
Sepulang dari kantor Davin langsung masuk ke kamarnya. Setelah selesai membersihkan diri dia lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur. Berulang kali dia mengetuk-ngetuk ponselnya pelan di keningnya. Entah mengapa, dia merasa sangat galau. Namun dengan penuh keberanian, akhirnya dia memencet nomer ponsel Aluna dan meneleponnya.
Tuuuutttt Tuuuuttttt
panggilan tersambung namun belum terhubung. Davin pun menunggu dengan gelisah. Jantungnya berdebar-debar seperti anak SMA sedang menunggu pengumuman kelulusan. Rasanya dia begitu grogi, hingga beberapa saat menunggu akhirnya panggilan terhubung
"Hallo," sapa suara dari sebrang telepon. Lidah Davin rasanya kelu. Dia hanya diam tidak menjawab.
"Halo, siapa sih pagi-pagi gini ganggu orang tidur aja. Dasar gak jelas!" umpat Aluna lalu mematikan panggilan itu.
"Astaga, kenapa malah dimatikan? Kenapa juga aku mendadak bisu." Davin pun menelfon Aluna lagi namun tidak di angkat. Dia mencoba lagi tapi malah di tolak terus menerus. Akhirnya dia pun mengirim sebuah pesan singkat.
ini aku Davino Alexander
Pesan terkirim namun belum terbaca. Dia pun menunggu lagi. Beberapa saat kemudian pesan telah terbaca namun tidak ada satupun balasan yang masuk. Davin mendesah frustasi.
kenapa jatuh cinta semerepotkan ini sih?! gerutu Davin dalam hati.
Dia pun mencoba menghubungi lagi namun justru suara menyebalkan dari operator yang dia dengar ' maaf nomer yang anda tuju sedang tidak aktif '. Davin pun menggeram kesal. Kenapa dia merasa seperti menjadi ABG yang gegana alias gelisah galau merana.
__ADS_1
----------@@@@@@-------
Aluna menggeliat, melemaskan otot tubuhnya yang terasa kaku setelah berada 20 jam lebih di pesawat. Dia pun mengaktifkan ponselnya dan melihat ada beberapa panggilan dan satu pesan. Dia membuka pesan itu dan terkejut saat melihat isi pesan itu.
Ini aku Davino Alexander
"Ternyata dia yang ganggu tidur aku tadi pagi. Tapi dia dapat nomer ponselku dari siapa ya?" tanya Aluna pada diri sendiri. Dia pun mengabaikannya kemudian beranjak bangun untuk membersihkan diri.
"Dua minggu di sini aku harus menikmati waktu liburku dengan baik-baik," kata Aluna penuh semangat.
Sedangkan di belahan bumi yang lain ada seorang insan manusia yang tidak dapat tertidur. Setiap dia memejamkan matanya entah mengapa bayangan Aluna selalu hadir disana. Berulang kali dia menatap layar ponselnya namun tak ada satu pun notifikasi dari Aluna yang datang. Dia mendesah kecewa.
"Kenapa aku terlalu berharap padanya? Dia saja tak peduli sedikit pun padaku," kata Davin lirih. Akhirnya dia pun memaksa memejamkan matanya.
"Kamu begadang Vin? Kok muka kamu kusut gitu," tanya Nyonya Anita saat Davin sudah duduk di ruang makan.
"Susah tidur mom,"
"Kenapa?" tanya Nyonya Anita lagi.
__ADS_1
"Entahlah mom, mungkin aku kurang traveling ke luar negeri," jawab Davin sambil mengangkat kedua bahunya.
"Tiap bulan kamu ke luar negeri masih bilang kurang traveling vin?" tanya Tuan Doni yang sedari tadi diam.
"Yee, itu perjalanan bisnis yah bukan jalan-jalan,"
"Sama aja Vin. Setelah urusan bisnis selesai kamu kan bisa langsung jalan-jalan,"
"Aish! Ayah mah gak tau tentang anak muda," cibir Davin. Mereka hanya menatap Davin penuh arti.
"Aku tuh pengen jalan-jalan ke Amerika, siapa tau aku nemu bidadari di sana,"
"Ngapain jauh-jauh kesana. Disini aja banyak bidadari cantik. Mommy malah senang kalau kamu dapat jodoh produk lokal,"
"Masalahnya bidadari ku di sana, mom," kata Davin sambil menguyah makanannya.
"Siapa?" tanya mereka bertiga kompak.
"Aluna" jawab Davin tanpa sadar. Semua yang mendengar pun tersenyum lebar.
__ADS_1
"Ciee," goda Nyonya Anita. Davin yang tersadar karena ucapannya pun langsung tersedak.
Keceplosan lagi. Umpat Davin dalam hati. Mukanya merona merah. Dia rasanya sangat malu.