
"Bagaimana kabarmu Mil?" tanya Aluna, kini dia sedang duduk berdua di sofa ruang tamu. Mila tersenyum melihat Aluna, apalagi dengan perut buncitnya.
"Sangat baik Lun, kamu sendiri bagaimana? Kayaknya keponakanku ini mau lahir ya," sahut Mila sambil mengusap-usap perut Aluna.
"Masih lama, sekitar satu setengah bulan lagi. Aku bahagia sekali akhirnya kamu bisa sembuh seperti sedia kala," Aluna memeluk Mila, Mila pun membalas pelukan Aluna.
"Terimakasih banyak ya Lun, kamu banyak membantuku," ucap Mila tulus, Aluna melepaskan pelukannya.
"Harusnya kamu banyak berterimakasih pada Jo, dia yang lebih banyak membantumu," senyum Mila memudar, berganti wajah yang penuh kebimbangan. Aluna pun menyadari itu.
"Mil, kenapa? Apa Jo berbuat macam-macam padamu?" tanya Aluna hati-hati. Mila menggeleng pelan.
"Dia justru sangat baik padaku Lun, dia sabar sekali menemaniku sampai aku sembuh. Dia begitu telaten dan sangat menjagaku," lirih Mila, dia teringat bagaimana Asisten Jo sangat menjaganya selama berobat.
"Apa kamu mulai menyukainya?" tanya Aluna lagi, Mila menggeleng pelan. Aluna langsung mendesah kecewa.
"Aku tidak akan berharap lebih padanya Lun. Saat aku merasa nyaman di dekatnya, aku akan berusaha mengubur dalam-dalam perasaanku ini. Aku tahu dia menjagaku karena baktinya kepada suamimu. Karena aku sahabat baikmu. Jadi, aku selalu menyakinkan hatiku jangan sampai aku berharap lebih padanya," Mila menghentikan ucapannya.
"Kalau dia menjagamu karena dia sayang padamu, karena dia tulus mencintaimu bagaimana?" Mila terdiam mendengar pertanyaan Mila.
"Aku tidak pantas untuknya Lun. Kamu tahu sendiri sekarang aku sudah bukan gadis suci lagi. Aku yakin, Tuan Johan akan mendapat gadis baik-baik dan sederajat dengannya," ucap Mila berat, dia berkali-kali menghembuskan nafas kasar. Tiga bulan hidup bersama, bohong bila Mila tidak menyimpan rasa cinta untuk Asisten Jo, namun dia harus mengubur dalam-dalam perasaannya. Dia harus sadar siapa dia, pantaskah bersanding dengan Tuan Johan?
"Lun, sebelum Dimas merenggut kesucianku. Dia berkali-kali berkata bahwa aku tak pantas bersanding dengan Tuan Johan Saputra. Kita bagai bumi dan langit, Tuan Johan Saputra anak tunggal Tuan Andri Saputra, tangan kanan Tuan Doni Alexander yang kini telah pensiun, bahkan Tuan Doni sudah menyiapkan satu perusahaan untuk mereka karena pengabdian mereka. Pantaskah aku untuknya?" Mila terdiam sesaat, dia teringat semua ucapan Dimas yang merendahkan harga dirinya. Aluna masih diam mendengarkan, dia tahu Mila sedang menahan tangisnya.
"Aku ini siapa Lun? Hanya gadis miskin yang harus kerja banting tulang karena di tinggal ayahnya sejak remaja. Harus bisa berpijak di atas kakiku sendiri bahkan kini, tubuhku sudah kotor. Jadi, mana mungkin aku pantas bersanding dengan Tuan Johan,"
__ADS_1
"Mil...." Mila menoleh, dia menatap Aluna dalam, airmata Mila kini telah menetes membasahi pipinya.
"Kau tahu, cinta itu tidak memandang apapun dan tidak peduli alasan apapun. Dia hadir begitu saja, tanpa kita bisa mencegahnya. Setelah Jo menemukanmu, dia sangat menyesal karena telah terlambat menyelamatkanmu. Sebelum kamu berobat ke luar negeri, Jo meminta restu sendiri pada ibu mu. Dia berjanji akan meminangmu setelah kamu sembuh, bahkan Tuan Andri pun sudah menyetujui hubungan kalian. Jadi, sekarang tinggal menunggu keputusan kamu," Mila terkejut mendengar ucapan Aluna. Dia tidak tahu jika Asisten Jo sudah meminta restu kepada ibunya bahkan keluarga Asisten Jo juga sudah menyetujui.
