Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
EP 04


__ADS_3

"Kamu sudah mau berangkat mas?" tanya Mila saat Asisten Jo sudah rapi dengan pakaian kerjanya.


"Ya, cuti ku sudah habis. Aku kerja dulu ya, kamu dirumah sama ibu jaga Rayhan," pamit Asisten Jo, Mila mencium punggung tangan Asisten Jo sedangkan Asisten Jo langsung mencium kening Mila.


"Hari ini aku sama ibu dan Rayhan mau nyari sekolah buat Rayhan, mas. Sudah waktunya dia sekolah," ucap Mila, dia semalam lupa mau membahas tentang sekolah Rayhan karena mereka terlalu asik dengan acara pijat-memijat.


"Mau sekolah dimana?" tanya Asisten Jo, dia tersenyum melihat Rayhan yang sudah rapi berjalan di gandeng Ibu Eni.


"Ayaaahhhh," teriak Rayhan seraya berlari ke pelukan Asisten Jo. Asisten Jo langsung membopong tubuh Rayhan, menciumi kedua pipinya.


"Rayhan mau sekolah,ayah," kata Rayhan antusias. Asisten Jo tersenyum menanggapi ucapan Rayhan.


"Mungkin aku mau daftarkan dia sekolah dekat sini saja mas," Mila tersenyum melihat Asisten Jo yang begitu menyayangi Rayhan.


"Aku sudah siapkan mobil untukmu dan juga supirnya jadi kalau kemana-mana kamu bisa minta di antar saja," Asisten Jo menurunkan Rayhan dari gendongannya.


"Aku pake motor aja ya mas, lebih enak pake motor bisa cepet," Asisten Jo langsung menatap tajam mata Mila membuat Mila tubuh Mila langsung meringsut.


"Gak! Aku tidak izinin pake motor. Pokoknya kalau kamu mau kemana-mana harus pakai mobil," titah Asisten Jo tanpa bisa di ganggu gugat. Akhirnya, Mila hanya bisa menurut.


Selepas kepergian Asisten Jo, mereka bertiga akhirnya pergi menggunakan mobil dan supir, mencari sekolah untuk Rayhan. Hampir lima belas menit, mereka telah sampai di Taman Kanak-kanak yang merupakan salah satu TK yang berkualitas. Mila pun masuk dan mendaftarkan Rayhan di sekolah itu.


"Kita mau kemana bu?" tanya Mila pada ibunya saat mereka sudah selesai.


"Bagaimana kalau ke pasar saja, persediaan makanan sudah pada habis," jawab Ibu Eni. Mila pun mengiyakan. Kini mereka menuju ke pasar tradisional untuk berbelanja.

__ADS_1


"Bunda, Rayhan mau beli mainan boleh?" tanya Rayhan menatap penuh harap pada Mila.


"Boleh sayang, mau beli mainan apa?" Mila balik bertanya.


"Pesawat terbang," jawab Rayhan antusias, Mila pun menunjukkan tanda OK membuat Rayhan berteriak kegirangan. Mobil berhenti di tempat parkir pasar tradisional itu, mereka bertiga pun turun. Ibu Eni pergi mencari sayur dan lainnya sedangkan Mila dan Rayhan mencari mainan di toko mainan yang bersebelahan dengan pasar itu. Saat Ibu Eni sedang memilih beberapa sayuran, matanya tak sengaja melihat dua orang bertubuh kekar bertanya kepada semua pengunjung di pasar itu.


"Dia siapa bu?" tanya Ibu Eni penasaran.


"Mereka itu sudah hampir satu bulan ini mencari anak kecil yang hilang. Katanya sih anak majikannya gitu," jawab penjual sayur itu. Ibu Eni mengangguk paham, dia pun kembali memilih-milih sayuran.


"Permisi Nyonya," Ibu Eni mengalihkan pandangannya, menatap dua orang bertubuh kekar yang tadi membuat dia penasaran.


"Apa anda pernah melihat anak laki-laki berusia sekitar lima tahun, dia hilang sekitar tiga tahun yang lalu," tanya salah satu di antara mereka. Ibu Eni terdiam, entah mengapa dia merasa jantungnya berdebar-debar.


"Ti-tidak Tuan," jawab Ibu Eni gugup. Salah satu di antara mereka mengeluarkan selembar foto dan menunjukkannya pada Ibu Eni.


"Ma-maaf Tuan, apa ini anak kembar? kalau boleh tahu kenapa anak ini bisa hilang?" tanya Ibu Eni penasaran.


