
"Selamat pagi Tuan dan Nona Muda," sapa Asisten Jo saat Davin dan Aluna sudah sampai di dekat mobil.
"Pagi juga Jo." Sahut Aluna sambil masuk ke dalam mobil sedangkan Davin hanya diam tidak menanggapi. Davin pun ikut masuk dan duduk di samping Aluna. Setelah siap, Asisten Jo duduk di belakang kemudi lalu melajukan mobil itu menuju Alexander group. Selama dalam perjalanan, Asisten Jo mengamati Davin yang nampak lesu, seperti tidak bergairah hingga membuat Asisten Jo terheran-heran.
"Anda baik-baik saja Tuan?" Tanya Asisten Jo sambil melirik Davin dari kaca depan. Namun, Davin tidak menjawab, dia justru memejamkan kedua bola matanya.
"Sakit perut dia Jo, mungkin karena makan sambal tadi malam," jawab Aluna sambil menyandarkan kepalanya di bahu Davin. Merasakan kepala Aluna yang bersandar, Davin balik merangkul bahu Aluna lalu mengecup puncak kepala Aluna.
"Mungkin anda kualat karena tadi malam sudah memalak saya Tuan." Davin menajamkan matanya, Asisten Jo yang menatap dari kaca hanya tersenyum tipis seolah tidak takut pada Tuan Mudanya.
"Kamu sudah tidak takut padaku Jo?" Davin bertanya penuh penekanan.
"Tidak Tuan, karena sekarang sudah ada pawangnya kalau anda sedang akan mengamuk," jawab Asisten Jo santai.
"Beraninya kamu.... "
"Sudahlah mas, jangan bikin aku pusing," ucap Aluna sambil memijit pelipisnya.
"Maaf sayang," Davin mengecup puncak kepala Aluna lagi.
"Ucapan saya sudah terbukti kan Tuan?" Goda Asisten Jo, membuat Davin menggeram kesal namun mencoba dia tahan. Melihat Davin yang diam membuat Asisten Jo terkekeh.
Untung saja sekarang ada Nona Aluna. Jadi aku bebas menggoda Tuan Muda, apalagi sekarang Tuan Muda sedang sensitif.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀*
Perusahaan Alexander Group
Asisten Jo melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung Alexander Group. Sedangkan, Tuan dan Nona Mudanya sudah naik terlebih dahulu ke ruangannya. Saat hendak berjalan menuju lift, langkahnya terhenti saat telinganya mendengar namanya dipanggil.
" Tuan " Asisten Jo membalikkan badannya dan melihat Mila yang sedang berdiri sambil terengah-engah. Asisten Jo mengerutkan keningnya.
" Selamat pagi Tuan," sapa Mila sambil mengatur nafasnya.
"Ada apa?" tanya Asisten Jo datar tanpa menjawab sapaan dari Mila.
__ADS_1
"Em Tuan, maaf saya cuma mau bilang kalau Rayhan menanyakan anda terus. Karena, anda menjanjikan mainan padanya kalau dia sudah sembuh," ucap Mila gugup. Asisten Jo memandang Mila sesaat kemudian membalikkan badannya.
" Nanti sepulang kantor, aku akan menemui Rayhan," kata Asisten Jo sambil melanjutkan langkahnya kembali menuju lift. Mila hanya memandang punggung Asisten Jo yang perlahan menjauh darinya.
"Apa aku salah kalau aku menagih janjinya pada Rayhan? Sedangkan Rayhan selalu menagih janji itu," gumam Mila, dia menghembuskan nafas kasar lalu berjalan menuju ruangannya.
Asisten Jo duduk di meja kerjanya, pandangan matanya menatap layar tablet di tangannya namun pikirannya entah kemana.
"Bagaimana aku bisa lupa kalau aku janji pada Rayhan?" gumamnya lirih. Davin yang sedang meneliti berkas-berkas di depannya langsung menoleh ke arah Asisten Jo.
"Kamu bilang apa Jo?" tanya Davin karena mendengar Asisten Jo bergumam.
"Tidak ada Tuan, Em Nona Aluna bolehkah saya bertanya pada anda?" tanya Asisten Jo ragu. Aluna yang sedang duduk menatap ponselnya, langsung mengalihkan padangannya pada Asisten Jo.
" Mau tanya apa, Jo?"
"Em Nona, apakah Nona Mila punya pekerjaan lain selain disini?" Aluna tersenyum tipis mendengar pertanyaan Asisten Jo.
