Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
85


__ADS_3

Davin membopong Aluna masuk ke dalam mansion, sedangkan Dokter Renard sudah menunggu ditemani Tuan Doni, Nyonya Anita dan juga Marvel. Davin langsung membawa Aluna ke kamarnya dan merebahkan tubuh Aluna pelan ditempat tidur. Mila yang bingung hanya mengekor saja di belakang mereka, begitu sampai di kamar , Mila terkagum begitu melihat kamar Aluna yang begitu mewah, bahkan foto pernikahan Aluna dan Davin terpampang lebar di kamar itu. Mila pun akhirnya tahu bahwa mereka memang benar suami istri.


Tapi mengapa Aluna menutupi semuanya ? Dia tetap bersikap sebagai karyawan biasa, padahal dia adalah istri dari pemilik perusahaan. Pantas saja Asisten Jo sangat sopan pada Aluna. Tapi kenapa nenek lampir Grace berani sekali melawan Aluna. Kira-kira siapa ya yang berani jahat sama Aluna. Berbagai pertanyaan bersarang di pikiran Mila, namun dia memilih diam dan melihat Aluna yang masih diperiksa.


" Bagaimana keadaannya ? " Tanya Davin saat Dokter Renard sedang memeriksa Aluna.


" Cukup buruk, dia harus istirahat total " Jawab Renard sambil memasang stetoskop di dada Aluna, namun dengan cepat Davin langsung menyingkirkan tangan Renard.


" Kurang ajar sekali kamu berani memegang dada istriku ?!" Bentak Davin marah. Semua langsung menghela nafas panjang.


"Saya hanya ingin memeriksa degup jantungnya saja "


" Emang harus ya pegang dada begitu ?! " Ketus Davin. Marvel pun langsung mendekat ke tempat Davin, dia memegang kedua tangan Davin erat.


" Apaan sih kak ! " Marvel tidak peduli dengan teriakan Davin.


" Cepat periksa saja Re... " Perintah Marvel tapi Dokter Renard masih diam, dia takut karena Davin mendelik tajam ke arahnya.


" Jo ... panggil anak buahmu kesini " Teriak Marvel karena Davin terus meronta.


" Lepasin Kak... Aku gak mau ya dokter cabul ini pegang-pegang dada Aluna " Teriak Davin kesal karena tidak bisa melepaskan tangannya. Anak buah Asisten Jo lalu mendekat dan memegang tangan Davin kuat, mereka tidak takut karena Tuan Doni berani membela mereka. Sedangkan kedua telapak tangan Marvel menutupi seluruh wajah Davin hingga Davin tidak bisa melihat apapun.


" Cepat Re ... kamu berada di bawah lindunganku " Perintah Marvel sambil masih menutupi wajah Davin.


" mmmmmmmmm " Davin berusaha bicara tapi Marvel benar-benar menutup wajahnya dengan kuat. Hingga beberapa saat kemudian, Davin langsung menghembuskan nafas lega saat Marvel membuka kedua telapan tangannya.


" Kamu mau bunuh aku kak ?!" Bentak Davin marah. Marvel hanya menyunggingkan bibirnya tanpa menjawab. Davin lalu menatap Aluna yang belum sadar juga.

__ADS_1


" Dia benar-benar drop, mau dirawat dirumah sakit atau dirumah saja ? " Tanya Renard sambil mengecek suhu badan Aluna lagi.


" Dirumah saja, kamu urus semua perlengkapannya " Perintah Davin. Dokter Renard langsung mengangguk dan menyuruh anak buah Asisten Jo membantunya.


" Bagaimana bisa Aluna seperti itu Vin ? " Tanya Nyonya Anita sedih.


" Aku juga gak tahu mom, tapi sepertinya ada yang sedang berusaha mencelakai Aluna mom " Jawab Davin tanpa melepas pandangannya dari Aluna.


" Kamu harus cari orangnya Vin " Kali ini Tuan Doni yang mengeluarkan suaranya.


" Pasti yah .... dan dia harus mendapat balasan setimpal " Tangan Davin mengepal erat, jelas sekali dia sedang menahan amarah. Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel menggema di kamar itu. Asisten Jo langsung merogoh sakunya karena merasa ponselnya berbunyi. Dia menatap layar ponselnya untuk melihat siapa yang meneleponnya.


" Tuan Muda... Tuan Bagaskara ingin melakukan panggilan video " Ucap Asisten Jo sambil menyerahkan ponselnya kepada Davin.


Tuan Bagaskara ? bukankah dia pemilik Bagaskara Grup yang sekarang juga dikelola Ronal anak lelakinya. Pertanyaan baru mulai muncul di pikiran Mila. Banyak sekali fakta dari Aluna yang begitu tersembunyi. Dia pun memasang telinganya baik-baik karena penasaran.


