
"Ada perlu apa kamu kesini?" tanya Dinar berusaha memecah keheningan di antara mereka berdua.
"Tidak ada. Aku hanya menjengukmu karena aku dengar kamu sudah pulang. Apa kamu yakin sudah sembuh total?" tanya Ardian, dia masih saja terlihat khawatir kepada Dinar.
"Sudah, hanya terkadang masih sedikit nyeri," sahut Dinar. Dia menatap Ardian, tetapi begitu Ardian balik menatapnya, Dinar langsung memalingkan wajahnya karena malu.
"Ada yang mau aku bicarakan," kata Dinar dan Ardian bersamaan. Mereka berdua lalu terdiam sesaat.
"Kamu duluan saja, ladies first," suruh Ardian. Dinar menghela napas panjang sebelum membuka suaranya.
"Ar, aku mau minta maaf sama kamu, aku sudah galak dan kasar sama kamu padahal kamu sudah sangat baik kepadaku," lirih Dinar, "Ar, maukah kamu memaafkanku?" tanya Dinar pelan, dia hanya menunduk, tidak berani sedikitpun mengangkat kepalanya.
"Aku sudah memaafkanmu bahkan sebelum kamu meminta maaf. Aku justru menyukai kamu yang seperti itu, artinya kamu adalah wanita yang tangguh. Persis seperti Kak Aluna, gadis yang mandiri, tetapi sangat keras kepala," ucap Ardian. Dinar mendongak, menatap ke arah Ardian yang sedang tersenyum padanya. Entah mengapa, menatap lekat mata Ardian seperti itu, Dinar seperti di tarik masuk dalam pesona Ardian.
"Jangan terlalu lama memandangiku seperti itu. Kamu yakin tidak jatuh cinta padaku?" celetuk Ardian menggoda Dinar.
Blush. Pipi Dinar langsung memunculkan semburat merah, dia memalingkan wajahnya karena malu Ardian memergokinya, sedangkan Ardian tersenyum tipis melihat Dinar yang terlihat malu-malu.
"Kamu cantik dan menggemaskan juga kalau sedang malu seperti ini," goda Ardian, Dinar mengusap keningnya berkali-kali untuk menghilangkan kegugupannya.
"Diamlah! Sekarang apa yang akan kamu katakan padaku?" tanya Dinar berusaha mengalihkan pembicaraan mereka. Raut wajah Ardian langsung terlihat datar, senyum yang sedari tadi tercetak di bibirnya kini seolah sirna.
"Bolehkah aku bertanya hal lebih pribadi padamu?" tanya Ardian ragu, Dinar diam tidak menjawab, tetapi kepalanya mengangguk pelan.
"Apa kamu memiliki mantan kekasih yang sekarang menjadi seorang pengusaha sukses?" tanya Ardian penasaran. Ardian mengamati wajah Dinar yang terlihat seperti sedang berpikir.
"Aku hanya satu kali pacaran sama Kak Rangga, hubungan kita harus berakhir karena orang tua Kak Rangga tidak setuju denganku yang miskin. Dia memang sekarang menjadi pengusaha, tetapi aku tidak tahu dia sesukses apa." Wajah Ardian semakin terlihat datar setelah mendengar jawaban Dinar
Mungkinkah, Rangga itu yang membantu keluarga Dinar sebelum aku membantunya? Pikir Ardian penasaran. Hati Ardian mulai tak tenang, jika memang masa lalu Dinar kembali datang, maka Ardian harus bergerak cepat untuk mendapatkan hati Dinar, apalagi dua hari lagi, masa lalu Dinar itu akan kembali datang.
"Memang kenapa? Kamu kenal?" tanya Dinar, dia heran setelah mengamati wajah Ardian yang terlihat cemas.
"Tidak! Apa kamu yakin tidak mencintaiku?" tanya Ardian begitu saja.
__ADS_1
"Apa kopi ini mengandung alkohol? Kenapa kamu jadi ngawur begitu,"
"Aku serius, Dinar. Apa kamu tidak takut jika kamu hamil anak kita?"
Deg. Jantung Dinar berdebar begitu cepat, bahkan lidahnya mendadak terasa kelu saat mendengar tentang 'hamil'. Kenapa dia tidak berpikir sampai sejauh itu? Memang mereka hanya melakukan sekali, tetapi kemungkinan hamil kan bisa saja terjadi? Apalagi Dinar sedang dalam masa subur waktu Ardian merenggut paksa mahkotanya.
"A-aku tidak mungkin hamil, kita hanya melakukan sekali," bantah Dinar, meski dalam hati kecilnya dia merasa ragu.
"Dinar, kita tidak pernah tahu apa rencana Tuhan untuk kita. Aku beri kamu waktu untuk berpikir, dua hari lagi aku akan datang untuk meminta jawabanmu dan kamu harus sudah memiliki jawaban itu." Ardian berdiri dari duduknya, Dinar pun ikut berdiri.
