
Asisten Jo terlihat begitu khawatir, dia berkali-kali menepuk pipi Mila namun tak ada satupun respon dari Mila. Dokter Mery ikut cemas, dia memeriksa keadaan Mila. Keningnya mengkerut saat melihat kondisi Mila semua dalam keadaan baik-baik saja. Melihat Dokter Mery yang terdiam, Asisten Jo semakin merasa khawatir.
"Bagaimana keadaan istri saya dok? Apa dia baik-baik saja?" tanya Asisten Jo tak sabar. Namun, Dokter Mery tetap tidak membuka suaranya. Dia hanya mengamati wajah Mila dengan lekat.
"Tuan, istri.."
"Jangan bilang istri saya meninggal dok! Atau rumah sakit ini aku bakar!" ancam Asisten Jo, menyela ucapan Dokter Mery.
"Istri anda baik-baik saja Tuan. Dia hanya tertidur," jawab Dokter Mery sambil menahan tawanya. Dia tidak habis pikir dengan kelakuan Mila. Dia asyik tertidur lelap padahal suaminya sedang kalang kabut.
"Anda bilang apa, Dok?" tanya Asisten Jo marah. Rahangnya telah mengeras.
"Diamlah mas, aku lelah sekali. Kamu pikir ngeluarin bayi itu gak butuh tenaga ekstra, bahkan aku seperti bermain sepuluh ronde denganmu," sahut Mila dengan mata terpejam.
"Mila! Kamu menyebalkan!" bentak Asisten Jo kesal.
"Terima kasih mas, aku tahu kok kalau aku cantik," ucap Mila santai masih dengan memejamkan matanya. Dokter Mery dan perawat di situ hanya tertawa melihat kelakuan ajaib Mila. Biasanya sehabis melahirkan tubuh akan lelah tapi Mila masih sempat bercanda bahkan membuat suaminya marah.
oee oee oee
Suara bayi itu terdengar nyaring di ruangan itu. Mata Mila langsung terbuka lebar, dia melihat Asisten Jo yang sedang mengambil bayi itu dari gendongan perawat.
"Lihatlah, dia tampan sekali," ucap Asisten Jo sambil menunjukkan wajah bayi itu di depan Mila.
"Wah, tampan sekali. Untung saja aku selalu memuji pria tampan," angkuh Mila, Asisten Jo menatap tajam ke arah istrinya yang slenge'an itu.
"Kamu pikir...."
"Ya mas, aku tahu bibit ketampanan itu dari kamu. Terima kasih ya sayang," rayu Mila. Dia menghentikan Asisten Jo yang hendak marah-marah. Asisten Jo pun hanya diam, dia sudah lelah menghadapi istrinya yang menyebalkan itu.
"Di mana cucu ibu, Jo?" Nyonya Rina masuk bersama Tuan Andri. Dia langsung menggendong cucu pertamanya itu. Wajah kebahagiaan terpancar jelas di wajah kedua orang tua itu. Hati Mila merasa berdenyut sakit. Tiba-tiba dia teringat almarhum ibunya. Harusnya, saat ini dia bisa melihat senyum ibunya saat melihat cucu nya sudah lahir. Tanpa terasa, setitik airmata jatuh dari sudut mata Mila dan Asisten Jo menyadari itu. Dia berjalan mendekati Mila, mencium keningnya lama. Rasanya ingin sekali Asisten Jo memeluknya, akan tetapi Mila belum boleh bergerak bebas dulu.
"Aku mencintaimu," bisik Asisten Jo lirih sambil mengusap wajah Mila dengan lembut. Tangis Mila bukannya mereda tapi justru semakin terisak.
__ADS_1
"Kenapa kamu menangis? Diamlah, aku yakin ibu pasti bahagia melihat cucunya dari atas sana," ucap Asisten Jo berusaha menenangkan Mila yang semakin terisak.
"Aku nangis karena kamu mas?!" suara Mila terdengar parau
"Kenapa aku?" tanya Asisten Jo bingung.
"Kenapa kamu kalau bilang cinta pas aku sedih terus sih mas. Apa kamu bahagia kalau aku sedih ?!" tuduh Mila. Asisten Jo menghela nafas panjang, sedangkan kedua mertua Mila, menggelengkan kepalanya. Mereka sudah paham bagaimana Mila. Saking gemasnya, Asisten Jo menyentil kening Mila cukup keras hingga Mila mengaduh kesakitan.
