Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
15


__ADS_3

Mansion Keluarga Alexander


"Kamu sudah mau berangkat, Vin?" tanya Tuan Doni saat melihat Davin sudah beranjak dari duduknya.


"Iya ayah. Pagi ini ada rapat dengan Perusahaan Sandijaya Group yah," jelas Davin kemudian dia berpamitan sama kedua orang tuanya. Asisten Jo sudah setia menunggu Tuan Davin di samping mobilnya.


"Selamat pagi, Tuan," Asisten Jo membungkuk hormat.


"Hmm," Tuan Davin tidak menjawab karena dia masih kesal dengan Asisten Jo. Setelah Tuan Davin masuk ke dalam mobil , Asisten Jo kemudian duduk di balik kemudi melajukan mobilnya ke perusahaan. Selama perjalanan yang ada hanya keheningan karena Tuan Davin masih enggan mengajak Asisten Jo berbicara.


Dua puluh menit kemudian mobil Tuan Davin sampai di Perusahaan Alexander Group. Namun, ketika hendak masuk gerbang perusahaan, Tuan Davin menyuruh Asisten Jo menghentikan mobilnya.


"Ada apa, Tuan?" tanya Asisten Jo. Namun, Tuan Davin tidak menjawab dia hanya menatap tajam ke samping. Asisten Jo pun mengikuti arah pandang Tuan Davin dan dia terkejut melihat Aluna sedang berdiri bersama seorang pria. Aluna tersenyum lebar sedang sang pria mengusap kepala Aluna berkali-kali.


"Jadi, dia menolakku karena pacarnya yang jelek itu? Padahal aku lebih tampan kaya dan juga perkasa," gerutu Tuan Davin namun Asisten Jo masih mendengarnya.


"Anda cemburu, Tuan?"


"Buat apa aku cemburu dengan cewek genit seperti dia. Banyak wanita yang mengejarku bahkan rela telanjang di depanku," sanggah Tuan Davin. Asisten Jo tersenyum sinis.


"Lantas kenapa anda marah melihat Nona Aluna berduaan dengan lelaki lain Tuan? "


"Aku gak marah Jo! Kamu jangan asal bicara!" Nada bicara Tuan Davin mulai naik satu oktaf.


"Terus kenapa kita berhenti disini Tuan?" Pertanyaan Asisten Jo membuat Tuan Davin tersadar. Dia lalu menendang belakang kursi Asisten Jo.

__ADS_1


Sial ! kenapa aku begitu bodoh?!


" Cinta memang bisa membuat orang bodoh, Tuan." Asisten Jo berusaha menahan tawanya.


"Kamu mau mati dengan cara apa Jo?!" sembur Tuan Davin.


"Maaf, Tuan."


"Jalankan mobilnya!" perintah Tuan Davin.


Asisten Jo melajukan mobilnya masuk ke perusahaan. Saat Tuan Davin turun dari mobil banyak mata yang memandangnya dengan tatapan kagum. Namun, Tuan Davin seolah tidak peduli. Dia masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan naik ke lantai teratas di perusahaan itu.


"Jam berapa rapatnya, Jo?" tanya Tuan Davin sambil menatap komputernya.


cih! bilangnya gak suka tapi baru nyampe kantor aja langsung mantengin CCTV . Dasar bucin !


---------@@@@-----


"Wah! Sepertinya suasana hari ini cerah ya," goda Mila saat melihat Aluna masuk ke ruangannya.


"Iya dong. Kan habis di anter sama bebeb tercinta," tambah Nia.


"Bebeb-Bebeb. Pala loe Bebeb!" sewot Aluna sambil menonyor kepala Citra.


"Astaga Lun. Bukan gue yang bilang kenapa kepala gue yang jadi korbannya sih!" protes Citra tidak terima.

__ADS_1


"Walau raga kalian terpisah kan tapi jiwa kalian kembar siam. Lagian elo yang paling dekat sama gue kan?" Aluna ingin tertawa melihat Citra yang terus mengerucutkan bibir sambil mengusap-usap kepalanya berulang kali.


"Eh ngomong-ngomong cowok yang ngaterin elo tadi siapa?"


"Hadehh kalian kepo banget sih. Udah kerja kerja kerja. Gak takut apa nanti si apem tersembunyi datang terus marah ngasih hukuman ke kita seperti waktu itu,"


"Berani banget sih elo ngatain bos kita gitu. Gak takut di pecat apa?"


"Ya enggak Lah. Kan gue udah di kontrak seumur hidup,"


"Yaelah songong!" kata mereka bertiga kompak sambil membalas menonyor kepala Aluna.


"Hhhahaha," Aluna tertawa lebar melihat kekompakan ketiga temannya itu. Namun, tawa itu tidak bertahan lama saat dia melihat tatapan tajam dari pintu ruangan.


"Eh pak bos," ucap mereka kompak. Ketiga cecunguk itupun berlari kembali ke meja mereka masing-masing. Sedangkan Aluna menatap balik Tuan Davin seolah bertanya 'apa loe?' namun Tuan Davin tidak peduli dan berjalan meninggalkan ruangan Aluna.


"Kok kayaknya bos kita sering banget sidak mendadak ke ruangan kita ya?"


"Apa jangan-jangan dia suka sama elo, Lun. Terus kesini buat ngejenguk elo,"


Aluna melempar pulpen ke meja Citra. "Noh! Kan gue lagi yang kena. Padahal gue diem lho Lun," protes Citra.


"Kalian itu kalau ngomong asal nyablak aja! Emang gue orang sekarat pake dijenguk segala. Lagian ogah amat si sama bos kaya gitu. Gak ngangenin!" Jawaban Aluna membuat mereka bertiga melongo karena sepertinya Aluna sangat membenci bos mereka yang tampan dan macho itu.


jangan lupa tinggalkan like ya gaesss

__ADS_1


__ADS_2