Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
EP 19


__ADS_3

Dua tahun kemudian


huekks huekkss


Aluna merasakan mual yang sangat hebat saat dia membuka matanya. Dia memegang pinggiran wastafel, kepalanya terasa berdenyut-denyut.


"Kamu baik-baik saja sayang?" tanya Davin khawatir sambil memijat tengkuk Aluna.


"Apa kamu dulu merasa semenyakitkan ini waktu aku hamil baby Al?" Aluna balik bertanya. Dia kini sedang hamil anak kedua. Usia kehamilan Aluna baru memasuki minggu ke delapan. Setiap pagi, Aluna selalu merasakan mual yang sangat hebat hingga Davin selalu khawatir. Walaupun dulu saat hamil baby Al, Davin yang merasakan morning sickness dan ngidam, akan tetapi dia tetap khawatir melihat Aluna yang selalu lemas setiap pagi.


"Aku bikinin air jahe ya," kata Davin lembut, dia membopong tubuh Aluna kembali ke kasur.


"Sudahlah mas, paling bentar lagi juga mualnya ilang," kata Aluna sambil memejamkan kedua matanya. Davin tetap berjalan ke luar dari kamar itu.


"Mommy sakit?" tanya Alvino dengan suara cadelnya. Kini Alvino sudah akan memasuki usia tiga tahun.


"Iya sayang," jawab Aluna sambil mencium wajah Avino yang tiduran di sampingnya.


"Apa daddy menyakiti mommy?" Aluna terdiam mendengar pertanyaan Alvino.


"Mommy," panggil Alvino lagi, Aluna menunggingkan senyumnya.


"No, tapi ada adek kecil di perut mommy," jelas Aluna sambil mengusap lembut perutnya namun Alvino belum paham.


"Adek kecil itu nakal? Kenapa membuat mommy sakit?" Aluna mencium gemas pipi Alvino.


"Kamu pintar sekali sih. Adek kecil itu gak nakal tapi dia lagi lagi mau tumbuh besar di perut mommy," Aluna berusaha menjelaskan. Pintu kamar itu terbuka, Davin masuk dengan membawa air jahe hangat untuk Aluna.


"Diminum dulu sayang," suruh Davin lembut, Aluna pun meminum air jahe yang hangat itu.


"Al jangan nakal ya, bentar lagi Al akan punya adik," kata Davin, dia mengangkat tubuh kecil Al dan menaruhnya di pangkuan. Tiba-tiba pintu kamar itu di ketuk dari luar, Davin segera membuka pintu kamarnya. Dia melihat Mbok Nah yang berdiri di depan pintu.


"Ada apa, Mbok?" tanya Davin.

__ADS_1


"Nona Mila mau bertemu Nona Aluna, Tuan. Dia sudah berada di bawah," jawab Mbok Nah sopan. Davin menghela nafas panjang. Dia pun menyuruh Mbok Nah bilang pada Mila supaya menunggu sebentar.


"Sayang, sudah ada Mila di bawah," ucap Davin lembut. Dia merebahkan tubuhnya di samping Aluna.


"Kenapa lagi dia? Apa dia masih tidak mau berdekatan dengan Jo?" tanya Aluna, Davin hanya menjawab dengan gelengan kepala. Ya, saat ini Mila juga sedang hamil lima minggu, hanya selisih tiga minggu dengan kehamilan Aluna. Akan tetapi, selama kehamilan ini, Mila sama sekali tidak mau di sentuh Asisten Jo bahkan hanya berdekatan saja, Mila terkadang bisa langsung mual hebat. Itulah yang membuat Asisten Jo kadang frustasi. Awalnya Davin selalu mengejek Asisten Jo, tapi lama-kelamaan Davin jadi merasa kasihan. Aluna bangun dari tidurnya, setelah minum air jahe hangat, dia merasakan tubuhnya menjadi lebih baik. Ketika sampai di ruang tamu, dia melihat Mila yang sedang duduk dengan kedua tangan terlipat di dada dan bibir yang cemberut.


"Kenapa Mil?" tanya Aluna, dia duduk di samping Mila.


"Benci banget aku sama mas Johan, Lun," kata Mila kesal.


"Memang Jo kenapa lagi?" Belum juga menjawab, Asisten Jo sudah masuk dan duduk santai di depan Mila.


"Kamu tidak malu? Mengganggu ketenangan orang lain," ucap Asisten Jo menatap mata Mila lekat.


"Jangan tatap aku seperti itu mas! Aku takut terpesona, kamu kan tahu aku sedang marah sama kamu," Mila memalingkan wajahnya, dia mencebikkan bibirnya kesal.


"Kamu sudah datang, Jo?" tanya Davin, dia sudah rapi dengan pakaian kantornya.


