
"Om Ardian," panggil Alvino saat Ardian baru saja sampai mansion Bagaskara. Ardian menyambut keponakannya yang sedang berlari ke arahnya.
"Om kangen kamu Al," kata Ardian begitu Alvino sudah masuk ke pelukannya.
"Al juga kangen Om," balas Alvino. Ardian mencium pipi Alvino dengan gemas.
"Lho kamu pulang Ar?" tanya Ronal yang baru saja bergabung.
"Iya Kak, Anin mana Kak?" Ardian celingukan mencari keponakan satunya lagi.
"Di rumah sama mamanya," jawab Ronal, dia menyuruh Alvino turun dari gendongan Ardian. Setelah Alvino turun, Ronal segera memakaikan body protector ke tubuh Alvino.
"Mau ngapain sih Kak? Kaya mau balapan aja," tanya Ardian penasaran.
"Bukan mau balapan, tapi mau latihan balapan," jawab Ronal santai, Ardian membuka kedua bola matanya lebar.
"Yang bener saja Kak, Al baru TK dudah di ajari balapan Kak?" tanya Ardian tak percaya.
"Biar dia jadi penerus mommy nya. Ayok Al," ajak Ronal sambil menggandeng tangan Al menuju halaman mansion yang luas itu. Ardian mengikuti mereka berdua ke halaman belakang.
Ardian melihat Ronal yang sedang mengajari Alvino mengendarai motor sport khusus anak-anak.
"Kak, memang Kak Aluna ngebolehin Al latihan motor gini?" tanya Ardian saat dia sedang duduk bersama Ronal sambil mengamati Alvino yang sedang menaiki motor aki nya.
"Jangan sampai ketahuan lah, lagi pula kalau disini kan tidak ketahuan. Kamu tahu sendiri, Aluna sibuk dengan baby Nadira dan Davin sangat bucin sama Aluna," ucap Ronal, dia meminum jus alpukat di depannya.
"Aku tidak menyangka kalau Kak Aluna dan Kak Davin bakalan berjodoh, padahal aku masih ingat bagaimana mereka dulu seperti kucing dan anjing kalau bertemu. Kak Ronal tahu tidak kalau Kak Aluna sedang hamil lagi,"
"Uhuuk uhuukk," Ronal langsung tersedak begitu saja setelah mendengar ucapan Ardian.
"Pelan-pelan Kak," Ardian menepuk punggung Ronal pelan sedangkan Ronal menatap tak percaya ke arah Ardian.
"Kamu serius?" tanya Ronal memastikan dia tidak salah dengar.
"Untuk apa aku berbohong Kak, aku baru saja dari mansion Alexander," tegas Ardian, Ronal menggelengkan kepalanya.
"Dasar mereka memang pasangan mesum. Nadira baru berusia tiga bulan tetapi akan menjadi seorang kakak, aku saja baru satu belum mau nambah lagi," kata Ronal.
"Memang mereka sangat produktif Kak, tetapi aku bahagia lihat Kak Aluna bahagia," kata Ardian, pandangan matanya menatap ke arah Alvino yang masih serius dengan motornya. "Kak, bolehkah aku minta tolong sama Kakak?" tanya Ardian tanpa mengalihkan pandangannya.
"Apa? Kamu mau aku mencarikan jodoh untukmu?" tanya Ronal menggoda.
"Ish! Kak Ronal pintar sekali menebak. Aku mau mencari seorang gadis di sini Kak, aku sudah sangat bersalah padanya," sahut Ardian. Ronal menatap Ardian yang terlihat sangat menyesal.
"Maksud kamu?" tanya Ronal belum paham. Ardian pun menceritakan semua yang telah terjadi padanya dan tujuannya pulang ke Jakarta. Ardian hanya diam mendengarkan sesekali menganggukkan kepalanya.
