Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
EP 30


__ADS_3

Asisten Jo duduk gelisah di kursi kerjanya, entah mengapa dia benar-benar tidak bisa duduk dengan tenang.


"Tuan, bolehkah saya pulang sebentar, perasaan saya merasa sangat khawatir," kata Asisten Jo lirih. Davin langsung menatap lekat ke arah Asisten Jo.


"Pulanglah, Jo. Aku dari tadi melihat kamu tidak tenang, kamu pastikan istrimu baik-baik saja," Mendengar ucapan Davin, Asisten Jo langsung berdiri dari duduknya.


"Terima kasih atas kemurahan hati anda, Tuan," Asisten Jo langsung berjalan ke luar ruangan Davin. Dia harus memastikan sendiri kalau Mila baik-baik saja. Setelah masuk ke mobil, Asisten Jo memacu mobilnya cukup kencang kembali ke rumahnya. Begitu sampai di pelataran rumah, Asisten Jo langsung memarkirkan mobilnya sembarangan, dia bergegas masuk ke dalam rumah.


"MILA," panggilnya keras, namun tidak ada satu pun sahutan. Asisten Jo segera berjalan ke kamarnya dan saat memasuki kamar itu, ternyata kosong. Dia pun keluar lagi, sambil beberapa kali memanggil nama istrinya.


"Anda sudah pulang Tuan?" tanya Santi yang berjalan tergopoh-gopoh sambil menggendong baby Cacha. Asisten Jo mengerutkan keningnya, tumben sekali baby Cacha di gendong Santi.


"Nyonya ke mana, San?" tanya Asisten Jo, dia mengambil alih baby Cacha dari gendongan Santi.


"Nyonya keluar Tuan, tapi saya tidak tahu ke mana, karena Nyonya Mila hanya menitipkan Nona kecil Cacha dan dia pergi dengan buru-buru," jelas Santi. Asisten Jo yang hendak sedang menciumi wajah baby Cacha langsung terdiam sesaat.


"Dia pergi dengan siapa?" tanya Asisten Jo menyelidik.


"Sendiri, Tuan. Nyonya Mila mengendarai motor," jawab Santi gugup dan takut karena dia melihat raut kemarahan di wajah Asisten Jo.


"Aku titip Cacha, San," Asisten Jo menyerahkan kembali baby Cacha, setelah baby Cacha berada di gendongan Santi, dia langsung mengambil ponselnya untuk mengecek GPS ponsel Mila.


"Restoran XX," gumam Asisten Jo. Namun, saat dia menghubungi ponsel Mila, panggilan itu tidak tersambung sama sekali membuat Asisten Jo menjadi curiga dan juga kesal. Dia kembali ke luar rumah untuk menuju ke Restoran XX.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀


"Mil, kamu semakin cantik sekarang," puji Dimas membuat wajah Mila langsung merona merah, namun dia langsung memalingkan wajahnya.


"Ada perlu apa kamu memintaku menemuimu, Dim?" tanya Mila datar, bayangan rasa sakitnya akan perlakuan Dimas kini berputar kembali di otaknya.

__ADS_1


"Aku cuma mau minta maaf padamu, Mil. Maaf aku sudah sangat menyakitimu," lirih Dimas, Mila langsung menatap wajah Dimas. Dia melihat raut wajah penyesalan di wajah Dimas. Namun, Mila tidak ingin tertipu.


"Kalau hanya untuk sekedar minta maaf, kenapa kamu mengancamku menggunakan anakku? Kenapa kamu melarang aku mengatakan pada suamiku?" Mila memberondong Dimas dengan berbagai pertanyaan.


"Kalau aku tidak mengancammu, apa kamu akan menemuiku? Kalau kamu mengatakan semuanya pada suami mu, apa dia akan mengizinkan kita bertemu?" Dimas bertanya balik. Mila menghela nafas panjang, dia membenarkan ucapan Dimas, tapi saat dia ingat ucapan Aluna dia langsung menepuk keningnya pelan.


"Sebentar Dim," Mila mengambil ponselnya, dia akan menghubungi suaminya, namun saat dia akan menyalakan ponsel itu ternyata ponsel itu telah kehabisan daya.


"Cepat katakan apa maumu, Dim. Aku tidak punya banyak waktu," tegas Mila, dia benar-benar tidak tenang meninggalkan baby Cacha di rumah.


"Mil, aku benar-benar menyesal sudah menyakitimu. Aku benar-benar khilaf Mil. Saat aku di penjara, setiap hari aku selalu di hantui rasa bersalah padamu, Mil," Dimas menggenggam tangan Mila namun Mila langsung menarik tangannya.


"Kamu tidak tahu bagaimana perjuangan ku sembuh dari trauma ku karena perbuatanmu kan? Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana menderitanya aku karena kamu merampas paksa mahkotaku!" Suara Mila mulai meninggi, namun mata Mila terlihat berkaca-kaca.