" Bagaimana keadaan Aluna Vin ? katanya ada yang berusaha mencelakainya ?" Tanya Tuan Bagas dari seberang, terlihat wajah khawatir di mukanya. Sedangkan Davin menatap tajam Asisten Jo.


" Belum sadar pa, kata Dokter Renard tubuhnya sangat lemah, tapi tidak lama lagi dia pasti sadar karena Dokter Renard sudah memberikan obat. Memang ada yang berusaha mencelakai Aluna dan aku sedang berusaha mencari siapa dia dan aku akan pastikan dia mendapat balasan yang setimpal " Ucap Davin penuh emosi.


" Biar nanti papa suruh anak buah papa dan Ronal untuk membantu mencari tahu siapa dia . yang pasti kamu harus jaga Aluna dengan baik "


" Pasti pa, aku pasti akan menjaga Aluna dengan baik, dengan segenap jiwa dan ragaku pa "


" Papa bahagia mendengarnya. Besok pagi papa akan pulang sekalian akan menghadiri pesta perayaan ulang tahun Alexander Grup. Papa titip anak perempuan kesayangan papa itu ya "


" Baik pa " Kemudian telepon itu terputus. Davin menyerahkan ponsel milik Asisten Jo.

__ADS_1


Tuan Bagaskara memanggil Aluna anak perempuan kesayangan. Bukankah kedua orang Tua Aluna sudah meninggal ? tapi kenapa Tuan Bagas bicara seperti itu. Kenapa banyak sekali rahasia yang Aluna sembunyikan. Mila memukul kepalanya pelan, mengusir rasa penasaran yang bersarang di otaknya.


" Jo " Panggil Davin. Asisten Jo mendekati Tuan Mudanya.


" Kamu antar teman Aluna itu pulang, kasian sudah malam " Mendengar perintah Davin, Mila melongo, dia tidak menyangka jika dia akan di antar pria tampan. Mila tersenyum simpul. Asisten Jo kemudian melangkah keluar di ikuti Mila dibelakangnya.


🍀🍀🍀🍀


Aluna membuka kedua kelopak matanya perlahan, dia melihat ruangan yang tidak asing di matanya. Dia menoleh ke samping dan melihat Davin yang sedang tertidur di sampingnya, dia merasakan genggaman tangan yang begitu hangat, sedangkan satu tangannya terpasang jarum infus. Aluna menggerakan badannya karena merasa begitu pegal, apalagi tangan Davin melingkar di perutnya. Merasakan sebuah pergerakan, Davin langsung terbangun dari tidurnya, dan saat melihat Aluna yang sudah membuka matanya, dia tersenyum lebar.


" Kamu sudah bangun sayang ? " Tanya Davin lembut sambil mengusap pipi Aluna pelan. Aluna mengangguk, tubuhnya masih merasa begitu lemah. Davin tersenyum bahagia.


" Apa masih sakit semua ? " Tanya Davin lagi. Aluna menggeleng, dia sematkan senyum manis di bibirnya hingga membuat Davin begitu gemas, dan tanpa permisi langsung mencium bibir Aluna, Aluna pun tak bisa melawan.


" DAVIIINN " Teriakan itu berhasil membuat Davin melepaskan ciumannya.


" Aduhh aaaaduuuuhhhh, Sakit mom " Teriak Davin saat tangan Nyonya Anita berhasil mendarat di tubuhnya tanpa ampun. Sedangkan Aluna memalingkan wajahnya karena malu.


" Kurang ajar sekali kamu !, anak orang baru siuman langsung main sosor aja nih bibir " Omel Nyonya Anita sambil menarik bibir Davin. Tuan Doni dan Marvel yang disitu pun menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Davin.


" Lagian kalian ngapain sih ?! Ganggu aja " Gerutu Davin kesal sambil mengusap bibirnya yang sakit.


" Bukannya kita emang sedari tadi disini ? " Marvel menatap sinis adiknya. Dia benar-benar tidak menyangka dengan kelakuan Davin. Mengingat bahwa keluarganya memang di kamarnya menunggu Aluna bangun, Davin menyengir malu. Dia lupa kalau sedari tadi, kedua orang tua dan kakanya duduk di sofa karena menunggu Aluna sadar.


" Coba kalau gak ada kita, pasti udah langsung telanjang aja tuh anak orang " Davin mencebik kesal mendengar sindiran Marvel.


" Gak papa kak, kan dia istriku sendiri, bilang aja kakak iri karena kakak lagi puasa gara-gara kak Shania bentar lagi brojol " Davin tertawa keras, tapi beberapa detik kemudian dia mengaduh karena Marvel menoyor kepalanya dengan cukup kencang.

__ADS_1


" Dasar adik laknat ! " Umpat Marvel sambil mendelik ke arah Davin tapi Davin memasang senyum mengejek. Kedua orang tua mereka menghela nafas karena melihat kedua anaknya selalu saja berdebat.


__ADS_2