuk dengan lebih kencang, tapi Asisten Jo tetap memompa tubuh Mila.


"Ayah, Bunda," Mereka berdua berhenti saat mendengar suara Nathan yang memanggil mereka. "Ayah, Bunda. Nathan gak bisa bobok," teriak Nathan dengan suara parau. Mila yakin pasti anak lelakinya itu sekarang akan menangis.


"Mil, nanggung Mil. Bahkan aku belum sampai pada puncak, sebentar lagi," kata Asisten Jo berat. Dia benar-benar tidak bisa berhenti di tengah jalan seperti ini, kepalanya akan berdenyut sakit jika dia tidak mencapai puncak.


"Kamu mau Nathan nangis dan mengganggu istirahat orang lain?" tanya Mila, dengan berat hati akhirnya Asisten Jo melepaskan pedang miliknya.


"Mil," panggil Asisten Jo dengan wajah memelas. Suaranya terdengar begitu kecewa, saat melihat Mila sedang memakai piyamanya. Tangisan Nathan mulai terdengar, hingga mau tidak mau Asisten Jo memunguti pakaiannya dan berjalan menuju ke kamar mandi.


"Mas, jangan sama Tante Citra, nanti sama aku aja nunggu Nathan tidur," cegah Mila saat Asisten Jo sudah sampai di ambang pintu kamar mandi.


"Kelamaan!" ketus Asisten Jo.


"Bunda, Ayah," Mila tersadar kalau Nathan masih di luar, bahkan suara Nathan mulai terdengar mengeras. Mila segera berjalan cepat membuka pintu untuk anak lelakinya itu.


"Bunda," panggil Nathan dengan menangis saat Mila sudah membuka pintu itu. Mila langsung setengah berdiri, dia mensejajarkan tubuhnya dengan Nathan.

__ADS_1


"Kenapa nangis?" tanya Mila lembut seraya mengusap airmata di wajah Nathan, tangisan Nathan pun mulai mereda.


"Aku gak bisa bobok, Bunda. Hiks hiks," Mila langsung memeluk tubuh Nathan dan menggendongnya masuk ke dalam kamar.


"Kak Rayhan mana?" tanya Mila.


"Lagi teleponan sama Ayah Kevin. Nathan gak bisa bobok, bunda," kata Nathan manja. Mila tersenyum mendengar jawaban Nathan, beberapa saat kemudian, Rayhan masuk kamar dan ingin tidur bersama mereka.


"Bunda, Ayah mana?" tanya Rayhan karena tidak melihat keberadaan Asisten Jo.


"Ayah lagi sakit perut di kamar mandi, Rayhan jaga Nathan dulu ya. Bunda mau lihat Ayah dulu," suruh Mila. Rayhan mengangguk, dia dan Rayhan akhirnya tidur dengan saling memeluk. Mila bergegas berjalan masuk ke kamar mandi untuk melihat suaminya. Beruntung kamar mandi itu tidak dikunci, Mila langsung masuk begitu saja dan melihat suaminya yang baru selesai mandi.


"Kamu sudah selesai, Mas?" tanya Mila kecewa.


"Sudah, memang kenapa?" Asisten Jo bertanya balik.


"Aku kan belum, Mas. Kamu jahat sekali gak mau nunggu aku sih," protes Mila. Asisten Jo tidak menanggapi, dia hanya memakai pakaiannya di kamar mandi karena di luar ada anak-anaknya.


"Enak kan kalau rasanya lagi 'nanggung'? Selamat menikmati," ledek Asisten Jo menahan tawa. Mila langsung bersedekap dan memasang wajah kesal.


"Oke kalau begitu, Mas. Kamu main sama Tante Citra aku mau bersolo karir juga. Kalau enggak, aku mau sama pria tampan saja,"


"Mila!" bentak Asisten Jo kesal. Dia menatap tajam Mila tapi Mila seolah tak takut.


"Makanya, main yuk," Mila mengusap dada Asisten Jo.


"Jangan lupa ada anak-anak di luar,"


"Mereka udah pada tidur kok, Mas," Mila berusaha merayu suaminya itu, tubuh Asisten Jo mulai memanas lagi, Mila mencium bibir Asisten Jo dengan lembut hingga tubuh mereka berdua terasa memanas.


"Bundaaa, Adik Cacha minta enen," Suara Rayhan berhasil membuat Mila menghentakkan kakinya kesal. Sedangkan, Asisten Jo berusaha menahan tawanya, untung saja tadi dia sudah berhasil menuntaskan hasratnya.

__ADS_1


__ADS_2