"Semua tidak sepenuhnya salah kamu Ar karena kamu juga dalam keadaan tidak sadar, tetapi aku sangat bangga dengan sikap tanggung jawabmu itu. Aku akan membantumu mencari gadis itu," kata Ronal begitu Ardian sudah selesai bercerita, wajah Ardian tersenyum sumringah saat mendengar Ronal akan membantunya.
"Apa luka di pipimu ini bekas tamparan tangan Aluna?" tanya Ronal, karena saat dia menatap lekat wajah Ardian dia bisa melihat pipi Ardian yang masih terlihat sedikit memerah.
"Ya, aku tahu Kak Aluna sangat kecewa padaku," lirih Ardian. " Tetapi hanya sesaat Kak Aluna marah, karena dia juga berjanji akan membantuku mencari gadis itu," jelas Ardian.
"Apa kamu mengingat wajah gadis itu?" tanya Ronal.
"Tahu kak, aku masih ingat wajah gadis itu, karena aku pernah melihatnya walau sekilas,"
"Baiklah, nanti aku akan membantumu mencarinya," kata Ronal. Obrolan mereka terhenti saat Alvino sudah berjalan ke arah mereka.
"Om, Al capek," kata Alvino, nafasnya terdengar sedikit ngos-ngosan.
"Istirahatlah Al, kamu sudah belajar terlalu keras," suruh Ronal, Alvino duduk di samping Ardian.
"Jagoan Om hebat sekali, apa kamu ingin menjadi seorang pembalap?" tanya Ardian, dia mengacak-acak rambut Alvino.
__ADS_1
"Ya, aku akan jadi seperti mommy," jawab Alvino mantap.
"Kamu masih kecil tapi kamu memiliki semangat yang besar. Om bangga sama kamu Al," puji Ardian, Alvino tersenyum menunjukkan rentetan gigi-gigi putihnya.
"Kamu tidak takut dimarahi mommy?" tanya Ardian lagi. Alvino tidak menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Ayo ikut Om, kita beli mainan," ajak Ardian, Alvino langsung heboh, dia segera melepas body protector di tubuhnya lalu menggandeng tangan Ardian pergi dari mansion Bagaskara.
🍀🍀🍀🍀🍀
Jam hampir menunjukkan pukul sepuluh malam, tetapi Davin belum juga tidur. Dia masih mengetuk pintu kamarnya karena Aluna menguncinya dari dalam.
"Sayang, aku mohon buka pintunya. Apa kamu tidak ingin tidur dalam pelukanku?" tanya Davin, tetapi tak ada sedikitpun sahutan dari dalam kamar.
"Sayang," panggil Davin lagi, tangannya tidak lelah mengetuk pintu itu.
Ceklek. Wajah Davin terlihat bahagia saat pintu itu telah terbuka, tetapi kebahagiaan itu hanya sesaat karena Aluna membuka pintu hanya untuk menyerahkan bantal dan selimut untuk Davin setelah itu pintu itu kembali di tutup.
"Tidurlah di luar Mas, aku sedang tidak ingin tidur denganmu," teriak Aluna saat pintu itu telah tertutup rapat. Davin menghembuskan nafas kasar. Dia dengan pasrah mengambil bantal dan selimut itu lalu membawanya ke ruang televisi, sesampainya di ruang televisi itu, Davin merebahkan tubuhnya di atas sofa yang ada disana. Sebenarnya masih ada kamar tamu, tetapi entah mengapa Davin merasa malas sekali untuk tidur disana.
"Sial sekali nasibku. Kutukan Jo benar-benar menyebalkan! Aku harus kasih dia pelajaran," gumam Davin, dia mengambil ponselnya lalu menghubungi nomer Asisten Jo.
Hampir sembilan kali Davin menghubungi Asisten Jo tetapi panggilan itu tidak di angkat sama sekali hingga membuat Davin menggeram kesal.
"Hallo Tuan," Setelah hampir sepuluh kali memanggil, akhirnya panggilan itu terhubung juga. Davin mendengar suara Asisten Jo yang terdengar memburu.
"Kamu sedang apa Jo?" tanya Davin heran.