"Aku menunggu keputusan darimu, jika memang kamu mau menerimaku maka aku akan segera menikahimu jika kamu menolak maka aku akan pergi jauh dari hidupmu. Biar aku kubur dalam perasaanku ini," Mila menatap ke arah pintu, tubuhnya menegang saat melihat Asisten Jo berjalan ke arahnya.
"Tu-tuan," panggil Mila gugup, Asisten Jo menatap wajah Mila lekat, membuat Mila menjadi salah tingkah.
"Aku hitung sampai tiga, jika kamu tidak menjawab maka aku akan benar-benar pergi dari sini," ancam Asisten Jo, Mila balik menatap Asisten Jo. Pandangan mereka bertemu, Mila bisa melihat kesungguhan dari mata Asisten Jo.
"Satu..." Asisten Jo masih memandang Mila, menunggu jawaban Mila dengan harap-harap cemas.
"Dua..." Mila masih terdiam, tidak ada tanda dia akan membuka mulutnya. Asisten Jo menghela nafas panjang.
"Ti..."
"Terimakasih kamu sudah mau menerimaku," ucap Asisten Jo dengan bahagia.
"Kenapa kamu tidak memeluk Mila, Jo?" tanya Aluna heran karena Asisten Jo masih berdiri pada posisinya. Hanya saja wajahnya menampilkan raut kebahagiaan.
"Nona, saya tidak seperti anda dan Tuan Muda yang bermesraan di sembarang tempat tanpa peduli orang lain," Sindir Asisten Jo sambil melirik Aluna yang masih duduk santai.
"Bilang saja kamu mengusirku Jo," kesal Aluna sambil bangun dan berjalan masuk ke ruang dalam.
"Terimakasih atas kesadaran diri anda, Nona," ucap Asisten Jo dengan senyum simpul. Aluna tidak menjawab, dia hanya berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
"Apa anda akan menciumku Tuan?" Asisten Jo tersenyum mendengar pertanyaan Mila, dia berjalan semakin mendekati Mila membuat Mila menjadi sangat gugup.
"Tu-tuan," tubuh Mila terlihat bergetar. Asisten Jo langsung memeluk erat tubuh Mila.
"Aku tidak akan menciummu, aku hanya akan memelukmu saja," lirih Asisten Jo, membuat jantung Mila berdebar begitu cepat. Apalagi saat tubuh Asisten Jo memeluknya, dia merasa begitu nyaman.
"Terimakasih ya sudah bersedia menikah denganku," Asisten Jo melepas pelukannya, dia menangkup kedua pipi Mila.
"Saya juga berterimakasih anda sudah tulus menerima saya apa adanya Tuan," sahut Mila, mereka pun berpandangan. Tatapan yang penuh cinta, hingga tanpa sadar Asisten Jo memajukan wajahnya. Mila terdiam, wajahnya telah merona. Dia memejamkan matanya saat merasakan hembusan nafas Asisten Jo terasa hangat menerpa wajahnya. Asisten Jo menatap bibir sexy Mila, ingin sekali dia mencumbu Mila saat ini juga. Saat bibir Asisten Jo sudah menempel di bibir Mila, dia ikut memejamkan matanya.
"Ehem!" Suara deheman membuat mereka berdua berjengkit kaget.
"Gerahnya..." goda Davin sambil berjalan masuk ke dalam rumah seolah tidak ada apa-apa.
"Anda jahat sekali Tuan!" Protes Asisten Jo, sedangkan Mila hanya menunduk, dia merasa gugup dan juga malu.
"Jahat yang bagaimana Jo? Aku kesini kan mau jemput istriku," Davin pura-pura tidak paham.
"Anda masuk di waktu yang tidak tepat Tuan," Asisten Jo masih terlihat begitu kesal.
"Justru aku masuk di waktu yang tepat Jo. Kalau aku gak masuk bisa-bisa kamu lupa daratan," Davin masih membela dirinya.
"Mas, kamu sudah dari tadi?" tanya Aluna. Dia berjalan mendekat ke arah Davin. Begitu Aluna telah dekat, Davin langsung menarik tubuh Aluna, mencium bibir Aluna lembut.
"Pergilah Tuan!" usir Asisten Jo kesal namun Davin hanya tertawa lebar.
__ADS_1
Sekarang rasakan kamu Jo, bagaimana rasanya lagi mesra-mesraan tapi di ganggu.
Asisten Jo mendengus kesal saat melihat senyum licik di bibir Davin. Aluna hanya memandang mereka berdua bingung, sedangkan Mila hanya menundukkan kepala karena dia masih sangat malu.