
Perusahaan Alexander Group
"Kenapa wajah menyebalkanmu hari ini nampak muram Jo?" tanya Davin, dia menatap Asisten Jo yang sedang sibuk dengan tablet nya.
"Tidak papa Tuan," jawab Asisten Jo singkat tanpa menoleh ke arah Davin.
"Aku bukan orang yang baru saja mengenalmu kemaren sore Jo. Biar aku tebak," Asisten Jo langsung menoleh ke arah Davin, dia melihat senyum mengejek tersungging di bibir Davin.
"Jangan menebak Tuan, saya tahu tebakan anda pasti salah," Asisten Jo kembali menatap layar tabletnya.
"Ish! kan kamu belum tahu apa tebakanku Jo. Apakah kamu tidak penasaran apa tebakanku?" tanya Davin, Asisten Jo menghela nafas panjang.
"Pasti kamu muram karena Mila sedang datang bulan.Benarkan? kalau begitu kita sehati Jo," tawa Davin menggelegar di ruangan itu, namun Asisten Jo hanya menggelengkan kepalanya membuat Davin menghentikan tawanya dan menatap heran ke arah Asisten Jo.
"Kenapa kamu tidak tertawa Jo?" tanya Davin heran.
"Buat apa saya tertawa Tuan, tidak ada yang lucu. Saya justru tidak percaya saja, seorang pemimpin Alexander Group bisa bertingkah ke kanak-kanakan," sindir Asisten Jo sambil tersenyum mengejek membuat Davin menggeram kesal.
"Tuan! saya mau bicara serius," Davin yang hendak marah pun langsung terdiam melihat wajah Asisten Jo yang terlihat sangat serius.
"Ada apa Jo?" tanya Davin, kini dia pun ikut terlihat serius.
"Tuan, Tuan Kevin Adijaya pemilik Adijaya Group sedang mencari anaknya yang hilang dan kemungkinan anaknya itu adalah Rayhan," Davin langsung menatap Asisten Jo.
"Bagaimana kamu bisa bicara seperti itu? bukankah Tuan Kevin baru saja pulang setelah bertahun-tahun di luar negeri?"
__ADS_1
"Iya Tuan, kemarin ibu mertua saya bertemu orang suruhan Tuan Kevin untuk mencari anaknya, bahkan ibu mertua saya di kasih lihat foto anak itu dan wajahnya sangat mirip Rayhan bahkan mereka kembar," Davin terkejut mendengar ucapan Asisten Jo.
"Bagaimana bisa? kalau memang Rayhan anak Tuan Kevin kenapa dulu dia membuangnya dan sekarang dia mencarinya lagi?"
"Itulah yang akan saya cari tahu Tuan," Asisten Jo menghela nafas panjang.
"Kapan pertemuan kita dengan Tuan Kevin?" tanya Davin, dia kembali menatap berkas-berkas di depannya.
"Nanti siang jam satu Tuan," Davin menatap jam di pergelangan tangannya.
"Ini baru jam setengah sepuluh. Coba hubungi dia, kalau bertemu saat ini juga bisa apa tidak?" suruh Davin, Asisten Jo tidak menjawab tapi tangannya langsung mengambil ponsel dan menghubungi nomer Tuan Kevin. Setelah berbincang-bincang, panggilan itupun di matikan.
"Bagaimana Jo?" tanya Davin saat melihat Asisten Jo memasukkan kembali ponselnya.
"Bisa Tuan, tapi kita harus ke perusahaan Adijaya Group Tuan," jawab Asisten Jo ragu. Dia takut Davin akan menolaknya.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Perusahaan Adijaya Group
"Selamat datang Tuan Davin dan Tuan Johan," sambut Tuan Kevin saat Davin dan Asisten Jo masuk ke dalam ruangannya.
"Suatu kehormatan bagi saya, pemilik Alexander Group bersedia datang ke perusahaan kecil saya," tambah Tuan Kevin merendahkan diri. Davin hanya menanggapi dengan senyuman. Mereka bertiga duduk di sofa ruangan itu. Mata Asisten Jo terdiam menatap sebuah foto di meja kerja Tuan Kevin. Foto Tuan Kevin beserta keluarganya, ada seorang wanita cantik dan dua orang anak laki-laki kembar. Mata Asisten Jo menajam menatap foto itu.
