
Aluna mendekati Davin kemudian mencubit perut Davin, membuat Davin mengaduh kesakitan. Ketiga rekan Aluna menatap tak percaya pada Aluna yang begitu berani sama Davin.
" Ini di kantor jangan panggil sayang, aku kan bawahan kamu " Protes Aluna sambil melepas cubitannya. Davin mengusap bekas cubitan tangan Aluna yang terasa panas.
" Kan gak ada orang sayang " Timpal Davin membuat ketiga rekan Aluna membuang muka, pura-pura tidak melihat.
" Kamu pikir mereka bertiga bukan orang ? juga asisten Jo yang berdiri di belakangmu itu bukan orang ? " Aluna berdecih sebal.
" Kan mereka sudah tahu kita suami istri sayang " Aluna menulikan telinganya. Dia diam tidak merespon perkataan Davin itu.
" Ada apa kamu kesini ? " Tanya Aluna sambil menatap layar komputernya. Semua tertegun melihat Aluna yang terlihat begitu cuek kepada Davin.
" Sayang,, kita ke rumah sakit yuk " Davin duduk di samping komputer, Aluna langsung mendongak menatap Davin penuh tanya.
" Buat apa ? "
" Kak Shania mau lahiran. Dia sudah di rumah sakit dan katanya sekarang bayinya hampir lahir " Aluna tertegun mendengar ucapan Davin, dia langsung beranjak bangun dari duduknya.
" Ayo, tapi ini masih jam kerja " Kata Aluna lirih sambil menundukkan kepalanya.
" Astaga... kamu itu istri pemilik perusahaan ini, dan pekerjaan kamu itu cuma selingan biar kamu gak jenuh " Davin menarik tangan Aluna, mengajaknya ke rumah sakit namun Aluna berusaha meronta.
" Kamu lama sayang "
" Aaaaaa " Aluna berteriak saat tubuhnya terasa melayang karena Davin mengangkat tubuhnya. Dia meronta mencoba turun dari bopongan Davin itu.
__ADS_1
" Kalau kamu berontak jangan salahkan aku kalau kamu jatuh sayang " Aluna langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Davin. Dia membenamkan wajahnya di dada bidang Davin untuk menghindari tatapan dari para karyawan yang melihatnya. Sedangkan ketiga teman Aluna itu berteriak heboh.
" Tuan Davin so sweet sekali... aku juga mau kaya gitu " Citra memegang kedua pipinya, membayangkan adegan-adegan romantis.
" Iya... walaupun Aluna cuek gitu tapi kelihatan banget kalau Tuan Davin sangat menyayangi Aluna "
" Tuan Davin bahkan begitu lembut memperlakukan Aluna " Mereka semua ngobrol heboh membicarakan Aluna dan Davin.
Aluna masih membenamkan wajahnya di dada Davin. Wajahnya sudah merona merah karena Davin sama sekali tidak menurunkannya, bahkan urusan membuka pintu ataupun lift menjadi urusan Asisten Jo yang mengikuti di belakangnya.
🍀🍀🍀🍀🍀
Davin dan Aluna saling menggenggam tangan erat. Bahkan, tangan itu mulai basah karena keringat. Nyonya Anita dan Tuan Doni pun duduk gelisah sambil harap-harap cemas. Sedangkan Asisten Jo berdiri tidak jauh dari Tuan Muda nya, wajahnya pun terlihat tidak tenang.
" Vin ... aku cemas " Kata Aluna lirih. Davin langsung merangkul bahu Aluna, dan menyandarkan kepala Aluna di pundaknya. Bibirnya berkali-kali mengecup lembut puncak kepala Aluna.
" Kenapa lama sekali ? " Aluna mulai tak sabar. Dia begitu khawatir karena hampir satu jam Shania di dalam, belum ada suara bayi yang terdengar. Hanya samar-samar suara Shania yang merintih kesakitan.
" Sabar sayang.. pejamkankan saja matamu, tenangkan pikiranmu " Davin mengusap bahu Aluna pelan. Aluna menurut, dia memejamkan matanya untuk menetralkan kegelisahannya. Hingga saat Aluna hendak terlelap, suara bayi terdengar nyaring sampai keluar ruangan. Semua langsung menghembuskan nafas lega. Aluna langsung memeluk tubuh Davin erat. Wajah semua orang nampak sumringah. Marvel keluar ruangan dengan senyum yang merekah.