"Saya baru saja selesai menaiki bukit lewati lembah Tuan," jawab Asisten Jo, dia berusaha mengatur nafasnya.
"Maksud kamu? Kamu menjelma menjadi ninja hatori?" tanya Davin bingung.
"Anda tidak perlu tahu Tuan karena saya yakin saat ini pasti anda sedang tidak satu kamar dengan Nona Aluna," sahut Asisten Jo dengan nada mengejek.
"Baguslah Tuan, kalau anda cinta saya justru saya menjadi was-was. Saya bukan pecinta sesama jenis, bagaimanapun juga saya masih suka apem tapi bukan apem tersembunyi seperti anda," ejek Asisten Jo.
"Bisakah kamu serius Jo?!" teriak Davin kesal. "Jo, bisakah kamu memberikanku cara supaya aku bisa tidur dengan Aluna? Aku tidak bisa tidur tanpa memeluk Aluna," kata Davin lirih, sedangkan Asisten Jo hanya terkekeh geli.
"Bersabarlah Tuan, hanya tiga bulan saja. Itu waktu yang sebentar, setelah itu anda bisa memeluk Nona Aluna sepuas anda,"
"Kamu bilang tiga bulan hanya sebentar Jo?! Tidak memeluk Aluna satu hari saja aku sudah sangat merindukannya apalagi kalau sampai tiga bulan," Davin terlihat frustasi, Asisten Jo menghembuskan nafasnya kasar.
"Mas," panggil Aluna, Davin yang sedang tiduran langsung beranjak bangun begitu saja. Dia meletakkan ponselnya tanpa mematikan panggilan itu.
"Ada apa sayang?" tanya Davin lembut.
"Kamu sedang telepon dengan siapa?" tanya Aluna curiga.
"Jangan curiga sayang," jawab Davin, dia benar-benar peka jika itu menyangkut tentang Aluna. "Aku sedang menelepon Jo untuk bertanya bagaimana caranya agar aku bisa tidur denganmu tanpa membuat kamu mual," sambung Davin mantap.
"Awas saja kalau kamu berbohong! Aku tidak akan pernah memaafkanmu," ancam Aluna.
"Iya sayang, suwer deh," kata Davin, dia menunjukkan kedua jarinya tanda ucapannya itu benar.
"Oke aku percaya. Mas, bisakah aku minta tolong padamu?" Aluna balik bertanya, dia terlihat ragu. Davin tidak menjawab tetapi dia menatap lekat wajah Aluna.
"Mas, aku ingin makan nasi uduk," kata Aluna pelan.
"Sayang, jam segini dimana ada yang jualan nasi uduk?" tanya Davin.
"Pokoknya aku mau makan itu Mas, setelah aku makan nasi uduk aku mau tidur sama kamu," kata Aluna, Davin langsung tersenyum simpul.
"Benarkah? Biar aku suruh Mbok Nah membuatnya," kata Davin antusias.
__ADS_1
"Jangan! Aku tidak mau ganggu istirahat Mbok Nah," cegah Aluna, wajah Davin langsung terlihat datar.
"Terus mau nyari dimana sayang?" Davin berusaha menetralkan suaranya meskipun hatinya dongkol, menghadapi orang ngidam memang perlu kesabaran ekstra.
"Kita suruh saja Mila membuatnya, dia sangat pandai membuat nasi uduk," jawab Aluna santai.
"Sayang, kamu yang benar saja, ini sudah malam. Tidak mungkin kita mengganggu istirahat orang lain," Suara Davin terdengar meninggi membuat wajah Aluna langsung terlihat sedih.
"Sebentar, aku hubungi Jo dulu," Suara Davin kembali melembut. Davin tak tega saat melihat wajah sedih Aluna, dia mengambil ponselnya dan melihat panggilannya dengan Asisten Jo ternyata masih terhubung.
"Maaf Tuan, istri saya sudah kelelahan," ucap Asisten Jo sebelum Davin membuka suaranya. Dia mendengar percakapan Aluna dan Davin barusan.
