
"Anda cari apa Tuan?" tanya seorang penjaga toko mainan saat Asisten Jo masuk ke dalamnya. Sepulang dari kantor dan mengantar Davin, Asisten Jo langsung menuju toko mainan karena dia ingin menepati janjinya pada Rayhan.
"Em kira-kira mainan apa yang cocok untuk anak laki-laki usia sekitar empat atau lima tahun?" tanya Asisten Jo sambil mengamati seluruh mainan di ruangan itu.
"Mobil-mobilan atau lego Tuan," saran penjaga toko itu.
"Coba ambilkan mobil remote control yang besar itu," suruh Asisten Jo. Pelayan toko itupun langsung mengambilkan apa yang ditunjuk Asisten Jo.
"Bungkuskan saja yang ini ya," ucap Asisten Jo sambil meyodorkan mainan itu. Setelah membayar, dia bergegas menuju rumah Mila. Selama di perjalanan, entah mengapa ucapan Aluna terngiang-ngiang di pikirannya. Ada rasa kasihan pada Mila setelah mendengar apa yang Aluna ucapkan.
"Huh," Asisten Jo menghembuskan nafas kasar.
Mobil hitam itu berhenti di halaman rumah Mila. langit sudah hampir gelap karena hampir maghrib. Aisten Jo mengetuk pintu rumah itu sambil satu tangannya membawa mainan untuk Rayhan.
"sebentar," teriakan suara cadel terdengar di telinganya membuat Asisten Jo mengulas senyum tipis.
ceklek
Pintu rumah itu terbuka, Asisten Jo melihat anak kecil berdiri di ambang pintu itu. Dia berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan Rayhan.
"Hai jagoan kecil," sapa Asisten Jo sambil tersenyum simpul. Wajah Rayhan langsung sumringah.
"Ayah." Teriak Rayhan antusias sambil menghamburkan pelukannya di tubuh Asisten Jo.
"Ayah kemana saja? kenapa baru datang?Rayhan sangat merindukan ayah," Asisten Jo mengelus punggung Rayhan lembut. Dia tersenyum mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Rayhan.
"Ayah habis kerja, biar bisa beliin Rayhan mainan," jawab Asisten Jo sambil melerai pelukannya. Dia menyodorkan mainan di tangannya ke depan Rayhan. Tangan kecil Rayhan menerima mainan yang besar itu dengan bahagia, kemudian dia berteriak heboh sembari berlari masuk ke dalam rumah. Asisten Jo mengikuti langkah kaki Rayhan masuk ke dalam rumah Mila. Dia heran, mengapa rumah itu nampak sepi sekali.
"Rayhan dirumah sama siapa?" tanya Asisten Jo, pandangan matanya mengitari ruangan di rumah itu.
"Sendiri," jawab Rayhan sambil tangannya berusaha membuka mainan itu. Mendengar jawaban Rayhan, Asisten Jo menautkan kedua alisnya.
"Rayhan dirumah sendiri?" tanya Asisten Jo sekali lagi untuk memastikan pendengarannya. Rayhan mengangguk pelan.
"Bunda masih kerja, kalau eyang lagi jualan bentar lagi pulang," jawab Rayhan membuat hati Asisten Jo terasa mencelos.
__ADS_1
"Kamu gak main sama temen kamu sayang?" tanya Asisten Jo dan mendapat gelengan kepala dari Rayhan. Wajah Rayhan langsung terlihat sedih.
"Kenapa?" tanya Asisten Jo lagi saat tidak mendapat jawaban dari Rayhan.
"Temenku bilang aku anak haram yang dibuang. Jadi gak pantes bermain sama mereka,"
Deg. Hati Asisten Jo rasanya seperti diremas kuat. Dia merasakan sakit di ulu hatinya terdalam saat mendengar jawaban Rayhan. Dia menatap tak tega pada Rayhan yang sedang sibuk membuka mainannya.
"Kenapa temen kamu jahat sekali!" Asisten Jo terlihat begitu marah.
"Ayah jangan bilang bunda, karena bunda pasti akan langsung marah dan datengin temen aku kalau tahu aku di ejek gitu," ada nada takut dalam ucapan Rayhan, membuat Asisten Jo mengerutkan keningnya.
"Apa pernah terjadi sesuatu?" Rayhan mengangguk pelan.
"Bunda pernah bertengkar sama ibu temen aku, karena temen aku mengejek aku, sampai ibu temen aku masuk rumah sakit dan bunda harus gantiin biaya rumah sakit," jelas Rayhan membuat Asisten Jo begitu terkejut. Dia tidak menyangka Mila ternyata juga bar-bar seperti Aluna, namun senyum tipis terukir di bibir Asisten Jo.
