Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
EP 22


__ADS_3

Hari terus berganti bulan, tanpa terasa kini kehamilan Aluna sudah memasuki bulan ke sembilan. Perut Aluna sudah sangat membuncit bahkan seperti hendak terjatuh. Davin benar-benar menjaga Aluna dengan sangat ekstra, dia tidak membiarkan Aluna sendirian, karena dia takut jika Aluna kontraksi tidak ada yang menemaninya.


"Mommy, perut mommy besar sekali," ucap Alvino sambil mengusap perut Aluna.


"Tentu saja, sebentar lagi kita akan bertemu adik bayi," jawab Davin, dia mengusap lembut rambut Aluna. Alvino langsung menciumi perut Aluna. Tiba-tiba wajah Aluna mengernyit sakit.


"Apa kontraksi lagi?" tanya Davin khawatir, dia mengusap-usap perut Aluna dengan lembut.


"Kita ke rumah sakit sekarang," kata Davin sambil beranjak bangun tapi Aluna langsung menahan Davin.


"Nanti aja mas, udah hilang kok," cegah Aluna, karena dia sudah tidak merasakan sakit lagi.


"Mommy, apa adik bayi ini nakal? Kenapa membuat mommy sakit?" tanya Alvino dengan polos. Aluna tersenyum simpul sambil merasakan kontraksi yang datang lagi.


"No, adik bayi hanya ingin keluar dari perut mommy," jawab Aluna, tangannya mengusap-usap perutnya.


"Ayo sayang, kita ke rumah sakit," Davin membopong tubuh Aluna begitu saja, karena dia sudah sangat khawatir pada Aluna. Davin membawa Aluna ke rumah sakit, sedangkan Alvino di rumah bersama keluarga Alexander, karena Davin menyuruh mereka menyusul bayi Aluna sudah lahir saja. Di dalam mobil, Davin selalu mengusap-usap punggung Aluna, karena Aluna merasakan kontraksinya sudah sangat sering, bahkan Aluna sudah merasakan celananya basah. Begitu sampai di rumah sakit, Dokter Mery sudah menunggu mereka karena tadi Davin sudah menghubungi terlebih dahulu. Tubuh Aluna di tidurkan di brankar, kemudian Dokter Mery memeriksanya.


"Sudah pembukaan sembilan Tuan. Sebentar lagi bayi anda akan lahir," ucap Dokter Mery sambil tersenyum simpul dan mempersiapkan segalanya.


"Dok, rasanya sudah benar-benar ingin keluar. Aku ingin mengejan, dok," kata Aluna dengan sedikit terbata karena merasakan sakit yang teramat sakit. Davin di samping Aluna hanya mencium kening Aluna sambil tangannya menggenggam tangan Aluna erat.


"Kamu pasti bisa, sayang. Aku di sampingmu," ucap Davin menyemangati Aluna.


"Kalau sudah ingin mengejan, langsung mengejan saja Nyonya," ucap Dokter Mery, Aluna tidak menjawab namun dia langsung mengejan begitu merasakan sebuah dorongan kuat di bawah disana.


"Ayo sayang, kamu pasti bisa," Mata Davin berkaca-kaca melihat Aluna yang sedang berjuang melahirkan bayi mereka. Beberapa saat kemudian, terdengar suara bayi menggema di ruangan itu. Baik Davin dan Aluna langsung mengucap syukur, Davin langsung menghujami wajah Aluna dengan ciuman bertubi-tubi.

__ADS_1


"Terima kasih sayang. Aku mencintaimu," ucap Davin bahagia, dia mencium kening Aluna lama.


"Selamat Nyonya. Bayi anda berjenis kelamin perempuan," kata Dokter Mery. Davin dan Aluna tersenyum simpul.


"Sayang, aku keluar sebentar ya, aku hubungi orang rumah dulu," Aluna hanya mengangguk perlahan Davin pun keluar dari ruang bersalin itu. Begitu sampai di luar, dia menghubungi kedua orang tuanya dan keluarga Bagaskara kalau bayi Aluna sudah lahir dengan selamat. Setelah selesai menelepon, Davin yang hendak masuk lagi mengurungkan langkahnya saat melihat dua orang yang di kenalnya mendekat ke arahnya.