"Ya, mereka kembar tapi hanya salah satu yang hilang. Maaf untuk masalah kenapa bisa hilang, kita tidak bisa memberi tahu, kalau nyonya melihatnya bisa hubungi nomer ini," Mereka memberi sebuah kartu nama. Ibu Eni menerima kartu itu dengan tangan gemetar.


"Kalau begitu saya permisi," kedua orang itu pun pergi meninggalkan Ibu Eni. Ibu Eni menatap kartu nama itu, KEVIN ADIJAYA, dia membaca nama yang tertera di kartu itu. Dia pun menyimpan kartu itu di dalam tasnya.


"Kalau memang Rayhan adalah anak yang mereka cari pantas saja dia sering mengigau memanggil kakak," gumam Ibu Eni sambil berjalan kembali ke mobil. Sesampainya di parkiran mobil ternyata Mila dan Rayhan juga baru saja sampai di parkiran itu.


"Ayo Mil, kita masuk," ajak Ibu Eni terburu-buru sambil menarik tangan Mila masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Ada apa bu?" tanya Mila heran, karena ibunya seperti orang yang ketakutan. Begitu mereka sudah masuk ke mobil, Ibu Eni langsung menyuruh supir itu melajukan mobilnya.


"Ibu mau bicara sama kamu, tapi nanti saja kalau sudah sampai rumah," ucap Ibu Eni membuat Mila semakin penasaran, jarang sekali ibunya terlihat seserius itu.


"Nenek, Rayhan punya pesawat baru," pamer Rayhan seraya menunjukkan pesawat mainan kepada Ibu Eni.


"Bagus sekali," puji Ibu Eni membuat Rayhan tertawa bahagia. Ibu Eni menatap lekat Rayhan yang terlihat begitu bahagia, dia pun ikut tersenyum simpul. Namun, tiba-tiba sekelebat bayangan foto itu terlintas di benaknya hingga membuat senyum Ibu Eni menghilang begitu saja berubah menjadi perasaan was-was dan khawatir. Perubahan raut wajah Ibu Eni itu pun tidak lepas dari pandangan mata Mila hingga membuat Mila yakin pasti ada sesuatu terjadi kepada ibunya itu.


Mobil itu masuk ke pelataran rumah, mereka bertiga turun dari mobil kemudian bergegas masuk. Mila membopong tubuh kecil Rayhan yang tertidur karena kelelahan. Setelah menidurkan Rayhan di atas kasur, Ibu Eni langsung menarik tangan Mila untuk keluar dari kamar.


"Ada apa sih bu?" tanya Mila, dia benar-benar bingung dengan tingkah ibunya itu.


"Mil," panggil Ibu Eni lirih saat mereka sudah duduk di sofa ruang tamu. Mila menatap ke arah ibunya yang berkali-kali menghela nafas panjang.


"Kita harus bersiap melepaskan Rayhan," ucap Ibu Eni lirih membuat Mila langsung menatap tajam ke arah Ibunya itu.


"Maksud ibu apa?!" teriak Mila tanpa sadar.


"Barusan ibu bertemu dua orang bertubuh kekar, katanya mereka sedang mencari anak majikannya yang hilang sekitar tiga tahun lalu,"


"Anak hilang bukan hanya Rayhan bu!" Mila menyela ucapan ibunya itu, dia mencoba tenang walau sebenarnya hatinya pun mulai cemas.


"Ya, awalnya juga ibu tidak terlalu memperhatikan. Namun, saat orang itu menunjukkan foto anak kecil yang hilang itu membuat Ibu menjadi sangat yakin kalau anak itu adalah Rayhan. Karena wajahnya mereka sama persis dan juga..." Ibu Eni menjeda ucapannya membuat Mila menjadi tak sabar menunggu kelanjutan ucapan ibunya itu.


"Anak itu kembar, kata mereka yang hilang bernama Rayhan," tubuh Mila menegang mendengar ucapan Ibunya itu. Tanpa sadar matanya berkaca-kaca, membayangkan jika memang benar anak itu adalah Rayhan yang sekarang menjadi anaknya. Maka, siap tidak siap dia harus merelakan Rayhan kembali kepada orang tuanya.

__ADS_1


"Bu, biar mas Johan mencari tahu semuanya, seandainya memang benar Rayhan anak mereka maka kita harus mencari tahu apa yang membuat mereka membuang Rayhan," ucap Mila dengan suara bergetar karena menahan airmata. Ibu Eni mengusap punggung Mila, mencoba menenangkan hati Mila.


"Kita harus mengembalikan Rayhan pada orang tuanya. Mereka berhak atas Rayhan," mendengar ucapan ibunya, Mila langsung menangis terisak.


__ADS_2