
"Bunda.. bunda.. " Rayhan mengetuk pintu kamar Mila, namun tak ada sahutan sama sekali. Ibu Eni yang sedang di dapur langsung mendekat ke arah Rayhan, karena sedari tadi Rayhan memanggil Mila.
"Kenapa Ray?" tanya Ibu Eni.
"Bunda kemana nek?" Rayhan bertanya balik. Ibu Eni mengerutkan keningnya.
"Mungkin bunda masih tidur," jawab Ibu Eni sambil membuka pintu kamar Mila. "Gak dikunci kok Ray," tambah Ibu Eni. Begitu masuk kamar Mila, Ibu Eni mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Mila, namun tak ada satupun tanda-tanda keberadaan Mila bahkan di kamar mandi sekalipun.
"Kemana itu anak, baru jam segini udah pergi," gumam Ibu Eni sambil berjalan ke ruang tamu, dimana kedua anak buah Asisten Jo sedang duduk santai.
"Kalian bangun jam berapa Tuan?" tanya Ibu Eni, karena melihat mereka yang sudah bugar.
"Sekitar setengah lima Nyonya," jawab mereka sopan.
"Kalian melihat Mila keluar rumah tidak?" tanya Ibu Eni, mereka saling menatap bingung.
"Tidak Nyonya, sedari tadi kami tidak melihat keberadaan Nona Mila," Deg. Jantung Ibu Eni terasa berdetak begitu cepat, perasaannya mulai tak enak.
"Tapi Mila tidak ada di kamarnya, dia tidak pernah pergi sepagi ini. Kalaupun dia mau pergi pasti izin dulu," ucap Ibu Eni khawatir.
"Kita cek di kamarnya saja Nyonya kalau tidak kita hubungi nomer ponselnya," saran salah satu di antara mereka. Ibu Eni langsung berlari ke kamarnya mengambil ponsel kemudian berjalan masuk ke kamar Mila, Ibu Eni melihat Rayhan yang sedang duduk di atas tempat tidur Mila dengan wajah sedih.
"Bunda mana nek?" tanya Rayhan hendak menangis.
"Sebentar ya, kita telepon bunda dulu,"Ibu Eni berusaha menenangkan Rayhan. Dia segera menghubungi nomer Mila namun suara dering ponsel Mila terdengar menggema di kamar itu.
"Ponselnya disini Nyonya," ucap salah satu pengawal itu sambil menyerahkan ponsel Mila yang tergeletak di bawah tempat tidur. Perasaan Ibu Eni langsung merasa tak karuan.
"Kamu kemana Mil? Semoga kamu baik-baik saja," ucap Ibu Eni sedih. Salah satu pengawal itu pun langsung menghubungi Asisten Jo.
"Selamat pagi Tuan, Maaf Tuan, Nyonya Mila hilang entah kemana Tuan," kata mereka gugup sekaligus takut.
__ADS_1
"Bagaimana bisa?! Apa kalian bodoh?!" Tuutt tut tut. Panggilan itu langsung terputus. Tubuh mereka berdua gemetar, mereka harus siap menghadapi kemarahan Asisten Jo. Ibu Eni memeluk Rayhan yang sedang menangis, dia begitu cemas dengan Mila. Berbagai doa dia ucapkan berkali-kali, semoga Mila baik-baik saja.
Lima belas menit kemudian, sebuah mobil hitam berhenti di depan pelataran rumah Mila. Asisten Jo berjalan dengan langkah tergesa-gesa. Begitu masuk ke kamar Mila, dia melihat Ibu Eni sedang memeluk Rayhan di atas tempat tidur, sedangkan kedua pengawalnya berdiri tidak jauh dari mereka.
"Bagaimana bisa Mila hilang?!" tanya Asisten Jo dengan nada tinggi, dia berusaha menahan amarahnya di depan Rayhan.
"Kalian berdua ikut aku!" perintah Asisten Jo sambil berjalan keluar kamar di ikuti kedua anak buahnya. Begitu sampai di ruang tamu, Asisten Jo langsung memukul kedua anak buahnya dengan keras.
"BODOH!!" umpat Asisten Jo dengan amarah yang memuncak.
"Ma-maaf Tuan," ucap mereka tergagap. Jujur, mereka sangat takut jika harus menghadapi Asisten Jo yang sedang marah.
"Kalian pikir dengan ucapan maaf kalian, Mila bisa ketemu!" Bentak Asisten Jo penuh emosi. Asisten Jo hendak memukul mereka berdua lagi, namun gerakannya terhenti saat mendengar suara anak kecil memanggilnya.