"Kamu tertarik dengan Mila?" tanya Aluna dengan nada menggoda.
"Ehem, baru kali ini kamu bertanya tentang seorang wanita Jo. Aku suka, itu tandanya kamu laki-laki normal," ejek Davin membuat Asisten Jo berdecih sebal.
"Jaga ucapan anda Tuan, apa anda mau saya kirim ke samudra pasifik?" tanya Asisten Jo kesal. Sedangkan Davin tertawa lebar.
"Kamu merasakan apa yang dulu aku rasakan Jo,"
" Diamlah Tuan, saya tidak bicara pada anda," Ucap Asisten Jo kesal. Davin langsung menghentikan tawanya lalu menatap tajam pada Asisten Jo.
"Berani sekali sekarang kamu melawanku. Kamu mau kupecat!" Ancam Davin geram.
"Diamlah mas, selesaikan saja pekerjaanmu itu." perintah Aluna, membuat Davin seketika terdiam, sedangkan Asisten Jo hanya menahan tawanya.
"Jo, Mila itu sehabis kerja dari kantor langsung bekerja di restoran XX biasanya sampe jam sembilan atau setengah sepuluh," jelas Aluna. Asisten Jo tertegun mendengar jawaban Aluna.
"Apa dia tidak lelah?" tanya Asisten Jo tanpa sadar.
__ADS_1
"Kalau lelah pasti, kerja dari pagi sampai malam. Tapi mau bagaimana lagi, dia adalah tulang punggung keluarganya," Aluna bicara dengan sedih. Asisten Jo langsung menghela nafas panjang.
"Kemana ayahnya Nona? Apa ayahnya sudah meninggal?" tanya Asisten Jo penasaran. Aluna menjawab dengan gelengan kepala.
"Tidak, ayahnya meninggalkan dia dan ibunya saat Mila masih duduk di bangku SMP tanpa alasan yang jelas," Asisten Jo langsung mengepalkan tangannya.
"Jo, terkadang orang yang tertawa paling lebar adalah orang yang lukanya paling dalam. Kamu bisa melihat Mila selalu bercanda, namun kamu tahu? Sesungguhnya hatinya sedang sangat terluka," suara Aluna terdengar begitu berat. Davin yang melihat Aluna begitu sedih, langsung berjalan menghampiri Aluna lalu memeluknya erat.
"Jangan sedih sayang," ucap Davin lalu mengecup kening Aluna.
"Entahlah, semenjak hamil aku merasa menjadi semakin cengeng," Aluna menahan airmatanya. Davin tidak menjawab, dia hanya mengecup lembut bibir Aluna.
"Haruskah saya keluar Tuan ?" sela Asisten Jo.sambil berpura-pura menatap layar tabletnya.
"Keluarlah Jo, dalam satu jam kedepan jangan sampai ada yang masuk ke ruanganku," titah Davin membuat Asisten Jo mencebik kesal.
"Dasar mesum ! pintar sekali mencari kesempatan," Gerutu Asisten Jo sambil berjalan ke luar ruangan.
"Selamat menjenguk anak anda Tuan," sindir Asisten Jo kemudian menutup pintu ruangan itu.
"Mas.. aku capek," Aluna berusaha menolak, karena Davin sudah tersenyum licik padanya.
"Aku tidak akan mengajakmu olahraga sayang, aku cuma tidak mau kamu sedih. Istirahatlah, aku akan menyelesaikan pekerjaanku," Davin mencium kening Aluna kemudian beranjak bangun kembali ke meja kerjanya. Aluna melongo melihat Davin
tumben sekali. Biasanya dia langsung menerkamku tanpa ampun. Batin Aluna sambil menatap Davin yang sedang membaca berkas di tangannya.
"Aku tahu isi hatimu sayang," goda Davin membuat Aluna langsung memalingkan wajahnya.
"Karena kamu menginginkannya, maka kita akan melakukannya sayang," ucap Davin sambil berjalan menuju tempat Aluna, dia langsung membopong Aluna dan masuk ke dalam kamar di ruangan itu. Sedangkan Aluna hanya menurut saja. Entah mengapa, semenjak hamil Aluna suka sekali dengan sentuhan yang Davin berikan.
**ceritanya udah bikin bosen ya..
tenang gaes. bentar lagi ceritanya bakal Author bikin end kok
jangan lupa beri dukungan buat Author recehan ini ya gaes.
__ADS_1
biar Author semangat namatin cerita ini**.