"Kalau saya sudah disini, itu artinya saya sudah datang, Tuan," ketus Asisten Jo, Davin menghembuskan nafas kasar.


"Anak daddy jangan nakal ya, daddy mau kerja dulu nyari uang yang banyak," Davin mencium perut Aluna lembut kemudian beralih mencium kening Aluna lagi.


"Aku mencintaimu sayang," bisik Davin lirih, Aluna tersenyum manis.


"Maassss," teriak Mila keras, mengalihkan pandangan mereka bertiga.


"Aku pengen di romantisin kaya gitu, hiks hiks," Mila terisak, Asisten Jo menggelengkan kepalanya seraya berdecak kesal.


"Gimana mau romantis? Kamu dekat aku saja sudah mual-mual,"


"Kalau kamu romantisin, aku yakin pasti aku gak mual,"


"Alasan saja!" cebik Asisten Jo, namun dia berjalan mendekati Mila dan mencium kening Mila dengan mesra. Mila memejamkan kedua bola matanya, menikmati ciuman kasih sayang dari suaminya itu.

__ADS_1


"Udah," kata Asisten Jo sambil menyudahi ciuman itu.


"Ucapan aku mencintaimu mana?" tanya Mila dengan wajah kecewa.


"Emang harus?" Asisten Jo justru bertanya balik dengan wajah yang terlihat menyebalkan di mata Mila.


"Pergilah mas! Aku marah sama kamu," usir Mila sambil mendorong tubuh Asisten Jo agar menjauh darinya.


"Untung saja, Nona Aluna hamil kali ini bukan Tuan Davin yang ngidam, kalau Tuan Davin yang ngidam lagi, bisa-bisa aku di suruh memilih mau masuk rumah sakit jiwa di kota mana," gerutu Asisten Jo. Namun, masih bisa terdengar jelas di telinga mereka bertiga, hingga akhirnya mereka bertiga tertawa terbahak-bahak.


Davin dan Asisten Jo pun berpamitan berangkat kerja. Sudah menjadi rutinitas mereka, saat Davin dan Asisten Jo bekerja maka Mila akan berada di mansion Alexander untuk menemani Aluna dan Alvino. Biasanya, Jonathan akan ikut serta tapi sudah dua hari ini Jonathan ikut ke luar kota bersama kakek neneknya.


"Mil, tadi kenapa kamu kelihatan begitu marah sama si Jo?" tanya Aluna penasaran karena dia baru melihat Mila yang terlihat sangat kesal.


"Mas Johan gak mau nuruti keinginan aku. Bahkan, aku udah nangis-nangis tetep aja gak mau," Mila mulai akan terisak membuat Aluna semakin penasaran.


"Kalau anakku ileran gimana, Lun?"


"Belum lahir aja kamu udah berdoa gitu. Emang kenapa Jo gak mau nurutin kemauan kamu? Emang berat banget ya ngidam kamu itu?" tanya Aluna semakin penasaran. Mila menggeleng pelan.


"Gak berat kok Lun, justru mudah banget. Mungkin mas Johan enggak sayang sama aku dan anak ini,"


"Hust! Jangan bicara seperti itu Mil, kamu sudah berapa tahun hidup bersama Jo, harusnya kamu sudah tahu kalau Jo sangat sayang sama kamu, walaupun tidak dengan cara romantis seperti suamiku," jelas Aluna, namun Mila merasa Aluna seperti sedang mengejeknya.


"Aku pengen di romantisin kaya kamu Lun," rengek Mila, Aluna mendecakkan lidahnya melihat Mila yang benar-benar seperti anak kecil.


"Eh Mil, kamu kan belum jawab pertanyaan aku. Kamu ngidam apa sih? Kok Jo gak mau nurutin," tanya Aluna, dia masih sangat penasaran.


"Tapi kamu janji jangan ketawa Lun," kata Mila sambil menunjukkan jari kelingkingnya. Aluna menatap heran ke arah Mila, tapi dia tetap menautkan kelingkingnya dengan kelingking Mila.


"Iya aku janji gak bakal ketawa," ucap Aluna meyakinkan.


"Em, sebenarnya aku ngidam......." Mila terdiam, dia menghirup nafas dalam-dalam. Aluna menatap tak sabar ke arah Mila.

__ADS_1


"Aku pengen mas Johan pakai celana dal*m warna pink," jawab Mila dengan berat. Aluna terdiam sesaat tapi kemudian dia tertawa terbahak-bahak.


"Alunaaa, kamu kan sudah janji gak mau ketawa. Awas lho, orang ingkar janji giginya ompong," ucap Mila. Aluna bukannya menghentikan tawanya justru semakin tertawa lebar.


__ADS_2