"Jo, kamu disini?" tanya Davin saat Asisten Jo sudah di dekatnya. Dia menatap Asisten Jo dan Mila bergantian.


"Iya Tuan. Istri saya ngotot minta kesini saat mendengar Nona Aluna hendak melahirkan," jawab Asisten Jo sedangkan Mila sudah masuk ke ruangan untuk melihat bayi Aluna.


"Selamat Nyonya Muda Alexander," sapa Mila, dia mendudukkan tubuhnya di samping Aluna yang telah selesai di bersihkan.


"Terima kasih ya Mil. Kamu juga perutnya udah buncit banget sih," kata Aluna sambil mengusap lembut perut Mila.


"Masih tiga minggu lagi perkiraannya, tapi aku udah kaya nenek-nenek Lun. Bentar-bentar pinggangku encok," celoteh Mila sambil mengusap-usap pinggang bawahnya. Davin masuk bersama Asisten Jo dan berdiri di samping mereka berdua.


"Terima kasih banyak ya, Jo." Aluna tersenyum membalas ucapan Asisten Jo. Tiba-tiba seorang perawat masuk dengan membawa bayi Aluna di gendongannya.


"Ini putri anda, Nyonya." Perawat itu menaruh bayi itu di dekat Aluna, wajah Mila langsung terlihat begitu sumringah.


"Wah, calon mantu ku cantik sekali. Lihatlah mas, calon istri Nathan sangat cantik," kata Mila percaya diri. Semua langsung berdecih sebal mendengar perkataan Mila itu.


"Jangan terlalu percaya diri," cibir Asisten Jo kepada istrinya itu.


"Aku kan cuma berdoa mas, siapa tahu nanti doaku di kabulkan Tuhan. Memang kamu gak mau mas? Besanan sama keluarga Alexander," Asisten Jo langsung menatap tajam ke arah Mila. Aluna dan Davin hanya menggelengkan kepalanya melihat mereka.


"Tenang ya, calon mantu aunty. Sebentar lagi aunty bakal kasih teman buat kamu,"

__ADS_1


"Teman apa Mil?" tanya Aluna seraya menautkan kedua alisnya.


"Teman hidup juga boleh Lun. Bentar lagi juga aku bakal brojol Lun," kata Mila lantang. Namun, sesaat kemudian dia mengernyit sakit.


"Mas, kayaknya aku bakal lahiran deh," kata Mila sambil mengelus-elus perutnya.


"Gak usah drama," ketus Asisten Jo, dia tidak percaya pada Mila karena Mila sering sekali mengerjai dirinya untuk mencari perhatian.


"Aku gak drama mas, beneran. Kayaknya dedek Cacha Maricha hehey bakal lahir deh," seloroh Mila di sela ringisan rasa sakitnya. Aluna dan Davin langsung terkekeh mendengar ucapan Mila.


"Nama anakmu lucu sekali, Mil," ucap Aluna sambil menahan tawanya.


"Gak usah bikin lelucon," Asisten Jo masih belum percaya.


"Aku gak nglawak mas, beneran ini dedek mau brojol mas," Mila mencengkeram sprei yang dia duduki dengan kuat. Asisten Jo langsung khawatir, kebetulan sekali Dokter Mery datang ke ruangan itu karena akan memeriksa keadaan Aluna.


"Kenapa Nyonya?" tanya Dokter Mery saat melihat Mila yang mengernyit kesakitan.


"Perut saya sakit sekali Dok. Kayaknya saya mau brojol deh," jawab Mila sambil menahan rasa sakitnya. Tanpa banyak bicara Asisten Jo langsung mengambil kursi roda dan mendudukkan tubuh Mila di kursi roda itu.


"Biar saya periksa, mari ikut saya," kata Dokter Mery sambil berjalan menuju ruang bersalin. Sedangkan Aluna dan Davin memandang kepergian mereka dengan perasaan yang susah di jelaskan.


Semoga persalinannya lancar ya Mil, kita tunggu baby Cacha Maricha Hehey lahir.


Jangan pada kabur dulu, ayo balikk balikk


beri dukungan buat author dulu ya, kasiah like, hadiah ataupun vote oke. Terima kasih

__ADS_1


Salam sayang dari author recehan.


__ADS_2