Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
26


__ADS_3

Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Tuan Davin baru saja pulang kerumah. Dia berjalan perlahan karena hari ini dia merasa sangat lelah.


"Anda baru saja pulang Tuan?"


"Astaga. Kenapa elo bikin orang jantungan sih! Barusan elo lewat mana kok tiba-tiba sudah dibelakang gue si?" tanya Tuan Davin panjang lebar.


"Anda lelaki tapi kenapa anda cerewet sekali seperti seorang perempuan Tuan," cibir Aluna sambil berjalan melewati Tuan Davin begitu saja.


"Hey! elo gak punya sopan santun ya? Jangan lupa disini gue tuan rumah!" teriak Davin saat Aluna hampir masuk ke kamarnya karena kamar Aluna berada di lantai satu.


"Saya tahu Tuan. Maka dari itu saya tidak akan mendebat anda karena disini saya cuma menumpang," Aluna berhenti di depan pintu kamarnya. Tuan Davin pun berjalan mendekati Aluna.


"Bagus kalau elo sadar diri dan satu hal telinga gue sakit kalau loe ngomong loe-gue jadi biasa kan bicaralah aku-kamu "

__ADS_1


"Bukankah sedari tadi yang bicara dengan kata elo-gue itu anda Tuan bukan saya," Tuan Davin terdiam karena dia baru menyadarinya. Dia mengepalkan tangannya.


Kenapa gue selalu kalah omongan kalau sama gadis ini. Batin Tuan Davin.


Tuan Davin berjalan semakin mendekat ke tempat Aluna berdiri. Bahkan kini jarak mereka tidak lebih dari sepuluh centi. Aluna mencoba mundur tapi dia sudah tertahan pintu ketikan dia aka membuka pintu ternyata gagang pintu itu sudah dipegang erat Tuan Davin.


"Apa yang anda lakukan Tuan?" tanya Aluna gugup karena sekarang jarak mereka semakin dekat. Mata mereka saling menatap dalam.


oh My God, kenapa bibirnya sangat menggoda sekali. Bibir sexy yang selalu mendebatku saat bicara. Tuan Davin pun semakin memajukan wajahnya.


"Anda jangan macam-macam Tuan." Ada nada gemetar dalam tubuh Aluna. Saat Aluna sedang berusaha melepaskan diri dengan secepat kilat Tuan Davin memegang wajah Aluna kemudian membungkam bibir Aluna dengan bibirnya. Aluna sangat terkejut dengan gerakan tiba-tiba dari Tuan Davin. Dia hanya berdiri mematung karena belum sadar jika mereka saat ini sedang berciuman. Tuan Davin pun seperti enggan melepaskan kecupannya itu. Hingga saat Aluna tersadar, dia lalu mendorong Tubuh Tuan Davin dengan kencang dan menamparnya. Tuan Davin hanya terdiam.


"Anda jangan kurang ajar Tuan!" teriak Aluna marah kemudian dia masuk kedalam kamarnya.

__ADS_1


BRAAKK !


Aluna menutup pintu itu dengan keras hingga Tuan Davin terjengkit kaget. Dia lalu mengusap wajahnya dengan kasar.


"Astaga, apa yang aku lakukan? Kenapa aku begitu bodoh? tapi salah siapa bibirnya begitu menggoda," gerutu Tuan Davin sambil berjalan naik menuju kamarnya. Sesampai di kamar dia langsung merebahkan tubuhnya tanpa membersihkannya terlebih dahulu. Dia masih terbayang-bayang adegan ciuman yang tadi.


Rasanya begitu manis. Tuan Davin tersenyum-senyum sendiri. Dia mengusap pelan bibirnya dengan mata terpejam sambil teringat kejadian tadi. Bahkan tamparan dari Aluna pun dia tidak merasakannya.


"Oh shit! Sepertinya aku butuh penyegaran," kata Tuan Davin sambil berlalu ke kamar mandi.


Sementara itu di kamar Aluna sedang mengusap bibirnya dengan tisu bahkan sudah banyak tisu kotor yang berserakan. Entah mengapa dia merasa bibirnya sangat kotor.


"Dasar B**ingan! Teganya dia mengambil ciuman pertama gue! Dasar Sialan!" Aluna terus mengumpati Tuan Davin sambil terus mengelap bibirnya bahkan kini dia merasakan bibirnya sakit karena terlalu keras mengelapnya.

__ADS_1


__ADS_2