"Aku minta maaf, Mil. Aku benar-benar menyesal, aku di kuasai emosi waktu itu," Dimas berusaha menggenggam tangan Mila lagi, namun Mila langsung menyembunyikan tangannya di bawah meja.


"Aku bahagia melihat mu bahagia, Mil. Aku benar-benar minta maaf. Bolehkah aku bertemu Ibu dan Rayhan? Aku ingin minta maaf pada mereka," pinta Dimas memelas. Wajah Mila langsung terlihat sedih.


"Ibu sudah bahagia di surga, Dim," sahut Mila lirih. Dimas langsung membuka matanya lebar, dia begitu terkejut mendengar ucapan Mila.


"Kapan, Mil? Kenapa aku tidak tahu informasi sepenting itu. Ya Tuhan," Dimas mengusap wajahnya kasar. Baginya, Ibu Eni sudah seperti ibunya sendiri.


"Saat aku hamil Nathan," jawab Mila lirih, suara nya terdengar begitu parau. Dimas langsung memegang kedua bahu Mila.


"Yang sabar ya, Mil. Aku yakin ibu pasti sudah bahagia di Surga," Dimas berusaha menenangkan Mila yang sedikit terisak.


Sedangkan tidak jauh dari mereka, berdiri seorang lelaki yang sedang mengepalkan tangannya erat. Bahkan rahangnya telah mengeras dengan wajah yang telah memerah padam menahan amarah.


"Sudahlah, Mil. Bukankah sekarang kamu sudah bahagia? Kamu harus fokus pada kebahagiaanmu saat ini, Mil," ucap Dimas. Dia mengusap pelan kedua bahu Mila, memberi kekuatan untuk Mila agar tenang.

__ADS_1


"BRENG**K!!" Tubuh Dimas jatuh terpelanting ke lantai, bahkan sudut bibirnya mengeluarkan darah. Seketika, Restoran yang ramai pengunjung langsung ricuh begitu saja.


"Mas," panggil Mila tak percaya kalau suaminya berdiri di depannya.


"Kamu benar-benar keterlaluan! Kamu tinggalkan anak kita demi menemui lelaki bajingan seperti dia?!" bentak Asisten Jo, dia menatap tajam ke arah Mila.


"Kamu salah paham, Mas," Mila menundukkan kepalanya, dia benar-benar takut melihat kemarahan di wajah suaminya itu.


"Salah paham bagaimana? Aku melihat dengan mata kepala ku sendiri, Mil! Aku belum rabun!" Kemarahan Asisten Jo benar-benar telah pada puncaknya.


"Tuan, anda benar-benar salah paham. Istri anda tidak salah," Dimas berusaha membela Mila. Asisten Jo bertepuk tangan dengan bibir yang menyeringai tipis.


"Bagus sekali. Kalian benar-benar pasangan yang serasi. Aku kecewa padamu, Mil," Asisten Jo berkata penuh dengan penekanan. Jantung Mila langsung berdetak cepat, baru kali ini suaminya mengatakan kecewa padanya.


"Mas," Mila mendekati Asisten Jo namun Asisten Jo mengayunkan telapak tangannya menyuruh Mila berhenti. Mereka bertiga kini sudah menjadi pusat perhatian pengunjung Restoran itu.


"Seorang wanita yang telah bersuami, maka dia harus patuh kepada suaminya. Untuk pergi ke luar rumah saja dia harus meminta izin pada suaminya, apalagi untuk bertemu masa lalu yang pernah menyakitinya," Mila menatap suaminya, dia benar-benar melihat tatapan kecewa dan marah dari sorot mata Asisten Jo.


"Pantaskah seorang ibu meninggalkan anaknya sendirian hanya untuk menemui kekasih masa lalunya? Lebih pentingkah lelaki ini daripada anak kita di rumah?! JAWAB MIL!!" teriak Asisten Jo. Mata Mila seketika mengeluarkan airmata, ini adalah bentakan terkeras yang Mila dengar dari mulut suaminya setelah bertahun-tahun hidup bersama.


"Mas, aku minta maaf," Mila terisak keras. Asisten Jo memalingkan wajahnya, dia tidak tega melihat Mila yang menangis tapi rasa kecewanya pada Mila benar-benar telah menguasainya.


"Aku akan memberimu waktu untuk merenungi segala kesalahanmu," tegas Asisten Jo, dia berjalan cepat keluar dari Restoran. Dia segera masuk ke dalam mobil, panggilan dari Mila benar-benar dia hiraukan.


"Mas," panggil Mila keras saat mobil Asisten Jo telah menjauhi Restoran dengan cepat. Tubuh Mila langsung luruh ke lantai parkiran Restoran saat melihat kepergian mobil suaminya, sedangkan Asisten Jo hanya menatap Mila yang terduduk di lantai lewat kaca spion dengan perasaan yang susah di jelaskan.


Yang mau gabung di Group Chat milik Author bisa yaa


Yuk gabung 😊

__ADS_1


__ADS_2