Benar-benar mirip Rayhan. Batin Asisten Jo.
__ADS_1
"Ehem!" Asisten Jo terkejut saat Tuan Kevin berdehem dan menatap curiga kepadanya.
"Maaf Tuan, bolehkah saya bertanya? Apakah itu foto keluarga anda?" tanya Asisten Jo sambil jarinya menunjuk foto yang terpajang di meja. Davin dan Tuan Kevin langsung menatap ke arah foto itu.
"iya," jawab Tuan Kevin singkat, dia menghela nafas panjang.
"Saya kira anda masih lajang, Tuan," Tuan Kevin tersenyum mendengar tebakan Asisten Jo.
"Sebenarnya saya sudah menikah dan memiliki dua anak lelaki kembar namanya Rayhan dan Rayfan tapi sepertinya saya belum beruntung," Tuan Kevin menyandarkan kepalanya di sofa. "Istri saya kecopetan di pasar, dia berusaha mengejar copet itu tapi dia lupa kalau hanya Rayfan yang dia gandeng. Dia kembali untuk mencari Rayhan tapi dia tidak bisa menemukannya. Bahkan seluruh penjuru pasar sudah di kelilingi tetap tidak bisa di temukan," Suara Tuan Kevin terdengar begitu berat.
"Apakah anda tidak menggunakan pengawal untuk istri anda?" tanya Asisten Jo heran.
"Tidak, istri saya bukan orang yang suka di kawal, dia orang yang suka kebebasan tapi walau bebas dia tahu aturan bagaimana bertindak,"
"Setidaknya anda bisa memberi pengawal bayangan untuk istri anda," timpal Davin penuh penekanan.
"Itulah bodohnya saya, saya terlalu percaya bahwa anak dan istri saya bisa baik-baik saja sampai saya lalai menjaga mereka. Salah satu pedagang di pasar mengatakan bahwa Rayhan di gendong oleh laki-laki yang kemungkinan suka menyulik anak kecil untuk di jadikan pengemis,"
"Anda tidak mencari tahu preman itu?" tanya Asisten Jo dengan nada amarah, dia tidak menyangka jika ada orang kaya yang seceroboh itu.
"Sudah, penculik itu mengatakan bahwa Rayhan berhasil kabur dari mereka. Kini, mereka saja masih mendekam di penjara. Semenjak kejadian itu istri saya sakit-sakitan, bahkan tubuhnya berkali-kali drop hingga saya harus membawanya keluar negeri dan melarang semua media memberitakan tentang hilangnya anak saya,"
"Apa anda tidak berusaha mencari tahu, barangkali ada orang yang mengumumkan tentang anak hilang yang kemungkinan adalah anak anda?" Asisten Jo benar-benar tidak sabar. Jujur, hatinya mulai yakin kalau Rayhan yang hilang itu adalah Rayhan yang kini menjadi anaknya.
"Tidak, karena saya terlalu fokus pada kesembuhan istri saya tapi kini saya harus merelakan istri saya bahagia di surga," setitik airmata terlihat menetes di sudut mata Tuan Kevin membuat Davin dan Asisten Jo tak tega melihatnya. Mereka tahu bagaimana rasanya di tinggalkan selama-lamanya oleh orang yang kita sayang. Bukankah memang rasanya sangat menyakitkan? bahkan terkadang kita ingin ikut mati bersamanya.
__ADS_1
"Oh maaf, kenapa obrolan kita jadi melantur kemana-mana," Tuan Kevin menghapus airmatanya dan berusaha kembali terlihat baik-baik saja.
"Tidak apa-apa Tuan, terkadang kita butuh orang lain untuk mendengarkan keluh kesah kita supaya beban hidup kita menjadi lebih ringan," ucap Davin berusaha memaklumi. Dia menepuk bahu Tuan Kevin pelan, berusaha memberi kekuatan dan Tuan Kevin pun terseyum simpul. Sedangkan, Asisten Jo mulai gelisah. Hatinya mulai tak tenang, dia sangat yakin bahwa Rayhan adalah anak Tuan Kevin tapi bagaimana cara mengatakannya. Jika, Tuan Kevin mengambil Rayhan kembali, Asisten Jo yakin pasti Mila akan sangat sedih tapi bagaimanapun juga, Tuan Kevin lebih berhak atas Rayhan.