Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
EP 41


__ADS_3

"Diamlah Lun, apa kamu tidak malu di sama baby Nadira dan Cacha?" tanya Mila, dia menepuk pundak Aluna pelan untuk menenangkan Aluna yang sedari tadi menangis karena tahu dirinya hamil.


"Kamu yang diam, Mil. Kamu tidak tahu perasaanku! Aku kepikiran bagaimana dengan baby Nadira, dia baru umur tiga bulan tapi sudah mau memiliki adik," Aluna kembali terisak, sedangkan Mila menghela nafas panjang.


"Makanya Lun, kalau belum mau punya anak lagi itu jangan asal main keluar di dalam. Lagian kamu gak perlu bingung Lun, kan masih ada mertua kamu, keluarga Bagaskara juga. Yang penting, sekarang kamu jaga kesehatan kamu aja," nasihat Mila, Aluna mengusap kedua matanya.


"Ambilin aku ponsel," suruh Aluna.


"Yaelah Nyonya Muda Alexander, ponselnya kan di sebelah kamu kenapa gak kamu ambil sendiri sih," protes Mila, tetapi tangannya tetap mengambilkan ponsel untuk Aluna.


"Males," sahut Aluna singkat. Dia meraih ponsel dari tangan Mila, lalu mencari nama suaminya dan menghubunginya.


"Mas," panggil Aluna saat panggilan itu terhubung. "Kenapa lama banget cariin pesanan aku sih?!" omel Aluna di selingi isak tangis.


"Sabar sayang, lagi usaha nyari. Soalnya gak ada yang jual bomboloni isi sambal rujak,"


"Kalau gak ada ya udah. Mumpung Mila disini, biar dia saja yang buatin. Aku gak mau anak aku ileran!" ketus Aluna.


"What?!" Aluna menjauhkan ponselnya saat mendengar teriakan Davin yang melengking. "Kamu benar-benar hamil sayang?" tanya Davin lirih. Aluna tahu, Davin saat ini pasti sedang shock.


"Kamu pikir aku hamil bohongan Mas?! Aku juga gak nyangka bakal hamil secepat ini. Semua gara-gara kamu, aku kan sudah bilang aku belum KB jadi jangan keluarin di dalam tapi kamu selalu ngeyel, sekarang aku kasihan sama baby Nadira, dia masih kecil udah mau punya adik. Coba saja kamu... em.. em," Mila membekap mulut Aluna untuk menghentikan omelan Aluna yang seperti rel kereta api.


"Ingat jeda ibu hamil. Kamu harus jaga emosi kamu," ucap Mila, dia membuka bekapan tangannya di mulut Aluna.


"Sayang, benar kata Mila, kamu harus jaga emosi kamu dan juga anak kita di perut kamu. Kamu gak usah kuatir ya, itu sudah rezeki kita. Aku selalu ada untuk kamu," Davin berusaha menenangkan Aluna.


"Kata siapa kamu selalu ada untuk aku. Buktinya sekarang saja kamu gak ada di samping aku," omel Aluna lagi, Mila menghembuskan nafas kasar.


"Diamlah Lun, lihat anak kita jadi bangun," protes Mila kesal. Dia mendekati baby Cacha lalu menyusuinya. Aluna pun langsung mematikan panggilan itu begitu saja dan ikut menyusui baby Nadira yang berada di samping baby Cacha.

__ADS_1


"Setelah ini, kamu harus bikinkan aku bomboloni isi sambal rujak, Mil. Biar baby Cacha dan Nadira sama pelayan di mansion ini," suruh Aluna, Mila memutar bola matanya malas.


"Kenapa aku? Kamu kan bisa nyuruh pelayan disini yang buat," protes Mila.


"Aku pengennya kamu yang buat pokoknya tidak bisa di ganggu gugat!" Aluna bicara dengan tegas.


"Tahu gini aku gak akan main ke sini Lun, besok-besok aku gak mau ke sini lagi lah,"


"Ya udah gak papa, aku gak akan restui kalau Jonathan meminang Nadira," ancam Aluna, Mila langsung menatap ke arah Aluna.


"Jadi kamu ikhlas kalau kita besanan? Akhirnya, kesampaian juga punya besan cakep," celetuk Mila membuat Aluna langsung mendelik ke arahnya.


"Hehe maaf ibu hamil," Mila menunjukkan tanda piece dengan jarinya tetapi justru membuat Aluna semakin menatap tajam ke arah Mila. "Eh tapi kan jodoh gak ada yang tahu, kalau Nathan gak jodoh sama Nadira sama aja dong, percuma aku di jadiin kamu kac*ng,"


"Ish! Kamu menyebalkan, Mil. Aku telepon Jo saja, aku laporin Jo kalau kamu doyan banget goda pria-pria tampan disini, termasuk si Rudi, satpam muda ganteng yang mukanya kaya korea itu," ancam Aluna, Mila mencebikkan bibirnya kesal.