"Itu artinya bunda sangat sayang sama kamu," Ucap Asisten Jo sambil membantu membuka mainan milik Rayhan. Begitu mainan telah terbuka, Asisten Jo langsung mengajak Rayhan bermain mobil remote itu. Rayhan tertawa bahagia, bahkan dia sampai jingkrak-jingkrak saking bahagianya. Tawa Rayhan akan terdengar semakin keras saat Asisten Jo mencoba mengarahkan mobil itu untuk menabrak Rayhan. Tawa itu menular, hingga Asisten Jo ikut tertawa bahagia. Baru kali ini dia bisa tertawa lepas bersama anak kecil.
"Ayo ayah.. ayo kejar aku," teriak Rayhan sambil berlari, sedangkan Asisten Jo mengarahkan mobil itu mengejar Rayhan. Tawa mereka terdengar begitu nyaring.
"Bunda sudah pulang?" tanya Rayhan dengan wajah polosnya.
"Bunda izin pulang sebentar, karena ada yang bilang kalau ada orang asing masuk ke rumah ini, bunda takut kamu di culik." Jawab Mila khawatir, tapi kini dia bernafas lega karena Rayhan baik-baik saja.
" Rayhan tidak diculik bunda, Rayhan sedang mainan sama ayah," ucap Rayhan dengan senyum di bibir kecilnya. Mila menautkan kedua alisnya mendengar ucapan Rayhan.
"Ayah?" tanya Mila bingung. Rayhan tersenyum sambil mengangguk. Mila mengalihkan pandanganya ke belakang Rayhan. Alangkah terkejutnya, saat matanya melihat Asisten Jo yang sedang menatap ke arahnya.
"Tu-tuan," panggil Mila gugup. Dia tidak menyangka jika orang asing itu adalah Asisten Jo.
"Ba-bagaimana Tuan bisa berada disini?" Tanya Mila gugup. Asisten Jo tidak menjawab tapi pandangan matanya tidak lepas menatap Mila, hingga Mila menjadi salah tingkah.
"Jangan tatap saya seperti itu Tuan, saya takut anda jatuh cinta pada saya," Canda Mila membuat Asisten Jo berdecak kesal.
"Percaya diri sekali!" cibir Asisten Jo. Mila hanya menunjukkan rentetan gigi putihnya.
__ADS_1
"Bunda, ayah bawa mobil remot besar untuk Rayhan,"
"Ayah?" tanya Mila bingung, Rayhan menganggukan kepalanya.
"Iya, ayah Jo."
"uhuukk uhuuk," Mila langsung tersedak ludahnya mendengar Rayhan memanggil 'ayah Jo' membuat Asisten Jo dengan segera masuk ke dapur dan mengambil air putih untuk Mila.
"Minumlah," Mila menerima sodoran air putih dari tangan Asisten Jo. Dengan segera Mila langsung menenggak habis air putih itu.
"Sayang, dia bukan ayah. Dia itu om Jo," Mila berusaha merubah panggilan Rayhan untuk Asisten Jo.
"Dia ayah bunda, bukan om." Rayhan melipat kedua tangannya di dada.
"Tapi dia om, Rayhan. Seperti om Dimas,"
"Dia bukan om. Dia ayah, bundaa," mata Rayhan sudah berkaca-kaca. Mila menjadi tak tega, tapi dia juga merasa tidak enak kepada Asisten Jo.
"Rayhan..."
"Rayhan pengen punya ayah kaya temen-temen Rayhan." Airmata Rayhan mulai menetes dari sudut matanya. Asisten Jo dan Mila saling berpandangan.
"Jangan menangis ya, kamu boleh panggil saya Ayah Jo sesuai kemauan kamu," Asisten Jo berusaha menenangkan Rayhan.
"Benarkah?" tanya Rayhan antusias. Asisten Jo mengangguk, Rayhan langsung tersenyum lebar.
"Tapi Tuan...."
"Diamlah ! Aku tidak menerima penolakan!" Sela Asisten Jo membuat Mila langsung terdiam. Namun, hatinya merasa tidak enak pada Asisten Jo. Mila hanya menatap Rayhan yang sedang tertawa bahagia dan Asisten Jo yang sedang tersenyum simpul.
Manis sekali kalau lagi tersenyum. Aku jadi terpesona. Andai kamu menawariku untuk menjadi istrimu, pasti aku langsung berteriak.
"Mauuuu," teriak Mila keras. Asisten Jo dan Rayhan menatap ke arah Mila.
"Mau apa bunda?" tanya Rayhan bingung.
__ADS_1
"Eh..." Mila menutup wajahnya karena malu sedangkan Asisten Jo dan Rayhan menatap Mila bingung.