
Mansion Alexander
Davin sedang tiduran menunggu Aluna yang sedang menidurkan baby Nadira.
"Sudah tidur sayang?" tanya Davin dengan wajah sumringah saat melihat baby Nadira sudah terlelap. Bagaimana tidak? Hari ini tepat empat puluh hari usia baby Nadira itu artinya sudah waktunya Davin berbuka puasa. Aluna menjawab ucapan Davin dengan anggukan pelan, dia tahu malam ini akan jadi malam panjang untuk mereka berdua.
"Semoga Nadira lebih pengertian kepada daddy, Enggak ganggu acara buka puasa daddy," gumam Davin lirih, Aluna yang mendengarnya hanya tersenyum simpul.
Davin langsung memeluk tubuh Aluna dari belakang, menciumi tengkuk Aluna hingga membuat tubuh Aluna meremang.
"Aku merindukanmu sayang," bisik Davin lirih dengan tangan yang telah bergerilnya kemana-mana. Davin membalik tubuh Aluna, menghujami wajah Aluna dengan ciuman bertubi-tubi.
"Aku mencintaimu sayang, terima kasih sudah memberikan aku kebahagiaan yang luar biasa," ucap Davin seraya menatap lekat wajah Aluna.
"Aku juga mencintaimu mas, terima kasih juga kamu sudah menerima aku apa adanya," balas Aluna, Davin langsung mencium lembut bibir Aluna, menyalurkan rasa bahagia yang mereka rasakan. Lama-kelamaan ciuman itu berubah menjadi ciuman yang sangat menuntut, hawa di sekitar pun mulai memanas. Dengan segala keahliannya, dalam seketika Davin mampu membuat tubuh Aluna tak terbalut sehelai benang pun.
"Saatnya berbuka puasa, adik kecil," kata Davin bahagia. Dia menindih tubuh Aluna, dan mengambil ancang-ancang untuk menembaknya.
Ponsel Davin berdering. Aluna menahan tubuh Davin yang hendak menabras lubangnya.
"Ada telepon mas," kata Aluna menahan tubuh Davin.
"Biarkan saja, bukan telepon yang penting," sahut Davin dengan nafas memburu karena hasratnya telah sampai ke ubun-ubun. Ponsel itu kembali berdering, membuat Davin menggeram kesal.
"Angkat dulu mas, siapa tahu penting," Dengan berat hati, Davin beranjak bangun dan mengambil ponselnya di atas nakas dengan kasar.
"Bisakah jangan mengganggu waktu istirahat orang lain!" bentak Davin kesal tanpa melihat siapa yang meneleponnya.
"Kenapa kamu naik darah begitu, Vin?"
Davin menurunkan ponselnya dan menatap layar ponsel itu, dia melihat nama ayahnya tertera disana.
"Ada apa ayah telepon malam-malam?" tanya Davin datar.
"Ini baru jam setengah sembilan kamu bilang sudah malam?"
__ADS_1
Davin tidak menanggapi pertanyaan ayahnya, dia hanya menatap adik kecilnya yang sudah berkedut disana.
"Vin? Kamu masih disana kan?" tanya Tuan Doni karena tidak mendengar jawaban dari putranya. Davin hanya ber 'hm' ria.
"Oh iya, ayah mau bilang kalau ayah dan mommy belum jadi pulang, mungkin dua hari lagi karena Al belum mau pulang,"
"Iya pa. Al sehat-sehat saja kan?" Mendengar Davin menyebut nama Alvino. Aluna langsung beranjak bangun dan mendekati Davin. Sedangkan Davin langsung men loudspeaker panggilan itu.
"Sehat semua. Al dan Nathan betah disini, belum mau pulang itu sebabnya ayah menghubungi kamu kalau kita tidak jadi pulang malam ini," Wajah Davin langsung sumringah.
"Baik yah. Davin mau tidur dulu ya, capek banget hari ini, kerjaan Davin sibuk sekali," Aluna langsung menepuk dada bidang Davin.
"Ya sudah sana kalau mau istirahat. Baby Nadira sehat kan?"
"Sehat kok, yah."
"Syukurlah, ya sudah ayah matikan dulu," Sebelum Davin menjawab, panggilan itu sudah terputus. Davin menatap Aluna dengan senyum simpul di bibirnya.
"Aku tahu maksud senyumanmu itu mas," cebik Aluna. Davin langsung membopong tubuh Aluna dan merebahkannya kembali di atas kasur.
Setelah mencapai puncak tertinggi sebuah kenikmatan. Davin memeluk tubuh Aluna yang sudah tertidur karena kelelahan. Dia berkali-kali mengecup puncak kepala Aluna seraya mengeratkan pelukannya.