"Dasar otak mesum yang matanya suka jelalatan!" balas Aluna tak mau kalah.


"Ya Tuhan, kuatkan aku menghadapi ibu hamil satu ini," keluh Mila, Aluna hanya diam tidak menanggapi. Setelah selesai menyusui, baik Aluna maupun Mila melangkah ke dapur sedangkan kedua bayi mereka di titipkan ke pelayan. Mila mulai menyiapkan bahan-bahan untuk membuat bomboloni sedangkan Aluna duduk cantik di kursi yang ada di meja dapur.


"Jangan lupa Mil, kasih garam biar gurih. Katanya kalau bikin makanan harus pake garam," suruh Aluna, Mila mendengus kesal. Telinganya sudah panas karena sedari tadi mendengar Aluna yang terlalu banyak memberi perintah.


"Iya Nyonya Muda Alexander," sahut Mila malas, lima detik kemudian bibir Mila menampilkan senyum licik. Dia mengambil toples garam dan memasukkan lima sendok garam ke dalam adonan, kebetulan Mila berada dalam posisi membelakangi Aluna jadi dia merasa dirinya aman.


Aluna tersenyum senang saat melihat bomboloni isi sambal rujak itu sudah matang, bahkan Aluna bersorak seperti anak kecil membuat Mila menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Ini Nyonya Muda Alexander, saya buat khusus untuk anda," kata Mila, dia menyodorkan piring berisi bomboloni isi sambal rujak itu. Aluna mencium wangi dari bomboloni itu.


"Liurku benar-benar ingin menetes, Mil. Benar-benar menggugah selera," ucap Aluna, sambil mengendus-endus bomboloni itu.

__ADS_1


"Gak usah di endus kali Lun, kaya kucing aja," cibir Mila, tetapi bibirnya menunjukkan senyum smirk.


"Eh tunggu dulu," Aluna menjauhkan bomboloni dari hadapannya membuat senyum Mila langsung sirna dan berganti dengan raut wajah cemas.


"Apalagi Lun, katanya kamu gak sabar mau makan," kata Mila gugup tapi dia berusaha tenang.


"Aku jadi curiga karena kamu gugup gitu. Jangan-jangan kamu kasih racun ya biar Davin jadi duda terus kamu bisa genitin suami aku itu," tukas Aluna, Mila membuka kedua matanya lebar.


"Mana mungkin Lun, aku mana berani berbuat sekejam itu, apalagi sama sahabat aku sendiri," sanggah Mila tak terima.


"Ya udah, kalau begitu coba kamu makan satu, biar aku percaya kalau kamu gak ada niat buat racunin aku," suruh Aluna, Mila menelan ludahnya dengan kasar.


"Aku kan bikin itu khusus buat kamu masa' aku juga ikut makan sih. Pamali bisa balik gondok nanti Lun," Mila berusaha menolak permintaan Aluna.


"Enggak, kalau kamu gak mau berarti kamu benar-benar mau racunin aku dan aku bakal bilang ke Jo kalau kamu mau bikin Davin duda terus..."


"Iya aku makan," Mila menyela ucapan Aluna, dia mengambil satu bomboloni itu lalu menggigitnya dengan kasar. Baru dua kali kunyahan, Mila sudah bisa merasakan rasa yang sangat asin di lidahnya.


"Gimana Mil? Enak?" tanya Aluna sambil tersenyum sinis. Mila terpaksa mengangguk dengan gigitan bomboloni asin yang masih bertahan di mulutnya.


"Kalau enak buat kamu aja Mil. Kayaknya aku udah enggak pengen deh," kata Aluna santai, Mila benar-benar mendelik tak percaya.


"Lun, kamu kan tahu aku sedang diet jadi aku gak boleh makan ginian banyak, takut dietnya gagal," Mila berusaha mencari alasan. "Aku ke toilet dulu, kebelet pipis," Mila berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan bomboloni asin itu. Aluna tertawa lebar melihat Mila yang berlari terbirit-birit.


"Senjata makan Tuan kan. Berani sekali mau ngerjain aku, dia pikir aku bakal bisa di kerjain, naruh garam seenak sendiri," kata Aluna tak bisa menahan tawanya. Dia mengambil satu buah bomboloni itu dan menggigitnya.


"Kok enak ya," kata Aluna sambil mengunyah cepat bomboloni itu, hingga tanpa sadar dia sudah menghabiskan tiga buah bomboloni. Mila yang baru kembali masuk ke dapur menatap tak percaya ke arah Aluna yang sedang mengunyah bomboloni itu dengan lahap.


"Memang orang ngidam itu aneh," kata Mila sembari menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2