"Ayah," panggil Rayhan lirih. Asisten Jo menoleh, menatap Rayhan yang sedang menatapnya takut. Asisten Jo bergegas mendekat ke tempat Rayhan yang sedang berdiri di samping sofa di ruang tamu itu.
"Rayhan," panggil Asisten Jo sambil memeluk Rayhan erat. Rayhan menangis terisak dengan wajah ketakutan dan tubuh yang gemetar.
"Ayah jangan marah-marah," ucap Rayhan di sela isak tangisnya. Asisten Jo semakin memeluk erat tubuh kecil Rayhan. Setelah Asisten Jo merasakan tubuh Rayhan sedikit tenang, Asisten Jo melerai pelukannya, mengambil ponsel di saku celananya, kemudian menghubungi Mike, tangan kanannya.
"Mike kamu retas semua cctv di sekitar rumah Mila, jangan sampai ada yang terlewat sedikitpun. Aku ingin segera mendapatkannya, lebih dari lima belas menit, nyawamu taruhannya," titah Asisten Jo penuh penekanan. Dia langsung mematikan panggilan itu tanpa menunggu jawaban dari Mike. Asisten Jo menghela nafas panjang.
Seperti inikah dulu perasaan Tuan Davin saat Nona Aluna menghilang. Kenapa rasanya begitu menyakitkan ! Mila, kamu dimana? ku harap kamu baik-baik saja. Kalau memang kita di pertemukan kembali. Aku janji akan menikahimu, membuat hidupmu bahagia bersama Rayhan.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Davin sudah siap ke kantor bersama Aluna yang berjalan mengikuti Davin di sampingnya. Begitu sampai di luar, Aluna menatap heran karena bukan Asisten Jo yang berada di samping mobil.
" Jo kemana mas?" tanya Aluna saat mereka sudah masuk ke mobil.
"Sayang, kalau aku bilang Jo kemana kamu janji jangan cemas ya," pinta Davin, dia takut Aluna akan shock kalau mendengar Mila menghilang. Aluna menatap Davin penuh tanya.
__ADS_1
"Jo sedang mencari Mila, semalam Mila menghilang," ucap Davin, Aluna langsung menatap tak percaya pada Davin.
"Sayang, kamu janji jangan sedih ya, kasian anak kita di dalam sini. Kami sedang berusaha mencari keberadaan Mila." Davin berusaha menenangkan Aluna yang mulai terlihat gelisah, dia berkali-kali mengusap lembut perut Aluna dan terkadang merasakan gerakan-gerakan ringan disana.
"Mas," panggil Aluna berat, Davin tahu Aluna sedang menahan tangisnya.
"Coba suruh Jo ke kota XX, entah mengapa hatiku mengatakan kalau Dimas membawa Mila kesana, karena disana ada rumah Nenek Dimas yang sudah lama meninggal," ucap Aluna, Davin langsung memandang Aluna lekat.
"Kamu yakin sayang? Kita butuh waktu tiga jam untuk sampai kesana. Kalau mereka tidak ada disana yang ada kita hanya akan membuang waktu saja sayang,"
"Aku begitu yakin mas, kalau kamu maupun Jo tidak mau, biar aku sendiri yang kesana!" Suara Aluna mulai terdengar meninggi, Aluna merasa sangat khawatir pada Mila, apalagi dia tahu, Dimas adalah orang yang sangat nekat.
"Jangan sayang, kamu harus ingat ada nyawa yang harus kamu jaga," Larang Davin sambil memenggam tangan Aluna erat.
"Aku begitu khawatir pada Mila mas, aku takut terjadi apa-apa pada Mila. Kamu tidak tahu seberapa nekatnya Dimas, dia sangat terobsesi pada Mila,"
"Sabar sayang, biar aku hubungi Jo agar kesana," Davin langsung menghubungi nomer Asisten Jo dan menyuruh Asisten Jo ke tempat yang di katakan Aluna tadi.
Semoga kamu baik-baik saja Mil, semoga perasaanku benar kamu di sana. Semoga Jo tidak terlambat menyelamatkanmu. Setitik aimata menetes dari sudut mata Aluna, Davin dengan segera menghapusnya.
"Semua akan baik-baik saja sayang," ucap Davin, dia menarik tubuh Aluna masuk dalam dekapannya dan mengecup puncak kepala Aluna berkali-kali agar Aluna tenang.
Dag dig dug derr !!!
part selanjutnya akan update besok ya..
jahatnya kamu thorr.. bikin kita penasaran 😆😆
Author tunggu dukungan kalian pemirsah..
salam sayang dari Author recehan
__ADS_1