Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
41


__ADS_3

"Udah belum Lun? Keburu ketinggalan pesawat kita," teriak Ronal dari bawah. Aluna pun berlari menuruni tangga dengan gaya tomboy nya tak lupa juga topi yang bertengger di kepalanya.


"Astaga, ini anak satu kapan feminimnya sih? Kalau kaya gitu kapan dapet cowok?"


"Ah kakak bawel banget sih?"


"Lagian kamu juga lucu. Kakak mau honeymoon pake ikutan segala, dikira kita lagi piknik?" keluh Ronal, mereka bertiga pun berjalan menuju mobil.


"Aku kan gak gangguin kakak honeymoon, kan disana lagi ada event makanya Aluna mau ikut. Lagian daripada lihat orang ajep-ajep mendingan cuci mata cari cowok bule siapa tau ada yang naksir," kata Aluna sambil menaik turunkan alisnya.


"Aaduuhh aaduuuhh sakit kak!" teriak Aluna sambil memegang telinganya yang dijewer Ronal.


"Kamu itu kalau ngomong suka semaunya sendiri. Anak perawan kok kaya gini," Ronal melepaskan jewerannya. Aluna langsung mengusap telinganya yang memerah. Sisil hanya tertawa melihat mereka berdua. Lima tahun berpacaran dengan Ronal, membuat Sisil paham jika Ronal dan Aluna bertemu pasti ada saja tingkah mereka yang bikin tertawa. Kemudian mereka bertiga masuk mobil dan menuju ke Bandara.


-----------@@@-------


"Jo... " panggil Tuan Davin lirih.


"Iya Tuan." Suasana kembali hening.


"Jo... " panggil Tuan Davin lagi.


"Iya Tuan." Asisten Jo mendengus kesal. Sudah tujuh kali Tuan Davin memanggilnya namun tak ada satupun obrolan yang Tuan Davin ucapkan.


"Jo... " panggil Tuan Davin lagi. Asisten Jo diam tidak menjawab. Setelah beberapa saat Asisten Jo tetap tidak menjawab Tuan Davin kemudian membalikkan tubuhnya menatap Asisten Jo.


"Kenapa kamu diam saja, waktu aku panggil Jo? Apa telingamu tuli?!" tanya Tuan Davin kesal.

__ADS_1


"Telinga saya masih bisa mendengar dengan baik Tuan. Saya hanya lelah meladeni gurauan anda," Jawab Asisten Jo.


"Siapa yang bergurau?!" Nada Tuan Davin masih terdengar kesal.


"Tuan, delapan kali anda memanggil saya tapi anda tidak memberi perintah apapun,"


"Jadi kamu mau aku beri perintah?!"


"Terserah Tuan saja, biasanya setelah anda memanggil saya pasti ada saja yang anda harus saya lakukan,"


"Kalau begitu kamu kuberi tugas," kata Tuan Davin sambil tersenyum licik. Asisten Jo hanya menghela nafas panjang. Pasti bukan tugas yang biasa.


"Tugas apa Tuan?"


"Jemput Aluna," jawab Tuan Davin singkat.


"Terserah kamu bagaimanapun caranya saya tidak peduli yang penting saya bisa melihat wajah Aluna,"


"Kenapa anda tidak menyusulnya saja," saran Asisten Jo. Tuan Davin pun beranjak bangun.


"Anda mau kemana Tuan?" Pertanyaan Asisten Jo menghentikan Tuan Davin yang hendak melangkah.


"Menyusul Aluna," jawab Tuan Davin singkat.


"Anda tidak bisa sembarangan ke luar negeri Tuan. Banyak agenda rapat yang masih harus anda datangi,"


"Terus aku harus bagaimana?" tanya Tuan Davin frustasi.

__ADS_1


"Kenapa anda tidak menghubunginya?" saran Asisten Jo.


"Benar juga ya," Tuan Davin pun mengeluarkan ponselnya. Asisten Jo hanya menahan tawanya.


"Tapi Tuan.."


"Apalagi Jo?!" Tuan Davin terlihat begitu kesal.


"Apakah anda punya nomer ponsel Nona Aluna?" Pertanyaan Asisten Jo berhasil membuat Tuan Davin terdiam. Dia langsung menggebrak meja kerjanya dengan keras hingga membuat Asisten Jo terjengkit kaget.


"JOO!!!" teriak Tuan Davin marah.


memang cinta bisa membuat orang pintar menjadi sangat bodoh. batin Asisten Jo sambil menahan tawanya.


"Jangan mengataiku bodoh?!" Bentak Tuan Davin.


"Saya tidak bicara apapun Tuan,"


"Aku tau kamu mengataiku dalam hati,"


"Apa anda punya indera keenam Tuan?"


"Keseratus indera pun aku punya?! Cepat sana cari nomer telepon Aluna," perintah Tuan Davin.


"Tidak usah dicari, Tuan. Karena saya juga punya nomer Nona Aluna," kata Asisten Jo santai.


"Astaga Jo! Ingin rasanya aku membunuhmu saat ini juga!" bentak Tuan Davin dengan muka merah padam karena menahan amarah yang begitu besar. Asisten Jo hanya tersenyum seolah tak bersalah.

__ADS_1


__ADS_2