
"Tuan, keadaan Tuan besar benar-benar drop," kata Asisten Jo lirih. Davin yang sedang mengecek berkas-berkas langsung mendongak menatap Asisten Jo. Dia lalu menutup berkas itu dan beranjak bangun.
"Kita ke rumah sakit sekarang," Davin melangkahkan kakinya meninggalkan ruangannya. Asisten Jo mengekor dibelakangnya.
"Tapi bagaimana dengan rapatnya, Tuan?" tanya Asisten Jo sambil menyeimbangi langkah Tuan Davin.
"Batalkan semuanya Jo. Keadaan kakek lebih penting," Davin tidak sedikitpun menghentikan langkahnya. Mereka mengendarai mobil dengan cepat. Begitu sampai di rumah sakit, Davin langsung menuju ruangan ICU di mana kakeknya dirawat.
"Yah," panggil Davin lirih. Dia menatap kedua orang tuanya yang sedang menangis. Hatinya tiba-tiba merasa tidak karuan. Pandangan mata Davin beralih ke arah kakeknya yang sudah tertutup kain putih.
"Kakek kamu, Vin. Dia sudah meninggalkan kita selamanya,"
Jeduaarrrr
Hati Davin bagai disambar petir. Tubuhnya langsung terduduk lemas bahkan tulang-tulang ditubuhnya benar-benar terasa tak berdaya. Namun, dengan sekuat tenaga dia bangun kemudian mendekati jenazah kakeknya. Dia menggoyang-goyangkan tubuh Kakek Farhan yang telah kaku.
"Kek bangun, Kek. Kakek janji bakal bantuin Davin nyari Aluna. Bangun kek, bangun! Aluna belum ketemu kakek jangan pergi dulu, bangun Kek!" Davin menggoyangkan tubuh kakeknya cukup kencang, begitu melihat tak ada respo lagi, Davin langsung terisak. Hatinya begitu sakit karena kehilangan Aluna, kini rasa sakit itu bagai disiram air garam karena kakek Farhan meninggalkannya selama-lamanya.
"Bangun Kek, Kakek gak boleh ninggalin cucu kesayangan Kakek ini," Melihat Davin yang terus terisak, Asisten Jo berjalan mendekat kemudian memegang kedua bahu Davin.
__ADS_1
"Yang sabar Tuan. Ini semua sudah takdir Tuhan, kita harus ikhlas agar Kakek anda bisa pergi dengan tenang," Asisten Jo berusaha menenangkan Tuan Mudanya meski dia harus mati-matian menahan airmatanya.
"Aku harus bagaimana, Jo? Aluna pergi ninggalin aku sekarang kakek juga pergi ninggalin aku, Aku harus gimana Jo," Davin menangis, dia memukul tempat tidur itu dengan kepalan tangannya. Sungguh, hatinya benar-benar sangat terluka saat ini. Hatinya rasanya seperti dihantam dengan batu yang begitu besar. Beberapa saat kemudian datang beberapa perawat yang mengurusi jenazah Kakek Farhan karena jenazah kakek Farhan akan langsung dimakamkan hari itu juga.
------------@@@@@@------------------
Pemakaman Tuan Farhan berjalan lancar. Kini Kakek Farhan sudah tenang di alam sana. Meskipun berat Davin berusaha untuk ikhlas melepaskan Kakek Farhan. Setelah selesai berdoa mereka langsung kembali ke Mansion.
Sedangkan di tempat berbeda, Ronal dan Tuan Bagas sedang bersiap-siap. Aluna yang melihat pun jadi penasaran.
"Papa sama Kak Ronal mau kemana?" tanya Aluna sambil berjalan mendekat.
"Tuan Farhan? Maksudnya kakek Farhan? Memang siapa yang meninggal?" Aluna kembali bertanya, hatinya berdebar tak karuan.
"Tuan Farhan meninggal dunia tadi pagi tetapi sekarang sudah dimakamkan,"
PRANGGG!!
Gelas dalam genggaman tangan Aluna terjatuh begitu saja mendengar jawaban dari Ronal. Tubuh Aluna terasa lemas, bahkan dia hampir saja terduduk di lantai jika tangannya tidak segera memegang meja di sampingnya.
__ADS_1
"Aku ikut Kak," Suara Aluna terdengar bergetar karena menahan tangisnya.
"Kamu yakin? Disana ada Davin," tanya Ronal memastikan. Aluna mengangguk pelan kemudian dia bersiap-siap untuk ikut melayat ke tempat Kakek Farhan. Sepanjang perjalanan Aluna selalu terlihat gelisah, hatinya merasa tidak tenang tetapi dia mencoba terlihat biasa saja.
Perjalanan dari pedesaan menuju perkotaan membutuhkan waktu sekitar 6 jam, selama perjalanan Aluna tak banyak bicara, dia hanya memejamkan matanya. Begitu sampai di depan Mansion Alexander, debaran jantung Aluna semakin kencang. Saat mobil Tuan Bagas sudah memasuki pelataran Mansion itu, Aluna bisa melihat begitu banyak pelayat yang datang. Setelah mobil terparkir, Aluna langsung memegang tangan Ronal.
"Kak, aku tidak ikut masuk yaa. Aku mau ke pemakaman saja," pinta Aluna dengan tatapan memelas.
"Kamu tahu pemakamannya?" tanya Ronal, dia menatap Aluna lekat. Aluna mengangguk kemudian Aluna memakai masker dan topi. Dia pun turun dan berjalan keluar mansion sedangkan Tuan Bagas dan Ronal langsung masuk ke dalam mansion untuk ikut berbela sungkawa. Kebetulan ada seorang anak buah Asisten Jo yang berjaga di depan. Dia sedari menatap Aluna yang keluar dari mobil salah seorang pelayat Tuannya. Dia dengan segera menghubungi nomer Asisten Jo.
"Tuan saya melihat seorang perempuan mencurigakan, dia barus saja keluar dari salah satu mobil pelayat tapi tidak masuk ke dalam Mansion malah berjalan keluar, perempuan itu memakai masker dan topi Tuan," lapor anak buah Asisten Jo.
"Dari mobil apa dia turun?" tanya Asisten Jo sambil mengamati pelayat yang datang.
"Mobil Fortuner warna hitam dengan plat XXXX,"
"Kalian cari tahu pemilik mobil itu,"
"Baik Tuan,"
__ADS_1
Setelah mematikan panggilan suara itu, Asisten Jo terkejut saat melihat Tuan Bagas dan Ronal masuk ke dalam Mansion. Asisten Jo berjalan cepat menuju kamar Davin karena setelah pemakaman Kakek Farhan selesai Davin langsung ke kamar dan tidak keluar lagi.