"Istri habis bertaruh nyawa, kenapa kamu sakiti,Jo?" tanya Aluna yang baru saja masuk bersama Davin.
"Nyonya Muda Alexander, selamat datang," Sapa Mila masih dengan terbaring karena dia belum di perbolehkan untuk duduk.
"Sehat kamu Mil? Katanya masih satu bulan lagi kok udah lahir aja,"
"Si dedek udah gak sabar mau lihat indahnya dunia," jawab Mila sambil tersenyum.
"Cewek atau cowok Mil?" tanya Aluna lagi, dia menatap Mila penuh arti.
"Cowok Lun," jawab Mila. Aluna dan Davin langsung tersenyum lebar.
"Kita gak jadi besanan," tambah Aluna. Senyum di bibir Mila langsung memudar begitu saja.
"Kamu jahat sekali, Nona Muda," Mila mencebikkan bibirnya kesal.
"Selamat ya Jo, akhirnya kamu sudah resmi jadi seorang ayah," ucap Davin tulus.
"Terima kasih banyak, Tuan," balas Asisten Jo.
"Anak kamu tampan sekali, Mil?" puji Aluna saat melihat wajah bayi mungil itu.
"Tentu saja dong. Bibit unggul itu Lun," Bangga Mila, Aluna mencium lembut pipi bayi itu.
"Uluhhh jadi pengen punya dedek bayi lagi," kata Aluna sambil mengusap pipi bayi Mila itu.
__ADS_1
"Ayo sayang, kita buat adik buat baby Al," ajak Davin dengan menaik-turunkan alisnya.
"Mas, baby Al aja belum bisa jalan udah mau di kasih adik, kamu pikir aku ini pabrik anak!" Ketus Aluna. Davin langsung mencium pipi Aluna dengan lembut.
"Jangan marah-marah, nanti cantiknya luntur loh," rayu Davin. Aluna memalingkan wajahnya yang telah merona merah.
"Nama anak kamu siapa, Jo?" tanya Tuan Andri sambil menatap cucu lelakinya.
"Jangan bilang kamu mau meniru aku, Jo. Namanya Lahan saja," celetuk Davin. Asisten Jo langsung menatap sebal ke arah Davin.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Bukankah benar, Lahan alias Mila dan Johan," Davin berusaha menahan tawanya.
"Diamlah Tuan Muda! Saya tidak senorak anda," sarkas Asisten Jo. Davin langsung mendelik ke arah Asisten Jo.
"Terus mau di kasih nama siapa Jo?" tanya Aluna untuk menghentikan dua makhluk hidup yang tak pernah akur itu.
"Yang jelas, saya tidak akan menggabungkan nama saya dan istri saya. Tidak kreatif sekali," sindir Asisten Jo, Davin berdecak kesal.
"Memang sekeren apa nama anak kamu?" tanya Davin penasaran.
"Memang siapa anak kamu, Jo?" tanya Tuan Andri yang juga penasaran.
"Jonathan Saputra," jawab Asisten Jo dengan senyum mengembang di sudut bibirnya. Semua menghembuskan nafas kasar
"Sama-sama tidak kreatif!" ejek Davin sebal.
"Berbeda Tuan, saya kan tidak menggabungkan nama saya dan istri saya," sanggah Asisten Jo tak terima.
"Tapi kamu memberi nama anak kamu Jonathan, kalau nama kamu dan anak kamu di singkat jadi Jojo,"
"Saya cuma mau menegaskan bahwa dia benar-benar anak saya bukan anak pria-pria tampan yang selalu di puja-puja istri saya. Apalagi duda beranak dua itu," sindir Asisten Jo kepada Mila.
"Duda siapa maksud kamu?!" Suara dari pintu ruangan mampu mengalihkan perhatian semua yang berada di ruangan itu, hingga mereka semua menatap ke arah pintu.
__ADS_1
Gak usah bilang makasih kalau author udah baik hati. Kasihan babang Jo kalau harus jadi duda.
Salam sayang dari author recehan