"Jo, aku mohon. Apa kamu tidak kasihan padaku?" tanya Davin memelas.
"Biar saya bicara dengan Nona Aluna Tuan," kata Asisten Jo, Davin pun menyerahkan ponsel itu kepada Aluna.
"Nona, bisakah anda bersabar? Aku janji besok Mila akan ke mansion untuk membuatkan nasi uduk untuk anda, tetapi saya mohon, biar saat ini istri saya istirahat karena dia sedang kelelahan Nona," kata Asisten Jo begitu ponsel itu sudah berada di tangan Aluna.
"Baiklah Jo, kamu harus menepati janjimu. Sekarang dimana Mila?" tanya Aluna.
"Dia baru saja terlelap Nona, adakah yang akan Nona tanyakan?" tanya Asisten Jo balik.
"Emm, tidak ada. Aku hanya ingin bertanya satu hal," kata Aluna ragu.
"Silahkan tanyakan saja Nona,"
"Jo, bagaimana cara memakai alat pengaman itu?" tanya Aluna lirih, Davin langsung membuka matanya lebar mendengar pertanyaan Aluna.
"Sayang, kenapa kamu bertanya memalukan seperti itu?" tanya Davin kesal.
"Memalukan bagaimana? Memang kamu tahu cara memakainya?" tanya Aluna meremehkan.
"Tentu saja," jawab Davin mantap. "Aku tidak tahu, aku belum pernah memakainya," kata Davin, Aluna memutar bola matanya malas.
"Sayang, kenapa sih kamu mau memakai pengaman seperti itu, kita itu sudah sah bahkan suami istri bahkan sekarang kamu sedang mengandung anak ketiga kita. Apa kamu tidak takut anak kita terluka?" tanya Davin khawatir, dia mencoba untuk merayu Aluna.
"Ya sudah, aku tidak mau berolahraga denganmu!" kata Aluna penuh penekanan.
"Kenapa begitu? Ayolah sayang, kamu tidak kasihan padaku?" tanya Davin memelas. Aluna tidak menjawab, dia hanya menyerahkan ponselnya kepada Davin lalu berjalan cepat menuju ke kamarnya. Davin mendesah sembari menatap kepergian Aluna.
"Tuan, saya turut kasihan atas apa yang menimpa anda, yang sabar Tuan. Jangan lupa saran saya untuk siapkan sabun yang banyak Tuan," ledek Asisten Jo.
"Diamlah Jo! Aku kutuk istrimu semakin genit Jo!" umpat Davin.
"Jangan Tuan, nanti wajah saya akan cepat terlihat tua karena terlalu banyak emosi dan bersabar Tuan,"
"Masa bodoh! Karena mulut kurang ajarmu itu sudah membuat aku menderita Jo," ketus Davin.
"Bukan karena mulut saya Tuan, itu karena anda terlalu menantang takdir Tuhan jadi anda terkena karmanya," Asisten Jo tak mau kalah.
"Berani sekali kamu menyalahkanku Jo!" bentak Davin marah.
"Kenapa saya harus takut? Saya tidak bersalah disini," ucap Asisten Jo santai.
"Kamu lupa siapa aku?" tanya Davin penuh penekanan.
"Tentu saja tidak Tuan. Anda Tuan Muda Davino Alexander. Saya juga tidak lupa kata-kata Nona Aluna dulu. Anda atasan dan saya bawahan itu selama di kantor kalau di luar kantor saya...."
"Saya apa?!" bentak Davin menyela ucapan Asisten Jo.
"Saya tetap bawahan anda dan saya akan sangat bahagia melihat anda menderita," Tut tut tut. Panggilan itu terputus begitu saja, Davin menggaruk rambutnya kasar lalu membanting ponselnya ke sofa karena saking jengkelnya.
"Untung tidak rusak, kalau rusak asisten kurang ajar itu harus menggantinya," gerutu Davin sambil mengusap ponselnya yang baru saja di banting.
__ADS_1