"Aku mencintaimu," bisik Davin lirih. Dia terdiam, namun sesaat kemudian senyum licik tersungging di bibirnya. Davin mengambil ponsel di atas nakas, kedua alisnya menaut, sangat serius mencari sesuatu di ponselnya. Setelah menemukan apa yang dia cari, wajahnya terlihat bahagia, dia menekan beberapa tombol di ponselnya.
"Selamat berbuka puasa," ucap Davin lirih dengan seringai tipis di bibirnya.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Jika Davin dan Aluna baru saja selesai menggapai Nirwana namun tidak dengan Asisten Jo dan Mila. Sejak tadi, baby Cacha menangis tak henti padahal Mila sudah mencoba menyusuinya namun bayi itu seolah menolak.
"Mas, apa Cacha kangen sama Nathan ya? Gak biasanya dia rewel kaya gini," keluh Mila, karena dia sudah bingung menghadapi tangisan baby Cacha yang tak berhenti-henti. Asisten Jo mengambil Cacha dari gendongan Mila, mengayunkan perlahan agar bayi itu mau tidur.
"Ayo sayang, tidur ya sudah malam. Anak ayah yang cantik," ucap Asisten Jo lembut, Mila tersenyum melihat Asisten Jo yang terlihat begitu sayang pada anak mereka. Tangisan Cacha semakin lama semakin mereda, membuat Mila sedikit bernafas lega.
"Dia minta di gendong pria tampan ternyata," gumam Mila tanpa sadar, Asisten Jo yang mendengar gumaman itu langsung menatap tajam ke arah Mila.
__ADS_1
"Gak usah ajari dia genit-genit kaya kamu," ketus Asisten Jo, bayi mungil itupun mulai memejamkan kedua bola matanya.
"Jangan galak-galak mas, kamu mau tidak berbuka puasa malam ini," ancam Mila, Asisten Jo terdiam sesaat. Dia hampir saja lupa jika hari ini tepat baby Cacha berumur empat puluh hari. Mila menatap Asisten Jo yang terdiam dengan wajah yang menggoda. Asisten Jo langsung memalingkan wajahnya. Sungguh, jauh di lubuk hatinya, dia sudah sangat ingin menuntaskan hasratnya dengan Mila.
Setelah baby Cacha benar-benar terlelap, Asisten Jo meletakkannya di atas kasur, memberi selimut kecil agat bayi itu tetap hangat. Baru saja Asisten Jo hendak turun dari kasur, Mila sudah memeluknya dari belakang.
"Aku kangen kamu mas," ucap Mila dengan suara menggoda, membuat tubuh Asisten Jo panas dingin.
"Kamu genit sekali," Asisten Jo membalikkan badannya dan memeluk erat tubuh Mila. "Aku juga merindukanmu," balas Asisten Jo, dia mencium wajah Mila. Tanpa basa basi Mila langsung mencium wajah Asisten Jo, memberikan ciuman yang penuh dengan tuntutan bahkan Asisten Jo sampai kuwalahan mengimbanginya.
"Mas, aku pengen kaya di video yang ada di ponselmu," kata Mila sambil menciumi leher Asisten Jo.
"Video di ponselku? Video yang mana?" tanya Asisten Jo bingung, karena dia merasa tidak menyimpan video yang aneh-aneh.
"Tadi waktu kamu sedang ke dapur, Tuan Davin mengirimkan video ke ponselmu, aku membukanya dan aku ingin kaya gitu," ucap Mila dengan nada sensual. Asisten Jo langsung beranjak bangun dan mengambil ponselnya. Dia membuka pesan dari Tuan Davin yang baru dikirim sekitar lima belas menit yang lalu. Mata Asisten Jo melebar saat melihat sebuah video panas terbuka, dia membuka lagi pesan di bawah video itu.
Selamat berbuka puasa, Jo. semoga video ini membantu, kalau istrimu tidak bisa seperti ini. Lebih baik tukar saja dengan sapi.
Asisten Jo membuka file video yang berdurasi satu menit itu, di mana si pemeran wanita terlihat lebih mendominasi.
"Mas! Ayo sini, aku akan memuaskanmu. Aku gak mau di tukar sama sapi. Aku lebih putih dan semok dari sapi mas," teriak Mila saat Asisten Jo sedang menatap lekat ponselnya. Asisten Jo mengalihkan pandangannya ke arah Mila.
"Tenang saja mas, aku jamin aku bisa bikin kamu kelojotan," kata Mila percaya diri.
"Mila! Dasar tidak...."
"Aku memang tidak punya malu mas, tapi bukankah aku bilang aku punya kemal*an. Lihatlah," sela Mila sambil menunjuk pusat tubuhnya dengan senyum seolah tak berdosa.
"Ya Tuhan, apa salahku dulu?" Asisten Jo mengusap wajahnya kasar.
Maaf garing...
lagi gak punya inspirasi tapi di paksa tetep nulis 😅
jangan lupa dukungan buat Author biar makin semangat
__ADS_1
salam sayang dari Author recehan