Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
39


__ADS_3

"Jangan kurang ajar Tuan Davin yang terhormat! Kamu sudah mencuri ciuman pertamaku dan sekarang kamu mencurinya lagi untuk yang kedua kalinya. Sungguh, aku benar-benar membencimu!" bentak Aluna sambil menahan airmatanya.


"Bukankah kamu juga menikmatinya Lun?" tanya Davin dengan nada mengejek. Aluna pun terdiam, dia tahu ini memang bukan salah Davin sepenuhnya karena Aluna juga menikmatinya namun Aluna tetap menyalahkan Davin karena pesonanya yang telah menghanyutkan.


"Sudahlah, lupakan semua yang telah terjadi. Anggap saja tidak pernah terjadi apapun di antara kita!" tegas Aluna hendak berlalu pergi namun Davin menahan tangannya lagi.


"Aku butuh jawaban Lun. Aku benar-benar serius mencintaimu," ucap Davin sambil menatap Aluna, Aluna yang di tatap lekat pun mencoba mengalihkan pandangannya.


"Beri aku waktu," kata Aluna lirih.


"Sampai kapan?" tanya Davin memastikan.


"Entahlah, sampai aku yakin pada perasaanku sendiri. Aku permisi," pamit Aluna. Namun lagi-lagi Davin menahan tangannya, kemudian Davin melepaskan jas yang di pakainya dan memakaikan pada Aluna. Aluna hanya menurut.


"Jangan tampilkan punggung dan bahu mu pada orang lain," kata Davin kemudian dia berlalu pergi. Aluna melongo melihat kepergian Davin.


aku yang pamit kenapa dia yang pergi si? Dasar orang aneh. Umpat Aluna dalam hati kemudian dia pun ikut masuk kembali ke acara dengan jas Davin yang masih menempel di bahunya.

__ADS_1


Sesampainya di dalam Davin langsung menghampiri ibunya. Kebetulan Tuan Bagaskara dan istrinya sudah pergi dari sana.


"Mom, gaun yang dipakai Aluna itu mommy yang pilihin kan?" tanya Davin dengan nada kesal.


"Emang kenapa?" Nyonya Anita malah bertanya balik.


"Selera mommy benar-benar buruk!"


"Buruk gimana? Bukankah Aluna jadi sangat cantik?" tanya Nyonya Anita heran.


"Astaga Vin, belum jadian aja kamu udah bucin gitu, lebih parah dari kakak," ejek Marvel di sela-sela tawanya. Davin yang di ejek pun hanya merona menahan malu. Asisten Jo melihat Aluna masuk dengan memakai gaun yang di balut jas kemudian dia menatap Tuan Mudanya ternyata sudah tidak memakai jas. Dia pun tersenyum simpul.


"Jas anda kemana, Tuan?" tanya Asisten Jo. Semua berhenti tertawa kemudian menatap ke arah Davin.


"Ku buang!" jawab Davin dengan ketus.


"Anda yakin Tuan? Terus yang di pakai Nona Aluna jas siapa?" Asisten Jo berusaha menggoda Tuan Mudanya itu. Semua pun menatap ke arah Aluna yang sedang berjalan menghampiri kedua orang tua angkatnya.

__ADS_1


"Jangan berbohong Vin. Bilang saja kamu sudah bucin," Marvel tak gentar meledek adiknya itu. Merasa jadi bahan ledekan Davin pun berdecak kesal.


"Jo!" panggil Davin dengan nada cukup keras.


"Iya Tuan," Asisten Jo kemudian menghentikan tawanya. Semua juga berhenti tertawa saat melihat muka Davin yang serius.


"Kenapa waktu Ibu Aluna meninggal Tuan Bagaskara dan istrinya tidak datang? Bukankah mereka orang tua angkat Aluna? Kamu pasti tau jawabannya Jo," Nada intimidasi begitu terlihat dari cara bicara Tuan Davin.


"Karena kebetulan mereka sedang perjalanan bisnis ke Eropa Tuan. Mereka baru tiba tiga hari setelah meninggalnya Ibu Nona Aluna," jelas Asisten Jo. Tuan Davin menendang tulang kaki Asisten Jo karena begitu geram hingga Asisten Jo merintih kesakitan.


"Kenapa kamu menutupi semuanya dariku Jo?!" bentak Tuan Davin marah.


"Maaf Tuan. Semua karena..."


"Di suruh ayah?!" Tuan Davin memotong perkataan Asisten Jo. Dia benar-benar merasa sangat kesal.


"Bulan ini gak ada gaji buat kamu!" kata Tuan Davin kemudian dia pergi dari situ karena merasa sangat kesal.

__ADS_1


__ADS_2