"Kenapa kamu memaksa seperti itu?" protes Dinar tak terima.
"Aku tidak peduli kamu setuju atau tidak, yang pasti dua hari lagi aku akan datang menagihmu. Kalau kamu tidak memberi jawaban, maka aku akan menikahimu saat itu juga, dan asal kamu tahu, aku tidak pernah main-main dengan ucapanku!" ancam Ardian. Dia berlalu pergi meninggalkan Dinar yang masih diam dalam posisinya. Begitu suara motor Ardian terdengar, Dinar langsung tersadar dan segera berjalan cepat mendekati Ardian.
"Kamu kurang ajar sekali! Aku bukan orang yang mudah kamu atur ya!" teriak Dinar karena Ardian pergi begitu saja tanpa peduli teriakannya.
"Dasar pria menyebalkan!" umpat Dinar, kakinya menendang udara karena begitu kesal, sedangkan Ardian yang mengintip dari spion, hanya menunggingkan senyumnya.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
"Kak," sapa Ardian begitu dia sudah sampai di kamar yang di sewa keluarganya.
"Kamu sudah datang, Ar?" tanya Davin, Aluna yang sedang tiduran di samping Davin langsung membuka kedua matanya.
"Kamu darimana, Dek?"
"Dari rumah Dinar, aku kira kalian masih disana ternyata sudah pulang," sahut Ardian, dia merebahkan tubuhnya tidak jauh dari kakaknya.
"Bagaimana Dinar? Dia mau menikah denganmu?" tanya Aluna, hembusan napas kasar terdengar keluar dari mulut Ardian.
"Tidak! Dia masih saja menolakku. Kakak masih ingat perihal bantuan untuk keluarga Dinar?"
"Masih, memang kenapa? Kamu sudah tahu siapa yang memberi bantuan itu?" Ardian mengangguk menanggapi pertanyaan Aluna.
__ADS_1
"Kata Bayu, dia adalah masa lalu Dinar yang sudah sangat sukses. Dua hari lagi, dia akan datang untuk bertemu Dinar," sahut Ardian. "Aku akan memaksa Dinar agar mau menikah denganku, aku tidak mau dia menikah dengan pria lain," ucap Ardian, Aluna menatap adik semata wayangnya itu.
"Jangan pernah memaksa Dinar untuk menikah denganmu, Dek. Apalagi, Dinar belum mau menikah, cinta itu tidak bisa di paksa. Kakak setuju kalau kamu mau menikah dengan Dinar, tapi jika Dinar menikah karena kamu paksa, maka Kakak tidak akan pernah merestuinya."
"Bagaimana kalau Dinar hamil, Kak?" tanya Ardian menyela ucapan Aluna
"Kalau Dinar hamil anak kamu, maka kamu harus bertanggung jawab. Jangan memaksa Dinar, tetapi kamu harus selalu berusaha agar bisa membuat Dinar jatuh cinta padamu," nasihat Aluna.
"Dia sangat galak dan keras kepala seperti Kakak," ucap Ardian begitu saja. Davin dan Aluna terkekeh geli melihat Ardian yang memasang wajah sebal.
"Berusahalah, Ar. Buktinya aku bisa menaklukan kakak kamu yang keras kepala ini," kata Davin memberi semangat.
"Aku memang keras kepala, Mas. Jangan lupa, kamu juga emosional," ketus Aluna, dia beranjak bangun dan pergi meninggalkan Davin.
"Sayang, kamu mau kemana?" teriak Davin saat Aluna sudah menjauh darinya.
"Kemana saja suka-suka aku!"
"Galaknya istriku," cibir Davin sembari menggelengkan kepalanya.
"Kak Davin tidak mengejar Kak Aluna?" tanya Ardian heran, karena Davin masih asik rebahan.
"Biarin saja. Paling bentar lagi dia nyariin aku," kata Davin percaya diri.
"Cih! Biasanya Kak Davin jadi raja bucin," timpal Ardian.
"MAS! Kenapa tidak mengejarku?!" tanya Aluna, dia kembali ke tempat Davin dengan bersungut-sungut.
"Aku tahu kamu pasti kembali, Sayang. Jadi, untuk apa aku mengejarmu," sahut Davin santai.
"Oke, tidak ada jatah malam ini!" marah Aluna, dia berbalik dan hendak meninggalkan Davin lagi, Davin segera beranjak bangun dan mengejar Aluna.
"Jangan, maafkan aku sayang," ucap Davin sambil melangkahkan kakinya dengan cepat mengejar Aluna.
__ADS_1
"Memang senjata andalan istri yang bisa membuat suami kalang kabut," decak Ardian, dia menatap langit-langit kamarnya.
"Apa yang harus kulakukan seandainya Dinar benar-benar tidak mau menikah denganku? Aku tidak rela jika Dinar menjadi milik orang lain, apalagi jika dia kembali kepada masa lalunya. Aku harus berusaha sebisa mungkin untuk membuat Dinar jatuh hati padaku!" tekad Ardian.