" Yah.. Bu.. cucu kalian perempuan dan aku resmi jadi seorang ayah " Teriak Marvel dengan senyum lebar kemudian memeluk kedua orang tuanya. Davin melepaskan pelukannya di tubuh Aluna, ikut bergabung berpelukan bersama mereka bertiga. Bahagia. Semua mata berkaca-kaca. Bagaimana tidak, ini adalah cucu pertama Keluarga Alexander saat ini. Semua menyambut dengan suka cita. Aluna tersenyum menatap kebahagiaan mereka. Terharu. hingga tanpa sadar airmata mengalir membasahi pipinya. Dengan cepat ia langsung menghapus airmata itu. Asisten Jo mendekat, menyerahkan sebuah sapu tangan kepada Aluna, Aluna langsung mendongak menatap Asisten Jo dalam.
" Apa anda terluka Nona, Tuan Davin melepas anda begitu saja. Tidak membawa anda berpelukan bersama mereka ? " Tanya Asisten Jo. Karena Davin belum sadar jika dia meninggalkan istrinya.
" Tidak Jo " Aluna tersenyum menatap mereka yang masih erat berpelukan.
__ADS_1
" Aku justru bahagia melihat mereka begitu bahagia Jo, Aku menangis karena terharu. Pasti mereka sangat bahagia saat ini bisa mendengar suara bayi lagi " Ada nada getir dalam ucapan Aluna. Ya... Aluna sangat bahagia, tapi seperti ada yang mencubit hatinya. Dia menggigit bibir bawahnya cukup erat untuk menahan air mata yang hendak keluar lagi.
" Anda yakin Nona ? " Asisten Jo memastikan, karena dia bisa melihat ada nada kesedihan dalam suara Aluna.
" Iya Jo. Semoga kebahagiaan selalu melimpahi keluarga mereka " Aluna memejamkan matanya, merasakan campuran rasa yang hadir saat ini. Bahagia, terharu, dan iri. Ya, entah mengapa hatinya merasa iri, pikirannya kembali melayang pada saat dia kehilangan calon buah hatinya. Dia mengusap perutnya pelan. Dan itu tidak luput dari penglihatan Asisten Jo.
" Sabar Nona, saya yakin anda akan segera mendapat gantinya " Ucap Asisten Jo sopan. Aluna hanya menanggapi dengan senyuman.
" Ibu dan bayi sudah selesai di bersihkan. Pasien sudah bisa di besuk " Suara perawat berhasil melerai pelukan mereka berempat. Mereka langsung masuk begitu saja, meninggalkan Aluna yang masih setia dengan duduknya ditemani Asisten Jo yang tidak sedikitpun beranjak dari tempatnya berdiri.
Begitu bahagianya Tuhan Davin melihat seorang bayi hingga dia melupakan Nona Aluna.
" Mari Nona kita ke dalam " Aluna langsung berdiri dan melangkah masuk ke dalam. Ketika sampai di pintu dia melihat Davin yang sedang menggendong keponakannya itu. Senyumnya begitu merekah hingga membuat wajahnya semakin terlihat tampan. Aluna tersenyum kaku, selama menjadi istri Davin dia tidak bisa melihat senyum Davin yang terlihat begitu bahagia. Dan Aluna kini sadar, bahwa Davin sangat menginginkan seorang anak, pantas saja dia dulu sangat marah saat mengetahui Aluna keguguran.
" Aluna ... " Panggil Shania lemah dengan senyum di wajah pucatnya. Semua langsung terdiam, menyadari kalau mereka telah melupakan Aluna. Mereka menatap wajah Aluna yang tersenyum. Davin langsung menyerahkan keponakannya itu kepada Nyonya Anita.
" Sayang ... maafkan aku melupakanmu " Davin langsung memeluk tubuh Aluna erat, Aluna langsung membalas pelukan itu.
" Gak papa kok, aku tahu kamu sangat bahagia " Aluna melepaskan pelukan Davin. Dia mendekat ke tempat Shania, mencium pipi Shania dengan pipinya.
" Selamat ya kak, semoga kelak keponakanku menjadi anak yang berguna " Doa Aluna. Semua pun mengamini.
" Mom... boleh aku gendong ? " Pinta Aluna lirih. Dia takut tidak di izinkan menggendong bayi itu karena dia belum berpengalaman.
" Tentu saja sayang " Kata Nyonya Anita lembut. Wajah Aluna langsung tersenyum bahagia. Nyonya Anita menyerahkan bayi Marvel kepada Aluna. Aluna menerima dengan senang hati. Meski tangannya masih kaku, dia berusaha sebisa mungkin membuat bayi itu nyaman di dalam gendongannya. Semua menatap bahagia yang melihat Aluna begitu hati-hati menggendong bayi itu.
__ADS_1
" Cantik sekali bayi ini kak " Puji Aluna sambil mencium bayi itu pelan. Davin langsung memeluk erat tubuh Aluna dari belakang. satu tangannya mengusap kepala bayi itu lembut.
" Secantik kamu sayang " Goda Davin. Wajah Aluna merona merah, apalagi posisi mereka yang begitu romantis membuat siapapun yang melihatnya tersenyum bahagia.